NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bulan Madu

Neya menahan napas di bawah kolong meja, detak jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa bergema di dalam rongga dadanya sendiri. Udara di dalam ruang kerja itu mendadak terasa tipis, pengap, dan mencekam. Hanya berjarak beberapa sentimeter dari pandangannya yang gemetar, sepasang sepatu pantofel kulit hitam yang mengilat berdiri diam.

Itu Aris. Suaminya yang sah—atau setidaknya, pria asing yang baru dilegalkan masuk ke dalam hidupnya lewat selembar buku nikah baru bertanggal kemarin siang.

Aris terdengar menghela napas panjang, sebuah helaan napas berat yang sarat akan kelelahan fisik yang teramat sangat. Laki-laki itu melangkah mundur satu langkah, lalu mengempaskan tubuhnya ke atas kursi kerja jati dengan kasar. Suara derit kursi kayu itu terdengar bagai lonceng peringatan bagi Neya. Di atas kepala Neya, Aris menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya sendiri sembari menggumamkan sesuatu tentang urusan proyek perusahaan yang mendadak kacau dan menyita seluruh energinya sejak pagi hari.

Neya tahu, dia tidak bisa terus bersembunyi di dalam kegelapan kolong meja ini. Sedikit saja Aris menurunkan pandangannya, atau menjatuhkan pulpen ke lantai, maka tamat sudah riwayatnya. Siasatnya harus dimulai sekarang. Dia harus keluar, dan dia harus membalikkan keadaan sebelum kecurigaan Aris bangkit.

Mengepalkan jemarinya kuat-kuat demi mengusir sisa gemetar yang melumpuhkan, Neya merangkak mundur dengan sangat senyap menuju sisi belakang meja yang tertutup oleh bayangan gorden marun yang panjang menjuntai hingga ke lantai. Sambil memeluk erat gaun tidur satin merah marun yang tadi ia ambil dari kamar bundanya, Neya sengaja menggeser kakinya, menyenggol vas bunga keramik kecil di dekat jendela hingga bergeser dan menimbulkan bunyi gesekan yang cukup nyaring.

Sreeek.

Aris seketika tersentak dari posisi bersandarnya. Matanya yang tajam langsung mengarah ke sudut jendela. "Siapa itu?!"

Neya perlahan melangkah keluar dari balik tirai panjang, membiarkan tubuhnya terekspos oleh temaram cahaya siang yang menembus celah gorden. Wajahnya sengaja disetting sedemikian rupa—terkejut, dengan binar mata bulat yang tampak polos, sedikit ketakutan, dan dipenuhi gurat kepasrahan yang rapuh.

Kak Aris...?" bisik Neya lirih, merapatkan gaun satin marun itu di depan dadanya.

"Neya?" Aris menatapnya dengan dahi berkerut dalam. Rasa terkejut dan kilat curiga sempat melintas di matanya selama beberapa detik. Laki-laki itu berdiri dari kursinya. "Kenapa kamu ada di ruang kerjaku? Sejak kapan kamu ada di dalam sini, Sayang?"

Neya menunduk dalam, meremas kain satin lembut di tangan untuk mengaluhkan perhatian Aris dari saku piyamanya yang menyembunyikan pemantik api berinisial "K" dan kunci perak kuno. Ia melangkah mendekati Aris dengan langkah yang sengaja diperlambat, menciptakan ritme yang mengundang.

Maaf, Kak... tadi Neya dipanggil Bunda ke kamarnya. Bunda memberikan gaun tidur ini untuk Neya. Kata Bunda... Neya harus belajar menjadi istri yang baik untuk melayani Kak Aris." Neya mendongak pelan, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Aris dengan tatapan sayu yang begitu memikat dan penuh kepatuhan. "Neya ke sini karena mencari Kak Aris, mengira Kak Aris sudah pulang dari kantor. Neya ingin menunjukkan gaun ini... tapi karena mendadak kepala Neya pening lagi, Neya bersandar di dekat gorden dan tidak sengaja menyenggol vas itu. Maafkan Neya kalau mengejutkan Kak Aris..."

