Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Alex menghela nafasnya berat, diluar ruangan dia memegang dadanya yang terasa sakit, mungkin ini dinamakan sakit ketika melihat orang yang disayangi terluka.
"Maaf yah, aku hanya ingin yang terbaik untukmu bukan sengaja ingin menyakiti kamu dengan perkataan apalagi sikapku".
Dia menoleh kearah pintu kamar Tempat dimana Wina berada, dia ingin memeluk perempuan yang begitu disayangi nya hanya saja dia takut jika nanti Wina akan menolak dan bahkan menjauhi dirinya saat tahu jika dirinya menyimpan rasa seperti lelaki dewasa pada umumnya.
"Biarlah dulu, nanti juga dia akan berpikir kembali, aku yakin Wina bukan orang yang suka menyalahkan orang lain, dia pasti akan introspeksi dirinya setelah ini".
Alex berjalan menjauhi ruangan Wina untuk keluar rumah karena dia akan pergi ketempat seharusnya dia tuju sekarang, dia akan membereskan segala sesuatu yang berkaitan dengan kecelakaan yang menimpa Wina dan para sahabatnya itu.
"Siapkan jet Pribadi, pastikan kita sampai disana saat para Mafia itu ada ditempat mereka". Perintahnya dengan tegas.
Dirumah yang memang memiliki lapangan untuk penyimpanan jet pribadi khusus miliknya pun kini akan diberangkatkan.
"Baik bos". Ucap salah satu dari mereka.
Mereka segera menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh bos mereka, Alex menaiki mobil mini yang memang disediakan untuk menuju tempat jauh terutama tempat parkir pesawat pribadi miliknya dan keluarganya.
"Pesawatnya sudah siap bos, kami juga sudah menyiapkan segalanya termasuk menghubungi bos Mafia yang bos maksud dan katanya dia akan menunggu kita disana". Lapornya lagi.
Alex mengangguk kemudian menaiki pesawat pribadi itu dengan langkah pasti.
"Kalian semua akan membayar mahal karena berani mencelakai orang yang paling kusayangi setelah ibuku".
Wina yang telah menerima keputusan Alex kini hanya bisa duduk di kursi roda nya dengan sendu, dia sudah bertanya keadaan si kembar kepada dokter yang menangani mereka dan yang dikatakan oleh Alex tadi memang sarannya langsung dan dia sedikit merasa bersalah karena sudah keras kepala.
"Nyonya baik-baik saja? ". Tanya bibi Mirna ketika masuk kedalam kamar itu.
Wina yang tengah melamun pun langsung menoleh kepadanya sambil tersenyum tipis.
"Aku baik-baik saja bi, dimana kak Alex sekarang? ". Tanyanya penasaran.
Sejak keluar dari kamarnya tadi, Alex tidak memunculkan dirinya apalagi ini sudah sore dan menjelang malam hari.
"Beliau kelaur negeri menggunakan pesawat pribadi nyonya mungkin pulangnya besok atau lusa katanya beliau juga sekalian menjemput nyonya besar disana". Jawabnya dengan sopan.
Dia memang diberitahu oleh tuannya itu sebelum pergi jika dia akan berpergian keluar negeri sekaligus menjemput ibunya.
"Dia pergi dan tidak mengatakan apa-apa? ". Katanya sambil menatap heran pada bibi dihadapannya ini.
Mirna mengangkat kepalanya kemudian menatap sang nyonya kesyangan tuannya ini. Dengan lembut dia berusaha menjelaskannya.
"Tuan sengaja tidak mengatakan apapun nyonya, beliau ingin anda dan juga keluarga nyonya itu fokus pada kesahatan dan juga pemulihan, beliau hanya berpesan jika nyonya atau keluarga nyonya bertanya barulah kami jawab kemana beliau". Jawabnya pelan.
Wina menghela nafas pelan, dia sedikit khawatir karena banyak musuh berliaran diluar, dia takut jika kakak angkatnya itu akan mendapatkan masalah, rasa trauma menggunakan pesawat yang disabotase itu membuatnya khawatir.
"Tidak masalah bi, aku hanya khawatir pada keadaannya saat bepergian dalam keadaan banyak musuh mengintai seperti ini, aku takut mereka menyerangnya ditengah jalan seperti kami dulu".
