Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Dijodohkan
Gue baru aja bangun dari mimpi yang aneh lagi. Badan masih pegel setelah semalem “olahraga malam” sama Ria di kantor. Gue bangun jam 10, weekend tapi kepala penuh. Laras chat pagi-pagi bilang dia excited buat dinner nanti malem. Gue bales singkat sambil nyiapin kopi.
Tapi pas lagi santai di sofa, HP gue bunyi. Bu Harti, ibu gue.
“Halo Bu,” gue angkat dengan suara males.
“Bram! Kamu di mana? Pulang ke rumah sekarang! Ibu ada yang penting dibicarain.”
“Ibu, gue lagi di apartemen. Capek, nanti sore aja.”
“Enggak! Sekarang! Ini soal jodoh kamu. Ibu udah nemu yang pas.”
Gue mendesah panjang. Tiap minggu pasti gini. Tapi kali ini suara ibu kedengeran lebih serius. Akhirnya gue mandi cepet, ganti baju santai, dan nyetir ke rumah orang tua di daerah Cilandak. Sampai sana, ibu udah nunggu di ruang tamu sambil pegang album foto.
“Duduk sini,” kata ibu langsung. “Kamu umur 32, Bram. Masih gonta-ganti cewek mulu. Ibu malu sama tetangga. Ini, Aprilia. Teman anaknya Bu Rini, tetangga depan. Umur 30, kerja banker di bank swasta besar. Cantik, berpendidikan, dari keluarga baik.”
Ibu nunjukin foto Aprilia. Gue liat sekilas cewek dengan rambut cokelat bergelombang, make up natural, pakai dress hijau off-shoulder yang elegan, senyumnya manis tapi keliatan classy. Badannya proporsional, leher ada kalung mewah. Keliatan dewasa dan mandiri.
“Gimana Bu? Gue ga kenal dia.”
“Besok Ibu atur ketemu. Kamu harus coba serius kali ini. Jangan kayak dulu lagi. Aprilia ini tipe yang stabil, bukan kayak cewek-cewek club yang kamu suka.”
Gue cuma ngangguk. Dalam hati mikir, “Lagi-lagi ibu maksa.” Tapi gue capek juga nolak terus. Akhirnya gue bilang iya, coba dulu ketemu.
Malemnya gue jemput Laras buat dinner di restoran Italia yang cozy di Sudirman. Dia pakai dress putih simpel, keliatan manis seperti biasa. Kita ngobrol enak, ketawa-ketawa soal kerjaan dan film. Tangan gue hampir pegang tangannya pas lagi jalan keluar restoran.
Tapi tiba-tiba dari arah lain, suara familiar.
“Bram? Wah lama ga ketemu lo!”
Vera. Cewek dari club yang suka main bebas. Rambutnya dikuncir tinggi, pakai crop top dan rok pendek, senyumnya nakal. Dia langsung peluk gue kayak biasa, dada dia nempel di dada gue.
“Vera… lagi apa lo di sini?” gue kaget.
“Lagi dinner sama temen. Eh, ini siapa? Pacar baru lo?” Vera ngeliat Laras dengan tatapan menilai.
Laras senyum kaku, tapi gue liat matanya berubah. Cemburu langsung keliatan.
“Iya, ini Laras,” gue jawab pelan.
Vera ketawa. “Oh, serius ya kali ini? Padahal minggu lalu lo masih ajak gue ke apartemen lo. Koxxxx lo masih enak aja ya Bram.”
Anjir. Vera emang blak-blakan. Laras langsung diem, muka memerah. Gue coba tarik Vera ke samping, tapi dia malah tambah semangat cerita.
“Lo inget ga malem itu? Lo bilang capek sama cewek polos, pengen yang liar kayak gue.”
Laras ga bilang apa-apa. Dia cuma bilang pelan, “Bram, gue pulang duluan ya. Capek.”
“Laras, tunggu. Ini bukan—”
Tapi dia udah jalan ke arah taksi. Gue coba kejar, tapi Vera narik tangan gue.
“Biarkan aja. Cewek polos gitu ga bakal tahan sama lo.”
Gue marah sama Vera, tapi dia cuma ketawa lalu balik ke temennya. Gue langsung chat Laras.
Bram: Laras, maaf. Vera mantan temen club doang. Ga ada apa-apa sekarang.
Dia bales lama banget.
Laras: Bram, aku butuh waktu. Lo keliatan masih banyak yang lain. Aku ga mau cuma jadi salah satu.
