Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Andre lagi
Bagas terus berlari menyusuri lorong puskesmas yang tidak terlalu panjang ini.
Kakinya berhenti tepat di depan sebuah ruangan.
"Aku yakin, dia tadi lewat sini" gumam Bagas sembari melihat sekeliling.
Mata Bagas menyipit membaca plang yang berada tepat diatas kepalanya.
"Kamar mayat..." bacanya meringis.
Ini sudah sangat sore bahkan menjelang petang.
Seketika kuduknya meremang.
Segera Bagas berbalik dan melangkah cepat meninggalkan lorong yang sepi itu.
Perempuan yang menabrak Bagas keluar dari balik dinding kamar may*t.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan laki-laki itu Gas... Kamu harus jaga bapak sama ibu.... Biar mbak yang selesaiin semuanya hingga tuntas" bisiknya pelan dengan tatapan nanar pada punggung Bagas yang telah menjauh dan menghilang diujung lorong.
Dia Maharani.
Perempuan itu dengan sisi manusianya mencoba mencegat adik laki-lakinya ketika Andre mendekati remaja tersebut.
Alarm tanda bahaya terkirim langsung karena kontak hubungan darah antara keduanya.
Meski mbah Djani awalnya tidak setuju jika Rani menampakkan diri pada keluarganya, namun Rani tak perduli.
Dia tidak ingin orangtua dan adiknya jadi korban kekejaman Andre berikutnya.
Diruang rawat pak Rahman.
Bagas masih terus memikirkan pertemuan dirinya dan perempuan yang ia yakini adalah kakaknya, Maharani.
"Aku yakin dia mbak Rani... Tapi kenapa ada yang beda dari mbak Rani? Dia seperti bukan lagi manusia biasa... Wujudnya seperti ada yang beda dan terutama lagi, mbak Rani makin cantik. Kulit wajahnya begitu mulus seperti perempuan kota yang banyak perawatan mahal" Bagas bermonolog pada dirinya sendiri.
"Kulit siapa yang mulus Gas? Kamu punya pacar?" suara bu Sukma mengejutkan Bagas hingga gelas yang berisi air hampir saja jatuh dari genggaman tangannya.
"Eh... Bukan siapa-siapa buk... Bapak udah tidur?" sahut Bagas dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Bu Sukma menyipitkan mata.
"Benaran bu... Bukan siapa-siapa dan aku belum punya pacar. Sekolahku aja masih berantakan, belum uang jajan yang terbatas. Gimana mau ajak anak orang pacaran... Nggak lah bu... Ntar aja kalau udah dewasa dan udah dapat kerjaan yang layak di kota... tapi aku mau senangin bapak dan ibu dulu..." kilah Bagas.
Bu Sukma teharu mendengar penuturan putra bungsunya.
"Andai mbak mu ada disini, kita nggak akan sulit kayak gini..." wajah sendu bu Sukma membuat Bagas memeluknya.
"Kita cari mbak Rani sama-sama bu... Aku yakin, mbak Rani nggak kemana-mana dan kita berdoa supaya dia baik-baik saja...." hibur Bagas yang diamini oleh bu Sukma.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu dari mana mas...? Kok nggak pernah main kerumah? Padahal aku udah siapin baju dinas kesukaan kamu" ucap Lira yang saat ini berada diruang kerja Andrean.
"Jaga sikapmu Lira! Ini masih jam kerja" titah Andre dingin.
Jemari Lira yang tadinya bermain di dada bidang Andre ia tarik kembali. Memilih pindah duduk kekursi seberang Andre.
Wajahnya cukup kesal karena Andre menolaknya.
"Kamu kenapa mas? Kok nggak kayak biasanya? Kamu akhir-akhir dingin, jarang balas chat dariku apalagi jarang kerumah... Ada apa?" selidik Lira penuh tanya,menatap penuh wajah Andre yang sedang serius.
Andre meletakkan pena yang sejak tadi menari-nari diatas kertas yang berada digenggamannya lalu membalas tatapan Lira.
"Kita tidak usah sering ketemu. Juragan Kardi sedang memata-matai ku. Aku nggak mau nyaw*ku atau kamu jadi terancam... Sekarang keluarlah jika tidak ada yang perlu kamu bicarakan lagi. Aku sibuk!" tegas Andre mengusir Lira.
Lira mendorong kursi yang ia duduki secara kasar hingga berderit.
"Pokoknya, aku nggak mau kita putus. Lusa, aku tunggu kamu di hotel tempat biasa. Kamu harus datang jika tidak ingin rahasia hubungan kita kebongkar" ancam Lira sebelum dirinya keluar dari ruangan Andre.
Pintu ruang kerja Andre berdebum karena Lira menutupnya kasar.
Rahang Andre mengeras.
"Berani sekali j*lang seperti kau mengancam ku...! Kita lihat siapa yang akan berakhir!" dengus Andre menahan emosi.
****
Lusa yang telah dinanti oleh Lira akhirnya tiba juga.
Perempuan itu sudah wangi dan bersih.
Lingerie hitam berbahan transparan ditambah dengan underwear model g-string menambah kesan sexy pada Lira.
Tepat pukul 8 malam, bel kamar hotel berbunyi.
Lira, dengan senyum terkembang segera membukanya.
"Kamu datang juga mas... Ayo masuk...." Lira menarik tangan Andre agar segera masuk.
Tanpa sepatah kata, keduanya memulai pergelutan panas.
Erangan dan des*ah saling bersahut dikamar hotel yang cukup luas tersebut.