Mirna tersenyum lembut sekaligus menenangkan nyonyanya ini, dia mengerti jika sang nyonya mengkhawatirkan tuannya itu.
"Jangan terlalu dipikirkan nyonya, tuan Alex sudah biasa bepergian, dia sudah meminta orang untuk mengecek pesawatnya terlebih dahulu sebelum berangkat jadi aman, do'akan saja dia agar biasa selamat sampai tujuan begitu juga kepulangannya nanti".
Wina hanya mengangguk pelan, ada rasa tak nyaman pada dirinya mendengar Alex bepergian jauh seperti itu.
Terjadi keheningan dalam ruangan itu, Wina termenung sejenak dan sang bibi kembali melaksanakan tugasnya untuk merapikan kamar Wina karena telah melakukan terapi sebelum dia masuk.
"Apa bibi punya foto ibu dari Kak Alex? ". Tanya Wina dengan pelan.
Dia memang sangat penasaran rupa dari ibunda sang kakak angkat itu, apalagi dia sudah mendengar sedikit kisah mereka.
"Apa nyonya mau keluar ruangan dang berkeliling dirumah ini?, dibawah ada foto figura wajah nyonya besar, kami tak punya foto beliau selain figura itu". Ucapnya menberikan solusi.
"Benarkah aku boleh keluar dari kamar ini bi? ". Tangan dengan girang.
Bibi Mirna tertawa pelan, dia sangat senang melihat wajah nyonya muda nya ini begitu senang dan gembira.
"Tentu boleh nyonya, asal tidak kelaur dari rumah ini, aku bisa dapat masalah jika nyonya melakukannya". Ucapnya lagi.
"Terima kasih bi, aku ingin kelaur berjalan-jalan, tolong temani dan bantu aku yah bi, aku sungguh-sungguh bosan didalam akar sendirian seperti ini". Ucapnya dengan manja dan sedikit merengek kecil.
Mirna mengangguk tersenyum lebar kemudian mengambil alih kursi roda sang nyonya untuk dibawah kelaur ruangan untuk berkeliling melihat keadaan rumah.
"Wow". Ucap Wina dengan takjub setelah dirinya sudha kelate dari ruangan itu.
"Na nyonya kelima ruangan disana adalah tempat keluarga anda berada, tapi maaf untuk sementara nyonya dilarang masuk terlebih dahulu". Ucapnya memperingati
Wina mengangguk pelan, dia harus bisa bersabar berkumpul dengan sahabat dan juga anak-anaknya, dia sudah mendengar langsung alasan dokter tentang perkataan Alex tadi pagi. jadi dia mengerti.
"Tidak apa bi, aku sudah mengerti karena memang kak Alex sudah memperingati aku tadi pagi utnuk tidak masuk kesana".
Bibi Mirna mengangguk kemudian kembali mendorong kursi roda sang nyonya untuk berkeliling
"Rumah ini sangat luas dan indah bi, pantas saja semua teman-temanku sangat takjub saat masuk kesini". Ucapnya dengan mata berbinar.
" Benar nyonya, rumah ini memang rumah impian nyonya besar dan tuan Alex, mereka memang sengaja membangun rumah super luas baik dari halaman maupun bangunan yang bahkan saking luasnya tempat ini, disini ada lapangan parkir pesawat".
Wina menghentikan langkah kursi rodanya, dia mendongkrak kebelakang sambil menatap sang bibi dengan tatapan tidak percaya.
"Benarkah disini ada lapangan pesawat pribadi? ". Tanyanya memastikan.
Snag bibi mengangguk kemudian kembali mendorong kursi roda itu untuk berkeliling.
"Disini juga ada danau dan air terjun asli nyonya, dari luar semuanya tampak seperti hutan karena memang kita tengah berada di hutan, hanya saja tuan dan nyonya merombak segalanya maka jadinya seperti ini apalagi mungkin ada banyak musuh yang berkeliaran diluar sana".
Wina mengangguk pelan, itu artinya tempat mereka ini memang sengaja dibuat kedalam jauh di hutan agar aman dari musuh