NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata yang Mengagumi

Terik matahari siang itu menyengat pelataran parkir Universitas Nusantara, namun suasana di area taman depan gedung Fakultas Ekonomi terasa jauh lebih sejuk berkat jajaran pohon angsana yang rimbun. Di bawah naungan salah satu pohon itu, sebuah sedan hitam mengilap terparkir dengan presisi yang membosankan. Di sampingnya, Denzel Shaquille berdiri tegak, tangannya tertaut di depan, matanya tertuju pada pintu keluar gedung utama dengan fokus yang tak tergoyahkan.

Denzel tidak menyadari bahwa dari balik jendela kaca perpustakaan di lantai dua, sepasang mata sedang mengamatinya dengan intensitas yang berbeda dari cara orang lain memandangnya.

Seraphina Aeru menutup buku referensi makroekonominya perlahan. Ia tidak lagi membaca. Pikirannya sudah melayang ke bawah, ke arah pria yang selalu hadir di kampus mereka dalam beberapa minggu terakhir. Bagi sebagian besar mahasiswa, Denzel hanyalah "bayangan" Leah Ramiro—pengawal yang kaku, dingin, dan mungkin sedikit membosankan. Namun bagi Seraphina, ada sesuatu yang magnetis dari cara Denzel membawa dirinya.

"Sera? Kau melamun lagi?" suara Leah memecah keheningan di meja perpustakaan mereka.

Seraphina tersentak, wajahnya sedikit memerah. "Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan materi kuliah tadi."

Leah mengikuti arah pandang Seraphina ke luar jendela. Ia melihat Denzel di sana. Leah mendengus pelan, rasa frustrasi dari kejadian semalam di depan kamar Denzel masih menyisakan sisa rasa pahit di lidahnya. "Dia memang menyebalkan, kan? Berdiri di sana seperti patung, memastikan aku tidak punya ruang untuk bernapas."

Seraphina menopang dagunya dengan tangan, matanya kembali tertuju pada sosok Denzel. "Entahlah, Leah. Menurutku dia tidak menyebalkan. Dia terlihat... sangat berdedikasi. Jarang ada pria yang bisa diam sesabar itu selama berjam-jam hanya untuk memastikan seseorang aman."

Leah menoleh ke arah sahabatnya, sedikit terkejut dengan nada bicara Seraphina yang melembut. "Kau memujinya? Dia itu mesin, Sera. Dia tidak punya perasaan. Dia bahkan membiarkan Jeff melakukan apa pun padaku asalkan kontrak kakaknya aman."

"Mungkin dia tidak punya pilihan, Leah," gumam Seraphina. "Tapi lihatlah matanya. Setiap kali kau tidak melihat, dia menatapmu seolah-olah kau adalah satu-satunya hal yang penting di dunia ini. Tapi saat kau menoleh, dia segera membuang muka. Itu bukan sikap seorang 'mesin'. Itu sikap seorang pria yang sedang menahan sesuatu yang sangat besar."

Leah terdiam. Kata-kata Seraphina menghantamnya tepat di ulu hati. Pria yang sedang menahan sesuatu yang sangat besar. Apakah Seraphina melihat apa yang tidak ingin Leah akui?

"Lagipula," lanjut Seraphina dengan senyum malu-malu, "dia sangat tampan jika kau memperhatikannya dengan benar. Garis rahangnya, cara dia merapikan jasnya... dia memiliki aura pria dewasa yang tenang. Sangat berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa di sini yang hobinya hanya berteriak-teriak tidak jelas."

Leah memperhatikan Seraphina. Ada binar yang tidak biasa di mata sahabatnya itu. Sebuah ide nakal—atau mungkin sebuah rencana pelarian—mulai terbentuk di benak Leah. Jika Seraphina menyukai Denzel, dan jika Denzel bisa bersama Seraphina, bukankah itu berarti Denzel akan berhenti menjadi bayangannya? Bukankah itu akan membuktikan apakah Denzel benar-benar punya perasaan atau tidak?

"Kau menyukainya, ya?" goda Leah, meski hatinya merasa sedikit aneh saat mengucapkannya.

