Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Si Besar yang Ingin Menjadi Karyawan Tetap
Suara Asisten Lian terdengar stabil melaporkan di telinganya, setiap kata menguraikan rutinitas harian Tania dengan jelas.
Ketika mendengar bahwa Titan baru saja membelikan kalung mahal untuk adiknya, jari-jari Hans yang sedang memegang cangkir kopi sedikit terhenti. Aroma kopi yang pekat seolah berubah rasa di lidahnya.
Titan, kakaknya.
Gelar itu berputar di dalam hatinya, menyisakan sedikit rasa tidak nyaman. Gadisnya seharusnya dimanjakan olehnya. Orang lain, bahkan kakaknya sendiri, membuat Hans merasa hak eksklusifnya sedang terusik.
Pikiran ini memang agak tidak masuk akal, dan dia sendiri menyadarinya. Namun segera, rasa tidak nyaman yang tak jelas itu digantikan oleh emosi lain. Memang hal yang baik jika putri kecilnya bisa begitu disayangi oleh keluarganya dan dijaga layaknya permata berharga.
Kebahagiaan Tania adalah yang utama. Kegembiraan gadis itu seolah tersampaikan melalui deskripsi Lian, membuat saraf Hans yang tegang sedikit rileks. Ia meletakkan cangkir kopinya dan mengambil ponsel, ujung jarinya terhenti sejenak di atas layar.
"Tania."
Setelah mengirim kata singkat itu, ia merasa belum cukup dan segera menyusul dengan kalimat lain, membawa nada penuh kehati-hatian yang bahkan tidak ia sadari sendiri.
"Kapan aku akan kamu angkat jadi karyawan tetap?"
Saat ini, ia seperti seekor anjing besar yang jinak, mengibas-ngibaskan ekor menunggu pemiliknya untuk mengelusnya dan memberinya status resmi.
"Aku juga ingin membawamu ke acara lelang secara terbuka dan membelikan semua yang kamu suka!"
Ia rindu untuk bisa melindungi Tania di bawah sayapnya secara sah dan mengumumkan kepada dunia bahwa gadis itu adalah miliknya—dan ia adalah milik Tania. Setelah pesan terkirim, ia bersandar di kursinya, merasakan ekspektasi yang tak dapat dijelaskan, seperti seorang anak kecil yang menunggu permen, namun takut harapannya akan pupus.
Di sisi lain, Tania baru saja selesai mandi, tubuhnya masih membawa aroma sabun yang segar. Layar ponselnya menyala memperlihatkan pesan dari Hans.
Melihat pesan pertama, sudut bibirnya melengkung. Melihat pesan kedua dan ketiga, pertanyaan yang terkesan mendesak dan sedikit kekanak-kanakan itu membuatnya tak tahan untuk terkekeh pelan.
Pria ini, yang biasanya terlihat seperti malaikat maut yang tak berani didekati siapa pun saat di luar, ternyata... cukup menggemaskan jika bersamanya. Jari-jarinya mengetuk layar dengan lincah, membalas dengan nada jahil:
"Hmm, gimana ya, itu tergantung mood-ku sih."
Setelah mengirimnya, ia sudah bisa membayangkan ekspresi pria di ujung sana—mungkin pasrah, mungkin juga penuh kemanjaan.
Hans menatap balasan "tergantung mood-ku" dari Tania, dan sudut mulutnya terangkat tanpa sadar. Tania-nya selalu punya cara untuk mengatasinya. Mood? Suasana hatinya sedang sangat luar biasa saat ini; ia merasa ingin segera terbang ke sisi gadis itu dan membiarkannya melihat betapa "manis dan penurutnya" dia sekarang.
......................
Hari Rabu, Tania tidak ada kelas di sore hari. Begitu bel siang berbunyi, ia membereskan barang-barangnya, bersiap untuk pulang dan beristirahat. Tepat saat ia berjalan keluar dari gedung fakultas, ponselnya bergetar, dan nama "Hans" muncul di layar.
Ia mengangkat telepon, dan suara berat yang magnetis terdengar dari seberang:
"Tania, aku di bawah gedung fakultasmu."
Tania sedikit terkejut: "Kok bisa sampai sini? Kamu bahkan menyetir langsung sampai depan gedung?" Ini bukan gaya Hans yang biasanya selalu ingin tampil tidak mencolok.
"Aku ingin melihatmu lebih cepat."
Suara Hans membawa jejak tawa yang samar, sekaligus nada "tentu saja".
