JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mimpi buruk
Jarum jam dinding di kamar penthouse menunjukkan pukul dua dini hari. Di luar, langit Surabaya seperti sedang menumpahkan kemarahannya. Hujan deras turun memekakkan telinga, menghantam kaca jendela besar kamar hotel, disusul oleh kilatan petir yang sesekali membelah kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan di dinding.
Di atas sofa panjang, tubuh Nayara mulai gelisah. Keringat dingin kembali bercucuran di pelipisnya. Napasnya memburu pendek-pendek, dan bibirnya bergetar, merancaukan kata-kata yang tidak jelas.
"Jangan... Tolong... Ayah... Ibu... ugh..." Nayara mulai mengigau. Trauma masa lalu yang terkunci rapat di dalam benaknya mendadak bangkit, dipicu oleh suara menggelegar dari langit yang terdengar seperti suara ledakan di masa lalunya.
Blarrr!
Suara petir yang sangat menggelegar menyambar tepat di dekat area hotel, disusul kilatan cahaya yang membutakan.
"TIDAK! JANGAN!" Nayara berteriak histeris dalam tidurnya. Tubuhnya tersentak hebat, namun kedua matanya masih terpejam rapat. Dia terjebak di dalam mimpi buruk yang menyiksa, menangis tertahan dengan tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan.
Suara teriakan itu langsung membuat Dante yang baru saja terlelap di atas kasur *king size* tersentak bangun. Pria itu langsung duduk tegak, waspada, dan tangan kanannya refleks merogoh ke bawah bantal mencari senjatanya. Namun, begitu matanya menangkap sosok Nayara yang meringkuk ketakutan di atas sofa, dia menurunkan tangannya.
"Heh, Kucing Liar," panggil Dante, suaranya serak khas orang bangun tidur. "Kau berisik sekali. Bangun."
Karena tidak ada respons dan Nayara justru semakin terisak dalam tidurnya, Dante mendengus jengkel. Dia turun dari ranjang, melangkah mendekati sofa, lalu mengguncang bahu Nayara dengan kasar. "Nayara! Bangun! Kau mengganggu tidurku!"
Namun, Nayara sama sekali tidak sadar. Cengkeramannya pada selimut hotel semakin erat, wajahnya pias penuh ketakutan yang nyata.
Blarrr!
Satu dentuman petir kembali menyambar dengan kilat yang menyilaukan kamar. Bersamaan dengan suara itu, Nayara yang didera ketakutan luar biasa mendadak bergerak refleks. Dia bangkit menerjang maju, mencari sumber kehangatan terdekat, dan langsung melingkarkan kedua tangannya erat-erat di sekeliling pinggang Dante.
Grep.
Wajahnya disembunyikan di dada bidang Dante, meremas kemeja pria itu hingga kusut. Tubuhnya yang mungil bergetar hebat di dalam dekapan sang Don Mafia.
Dante seketika mematung. Tubuhnya menegang kaku seperti batu karang. Sepasang matanya melotot tidak percaya menatap kepala Nayara yang bersandar di dadanya. Bau harum rambut gadis itu yang bercampur minyak angin dan aroma obat langsung menyeruak ke indra penciumannya. Belum pernah ada orang yang berani menyentuhnya seperti ini, apalagi memeluknya dengan begitu erat seolah dia adalah satu-satunya pelindung di dunia.
"Heh... lepas," perintah Dante, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Dia mencoba memegang kedua bahu Nayara untuk mendorongnya menjauh. "Lepaskan aku, Nayara. Kau sudah gila, ya?!"
Namun, alih-alih lepas, cengkeraman tangan Nayara justru semakin mengencang, mengunci tubuh Dante dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk ukuran gadis yang sedang sakit. "Jangan... tolong... dingin... takut..." bisik Nayara terisak di balik dada Dante.
Blarrr!
Petir kembali menyambar berturut-turut di luar sana, membuat Nayara semakin menenggelamkan wajahnya, memeluk Dante seolah hidupnya bergantung pada pria itu.
Dante menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan frustrasi yang teramat sangat. Rasa kantuk yang luar biasa dan rasa lelah pasca konfrontasi menegangkan dengan Don Hendra tadi malam mulai menyerang otaknya dengan kejam. Kepalanya berdenyut, dan tenaganya terasa terkuras habis hanya untuk meladeni keras kepalanya gadis ini sejak kemarin.
Dante melirik kasur king size yang luas dan kosong di seberang ruangan, lalu beralih menatap sofa tempat mereka berada. Menyeret Nayara kembali ke kasur dalam kondisi histeris seperti ini hanya akan membuang tenaganya yang tersisa.
"Sialan. Kau benar-benar pembawa sial, Nayara," umpat Dante lirih.
Akhirnya, karena sudah terlalu lelah untuk memberontak dan tidak punya energi lagi untuk berdebat, Dante menyerah. Dia mendudukkan dirinya di sofa panjang yang sempit itu, membiarkan tubuhnya berhimpitan erat dengan tubuh Nayara.
Dante menyandarkan punggungnya pada lengan sofa, sementara Nayara langsung merosot ikut berbaring, menjadikan paha tegap Dante sebagai bantalnya, dengan tangan yang tetap melingkari pinggang pria itu protektif.
Melihat tubuh gadis itu yang masih sedikit gemetar di tengah tidurnya yang tidak tenang, tangan kanan Dante yang biasa digunakan untuk memegang senjata pembunuh, perlahan bergerak ragu. Dengan gerakan yang teramat kaku dan canggung, dia menurunkan tangannya, lalu mulai mengusap-usap punggung Nayara secara perlahan di balik selimut tebalnya.
Anehnya, begitu telapak tangan hangat Dante menyentuh punggungnya, napas Nayara yang semula memburu berangsur-angsur mulai teratur. Isakannya mereda, dan kerutan ketakutan di dahinya perlahan melonggar.
Dante menatap wajah polos Nayara yang kini terlihat begitu rapuh saat tertidur—sangat berbeda jauh dengan singa betina yang beberapa jam lalu menyemprotnya dengan kata-kata pedas. Ada letupan perasaan asing yang mendadak menyelinap di dada Dante, sebuah letupan kenyamanan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
Sambil terus mengusap punggung Nayara dengan ritme yang konstan, netra elang Dante perlahan mulai meredup kelelahan. Dia memejamkan matanya, membiarkan dirinya ikut hanyut ke dalam alam mimpi, tidur berhimpitan di atas sofa sempit bersama tawanannya di bawah iringan simfoni hujan deras Surabaya.
Sementara di sudut lain ruangan, ranjang *king size* mewah yang sempat mereka perebutkan dengan penuh urat dan emosi itu, kini justru terabaikan begitu saja dalam keheningan malam, dingin tanpa ada satu pun yang menempatinya.