NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25.

Wajah Alana semakin merah, seolah darahnya berkumpul seluruhnya di bagian wajah karena rasa malu yang meluap-luap. Ia kini baru saja menyadari sesuatu yang membuatnya ingin menampar dirinya sendiri—gaun tidur sutra krem yang ia pakai ini bukan pakaian yang ia bawa dari rumahnya. Ini adalah pakaian yang dipinjamkan oleh Annabelle, sore tadi karena pakaiannya basah terkena air saat di dapur. Saat itu ia hanya menerimanya dengan sopan, tidak menyangka sama sekali bahwa bahannya setipis ini dan potongannya begitu terbuka, apalagi sekarang saat ia mengenakannya di hadapan Aslan.

ya tuhan, kenapa aku menerimanya? Kenapa aku memakainya? Tanpa memeriksanya lebih dulu? Jerit batin Alana, rasa penyesalan itu menusuk tajam. Ia menarik ujung gaun itu semakin erat, berusaha menutupi setiap inci kulit yang terlihat, namun ia sadar betapa sia-sianya usaha itu karena mata Aslan sudah melihat segalanya.

Aslan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Matanya menelusuri wajah Alana yang bersih tanpa riasan, bulu mata yang panjang dan sedikit basah, serta kulit yang masih bersinar segar. Bagi Aslan, kecantikan alami ini jauh lebih memukau daripada segala perhiasan atau busana mewah yang pernah ia lihat. Kehangatan yang terpancar dari gadis itu adalah sesuatu yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Tanpa melepaskan sentuhan di pipi Alana, tangan Aslan yang lain turun menggenggam lembut pergelangan tangan gadis itu, lalu melingkarkan tangan nya yang kokoh di pinggang Alana, kemudian mulai membimbingnya berjalan perlahan menuju tempat tidur yang luas dan empuk di sudut ruangan.

"Apa kau hanya akan mematung disini, Alana? Ayo duduklah sebentar," bisiknya.

"Tidak! Jangan!" Alana segera memberontak, kakinya menahan tanah, menarik tangannya berusaha lepas. Suaranya bergetar keras, campuran antara ketakutan dan kemarahan. "Aslan, kumohon! Ini sudah keterlaluan! Kau harus pulang, kembali ke kamarmu sekarang juga! Kalau ada orang yang melihatmu di sini, apa yang akan terjadi? Nenek, Ayah, Ibu... mereka semua ada di rumah ini! Kita akan memalukan seluruh keluarga!"

Ia benar-benar panik. Bayangan jika Annabelle atau bahkan keluarga nya sendiri akan masuk secara tiba-tiba sudah cukup membuat lututnya luruh tak bertenaga.

Aslan berhenti melangkah, namun ia tidak melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Alana yang berkaca-kaca karena cemas, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tenang namun sedikit nakal.

"Baiklah, Baiklah... Aku akan pergi," ucapnya pelan, seolah menyerah, namun nada suaranya memberi tahu Alana bahwa ada syarat yang menyertainya. "Tapi ini bukan tanpa syarat. Ingat, Sayang... aku adalah tunanganmu sekarang. Resmi. Di hadapan keluarga dan Tuhan. Aku punya hak yang harus aku dapatkan."

"Hak apa lagi?" tanya Alana waspada, dadanya naik turun karena napas yang belum teratur.

"Hak untuk mendapatkan tanda cinta dari tunanganku," jawab Aslan tegas, matanya berkilat. "Aku tidak akan pergi sebelum aku mendapatkan apa yang menjadi hakku. Aku ingin sebuah ciuman, Alana. Hanya satu."

Mata Alana membelalak lebar, wajahnya yang tadi sudah merah kini seolah terbakar. "Apa?! Tidak mungkin! Aslan, jangan berlebihan! Kita... kita hanya bertunangan, belum menikah! Ini salah, ini berbahaya!"

Pikirannya berantakan. Ia marah karena Aslan seenaknya menuntut sesuatu, takut karena risiko yang ada, dan bingung karena jantungnya justru berdegup semakin kencang bukan karena benci, melainkan karena getaran aneh yang dikirimkan oleh tatapan pria itu.

"Hanya satu, Alana. Setelah itu aku janji akan keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Tidak ada yang akan tahu," bujuk Aslan, suaranya kini menjadi lebih lembut, memikat, seolah memanipulasi akal sehat gadis itu.

Sebelum Alana sempat menolak lebih keras atau bahkan berteriak, Aslan sudah bergerak. Ia menarik tubuh ramping Alana dengan lembut namun tak terbantahkan, membawa langkah mereka berdua hingga pinggul Alana menyentuh tepi tempat tidur, lalu dengan gerakan halus ia memandu gadis itu duduk, sementara ia sendiri berdiri di antara kedua kaki Alana, membuat gadis itu terperangkap dalam pelukan tubuh dan wangi maskulinnya.