Secercah rasa manis muncul di hati Tania, dan langkah kakinya terasa ringan saat ia setengah berlari menurun tangga. Pria ini benar-benar semakin mahir melakukan hal-hal romantis.
Di depan gedung fakultas, sebuah mobil sport hitam legam terparkir dengan anggun. Mobil itu sangat mencolok di antara kendaraan biasa di sekitarnya, menarik perhatian dan bisik-bisik dari mahasiswa yang lewat. Garis bodinya yang ramping memantulkan kilau tajam di bawah sinar matahari sore, penuh tenaga dan kesan liar, sangat cocok dengan aura Hans sendiri.
Mobil itu benar-benar terlalu menarik perhatian, seketika menjadi pusat visual.
"Gila, itu Aston Martin! Harganya pasti miliaran, kan?" seorang mahasiswa yang memegang bola basket berbisik kagum, matanya penuh iri.
"Siapa sih itu? Berani banget parkir sampai depan gedung, keren banget. Memang satpam nggak protes ya?" temannya di samping ikut menjulurkan leher, mencoba mengintip orang di dalam mobil.
Beberapa mahasiswi berbisik tentang siapa pemiliknya: "Mobilnya keren banget, pasti yang punya ganteng!"
Hans seolah tidak peduli dengan keramaian di sekitarnya, tatapannya dengan tenang mencari di tengah kerumunan. Tak lama, ia menemukan sosok yang paling ia kenali. Tania sedang memeluk beberapa buku, sinar matahari jatuh di ujung rambutnya, membuatnya terlihat sangat bersinar.
Kaca jendela sisi pengemudi turun perlahan, menyingkap wajah yang tampan namun dingin. Mahasiswi yang tadinya hanya mengagumi mobilnya, seketika perhatiannya tersedot sepenuhnya. Bisik-bisik mereda, diikuti oleh desahan napas tertahan yang lebih halus.
"Wah! Pemiliknya ganteng banget!" seorang gadis tak tahan untuk berbisik, pipinya sedikit merah.
"Auranya luar biasa, kayak selebriti—nggak, bahkan lebih berwibawa dari selebriti!"
Di tengah bisikan itu, Tania juga menyadari keberadaan mobil sport mewah itu dan wajah yang terlihat setelah jendela diturunkan. Tatapan Hans bertemu dengannya, dan matanya yang semula tampak menjaga jarak seketika melunak, sudut mulutnya membentuk senyuman tipis yang hampir tidak terlihat.
Tania berpura-pura tenang saat berjalan menuju mobil sport itu, mengabaikan tatapan di sekelilingnya yang seolah-olah menembusnya. Berbagai spekulasi berkecamuk di belakangnya; ia bisa merasakan tatapan-tatapan itu mengikutinya seperti lampu sorot. Ia membuka pintu penumpang dan duduk di dalam, gerakannya alami dan halus.
Pintu mobil tertutup, dan kebisingan luar serta berbagai tatapan itu seketika terputus, seolah mereka telah memasuki ruang mandiri yang hanya milik mereka berdua. Interior mobil dipenuhi aroma parfum pria yang ringan dan menyenangkan, bercampur dengan aroma khas jok kulit. Ia meletakkan buku di pangkuannya dan menghela napas panjang, akhirnya merasa rileks.
Hans menutup jendela dan menoleh ke arah Tania di sampingnya. Gadis itu duduk dengan patuh, profil wajahnya terlihat lembut di bawah cahaya yang masuk melalui jendela, membuatnya ingin sekali mencubitnya. Ia mencondongkan tubuh sedikit, mendekat ke arah Tania.
Tania sedang menunduk, merapikan sudut bukunya, ketika ia merasakan gerakan di sampingnya dan aroma maskulin yang akrab serta dominan. Ia mendongak secara naluriah.
Tanpa diduga, wajah tampan Hans membesar di depan matanya, napas pria itu membelai lembut pipinya. Jantungnya seketika berdegup kencang, dan pipinya memanas tak terkendali.
"Kamu... sedang apa?" tanyanya lembut, suaranya membawa nada gugup.
Hans menatap pipi yang merona itu, sudut bibirnya membentuk lengkungan yang menawan. Ia tidak bicara, hanya mengulurkan tangan, melewati tubuh Tania untuk menarik sabuk pengaman dari samping.
Gerakannya sangat lambat dan sabar, ujung jarinya seolah menyentuh bahu Tania, menciptakan aliran listrik halus. Ia menarik sabuk pengaman dengan lembut, melingkarkannya di atas bahu Tania, lalu menguncinya ke gesper dengan bunyi "klik" yang pelan.