Mendengar kata " yang keluar dari bibir ranum Neya, ditambah dengan tatapan pasrah yang begitu menggoda, benteng pertahanan Aris yang dipenuhi rasa curiga seketika runtuh tanpa sisa. Kelelahan yang mendera fisiknya setelah seharian bertempur dengan urusan kantor mendadak menguap begitu saja. Gairah yang pekat dan berapi-api menyala di dalam matanya saat pandangannya menyisir lekuk tubuh Neya yang terbalut baju rumahan tipis.

Aris melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka, lalu meraih pinggang ramping Neya dengan sepasang tangan besarnya yang posesif, menarik tubuh wanita itu hingga menempel erat pada dadanya yang bidang.

Kamu... sengaja menyiapkan kejutan bulan madu ini untukku, Sayang?" Suara Aris terdengar memberat, berubah menjadi nada rendah yang serak dan sarat akan tuntutan jantan.

Neya merasakan gejolak penolakan yang luar biasa dari dalam lubuk hatinya. Nuraninya menjerit histeris meminta tubuhnya untuk memberontak dan mendorong dada pria di hadapannya ini. Pemantik api logam di dalam sakunya terasa seolah memancarkan hawa panas, mengingatkannya pada memori asing tentang pria lain berinisial "K". Namun, akal sehat Neya jauh lebih berkuasa daripada emosinya. Dia tahu dia tidak boleh gegabah. Jika dia menarik diri atau menolak Aris sekarang, kedoknya akan terbongkar, dan dia tidak akan pernah bisa menguak alasan di balik konspirasi kejam yang dilakukan ibu dan suaminya sendiri.

Neya memaksakan seulas senyum paling manis yang ia miliki. Perlahan, ia mengulurkan kedua tangannya yang halus, melingkarkannya di sekeliling leher kokoh Aris, membiarkan jarak di antara mereka terkikis habis. "Iya, Kak. Maafkan Neya yang selama beberapa hari ini terlalu kaku..."

Tanpa menunggu Neya menyelesaikan kalimatnya, Aris langsung menyerang bibir Neya dengan ciuman yang dalam, panas, dan posesif. Pagutan itu begitu intens, seolah Aris ingin menyerap seluruh eksistensi Neya ke dalam dirinya. Telapak tangan Aris yang hangat dan kasar mulai merayap masuk ke balik baju rumahan Neya, mengusap kulit punggungnya dengan usapan yang membakar, mengirimkan gelombang sengatan listrik yang aneh ke seluruh saraf tubuh Neya.

Neya terkesiap dalam ciuman itu. Pada detik-detik awal, batinnya mati-matian menolak. Namun, kekuatan fisik dan aroma maskulin Aris yang menguar jantan perlahan-lahan mulai mengikis pertahanan tubuhnya. Sebagai wanita normal, tubuh Neya tidak bisa membohongi respons biologisnya sendiri ketika Aris dengan lihai mengecup lehernya, menghantarkan sensasi geli yang intens hingga membuat lutut Neya mendadak lemas.

Aris tidak memberikan celah bagi Neya untuk berpikir. Dengan satu gerakan dominan, Aris mengangkat tubuh mungil Neya dan mendudukkannya di atas meja kerja mahoni yang besar. Kain piyama Neya disingkap, dan ketika kulit mereka saling bersentuhan tanpa pembatas, jalinan gairah di antara mereka semakin tak terkendali. Udara di dalam ruang kerja itu seolah ikut memanas, dipenuhi oleh suara desah napas yang berkejaran dengan deru rintik hujan di luar jendela.

Sentuhan Aris bergeser ke paha bagian dalam Neya, membelainya dengan ritme yang menuntut sekaligus memabukkan. Tubuh Neya mulai berkhianat pada logikanya sendiri; ia melenguh pelan, kepalanya tertengadah pasrah saat bibir Aris menjelajahi tulang selangkangannya dengan gigitan-gigitan kecil yang sensual. Jemari tangan Neya yang semula kaku kini mulai meremas rambut lebat Aris, menyerahkan dirinya untuk tenggelam dalam pusaran gairah yang digelorakan oleh suaminya.

