Karena panggilan sahabatnya, yang telah bekerja di ibukota, Esther Valencia pun datang ke ibukota, untuk bekerja di perusahaan sahabatnya.
Siapa sangka, ia dijual sahabat yang ia percayai selama ini, kepada lelaki hidung belang di sebuah club malam.
Tubuh panas Esther menabrak tubuh seorang pria, saat ia melarikan diri dari kejaran pria hidung belang, yang bertepatan pria tersebut akan masuk ke dalam sebuah kamar.
Esther pun akhirnya menghabiskan cinta satu malam dengan pria asing, karena pengaruh obat yang diberikan sahabatnya ke dalam minumannya.
Bagaimana sikap Esther setelah ia sadar dari pengaruh obat, kalau ia telah tidur dengan seorang pria yang tidak ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21.
Setelah bayi-bayi Esther dibawa ke bangsal VIP bersama Esther, keadaan Esther masih seperti pertama kali Jack lihat saat di meja operasi.
"Semoga Esther baik-baik saja!" nada sedih Charlotte terdengar bergetar memandang Esther yang terbaring pucat.
Esther belum siuman, dan masih dalam keadaan lemah, membuat keluarga Sebastian sangat cemas.
Detak jantung Esther pada monitor deteksi jantung, terlihat masih lemah juga.
"Untung saja tidak terjadi sesuatu kepadanya, dan keempat cucuku!"
Ethan merasa geram dengan dua pegawai rumah sakit, yang hampir saja membuat mereka kehilangan cucunya.
"Aku akan pastikan mereka masuk penjara, dan sebelum mereka di penjara, aku akan pastikan mereka merasakan penderitaan terlebih dahulu!!" geram Jack mengepalkan tangannya.
Ia masih ingat dengan jelas, bagaimana pisau bedah hampir saja membelah perut Esther, saat ia masuk ke dalam ruang bersalin.
Jack memandang keempat bayinya, yang tampak tertidur nyaman di dalam inkubator.
Ia masih serasa bagaikan bermimpi melihat keempat bayinya tersebut.
Ia kini sudah menjadi seorang Ayah, yang selama ini ia tidak pikir akan memiliki keturunan sendiri.
Tiga bayi lelaki, dan satu bayi perempuan.
Ia mendapatkan satu paket bayi yang lengkap, tanpa perlu menginginkan bayi perempuan, karena ia sudah mendapatkannya.
Sementara Charlotte menangis bahagia melihat keempat cucunya, dan Ethan juga memperlihatkan raut wajah bahagia melihat ke empat cucunya itu.
Semuanya sudah lengkap, tanpa perlu mengharapkan ingin cucu perempuan, karena Esther sudah memberikannya.
Tapi mata mereka perlahan terlihat sedih, melihat keadaan cucu mereka yang lahir belum cukup umur.
Keempat bayi terlihat begitu ringkih dalam inkubator.
"Aku pernah mendengar dari salah satu Nyonya, dalam kelompok arisan ku beberapa waktu lalu, menantunya melahirkan prematur, tapi bisa bertumbuh dengan sehat dan bahkan sangat sehat!" gumam Charlotte menghibur dirinya.
Ia mengucapkannya, untuk tidak perlu terlalu khawatir pada dirinya dengan keadaan keempat cucunya.
"Tuan!"
Nick masuk ke bangsal Esther, dan tanpa mengatakan apa pun, Jack melangkah ke luar bangsal diikuti Nick.
Jack di bawa Nick masuk ke sebuah ruangan khusus.
Begitu ia masuk ke dalam ruangan, kepala rumah sakit seketika berdiri dari duduknya.
"Maaf, Tuan! rumah sakit saya telah membuat pelayanan tidak nyaman pada istri anda!" ucapnya ramah sembari tersenyum ramah.
Jack meletakkan tubuhnya duduk pada kursi yang ditarik Nick untuknya.
Sudut bibir Jack menyunggingkan senyuman dingin, rasa amarah dalam dirinya tidak mereda, mendengar permintaan maaf Direktur rumah sakit tersebut.
Jack menoleh ke arah dua pegawai berseragam perawat dan Dokter, dengan keadaan terikat berlutut di lantai.
"Mereka sampai bisa melakukan hal yang sangat berbahaya! apa kesalahan istriku, sampai mereka begitu nekat ingin membunuh anak-anakku?! apakah anda ikut juga berperan memerintahkan mereka, Dokter?!" tanya Jack dengan aura yang terasa begitu dingin.
Raut wajah Direktur rumah sakit seketika berubah mendengar apa yang dikatakan Jack, "Tidak! saya tidak mengenal mereka! dan tidak mengetahui, kalau anda sudah menikah, Tuan!!"
"Tidak! jadi siapa mereka ini?!"
"Mereka disewa seseorang berpura-pura menjadi perawat dan Dokter! karena banyaknya perawat dan Dokter dirumah sakit, membuat keamanan kami tidak menyadari penyamaran mereka!"
