NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Ibu!

Tiba-tiba Jadi Ibu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Susiajaaa

"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Dengan mobil milik Riki yang sudah dipanggil khusus dari rumahnya oleh Pak Asep, perjalanan mereka pun dimulai. Riki duduk di kursi pengemudi, menyetir dengan santai namun sigap, sementara Diana dan Melisa duduk di belakang, masing-masing menggendong satu bayi yang masih terlelap. Keheningan kecil itu akhirnya dipecah oleh celetukan Riki yang tak pernah bisa diam terlalu lama.

“Berasa punya dua istri gue sekarang,” gumam Riki sambil melirik kaca spion, mulutnya tersenyum geli membayangkan dirinya sebagai ‘bapak muda’.

Diana langsung memutar bola matanya malas. “Dih, males banget. Jadi istri Lo? Gue mending nikah sama patung pancoran,” serangnya sinis.

Melisa buru-buru menengahi sebelum terjadi debat dadakan, “Udah, please ya… kalian debat dikit aja bayi-bayi ini langsung bangun konser. Gue belum siap denger suara ‘sopran’ mereka lagi,” ucapnya sambil menenangkan Evan yang sempat menggeliat.

Mobil pun meluncur mulus ke arah tempat daycare. Ketiganya tampak kelelahan tapi tetap kompak, seolah sudah saling memahami peran masing-masing dalam ‘tim kecil’ yang kini tak terduga harus mengasuh dua bayi.

Setibanya di depan gedung daycare, mobil berhenti. Bangunannya tampak modern, bersih, dan berkonsep ramah anak. Tembok dicat warna pastel dengan hiasan mural lucu yang menggambarkan hutan ceria dan hewan-hewan bersahabat. Dari luar saja, aura profesional dan aman sudah terasa.

“Bagus ya tempatnya…” gumam Melisa kagum, matanya menelusuri fasad bangunan. “Tapi… pasti mahal ini.”

Diana menjawab santai tanpa beban, “Tenang aja, Mel. Urusan invoice, Riki yang nanggung. Kita tinggal tanda tangan doang.”

Riki menyambung cepat, “Betul. Gue orkay. Tempat segini mah bisa gue beli sekalian sama isinya kalau perlu,” katanya sambil turun duluan dan membuka pintu belakang. “Silakan, para istri-istriku tercinta. Mari masuk ke istana kecil kita,” lanjutnya dengan nada bercanda penuh gaya.

Diana langsung menahan napas seolah ingin muntah, “Aduh… demi apa, jujur nih, gue pengen muntah sekarang juga. Lo tuh ya... halu akut.”

Melisa hanya menggeleng kecil, tak kuat menahan senyum melihat kelakuan dua sahabatnya itu. Meski tak diucapkan, ia bersyukur tak sendirian dalam situasi serumit ini.

Saat mereka bertiga memasuki gedung daycare, perhatian beberapa orang langsung tertuju kepada mereka. Mungkin karena kehadiran tiga remaja dengan dua bayi mungil di tangan bukanlah pemandangan umum.

Tak lama, mereka disambut oleh seorang staf perempuan yang wajahnya familiar—orang yang semalam mereka ajak berbincang ketika survei singkat dilakukan.

“Selamat pagi! Wah, kalian datang juga,” sambut sang mbak dengan ramah sambil tersenyum cerah. “Langsung saja, yuk, kita masuk ke ruang konsultasi. Kami sudah siapkan ruangan khusus untuk ibu bayi baru.”

Riki berbisik ke Diana dan Melisa, “Denger tuh… gue dianggap bapak bayi, kalian ibunya. Kita tinggal bikin akta nikah deh.”

Diana menyikut pinggang Riki tanpa basa-basi, “Lo ngomong lagi gue lempar dot bayi.”

Melisa tertawa kecil. Meski kelelahan, hatinya terasa sedikit ringan. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dengan dua bayi tak berdosa itu, ia merasa tak sendiri. Mereka mungkin bukan keluarga sungguhan, tapi dengan dua manusia kocak di sampingnya, ia tahu perjuangan ini bisa dihadapi bersama.

Setelah melakukan observasi singkat dan berbincang dengan staf serta kepala pengelola daycare, ketiganya sepakat untuk segera mendaftarkan dua bayi itu. Tempat tersebut memberikan kesan yang sangat positif ruangan yang bersih dan tertata rapi, kamar terpisah antara bayi dan balita, para pengasuh yang berseragam dan tampak profesional, serta sistem keamanan yang ketat. Bahkan tersedia fasilitas klinik kecil di dalam area daycare untuk menangani kondisi medis darurat. Hal itu cukup membuat Melisa merasa tenang meninggalkan bayi-bayi itu saat harus ke kampus nanti.

Namun, proses pendaftaran tak sepenuhnya berjalan mulus. Salah satu staf bertanya tentang kartu imunisasi dan riwayat vaksin kedua bayi. Melisa langsung terlihat cemas, menunduk, dan melirik Diana dengan gugup. Ia bahkan tak yakin apakah kedua bayi itu pernah mendapat imunisasi sejak lahir.