Seraphina tertawa kecil, pipinya semakin merona. "Aku hanya mengaguminya dari jauh, Leah. Aku tidak mungkin berani mendekati asisten keluargamu. Dia terlihat sangat sulit ditembus."

"Dia memang sulit," Leah menutup bukunya dengan keras, suaranya mengandung nada tekad yang baru. "Tapi bukan berarti tidak mungkin. Ayo turun, kelasku sudah selesai. Dan sepertinya 'patung' itu sudah mulai gelisah karena aku telat lima menit."

Mereka berjalan menuruni tangga menuju area parkir. Saat mereka mendekat, Denzel segera menegakkan posisinya. Ia membukakan pintu belakang untuk Leah dengan gerakan otomatis.

"Nona Leah, Anda terlambat lima menit dari jadwal," ucap Denzel datar.

"Aku sedang bicara dengan Sera, Denzel. Jangan mulai lagi dengan jadwalmu," sahut Leah ketus. Namun kali ini, ia tidak langsung masuk ke mobil. Ia berhenti tepat di depan Denzel. "Denzel, kau ingat Seraphina, kan? Sahabatku?"

Denzel menoleh singkat ke arah Seraphina. Ia menundukkan kepalanya sedikit, sebuah sapaan formal yang sangat berjarak. "Tentu, Nona Seraphina. Selamat siang."

Seraphina tersenyum manis, sebuah senyuman yang biasanya bisa meluluhkan pria mana pun. "Selamat siang, Tuan Denzel. Maaf ya, aku yang membuat Leah terlambat tadi."

"Tidak perlu meminta maaf, Nona. Tugas saya adalah menunggu," jawab Denzel tanpa ekspresi tambahan.

Leah memperhatikan interaksi itu. Denzel benar-benar tidak terpengaruh oleh kecantikan Seraphina. Matanya kembali tertuju pada Leah, seolah-olah Seraphina hanyalah bagian dari dekorasi kampus. Hal ini membuat Leah merasa jengkel sekaligus bingung. Kenapa Denzel begitu terpaku padanya? Kenapa dia tidak mencoba mencari kebahagiaannya sendiri dengan gadis sebaik Sera?

"Sera ingin ikut pulang bersama kita, Denzel. Kita antar dia dulu, ya?" Leah berbohong, padahal arah rumah Seraphina sama sekali berbeda.

Denzel sempat terdiam sejenak, otaknya menghitung rute dan potensi keterlambatan. Namun, ia tidak membantah. "Baik, Nona Leah. Silakan masuk."

Di dalam mobil, suasana terasa berbeda dari biasanya. Jika biasanya hanya ada keheningan yang menyesakkan antara Leah dan Denzel, kini ada suara ceria Seraphina yang mencoba membuka percakapan.

"Tuan Denzel, sudah berapa lama bekerja untuk keluarga Ramiro?" tanya Seraphina dari kursi belakang, duduk tepat di tengah agar bisa melihat Denzel melalui spion.

"Sekitar sepuluh tahun, Nona," jawab Denzel singkat sambil memutar setir.

"Lama sekali. Anda pasti sangat mengenal keluarga ini."

"Itu adalah bagian dari pekerjaan saya."

Seraphina tidak menyerah. "Apa Anda tidak merasa bosan? Maksudku, menghabiskan waktu di kampus setiap hari hanya untuk menunggu Leah kuliah?"

Denzel melirik spion tengah. Matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Leah yang sedang memperhatikannya dengan tajam. "Menunggu adalah bagian dari perlindungan, Nona. Tidak ada kata bosan dalam memastikan keamanan."

Leah membuang muka ke arah jendela. Jawaban Denzel selalu saja tentang "tugas" dan "keamanan". Ia merasa Denzel sengaja membangun benteng yang lebih tinggi setiap kali ada orang yang mencoba mendekat.

"Tuan Denzel, apakah Anda punya hobi? Maksudku, saat Anda sedang tidak bertugas?" Seraphina terus bertanya dengan nada yang sangat tulus.

Denzel terdiam cukup lama kali ini. Hobi? Hidupnya selama sepuluh tahun terakhir didedikasikan sepenuhnya untuk Zefan dan Leah. Waktu luangnya dihabiskan untuk memeriksa laporan keamanan, meninjau rute perjalanan, atau sekadar memastikan rumah tetap dalam kondisi prima. Ia hampir lupa bagaimana rasanya memiliki keinginan pribadi.

