NovelToon NovelToon
Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Marlyn_2309 Lyna

"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.

"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.

Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.

Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Masa Lalu di Gerbang Pesantren

Tiga hari setelah badai di aula, suasana mulai mencair. Rasyid mulai mengizinkan Shanum keluar rumah, meski dengan pengawasan ketat dari kejauhan.

Pagi itu, langit di atas kebun belakang pesantren tampak pucat, diselimuti kabut tipis yang merayap di sela-sela batang jati.

Shanum sedang berlutut di tanah, tangannya sibuk memanen sayuran bersama dua santriwati muda yang mulai berani membuka percakapan dengannya.

“Mbak Shanum, ini kalau bayamnya sudah dicabut, akarnya dibersihkan ya,” ucap salah satu santriwati dengan nada ramah.

Shanum tersenyum—sebuah senyum tulus yang jarang ia perlihatkan. Ia merasa aman.

Ia pikir, dinding tinggi pesantren ini adalah benteng yang tak tertembus. Namun, ia lupa bahwa iblis tidak selalu datang dengan mengetuk pintu depan.

Saat kedua santriwati itu berjalan menuju gudang alat untuk mengambil keranjang tambahan, suasana mendadak senyap.

Suara kicau burung di hutan jati belakang seolah terhenti secara paksa.

Krosak.

Langkah kaki yang berat menginjak ranting kering. Shanum menoleh, dan jantungnya serasa berhenti berdetak.

Seorang pria berdiri di sana, tepat di lubang pagar belakang yang sengaja dirusak. Ia mengenakan jaket kulit kusam yang bau apak, dengan bekas luka parut melintang di pelipisnya.

Gali. Dia adalah ‘anjing pelacak’ terbaik milik rumah bordil Jakarta, pria yang dikenal tidak punya urat saraf saat harus menagih “aset” yang lari.

“Ketemu,” suara Gali berat, parau karena rokok.

Shanum mundur, tangannya secara refleks meraih sekop kecil di sampingnya. “Mau apa kamu di sini?!”

“Bos mau investasinya balik, Shanum. Kamu sudah bikin rugi banyak.” Gali mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya, klik, mata pisaunya berkilat dingin di bawah cahaya matahari yang remang.

“Ayo ikut dengan tenang, atau aku harus membawa potongan tanganmu saja sebagai bukti kamu sudah mati?”

Gali menerjang. Gerakannya kasar namun sangat kuat.

Ia mencengkeram rahang Shanum dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menodongkan pisau ke leher wanita itu.

Shanum mencoba melawan, namun tenaga Gali terlalu besar. Ia mulai diseret paksa menuju hutan jati di balik pagar.

“Tolong—!”

“Diam, atau lubang di lehermu ini akan lebih lebar dari mulutmu!” ancam Gali.

Tepat saat Gali hendak menarik Shanum melewati batas pagar, sebuah suara rendah yang sangat tenang mengudara.

“Lepaskan dia.”

Gali berhenti. Ia menoleh dan melihat seorang pria berdiri sepuluh meter di depannya. Rasyid.

Dia berdiri dengan postur yang sangat santai, namun matanya... matanya sekeras batu granit.

Tidak ada lagi keteduhan seorang Kyai di sana. Yang tersisa hanyalah tatapan seorang pemburu yang telah menemukan mangsanya.

Rasyid perlahan melepaskan jam tangan peraknya, memasukkannya ke saku celana.

Ia mulai melinting lengan baju kokonya hingga ke siku, memperlihatkan guratan otot lengan bawah yang kencang dan keras—hasil dari latihan fisik bertahun-tahun yang tak pernah ia pamerkan di mimbar pengajian.

“Oh, ini suamimu?” Gali menyeringai, tidak terkesan. “Minggir, Pak Ustadz. Ini bukan urusan baca doa. Ini urusan nyawa.”

“Aku tidak akan mengatakannya dua kali,” ucap Rasyid. Langkahnya maju satu tindak, pelan namun berwibawa.

“Lepaskan dia, atau kamu tidak akan bisa berjalan keluar dari tanah ini.”

Gali tertawa meremehkan. Ia mendorong Shanum ke tanah dan menghambur ke arah Rasyid dengan pisau terhunus.

Adegan selanjutnya terjadi begitu cepat, presisi, dan mematikan.

Gali melayangkan tikaman lurus ke arah perut. Rasyid tidak menghindar jauh; ia justru melakukan step-in yang sangat efisien.

Dengan satu gerakan parry yang sinkron, tangan kirinya menepis pergelangan tangan Gali, sementara sikut kanannya menghantam tepat di rahang pria itu dengan suara krak yang mengerikan.

Gali terhuyung, namun ia mencoba membalas dengan pukulan liar.

Rasyid merunduk dengan gerakan yang sangat minim, menangkap lengan Gali, lalu memutarnya ke belakang dengan teknik kuncian sendi yang brutal.

Terdengar bunyi pop dari bahu Gali yang terlepas.

Belum sempat Gali berteriak, Rasyid melakukan bantingan judo yang telak. Tubuh besar Gali menghantam tanah dengan suara bum yang berat, membuat debu-debu kebun beterbangan.

Rasyid segera mengunci pergerakan Gali dengan lututnya yang menekan ulu hati pria itu, lalu menginjak tangan Gali yang masih memegang pisau hingga senjatanya terlepas.

Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari lima belas detik. Tanpa teriakan, tanpa gerakan tambahan yang sia-sia. Sangat efisien. Sangat maskulin.

Rasyid berjongkok, menatap mata Gali yang kini dipenuhi rasa sakit dan ketakutan luar biasa.

