NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32. Tamu Tak Di undang

Perjalanan pulang dari Dago menuju Jakarta seharusnya menjadi momen paling romantis sepanjang sejarah Unit 402. Di dalam mobil, tidak ada lagi keheningan yang menyesakkan. Nala duduk dengan posisi miring, menghadap Saga yang fokus menyetir.

Sesekali, Nala akan menertawakan wajah Pak Hendra yang tadi sempat pucat pasi, atau menggoda Saga tentang bagaimana pria itu tadi menyebutnya

"luar biasa cantik".

"Mas, ngaku deh, tadi pas aku keluar pakai gaun itu, Mas sebenernya mau pingsan kan?" goda Nala sambil mencolek bahu Saga.

Saga hanya berdehem, meski sudut bibirnya sedikit berkedut menahan senyum.

"Saya hanya sedang menghitung berapa banyak keripik micin yang harus saya sita supaya kamu tidak merusak gaun mahal itu dengan noda minyak."

"Dih! Mas Saga mah gitu, nggak bisa banget liat aku seneng dikit," Nala mengerucutkan bibirnya, namun kemudian ia tertawa pelan.

"Tapi Mas, tadi makasih ya. Mas beneran kayak pahlawan pas bilang ke Mama kalau Mas bakal pakai jas emas asal ada stan keripik jagung. Aku nggak sabar liat Mas jadi 'Iron Man' versi emas di pelaminan nanti."

Saga melirik Nala sekilas. Sorot matanya kini jauh lebih lembut, tidak lagi seperti es kutub yang membeku.

"Selama itu membuat kamu tidak lari dari pernikahan ini, saya rasa menjadi 'Iron Man' bukan ide yang buruk."

Suasana di dalam kabin mobil itu begitu hangat.

Nala merasa seolah-olah semua siasat dan sabotase yang mereka lakukan di awal hanyalah lelucon lama yang sudah basi. H-7 terasa seperti awal dari sebuah kebahagiaan yang nyata. Mereka bahkan sempat berencana untuk mampir membeli martabak manis kesukaan Nala di dekat apartemen.

Namun, begitu mobil mewah Saga memasuki lobi apartemen, pemandangan di depan pintu masuk gedung membuat tawa Nala lenyap seketika.

Seorang wanita berdiri di sana. Rambutnya yang biasanya tertata sempurna kini berantakan. Riasan wajahnya luntur oleh air mata, meninggalkan jejak maskara hitam di pipinya yang pucat. Ia mengenakan mantel mahal, namun tubuhnya bergetar hebat.

"Mas... itu bukannya Sarah?" bisik Nala, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.

Saga menginjak rem dengan mendadak.

Tubuh pria itu menegang. Matanya menatap tajam ke arah wanita yang dulu pernah menghinanya di acara Gala Night itu. Belum sempat Saga mematikan mesin mobil sepenuhnya, Sarah sudah melihat mereka. Ia berlari kecil menuju pintu kemudi.

Saga keluar dari mobil dengan wajah yang sulit dibaca. "Sarah? Ada apa kamu di sini?"

Nala ikut keluar, berdiri di sisi lain mobil dengan perasaan tidak enak yang mulai menggerogoti dadanya.

"Saga..." Sarah terisak, suaranya pecah menjadi tangisan yang menyayat hati. "Dia... dia selingkuh, Saga. Suamiku... dia membawa wanita lain ke rumah kami. Aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Aku hanya memikirkan kamu... hanya kamu yang selalu ada untukku dulu."

Tanpa memedulikan keberadaan Nala yang berdiri hanya terpaut beberapa meter, Sarah langsung menghambur ke pelukan Saga. Ia memeluk pinggang Saga dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu, membasahi kemeja putih Saga dengan air mata keputusasaannya.

Nala membeku di tempatnya. Dunia seolah berhenti berputar.