"Saya suka membaca laporan sejarah," jawab Denzel akhirnya, sebuah jawaban yang sangat membosankan namun jujur.

Seraphina tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu di kabin mobil. "Sejarah? Itu menarik. Aku juga suka sejarah seni. Mungkin kapan-kapan kita bisa bertukar pikiran?"

Denzel tidak menjawab. Ia hanya terus mengemudi dengan fokus yang berlebihan. Leah bisa melihat rahang Denzel mengeras. Apakah pria itu merasa terganggu oleh perhatian Seraphina, atau dia sedang berusaha menahan diri untuk tidak bersikap kasar?

Saat mereka sampai di depan kompleks perumahan Seraphina, gadis itu turun dengan enggan. "Terima kasih banyak ya, Tuan Denzel. Dan sampai jumpa besok, Leah!"

Denzel membukakan pintu untuk Seraphina, dan gadis itu sempat memberikan tatapan terakhir yang penuh kekaguman sebelum melambaikan tangan.

Setelah Seraphina pergi, kabin mobil kembali sunyi. Namun kali ini, Leah yang membuka suara.

"Sera menyukaimu, Denzel," ucap Leah tiba-tiba, suaranya datar namun menusuk.

Denzel tidak bereaksi. Mobil melaju kembali ke arah rumah utama. "Nona Seraphina hanya bersikap ramah, Leah."

"Tidak, dia benar-benar menyukaimu. Dia bilang kau sangat berdedikasi. Dia bilang kau pria yang sangat tenang," Leah mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat ke kursi pengemudi. "Kenapa kau tidak mencobanya, Denzel? Sera gadis yang sangat baik. Dia cantik, pintar, dan dia tidak punya beban keluarga sepertiku. Kau bisa punya kehidupan yang normal dengannya."

Denzel menginjak rem sedikit lebih keras saat mereka berhenti di lampu merah. Ia tidak menoleh ke belakang, namun suaranya terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman yang tertahan.

"Saya tidak mencari kehidupan yang normal, Leah. Saya hanya mencari cara agar Anda tetap aman."

"Tapi sampai kapan?!" seru Leah. "Sampai aku menikah dengan Jeff? Sampai kau menua hanya sebagai bayanganku? Tidakkah kau ingin dicintai oleh seseorang yang benar-benar bisa menunjukkan perasaannya padamu?"

Denzel memutar kemudi dengan gerakan yang kasar—sebuah reaksi emosional yang sangat jarang ia tunjukkan. "Dicintai oleh seseorang yang 'normal' tidak akan mengubah kenyataan bahwa saya adalah asisten kakak Anda. Dan saya tidak ingin membicarakan hal ini lagi."

Leah terhempas kembali ke sandaran kursi. Ia melihat mata Denzel di spion. Ada luka yang sangat dalam di sana, sebuah kepedihan yang membuat Leah merasa bersalah karena telah mencoba "mendorong" Denzel ke arah orang lain. Namun, di balik rasa bersalah itu, ada setitik rasa lega yang egois karena Denzel tidak langsung menyetujui saran tentang Seraphina.

Denzel terus mengemudi dalam diam. Di dalam hatinya, ia merasa terhina. Bagaimana bisa Leah memintanya untuk berkencan dengan orang lain saat Leah adalah alasan satu-satunya ia masih bertahan hidup di dunia yang kejam ini? Bagaimana bisa Leah menganggap cintanya semudah itu untuk dialihkan?

Malam itu, saat Denzel kembali ke posisinya di depan lobi rumah, ia menyadari bahwa ancaman terhadap hatinya bukan hanya datang dari Jeff Chevalier. Tapi juga dari kebaikan Seraphina, dan yang paling parah, dari ketidaktahuan Leah yang menyakitkan.

Ia adalah pria yang diamati oleh mata yang mengagumi, namun jiwanya hanya merindukan satu pasang mata yang selalu memandangnya dengan rasa benci dan frustrasi. Dan bagi Denzel, itu adalah tragedi yang paling indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!