Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Benar
[ Kelas 11-A ]
"Hai, Cloe! Kantin yuk!" ajak seorang murid pada Tuan Muda ketiga keluarga Rich itu yang sedang merapikan meja.
Cloe memasukkan buku paketnya ke laci, lalu menoleh ke arah Byan yang tampak sangat serius menatap layar ponselnya. Aura Byan yang biasanya tenang, kini terlihat sedikit tegang.
"Duluan gih, bro," sahut Cloe melambaikan tangan. Teman-temannya pun keluar kelas tanpanya.
Cloe mendekati kembarannya itu. "Hai, By! Serius amat. Lagi ngetik apaan, sih? Sampai dahi kamu berkerut begitu?"
Byan menaikkan letak kacamatanya yang sedikit melonggar, lalu tanpa kata menunjukkan riwayat obrolan di layar ponselnya. Cloe mendekat, matanya bergerak cepat membaca barisan teks di sana.
"Rayden? Black Lotus? Tunggu! Rayna ada di sini?" Cloe terperangah, matanya nyaris melompat keluar karena tak percaya.
"Iya, Rayna sudah pindah ke Jakarta!" Byan mengangguk yakin. "Dan dia ada di sekolah ini."
"Jangan-jangan... murid baru di kelas Asha itu?" Cloe dan Byan saling pandang cukup lama, seolah sedang berkomunikasi lewat batin. Detik berikutnya, mereka berdua serempak bangkit dan berlari menuju ruang ekskul seni, markas utama Asha.
"ASHAAAA!"
Teriakan melengking mereka memenuhi ruangan seni yang tenang. Namun, langkah mereka mendadak terkunci saat berhadapan dengan sesosok gadis kecil yang sedang duduk manis di atas meja tinggi.
"Eh... dari mana anak ini berasal?" gumam Cloe bingung.
Dua anggota ekskul perempuan yang ada di sana hanya mengangkat bahu. Mereka hanya dititipkan tugas oleh Asha untuk menjaga bocah itu sebentar.
"Ekhem. Dia Chira, anaknya Dokter Jovita. Sekarang jadi anak asuhnya Rayna," sahut Asha yang baru muncul dari balik kanvas besar.
"Rayna? Jadi benar dia kembali?!" seru Byan antusias. "Lalu di mana dia? Kami tadi ke kelas kalian tapi dia nggak ada."
"Onty lagi nangis, Om-om tampan," sahut Chira tiba-tiba. Matanya berbinar melihat Byan dan Cloe.
Wah, koleksi cowok ganteng di sini banyak sekali! batin Chira senang, jauh lebih keren daripada bocah-bocah cengeng di penitipan anak tadi.
"Nangis? Siapa pelakunya?!" dengus Byan, wajahnya berubah merah padam. Ia teringat pesan singkat dari Rayden untuk menjaga adiknya baik-baik. "Katakan siapa bedebah yang berani bikin dia menangis? Aku akan beri dia pelajaran! Akan aku hancurkan reputasi keluarganya!"
Cloe juga sudah mengepalkan tangan, siap melayangkan pukulan maut.
Asha menghela napas panjang, menatap dua adiknya dengan datar. "Kalian ingin memukul adik kalian sendiri? Oke, silakan ke kelasnya saja."
Byan dan Cloe melongo. "Adik kami? Maksudmu... Cecilia? Gadis itu melukai sahabatnya sendiri?"
Plak!
Chira menepuk jidatnya sendiri. "Bukan! Tapi Om Galaaak! Yang matanya melah sepelti pampil itu!" jawab Chira lantang sambil menirukan ekspresi vampir yang lagi marah.
"Om galak? Oh... Deva?" tebak Byan dan Cloe bersamaan.
"Nah itu! Pintel!" seru Chira sambil memberikan satu jempol mungilnya ke arah mereka.
Byan dan Cloe seketika lemas. Jika pelakunya Deva, masalahnya bukan lagi soal baku hantam, melainkan soal benang kusut di masa lalu.
"Lantas sekarang Rayna di mana?" tanya Byan khawatir.
"Aku tidak tahu, dia lari begitu saja setelah ditepis Deva. Aku mau mengejar, tapi aku harus menjaga anak ini," jawab Asha melirik Chira yang asyik memainkan kuas lukis miliknya. "Letak penitipan anak jauh, aku malas kalau harus bolak-balik ke sana lagi."
“Kalau begitu biar kami yang cari—”
“Tidak perlu,” tahan Asha mencegah dua adiknya pergi. “Aku yakin Cecil sedang bersamanya. Kita tunggu saja chat Cecil,” ucapnya menenangkan Byan dan Cloe demi masalah ini tak merembet kemana-mana.
Pintu ruangan itu terbuka kasar. Perhatian semua orang seketika tersedot pada sosok Isabella yang berdiri di ambang pintu. Melihat situasi yang menegang, Asha memberikan isyarat singkat kepada dua anggotanya untuk segera meninggalkan ruangan.
"Isabella? Di mana Rayna?" tanya Asha dingin, sesaat setelah pintu tertutup dan hanya menyisakan mereka di sana.
"Dia bersama Cecil. Aku kemari karena perlu bicara dengan kalian!" pungkas Isabella. Napasnya memburu, dadanya naik turun karena berlari demi menemukan ketiga Tuan Muda itu di satu tempat yang sama.
"Bicara soal apa?" tanya ketiganya hampir bersamaan.
"Deva sudah gila! Dia mendesak untuk menikahiku besok lusa. Aku tidak mau! Dia bukan tipeku!" tegas Isabella. Matanya yang mulai berkaca-kaca sempat melirik ke arah Cloe yang berdiri di sisi Byan, seolah mencari dukungan.
Ia merendahkan suaranya, memohon dengan nada yang serak. "Aku mau kalian bantu aku menggagalkan ini. Tolong... bicara lagi pada orang tua kalian."
Hening sejenak, sebelum sebuah jawaban pahit membuatnya diam. "Sayang sekali, Bella. Kami tidak bisa membantu."
"Kenapa?" Isabella terperangah.
"Kami pun gagal membujuk Ayah. Bahkan jika Ayah kami setuju untuk membatalkannya, pernikahan ini akan tetap terjadi," ujar Asha. Meskipun wajahnya tampak tenang, ada nada kekhawatiran yang terselip dalam suaranya.
"Tidak! Ini tidak benar!" racau Isabella frustasi. "Aku tidak menyukai Deva! Rayna yang selama ini tulus menyukainya. Dan aku yakin, jauh di dalam hatinya, Deva masih menyukai Rayna.”
Mendengar kejujuran itu, hati Asha berdesir hebat. Sebagai putra sulung yang memegang kendali utama kerajaan bisnis keluarga, ada harga diri yang tergores dalam diam. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin Rayna lebih memilih Deva yang masih butuh bimbingan ketimbang dirinya yang memiliki segalanya? Apa yang sebenarnya Rayna lihat dari adiknya itu hingga ia begitu tergila-gila?
Namun, Asha dengan cepat menepis gejolak batinnya. Ia menatap tajam Isabella.
"Percuma kamu memohon di sini, Bella. Terima saja takdirmu. Belajarlah menjadi istri yang baik untuk Deva."
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