Entah berapa kali keduanya bergulat sehingga kamar itu layaknya kapal pecah.
Seprai dan bantal berserakan, pun dengan pakaian mereka.
Harus Andre akui, Lira pandai menyenangkan dirinya.
Lira terlelap karena rasa lelah dan kantuk setelah kegiatan menguras tenaganya.
Sementara Andre memilih duduk di balkon kamar.
Sekali lagi Andre menoleh kearah ranjang dimana Lira bergelung dengan nyaman.
Iris mata Andre menggelap.
Ada sesuatu yang ia rencanakan dalam kepalanya.
Tak lama, ponselnya bergetar.
"Aku siap bos..."
Sebait pesan terkirim ke ponselnya.
Tak ada nama, tak ada keterangan dan hanya nomor pribadi yang tertera dilayar ponsel mahal Andrean.
Andre menarik sudut bibirnya.
Ada senyum mengerikan terlukis diwajah tampannya.
Lira bangun ketika hari sudah siang.
Kepalanya sakit berikut dengan badannya yang terasa pegal.
Ia meraba sisi ranjang.
Dingin, seperti tak ada siapapun bersamanya padahal sebelumnya kamar itu begitu riuh.
Lira bangkit dan menahan selimut disisi ketiaknya.
Mencari ponsel untuk melihat pesan dari Andre.
Kosong.
Tak ada pesan apapun dari lelaki tersebut.
"Dia kebiasaan ninggalin aku kalau udah dapat enak..." rutuk Lira.
Dengan dongkol, Lira segara membersihkan diri.
Hari ini dirinya ada janji bersama seseorang yang hendak membeli motornya.
Lira bermaksud akan menjual motor hasil jerih payahnya dan menggantinya dengan mobil yang telah ia incar sejak beberapa bulan lalu.
Selain mendapatkan kebutuhan batin, Lira juga mendapat kebutuhan lahir dari Andre.
Laki-laki itu rutin mengirim uang kerekening Lira dengan jumlah yang cukup lumayan dibanding gajinya sebagai pegawai kantor desa yang cukup membeli bensin dan makanan.
Lira telah tiba di lokasi janjian.
"Kok kayaknya rumah ini sepi deh... Apa cuma perasaan ku aja kali ya...?" gumamnya ketika memperhatikan sekeliling.
"Nona Lira..." sebuah suara mengejutkan perempuan itu hingga menoleh mencari asal suara.
Lira mendongak keatas balkon yang rupanya seorang laki-laki berbadan tegap telah berdiri disana.
"Ayo masuk, kita selesaikan didalam..." tukas lelaki tersebut yang dituruti oleh Lira tanpa kecurigaan apapun.
Mata Lira menyipit begitu masuk kedalam rumah yang diruang tamunya terdapat sebuah kepala harim*u yang dijadikan sebagai hiasan dinding.
"Itu sudah mat*..."
"Oh...." ringis Lira.
"Mana STNK nya boleh saya lihat?" pinta lelaki tersebut menengadah tangan.
"Bentar" Lira merogoh isi shoulder bag-nya.
Setiap gerakan Lira tak luput dari pantauan si lelaki.
"Ini" Lira menyerahkan STNK lengkap dengan BPKB atas namanya.
"Baik.. Saya akan beli dengan harga yang pantas lebih kesepakatan.." ujar laki-laki itu yang kemudian beranjak kedalam dengan alasan mengambil ponselnya.
Lira mengitari isi rumah sambil menunggu calon pembeli motornya kembali.
"Hhhhmmmmmppppppttttttt......."
Seseorang telah membekap Lira dari belakang hingga perempuan itu tak sadarkan diri.
"Kita akan bersenang-senang dulu sebelum kamu bertemu Tuhan" ucap si laki-laki yang tak lain adalah yang ingin membeli motor Lira tadi.
Laki-laki itu melancarkan aksinya saat Lira tak sadarkan diri.
Nasib Lira tak ubahnya dengan apa yang dialami oleh Maharani.
Laki-laki itu membungkus tubuh Lira yang sudah tak bernyawa lalu membawanya kesuatu tempat.
Lubang sedalam 3 meter lebih telah disiapkan. Tubuh Lira dibuang begitu saja dan dikubur.
Semua hal yang bersangkut dengan Lira dilenyapkan.
"Selamat bergabung dengan yang lainnya"ucap laki-laki itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ini ponselnya bos Andre..." ujar si laki-laki algojo kepada seseorang yang berdiri di samping mobilnya.
"Bayaran mu sudah aku transfer. Segeralah pergi dari kota ini dan jangan pernah muncul dalam keadaan apapun!" titahnya yang langsung dituruti tanpa bantahan.
Andre membuka ponsel Lira yang menampilkan wallpaper gadis itu.
"Aku sudah katakan, jangan main-main dengan Andrean! Aku bukan laki-laki yang pemaaf dan tidak suka diancam! Lira, selamat tinggal dan terima kasih atas servisan mu tadi malam.... " senyum mengerikan terlihat dari bibirnya Andre.
Dia menyewa seseorang yang berpura-pura hendak membeli motor Lira lalu memancing datang kerumah rahasia yang hanya dirinya yang tahu.
Lira, gadis malang itu berakhir dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Cintanya harus dibayar dengan nyawanya sendiri.
Andre berhasil melakukan lagi tipu daya dengan memanfaatkan wajah tampannya hingga perempuan polos masuk kedalam perangkapnya dan berakhir mengenaskan jika dirinya sudah bosan.
Bersambung..