Tanpa kehilangan akal, Diana langsung mengambil alih dan tersenyum sopan.

“Oh, itu… kartunya ketinggalan di kampung, Bu. Kami lupa bawa,” katanya sambil berusaha terdengar meyakinkan.

Staf itu mengangguk pelan, meski tampak sedikit ragu. Diana menambahkan dengan cepat, “Kalau perlu, kami bisa bawa ke rumah sakit dulu untuk imunisasi ulang, biar pihak daycare lebih tenang.”

Namun kepala daycare yang sejak tadi memperhatikan langsung angkat bicara dengan nada ramah, “Tidak perlu khawatir, Kak. Di tempat kami sudah tersedia layanan imunisasi dan vaksinasi lengkap. Nanti tim medis kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan, dan jika memang perlu, kami yang akan menangani semuanya.”

Melisa mengembuskan napas lega. Proses pendaftaran yang cukup panjang dan penuh dokumen itu pun akhirnya selesai setelah sekitar satu jam lebih. Riki, yang sedari tadi ikut menunggu dengan santai sambil bermain-main dengan kunci mobilnya, langsung menuju meja administrasi dan membayar semua biaya—termasuk uang muka dan pembayaran bulanan pertama.

“Besok udah bisa langsung dititipin ya, Kak,” kata staf administrasi sambil menyerahkan bukti pembayaran dan brosur kegiatan mingguan daycare tersebut.

Begitu berada kembali di dalam mobil, suasana terasa sedikit lebih ringan. Dua bayi itu masih tertidur pulas dalam gendongan saat perjalanan pulang dimulai.

“Nanti aku ganti ya, Ki… uangnya,” kata Melisa pelan, menoleh ke arah Riki yang sedang menyetir.

Riki hanya mendengus santai. “Santai aja kali, Mel. Lo ngomong kayak gue bakal miskin karena bayar begituan.”

“Tapi... aku beneran nggak enak. Dari kemarin aku nyusahin kalian terus,” lanjut Melisa dengan nada menyesal.

Diana yang duduk di samping Melisa langsung memutar bola mata dan menghela napas. “Ngerepotin apaan sih, Mel? Udah berapa kali gue bilang, kita nggak ngerasa repot.”

“Iya,” sambung Riki, “Yang penting sekarang dua bocil itu aman, dan lo bisa kuliah lagi kayak biasa. Udah nggak usah drama-drama deh. Kita tim, inget?”

Melisa diam sejenak, lalu tersenyum kecil. Meski hari itu melelahkan, hatinya terasa hangat. Ia tak pernah membayangkan, di tengah keterasingan dan kesulitan, ia akan menemukan dua sahabat yang begitu setia menemani perjuangannya. Dan kini, dua bayi kecil itu menjadi pengikat takdir mereka yang tak pernah direncanakan—tapi mungkin memang sudah dituliskan.

1
Lisa
👍 Papanya Riki bisa bantu nih..jdi masalah mereka cpt beres.
Lisa
Ga terasa 2 baby itu skrg umurnya udh 3 thn..Meli benar² jadi Mama utk mereka berdua.
Lisa
Ethan & Evan udh mulai mengerti klo Meli adl mama mereka
Lisa
ya Meli telpn sahabatmu utk jelasin ke ortumu
Evi Lusiana
knp melisa gk lgsg tlp diana dn riki bwt njlasin k ortuny
Lisa
Wah berarti 2 baby itu diculik seseorang yg mungkin punya dendam pada 2 keluarga itu
Lisa
Sekarang Ethan & Evan aman di daycare..utk Melisa semangat kuliah lg y Mel 😊👍
Lisa
👍👍 persahabatan yg indah..rukun selalu y kalian bertiga
Lisa
😊 duo heboh dtg nih..
Lisa
Kasihan Meli jadi dituduh dia yg membuang anak itu..
Lisa
Bersyukur Melisa diangkat jadi karyawan tetap yg diperhatikan oleh managernya juga..semangat y Melisa,kerja lbh rajin lg y 😊👍
Lisa
Siap² y ortunya Melisa utk surprise dr Melisa😊
Lisa
Melisa udh menganggap Evan & Ethan anaknya..semangat terus y Melisa..moga aj ortu kandung mereka g bisa menemukan mereka.
Lisa
Gimana nih kelanjutannya..siap² y Melisa utk mengatakan pd ortumu.
Evi Lusiana
jd ethan dn evan anak² dr dua kluarga berpengaruh y thor
Susiajaaa: bisa jadi sih🤔🤭
total 1 replies
Anto D Cotto
gak sabar nungguin kelanjutan ceritanya
Lisa
Semangat y Meli
Lisa
Awal yg bagus nih
Lisa
Aku mampir Kak
Anto D Cotto
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!