Aura membunuh yang keluar dari tubuh Rasyid begitu pekat hingga Shanum yang melihat dari kejauhan pun merasa merinding.

“Beri tahu bosmu,” bisik Rasyid tepat di depan wajah Gali.

“Mulai hari ini, setiap inci tanah ini adalah daerah terlarang untuknya. Jika aku melihat orang lain sepertimu lagi, aku tidak akan mengembalikan kalian dalam keadaan bernapas. Paham?”

Gali hanya bisa mengerang, wajahnya memucat. Rasyid berdiri, merapikan kembali lengan bajunya yang sedikit kusut tanpa setetes pun keringat di dahinya.

Ia berbalik ke arah Shanum yang masih terduduk lemas di tanah dengan mata membelalak.

Sisi “predator” Rasyid menghilang seketika, berganti kembali menjadi pria tenang yang dikenal Shanum. Ia mengulurkan tangannya pada Shanum.

“Ayo pulang,” ucap Rasyid dengan nada lembut namun tetap dalam. “Belajar mengajinya belum selesai, kan?”

Shanum menyambut tangan itu dengan gemetar. Saat jemarinya bersentuhan dengan tangan Rasyid yang masih terasa panas akibat adrenalin, ia sadar... suaminya bukan hanya seorang Kyai yang pandai berdoa.

Di balik jubah putih itu, ada seorang pelindung yang siap menghancurkan dunia demi menjaganya.

Shanum baru saja hendak berdiri ketika sebuah firasat buruk menghantam dadanya. Ia melihat mata Gali.

Mata itu tidak menunjukkan penyerahan diri, melainkan kegilaan seorang anjing penjaga yang sudah terpojok.

“Mas Rasyid, awas!” jerit Shanum.

Semuanya terjadi dalam satu kedipan mata. Gali, dengan bahu yang sudah dislokasi, secara ajaib memutar tubuhnya dengan tumpuan satu tangan.

Dari balik lengan jaketnya yang kotor, ia menarik sebuah pisau kecil yang sedari tadi tersembunyi—sebuah pisau lipat cadangan yang jauh lebih tajam.

Rasyid yang baru saja berbalik arah refleks mencoba menangkis.

Namun, posisinya yang sedang berdiri tegak membuatnya kehilangan momentum.

Srak!

Suara logam yang merobek kain dan daging terdengar begitu nyata di tengah keheningan kebun jati.

Rasyid tidak mengerang, namun tubuhnya tersentak ke belakang.

Bilah tipis itu amblas masuk ke bahu kirinya, tepat di otot deltoid bawah, hingga darah segar langsung merembes cepat, mewarnai baju koko putihnya dengan warna merah yang mengerikan.

“Mati kamu, Ustadz jelek!” raung Gali dengan wajah yang penuh keringat dan kebencian.

Gali mencoba mencabut pisaunya untuk melakukan tusukan kedua ke arah leher, namun kali ini Rasyid tidak memberi celah.

Meski bahunya berdenyut hebat karena hantaman benda tajam, tangan kanan Rasyid bergerak secepat kilat.

Ia mencengkeram tenggorokan Gali, lalu menghantamkan kepala pria itu ke batang pohon jati di belakang mereka.

Dugh!

Gali langsung lunglai, matanya mendelik putih sebelum akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri di tanah.

Pisau cadangan itu masih tertancap di bahu Rasyid, bergetar mengikuti napas Rasyid yang mulai menderu pendek.

Shanum berlari mendekat, wajahnya sepucat kertas. Ia melihat darah yang mulai menetes dari ujung lengan baju Rasyid ke atas tanah pesantren yang suci.

“Mas... Mas Rasyid, darahnya...” Shanum gemetar, tangannya ingin menyentuh luka itu tapi ia terlalu takut untuk memperparahnya.

“Kenapa kamu diam saja? Kamu terluka!”

Rasyid memegangi bahunya yang bersimbah darah.

Wajahnya mulai memucat, namun matanya tetap tertuju pada Shanum dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang seolah mengatakan bahwa luka ini tidak ada artinya dibanding keselamatan istrinya.

“Jangan... jangan mendekat dulu,” bisik Rasyid parau. “Zaki... panggil Zaki...”

Pandangan Rasyid mulai sedikit buram. Ia bersandar pada batang pohon, mencoba menahan berat tubuhnya.

Di kejauhan, suara teriakan santriwati dan langkah kaki orang banyak mulai terdengar mendekat karena jeritan Shanum tadi.

Namun, sebelum massa sampai di sana, Rasyid sempat membisikkan sesuatu yang membuat jantung Shanum hampir berhenti.

“Shanum... kalau mereka datang... bilang pisau ini milikku. Jangan biarkan mereka tahu siapa pria itu...”

Suara Rasyid melemah. Kepalanya terkulai, dan tepat saat Zaki serta para pengurus pesantren muncul dari balik semak, tubuh Rasyid mulai merosot jatuh ke pelukan Shanum.

Gamis Shanum kini dipenuhi noda darah suaminya yang masih hangat, sementara pisau itu masih tertancap di sana—sebuah tanda bahwa masa lalu Shanum baru saja memberikan luka permanen pada pria yang mencoba mensucikannya.

Shanum menjerit memanggil nama Rasyid, namun pria itu sudah tidak menyahut.

Di tengah kerumunan yang panik, Shanum hanya bisa memeluk tubuh dingin Rasyid.

Sementara di dalam kepalanya hanya ada satu pikiran: Apakah pahlawannya ini akan pergi sebelum ia sempat menyatakan bahwa dialah satu-satunya pria yang ia cintai?

1
Arni Anggraeni
👍👍💪
Arni Anggraeni
kereeeeenn
Lyynn: waahh terima kasih kaakk😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!