Pakaian mereka terlepas sepenuhnya, jatuh berserakan di atas lantai kayu, meninggalkan mereka berdua dalam peleburan fisik yang teramat intim di atas meja kerja tersebut. Setiap gerakan Aris begitu gagah dan penuh dominasi, menuntut balasan yang sama panasnya dari Neya. Di bawah cengkeraman gairah yang membakar, Neya terbuai, pinggulnya bergerak mengikuti ritme penyatuan yang dibawa Aris, menciptakan simfoni penyatuan suami istri yang begitu intim, bergelora, dan penuh dengan peluh yang menyatu. Pembawaan jantan Aris siang itu benar-benar menenggelamkan kewaspadaan fisik Neya, mengikatnya dalam sensasi kenikmatan yang terasa begitu nyata sekaligus semu.

Namun, di balik lenguhan napas yang beradu, cengkeraman kuku Neya di punggung kokoh Aris, dan kehangatan kulit yang membakar, ada bagian kecil di dalam sudut terdalam benak Neya yang tetap tinggal dalam kebekuan yang dingin bagai es.

Setiap kali Aris membisikkan kata cinta di telinganya dalam puncak pelepasan gairah mereka, batin Neya justru mencatat setiap jengkal kebohongan ini dengan sangat rapi. Logikanya mengawasi dari kejauhan, mengingatkannya bahwa kepasrahan tubuh dan desah nikmatnya saat ini adalah harga mahal yang harus ia bayar demi sebuah kemenangan besar di masa depan. Dia membiarkan Aris mengira bahwa dia telah berhasil menjinakkan, menguasai, dan memiliki istrinya sepenuhnya di atas ranjang bulan madu ini.

Jam dinding terus berdetik, membawa waktu merayap menuju senja ketika badai di luar rumah abu-abu itu mulai mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di dalam kamar pengantin yang kini telah berpindah menjadi saksi bisu, Aris tidur terkapar dengan sangat lelap di samping Neya. Wajah pria itu tampak begitu puas, dengan satu lengan kekarnya yang masih melingkar protektif di atas perut Neya, seolah enggan melepaskan miliknya bahkan dalam mimpi sekalipun.

Neya berbaring telentang, menatar lurus ke arah langit-langit kamar yang temaram. Napasnya sudah kembali teratur, namun dadanya terasa kosong dan berat. Perlahan dan dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan sang suami, Neya menggeser lengan kekar Aris dari tubuhnya.

Ia turun dari ranjang, memungut gaun satin marun yang sempat terabaikan, lalu memakainya untuk menutupi tubuhnya yang polos. Langkah kaki yang masih terasa sedikit lemas itu membawa Neya berdiri di tepi jendela kamar yang besar, menatap keluar, ke arah rimbunnya pepohonan yang basah oleh sisa air hujan.

Jemarinya merogoh saku gaun tidur satinnya yang baru. Di dalam sana, ujung jarinya menyentuh permukaan dingin dari kunci perak berukir rasi bintang, dan... pemantik api silver milik pria misterius berinisial "K".

Neya mengeluarkan pemantik api itu, menatapnya dalam keremangan sore yang kian menggelap. Ia tidak menyalakan apinya, hanya mengusap goresan demi goresan di permukaannya dengan ibu jari. Kilasan suara jeritan histeris yang memanggil namanya kembali bergaung lirih di sudut kepalanya, memicu rasa rindu yang teramat perih sekaligus asing di dalam dadanya.

Neya tahu, bulan madu ini baru saja dimulai. Sandiwara besarnya bersama Aris telah berhasil menyelamatkannya hari ini, namun permainan yang sesungguhnya baru saja meletakkan batu pertama. Matanya menatap lurus ke arah cakrawala malam yang mulai menjemput di balik kaca jendela, dengan sejuta tanya yang menggantung pekat di udara tentang apa yang akan ia temukan selanjutnya, dan seberapa jauh ia harus mengorbankan tubuh dan perasaannya demi menjemput kembali takdirnya yang hilang

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!