Pemandangan di depannya terasa seperti adegan drakor yang sering ia tonton, namun kali ini ia tidak tertawa. Dadanya terasa sesak, seolah pasokan oksigen di lobi apartemen itu mendadak habis. Ia melihat tangan Saga yang tadinya menggantung kaku di samping tubuh, perlahan—sangat perlahan—naik dan menyentuh punggung Sarah, seolah-olah insting lama untuk melindungi cinta pertamanya itu kembali bangkit secara otomatis.

"Saga, tolong aku..." rintih Sarah lagi, pelukannya semakin erat.

Nala meremas tali tasnya kuat-kuat. Ia teringat kata-kata Saga di balkon malam itu:

"Saya hanya ingin melindungi kamu dari hal-hal yang tidak perlu kamu ketahui."

Sekarang Nala tahu kenapa. Rahasia besar itu kini berdiri di depan matanya, menangis di pelukan calon suaminya.

Sarah, wanita yang memiliki kelas,

keanggunan, dan simetri yang Saga sukai. Sarah, wanita yang sudah memiliki "pintu masuk" khusus di hati Saga jauh sebelum Nala datang membawa keripik micin dan seblak lavanya.

Nala mundur satu langkah. Rasa percaya diri yang baru saja ia bangun di butik Dago tadi hancur berkeping-keping. Di depan cinta pertama yang sedang terluka, Nala merasa dirinya kembali menjadi "hama" yang tidak terlihat.

Saga menatap Nala dari balik bahu Sarah. Matanya menyiratkan rasa bersalah, kebingungan, dan kepedihan yang mendalam. Ia ingin melepaskan pelukan itu, tapi tangis Sarah semakin menjadi-jadi.

"Nala, saya—" Saga mencoba bicara, tapi suaranya tertelan oleh isakan Sarah.

Nala memaksakan sebuah senyum kecut, meski matanya mulai memanas. "Enggak apa-apa, Mas. Mas... urusin aja dulu 'masa lalu' Mas. Aku naik duluan ya. Tiba-tiba aku nggak pengen martabak lagi."

Nala berbalik dan berjalan cepat menuju lift tanpa menoleh lagi. Ia tidak ingin Saga melihat air matanya jatuh hanya karena sebuah pelukan. Di dalam lift yang bergerak naik, Nala bersandar pada dinding kaca, menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu menyedihkan.

H-7. Ternyata, dinamit yang mereka pasang di pondasi pernikahan ini belum benar-benar dibuang. Seseorang baru saja menyalakan sumbunya, dan Nala tidak tahu apakah Saga akan memadamkannya, atau justru membiarkan semuanya meledak berantakan.

1
Calisa
alurnya berubah drastis banget ya untuk bab ini. tiba2 muncul papanya saga yg dari awal bab nggak pernah dibahas. ibu Sofia sama eyang Utari malah hilang
Calisa
sweet banget sagaaa 🤧♥️
Calisa
agak aneh ya. tadi kan Nala udah ngobrol sama saga di dapur, kenapa jadi baru keluar kamar
Calisa: oohh gitu ya kak. pantes ceritanya agak2 gak sinkron antara 1 adegan sama yg lain..
semangat ya kaa. aku suka sama tulisanmu, gaya bahasanya. sayang banget cerita ini belum banyak yg baca. padahal dari segi penulisan, beda sama yg lain.
total 2 replies
Calisa
loh bukannya eyang Utari udah pernah ketemu Nala ya pas makan di rumah saga?
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.
Senja_Puan: terima kasih banyak kakak sayang... Auto langsung revisi
total 1 replies
Calisa
wkwkwk.. pengangguran nya harus elit dong mas 🤣🤣
Calisa
nah bener ini. jadi diri sendiri aja.. good Nala
Calisa
kalau bohongnya totalitas begini pas ketahuan malu banget
Calisa
walah walaah.. jangan2 ibunya saga nih
Calisa
😂😂😂
Calisa
wkwk.. pertemuan pertamanya epic banget ya 🤣
Calisa
bisa langsung switch mode 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!