NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22. Terhimpit dua Siasat

Malam itu, hening di lantai atas Unit 402 terasa lebih berat daripada biasanya. Di balik pintu kamar masing-masing, Saga dan Nala sama-sama terjaga.

Kalimat Saga tentang "meruntuhkan bangunan lama untuk membangun sesuatu yang lebih kokoh" terus bergema di kepala Nala, membuatnya bertanya-tanya apakah itu sekadar analogi arsitektur atau sebuah pengakuan terselubung.

Sementara itu, di lantai bawah, Eyang Utari tersenyum puas sambil menyesap teh hijaunya. Di depannya, majalah Javanese Royal Wedding masih terbuka lebar. Beliau tahu persis bahwa terkadang, dua orang yang terlalu keras kepala membutuhkan sedikit "badai" dan ruang sempit untuk akhirnya saling melihat.

Keesokan paginya, suasana canggung itu belum hilang. Nala keluar kamar dengan mata sedikit sembab karena kurang tidur, hanya untuk menemukan Saga sudah berada di dapur kecil mereka, sedang berkutat dengan mesin kopi.

"Pagi," sapa Saga pendek, tanpa menoleh. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun nada ketusnya yang biasa terdengar agak melunak.

"Pagi, Mas," jawab Nala pelan, ragu-ragu untuk mendekat.

"Eyang sudah pergi ke Solo subuh tadi dengan sopirnya. Katanya ada urusan mendadak soal ukiran kayu jati untuk pelaminan," Saga meletakkan secangkir kopi di meja bar, lalu mendorongnya ke arah Nala.

"Dia meninggalkan ini."

Saga menyodorkan sebuah amplop cokelat tua dengan segel lilin emas. Nala membukanya dengan tangan sedikit gemetar.

Di dalamnya bukan jadwal vendor atau

katalog kebaya, melainkan dua tiket pesawat ke Yogyakarta dan sebuah catatan singkat dengan tulisan tangan yang rapi:

"Saga, Nala... Bangunan yang kokoh butuh fondasi yang dalam. Pergilah ke rumah lama Eyang di Kotagede. Ada sesuatu di sana yang harus kalian selesaikan sebelum kebaya beludru itu benar-benar dijahit. Jangan pulang sebelum kalian menemukan 'garis' yang tidak bisa dilanggar."

Nala menatap Saga yang kini balik menatapnya dengan intensitas yang sama seperti semalam.

"Mas... kita benar-benar harus pergi?"

Saga menghela napas panjang, merapikan letak kacamatanya.

Namun, belum sempat Saga menjawab, bunyi bel apartemen yang ditekan berkali-kali dengan tidak sabar merobek keheningan subuh.

Saga, yang hanya tidur beberapa jam dengan pikiran yang kacau, bangkit dari tempat tidur dengan geraman kesal. Ia mengira itu Eyang Utari yang kembali berulah, namun saat ia membuka pintu, sosok yang berdiri di sana bukanlah wanita tua bersanggul dengan rencana tradisionalnya.

"Saga! Kenapa lama sekali buka pintunya?"

Itu adalah Sofia, ibu Saga. Beliau tampil sangat modis dengan setelan blazer krem dan tas desainer, tampak kontras dengan suasana apartemen yang masih remang. Di belakangnya, dua asisten membawa tumpukan map dan kain-kain contoh yang terlihat sangat modern.

"Mama? Sedang apa di sini jam segini? Eyang baru saja berangkat ke Solo subuh tadi," kata Saga sambil memijat pelipisnya.

Sofia masuk tanpa diundang, melangkah anggun menuju ruang tamu yang masih berantakan dengan katalog mebel pilihan Eyang Utari semalam. Ia mendengus melihat tumpukan majalah Javanese Royal Wedding.

"Eyangmu itu memang keterlaluan, Saga. Dia pikir ini tahun 1920? Royal Wedding di Solo dengan kereta kuda? Tidak, tidak akan terjadi," Sofia mengibaskan tangan, memberi isyarat pada asistennya untuk menyingkirkan katalog-katalog Eyang ke lantai.

"Mama kan sudah bilang, mama mengurus semuanya. Pernikahan kalian akan diadakan di Bandung. Mama sudah booking salah satu art deco hotel terbaik di sana. Temanya Modern Minimalist White Wedding. Sangat urban, sangat berkelas, dan sangat... kamu."

Nala, yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah bantal dan kaos kebesaran, membeku di ambang pintu.

"Tante Sofia?"

"Oh, Nala sayang! Bagus kamu sudah bangun," Sofia menghampiri Nala dan langsung memutar tubuh gadis itu, mengukur bahunya dengan mata ahli.

"Lupakan soal kebaya beludru hitam yang berat itu. Mama sudah bicara dengan desainer di Paris melalui telepon tadi malam. Kita akan pakai silk organza. Ringan, elegan, tidak akan membuatmu kepanasan seperti pengantin di pasar malam."

Saga menyandarkan tubuhnya di dinding, memandang langit-langit dengan pasrah.

"Ma, Eyang sudah memesan gedung di Solo. Dia bahkan sudah memesan ukiran kayu jati seberat dua ton."