Jack bangkit dari duduknya, lalu kakinya dengan kuat menendang perut pria yang menyamar jadi Dokter itu.
Buk!!
"Bangsat! katakan siapa yang memerintahkan kalian!!!" bentak Jack.
"Akh!!!"
Pria itu jatuh terguling ke lantai, dan masih tidak menjawab pertanyaan Jack.
"Katakan! siapa?!!"
"Se.. seseorang, sa.. saya tidak tahu siapa, Tuan! kami hanya diperintahkan melalui telepon seluler, kami belum bertemu dengannya sekali pun!!"
Buk!!!
Kembali Jack menendang Dokter palsu itu, "Aku tidak percaya! katakan siapa yang memerintahkan mu!!!"
"Akh!! sungguh, Tuan! saya tidak tahu, kami menerima bayaran melalui transfer, kalau anda tidak percaya, saya masih memiliki bukti transfer nya pada anda!!"
"Nick! ambil ponselnya!!"
Nick merogoh saku kemeja Dokter palsu itu, dan mengambil ponselnya dari sana, lalu memberikannya kepada Jack.
Jack menerima ponsel yang diberikan Nick, dan menyentuh layar ponsel, "Buka kuncinya!"
Jack menyodorkan ponsel itu kepada Dokter palsu, karena ia tidak dapat membuka layar ponsel.
Dokter palsu dengan susah payah berusaha untuk duduk di lantai, lalu mendekatkan wajahnya tepat ke layar ponsel, dan layar ponsel pun terbuka.
Jack kemudian memeriksa pesan diterima, pada ruang chat dalam ponsel Dokter palsu itu.
Ia pun menemukan siapa yang mengirim transfer bayaran pada Dokter palsu, nama seorang pria yang tidak ia kenal.
Jack memberikan ponsel itu kepada Nick, "Selidiki, jangan terlewat sedikit pun! sepertinya yang memberikan bayaran pada mereka, memalsukan namanya!"
"Baik, Tuan!" Nick menerima ponsel tersebut.
"Urus mereka ke kantor Polisi, dengan bukti-bukti yang ada! aku ingin mereka mendekam dipenjara!!" kata Jack lagi memberi arahan pada Nick.
Nick memberi kode kepada tiga pria lainnya, yang selalu siap melakukan perintah Jack.
"Anda harus memberikan bukti sebagai saksi, Dokter!"Jack menoleh ke arah Direktur rumah sakit, "Kalau anda tidak ingin bantuan Sebastian grup saya tarik dari rumah sakit anda!"
"Oh, tentu saya akan memberikan kesaksian! tenang saja, Tuan!" jawab kepala rumah sakit dengan cepat.
Ia menjawab sembari tersenyum ramah, dan sedikit merasa gugup mendengar apa yang dikatakan Jack.
"Bagus! aku serahkan padamu, Nick! aku ingin memeriksa kembali keadaan istriku!"
"Baik, Tuan!" jawab Nick mengangguk.
Jack kembali ke bangsal Esther, dan Esther masih sama seperti ia tinggalkan tadi.
Masih belum siuman, dan detak jantungnya juga masih terlihat lemah.
Esther telah menghabiskan satu tabung infus, dan wajahnya terlihat sedikit memerah tidak pucat seperti tadi.
Jack duduk pada kursi di sisi tempat tidur pasien, lalu menggenggam tangan Esther yang terasa dingin.
Charlotte yang juga masih di bangsal Esther, tidak ingin pulang sebelum Esther sadar, melangkah mendekat pada Jack.
Dengan lembut ia menaruh tangannya pada bahu putranya tersebut, "Dia sudah sangat menderita, kamu harus menjaganya dengan baik, nak!"
"Maaf, tadi aku sedang rapat, Ma! ponselku tertinggal di ruang kantorku, untung Mama menghubungi Nick! kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah kehilangan anak-anakku!"
"Mama juga tidak menyangka, Esther akan mengalami hal sama sekali di luar dugaan kita!"
Jack semakin menggenggam tangan Esther, ia merasakan sesuatu dalam dirinya, yang membuat hatinya berdesir menatap wajah Esther.
Rasa ingin mempertahankan, dan rasa ingin memiliki untuk dirinya sendiri.
Tubuh Jack tersentak merasakan tangan Esther, yang berada dalam genggaman tangannya bergerak.
"Ma, Esther sudah mulai sadar! tangannya bergerak!!" Jack spontan berseru dengan raut wajah, yang terlihat begitu senang.
"Benarkah?!" Charlotte seketika ikut terlihat senang, "Luna! cepat panggil Dokter!!"
"Baik, Nyonya!!"
Ethan yang juga masih berada di bangsal, menghambur untuk ikut melihat keadaan Esther.
Bersambung.......
cari penyakit aja kamu.....😡
makanya cepetan nyatain perasaan kamu, biar gk salaha paham terus.
🤭🤭