Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Kalian Dalam Genggamanku (4)
Para penduduk semakin ketakutan, banyak yang mulai mundur teratur. Reputasi Huo Ting sebagai paman biasa sekaligus penjual pakaian di pasar musnah seketika, berganti menjadi sosok ahli misterius.
Huo Ting hanya bisa berdiri kaku, menatap Wang Yan dengan tatapan yang sangat sulit diartikan sebelum akhirnya ia terpaksa mengangguk pelan, membiarkan dirinya menjadi tameng bagi sandiwara mematikan yang telah disusun oleh tuan mudanya ini.
Di balik diamnya, Huo Ting menyadari bahwa rahasia di balik tuan mudanya ini jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Wang Yan menurunkan tangannya yang gemetar, namun di balik kepala yang tertunduk dan rambut yang sedikit menutupi wajahnya, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
“Tuntas,” batin Wang Yan.
Ia nyaris ingin tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana seluruh halaman rumahnya kini berubah menjadi panggung sandiwara yang ia sutradarai dengan sempurna.
Segalanya berjalan jauh lebih baik dari dugaannya. Awalnya, ia hanya bereksperimen dengan Bara Pelebur Jiwa tadi malam setelah memantapkan fondasinya untuk memastikan apakah Bara Pelebur Jiwa dapat ia gunakan untuk serangan jarak jauh setelah meraih Lautan Spiritual lapisan keenam. Namun, kedatangan Hong Jigong dan pengawal berjubah hitam itu adalah hadiah yang tak ternilai untuk membuka sebuah rencana.
Jika yang datang tadi hanyalah Hong Jigong bersama pengawal kelas teri dari Keluarga Hong, efek kejutnya tidak akan sedahsyat ini. Namun, pria berjubah hitam itu jelas merupakan aset berharga—seorang ahli yang cukup kuat, apalagi dengan sentuhan ahli misterius. Kengerian ini pasti akan sampai di telinga keluarga Hong dan membuat orang yang menginginkan kalungnya untuk berhenti sementara.
Wang Yan melangkah mendekat. Ia tidak lagi berpura-pura gemetar. Matanya yang jernih kini menatap dingin ke arah Hong Jigong yang masih terduduk lemas di tanah.
Tanpa memedulikan tatapan ngeri dari puluhan pasang mata penduduk di luar gerbang, Wang Yan berjongkok di depan mayat pria berjubah hitam. Dengan gerakan yang sangat efisien dan tenang, ia mulai merogoh lipatan jubah mayat tersebut.
“Seorang kultivator Lautan Spiritual lapisan ketujuh pasti membawa sesuatu yang berharga,” gumam Wang Yan pelan.
Tangannya menarik sebuah kantong penyimpanan kecil yang terikat di pinggang mayat itu. Ia juga mengambil belati pendek milik pria berjubah hitam yang tadi sempat digunakan untuk menangkis serangan Huo Ting.
Setelah merasa tidak ada lagi yang tersisa, pandangannya beralih pada Hong Jigong.
Hong Jigong tersentak, mencoba menyeret tubuhnya mundur dengan tangan yang gemetar. “A-apa yang kau lakukan? Jangan mendekat!”
Wang Yan tidak menjawab. Ia mencengkeram kerah baju mewah Hong Jigong, lalu dengan paksa menarik paksa tas sutra yang menggantung di sabuk pria itu. Ia juga mempreteli cincin giok dan aksesori mahal yang melekat di tubuh sang tuan muda ketiga keluarga Hong itu.
“Ini sebagai uang muka untuk gerbangku yang hancur,” ucap Wang Yan datar.
Para penduduk dan kultivator di kejauhan terdiam seribu bahasa. Mereka terkejut melihat sosok Sarjana Wang yang biasanya sopan dan ramah, kini menjarah lawan-lawannya dengan sikap yang sangat pragmatis dan tanpa belas kasihan. Tidak ada lagi jejak kelemahan seorang sarjana di sana.
Setelah tuntas mempreteli barang-barang berharga milik musuhnya, Wang Yan bangkit berdiri. Tubuhnya terasa sedikit goyah akibat penggunaan Bara Pelebur Jiwa yang menguras stamina fisiknya dengan sangat cepat. Namun, ia tidak boleh terlihat lemah di depan kerumunan.
Sambil membelakangi penduduk, Wang Yan berpura-pura merogoh saku jubahnya, membuka cincin ruang perunggunya. Dengan gerakan tangan yang meliuk aneh, seolah sedang merapikan lipatan bajunya yang kusut, ia menjentikkan sebuah Pil Pengembali Stamina ke dalam mulutnya. Gerakan bahu dan lehernya yang tersentak saat menelan pil tersebut terlihat sangat ganjil di mata orang awam.
Para penduduk yang memperhatikan dari kejauhan mulai saling berbisik. Dari sudut pandang mereka, Wang Yan tampak sedang melakukan semacam gerakan ritual atau menahan tawa kemenangan yang mengerikan.
“Lihat gerakannya... sangat aneh. Apa itu gerakan kemenangan baru?” bisik seorang warga.
“Sarjana Wang benar-benar telah berubah. Tatapan matanya, cara dia menjarah mayat... dia bukan lagi pemuda ramah yang kita kenal,” timpal yang lain dengan nada ngeri.
Wang Yan menelan pil itu sepenuhnya, merasakan aliran tenaga mulai merambat kembali ke otot-ototnya yang sempat lemas. Ia memutar tubuhnya, menatap kerumunan penduduk yang masih berdiri mematung di sana.
“TUNGGU APA LAGI?!” teriak Wang Yan, suaranya menggelegar penuh otoritas.
“PERGI DARI SINI! BUBAR!”
Kerumunan tersebut langsung pecah. Para pedagang, warga, bahkan kultivator segera memacu langkah mereka menjauh dari kediaman Keluarga Wang. Mereka tidak ingin berurusan dengan Sarjana Wang apalagi dengan Ahli Lautan Qi yang berdiri di tengah halaman.
Kini, hanya tersisa Wang Yan, Huo Ting, mayat si jubah hitam, dan Hong Jigong yang masih menangis ketakutan di tanah.
Wang Yan melangkah mendekati Hong Jigong.
Pemuda itu menatap Wang Yan dengan mata yang membelalak. “Ka-kau... Ayahku... Keluarga Hong tidak akan...”
Bugh!
Tanpa membiarkan Hong Jigong menyelesaikan kalimatnya, Wang Yan mendaratkan satu pukulan telak tepat di rahang pria itu. Pukulan itu begitu bertenaga hingga kepala Hong Jigong tersentak ke samping dan tubuhnya langsung terkulai pingsan di atas tanah yang basah oleh air seninya sendiri.
Wang Yan mengibas-ngibaskan tangannya, lalu menoleh ke arah sisa-sisa penduduk yang masih sempat menoleh di ujung jalan sebelum menghilang di tikungan.
Mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan terakhir itu. Seorang tuan muda yang biasanya angkuh kini diperlakukan seperti sampah di jalanan.
Seorang sarjana yang biasanya ramah tamah kini berubah seperti monster.
“Dunia kultivator memanglah kejam, untung saja kita hidup di Dinasti Zhou” gumam seorang lelaki tua yang berlalu cepat.
“Status keluarga besar tidak ada artinya, yang tersisa hanyalah siapa yang memiliki tinju lebih kuat.”
...