"Biarkan saja ukiran itu jadi hiasan di gudang Eyang!" balas Sofia tajam.

"Bandung adalah kota kita, Saga. Kolega bisnis Mama dan Papa ada di sana. Kita tidak mungkin menyeret ribuan orang ke Solo hanya untuk melihat kalian memakai konde yang berat. Nala, kamu setuju kan? Pernikahan di rooftop dengan pemandangan pegunungan Bandung pasti jauh lebih indah."

Nala melirik Saga, mencari bantuan. Di satu sisi, ia takut pada ketegasan Eyang Utari yang tradisional. Di sisi lain, selera Sofia yang "high-end" dan modern terasa begitu menekan. Ia merasa seperti manekin yang sedang diperebutkan oleh dua kurator museum yang berbeda aliran.

"Ma, ini bukan soal gedung atau baju," Saga akhirnya angkat bicara, suaranya rendah namun tegas.

"Eyang dan Mama bahkan tidak bertanya apakah kami sudah siap atau belum."

"Siap tidak siap, Saga, kalian sudah sepakat," Sofia membuka salah satu map-nya.

"Minggu depan kita ke Bandung. Mama sudah jadwalkan food tasting dengan katering terbaik di sana. Kita pakai menu fusion, tidak ada itu nasi liwet atau makanan manis-manis yang biasa disukai Eyangmu."

Situasi di Unit 402 kini menjadi medan perang baru. Jika semalam Eyang Utari menggunakan taktik "pengepungan" dengan suasana tradisional yang intim, pagi ini Sofia melakukan "invasi" dengan gaya hidup modern yang serba cepat.

Saga berjalan mendekat ke arah Nala, berdiri di sampingnya seolah secara naluriah ingin melindunginya dari gempuran rencana ibunya.

"Kami akan memikirkannya, Ma. Tapi sekarang, tolong biarkan kami bernapas."

Sofia menghela napas, menatap putranya dengan tatapan menyelidik.

"Saga, Mama hanya ingin yang terbaik untuk citra keluarga kita. Eyangmu itu hidup di masa lalu. Kamu adalah arsitek modern, tunanganmu adalah gadis masa kini. Jangan biarkan tradisi kuno menghambat estetika kalian."

Setelah Sofia pergi dengan membawa kembali asisten dan contoh kainnya—namun tetap meninggalkan map jadwal yang tebal di atas meja—apartemen kembali hening. Tapi itu bukan hening yang damai.

Nala duduk lemas di sofa, menatap tumpukan rencana yang kontradiktif. Di lantai ada katalog Solo dari Eyang, di meja ada jadwal Bandung dari Sofia.

"Jadi... Solo atau Bandung?" tanya Nala lirih, nyaris seperti bisikan.

Saga duduk di sampingnya, cukup dekat hingga Nala bisa merasakan panas tubuhnya. Ia mengambil map dari Sofia dan katalog dari Eyang, lalu melempar keduanya ke sudut ruangan.

"Tidak keduanya," kata Saga pelan. "Eyang ingin kita menjadi pasangan kerajaan masa lalu. Mama ingin kita menjadi pasangan sampul majalah gaya hidup. Tidak ada yang peduli kita ingin menjadi apa."

Nala menoleh, menatap mata Saga yang tampak lelah namun tajam. "Lalu, menurut Mas Saga, kita ini apa?"

Saga terdiam. Ia teringat kembali garis-garis yang ia buat di lorong semalam. Ia teringat bagaimana jantungnya berdebar saat melihat ketakutan sekaligus keras kepala di mata Nala.

"Kita adalah dua orang yang terjebak dalam labirin buatan mereka, Nala," Saga mengulurkan tangan, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyelipkan helai rambut Nala ke belakang telinga. Sentuhannya dingin, tapi membuat kulit Nala meremang.

"Dan satu-satunya cara keluar dari labirin ini bukan dengan memilih Solo atau Bandung. Tapi dengan membangun jalan kita sendiri."

"Bagaimana caranya?"

Saga berdiri, memberikan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan—senyum yang penuh dengan rencana tersembunyi.

"Eyang ingin aku ke Kotagede untuk 'menyelesaikan sesuatu'. Mama ingin aku ke Bandung untuk 'mencicipi menu'. Kita akan pergi ke keduanya, tapi bukan untuk menuruti mereka."

"Maksudnya?"

"Kita akan membuat mereka menyadari bahwa pernikahan ini milik kita, bukan proyek pameran mereka. Siapkan kopormu lagi, Nala. Kita akan melakukan perjalanan yang tidak ada dalam jadwal siapapun."

Nala merasakan campuran antara ngeri dan antusias. Untuk pertama kalinya, ia melihat Saga tidak sebagai arsitek yang kaku, melainkan sebagai seorang pria yang siap memberontak demi sesuatu yang—mungkin—mulai ia pedulikan.

Hujan di luar Unit 402 mulai mereda, menyisakan aroma tanah yang basah. Di bawah sana, Jakarta mulai sibuk. Namun di dalam apartemen itu, sebuah siasat baru sedang dirancang.

Bukan siasat Eyang, bukan pula rencana Sofia, melainkan sebuah garis baru yang ditarik oleh Saga dan Nala sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!