Gue panik. Laras yang biasanya manis tiba-tiba menjauh. Gue telpon dia, tapi ga diangkat. Malem itu gue balik ke apartemen sendirian, kepala pusing.
Besok paginya ibu nelpon lagi.
“Aprilia udah setuju ketemu sore ini di kafe deket rumah. Kamu dateng ya!”
Gue bingung banget. Di satu sisi Laras lagi marah dan menjauh gara-gara Vera, di sisi lain ibu maksa ketemu Aprilia. Akhirnya gue setuju. Siangnya gue siapin diri, pake kemeja rapi, parfum yang bagus.
Kafe tempat ketemuan Aprilia cozy, suasananya kalem. Dia udah duduk di sana pas gue dateng. Beneran mirip foto cantik, rambut cokelat bergelombang, dress casual tapi elegan. Umur 32 tapi keliatan fresh.
“Aprilia?” gue nyapa.
“Iya, Bram. Senang ketemu kamu,” katanya sambil senyum sopan. Suaranya lembut, kelas banget.
Obrolan mulai. Dia cerita kerja sebagai relationship manager di bank, suka traveling, dan hobinya yoga. Gue cerita soal marketing, gym, dan sedikit soal hidup gue yang “masih nyari arah”. Aprilia dengerin baik, ga judge.
“Katanya dari ibu kamu, kamu orangnya serius sekarang?” tanyanya sambil minum latte.
Gue garuk kepala. “Ibu emang maksa. Tapi gue lagi coba. Lo gimana?”
“Aku juga lagi cari yang matang. Ga suka main-main lagi,” jawabnya sambil senyum tipis.
Kita ngobrol hampir dua jam. Aprilia keliatan dewasa, stabil, beda sama Laras yang masih polos atau Ria yang liar. Tapi gue masih mikirin Laras yang tiba-tiba cuek chat gue.
Pulang dari ketemu Aprilia, gue coba chat Laras lagi.
Bram: Laras, bisa kita ketemu dan jelasin? Vera cuma temen lama.
Laras: Bram, aku lagi bingung. Lo banyak rahasia kayaknya. Aku butuh jeda dulu.
Gue frustasi. Sementara itu, chat dari Aprilia masuk.
Aprilia: Thanks hari ini Bram. Enak ngobrolnya. Kapan-kapan lagi ya?
Gue bales sopan, tapi hati gue campur aduk. Bingung atur semuanya. Mau deketin Aprilia buat nurutin ibu, tapi Laras lagi menjauh, Ria masih nunggu di kantor, Vera suka muncul tiba-tiba, Sinta hamil masih ganggu.
Malemnya gue rebahan, mikirin cara atur pertemuan selanjutnya sama Aprilia tanpa ketahuan Laras. Mungkin ajak Aprilia ke tempat yang jauh dari Senopati. Atau ketemu diam-diam dulu.
Tapi besok Senin kantor, Ria pasti minta “meeting spesial” lagi. Bambs suka ngawasin, Dian mungkin lagi obsesi ngeliatin gue. Hidup gue kayak lagi di persimpangan.
Gue buka foto Aprilia yang ibu kirim. Cantik, stabil, tipe istri yang ibu idamkan. Tapi Laras… dia yang bikin gue penasaran pertama kali.
“Gue harus gimana nih,” gue gumam sambil tutup mata.
Besok gue rencana chat Aprilia buat ketemu lagi weekend depan. Pelan-pelan dulu, biar ga buru-buru. Tapi Laras masih ga bales chat gue. Cemburu dia keliatan parah gara-gara Vera yang blak-blakan itu.
Pagi harinya, sebelum ke kantor, ibu nelpon lagi.
“Gimana ketemu Aprilia? Bagus kan? Ibu bilang dia cocok sama kamu.”
“Iya Bu, baik. Gue coba lanjut.”
“Bagus. Jangan sia-siain kesempatan ini Bram. Kamu udah ga muda lagi.”
Gue tutup telpon, tarik napas dalam. Bingung atur jadwal ketemu Aprilia tanpa bentrok sama Laras yang masih marah. Mungkin gue harus jujur ke Laras soal tekanan keluarga, tapi takut dia makin menjauh.
Di kantor, Ria langsung kirim chat.
Ria: Malem ini apartemen gue kosong. Dateng ya.
Gue cuma baca tapi ga bales. Pikiran gue penuh Aprilia, Laras, dan kekacauan yang mulai numpuk lagi.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