"Aslan, tolong, lepaskan... aku tidak mau..." Alana terus berupaya menolak, tangannya menekan dada bidang Aslan berusaha menjaga jarak, namun tenaganya tak sebanding. Ia merasa seperti burung kecil yang terperangkap dalam cengkeraman elang yang sabar namun tegas.

Aslan hanya tersenyum, menatap wajah cantik yang kini tertunduk dan bergetar itu. Ia mengangkat tangan, menyisir jari-jarinya perlahan ke rambut basah Alana, lalu menahan dagu gadis itu agar wajahnya terangkat dan bertemu dengan pandangannya. Dalam sekejap mata, batasan yang berusaha dibangun Alana runtuh begitu saja. Tatapan mata biru itu terlalu dalam, terlalu penuh cinta dan hasrat yang membuat akal sehatnya kabur, membuat perlawanannya melemah tanpa ia sadari.

"Lihat aku, Sayang..." bisiknya.

Saat mata mereka bertemu, Aslan mendekatkan wajahnya. Ia tidak mencium nya, melainkan memiringkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya di bagian sensitif dan lembut milik Alana, tepat di bawah garis rahang. Ia menciumnya lembut di awal, lalu perlahan menekan dan menghirup wangi kulit gadis itu, meninggalkan jejak hangat yang jelas terasa.

Alana tersentak, sebuah rintihan halus hampir lolos dari bibirnya, tubuhnya menegang lalu lemas seketika. Ia bisa merasakan kehangatan bibir Aslan, dan ia tahu, di tempat itu akan tersisa sebuah tanda,—tanda kepemilikan yang nyata.

"Aslan..." panggilnya lirih, suaranya sudah kehilangan ketajaman kemarahannya, kini hanya tinggal getaran ketakutan dan perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

Aslan mengangkat wajahnya kembali, menatap jejak kemerahan yang ia ciptakan di leher putih Alana dengan tatapan puas namun lembut.

"Itu agar kau ingat," bisiknya dekat telinga gadis itu, "bahwa kau milikku. Di mana pun kau berada, bahkan nanti saat kau kembali ke Yogyakarta, jejak ini akan mengingatkanmu."

Rasa malu yang tadi memenuhi dada Alana kini berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap. Ia mendorong dada bidang Aslan dengan sekuat tenaga, kali ini bukan sekadar tanda penolakan, melainkan serangan sungguhan.

"Aslan! Apa yang kau lakukan?!" serunya, suaranya meninggi meski masih berusaha ditahan agar tidak terdengar keluar. Matanya yang tadinya berkaca-kaca kini menyala penuh amarah. "Kau... kau meninggalkan tanda di sana! Bagaimana aku bisa menjelaskannya kepada orang lain besok? Kepada Nenek, kepada Ibu? Apa yang harus aku katakan?!"

Ia benar-benar syok dan panik. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh bagian leher yang baru saja dicium Aslan. Rasanya hangat, dan ia bisa membayangkan betapa jelasnya noda kemerahan itu tercetak di kulit putihnya. Pikirannya berputar kencang mencari cara, namun semakin dipikirkan, ia semakin sadar bahwa hal itu hampir mustahil untuk disembunyikan sepenuhnya. Apakah harus memakai syal tebal di dalam rumah yang ber-AC? Atau alas bedak yang tebal? Tapi jika ketahuan, masalahnya akan menjadi lebih besar. Ia benar-benar bingung dan merasa putus asa.

Sementara itu, Aslan justru menarik diri sedikit, melipat kedua tangan di dada, dan menatapnya dengan senyum lebar yang penuh kepuasan dan kebanggaan. Bagi pria itu, tanda itu adalah lukisan terbaik yang pernah ia buat.

"Kenapa harus disembunyikan?" tanya Aslan santai, seolah apa yang ia lakukan hanyalah hal sepele. "Itu tanda bahwa kau sudah punya pemilik. Biar semua orang tahu, biar para pemuda di Yogyakarta tahu bahwa kau tidak lagi bebas."

"Kau gila?!" Alana tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Ini tidak sopan! Kita belum menikah, Aslan! Apa yang kau lakukan ini melampaui batas! Kau selalu saja seenaknya sendiri, melakukan apa pun yang kau mau tanpa memikirkan perasaanku atau kesulitanku nanti!"

Mereka bertengkar dengan suara yang diredam, kata-kata tajam saling dilontarkan di antara keheningan malam. Alana terus menuduh, dan Aslan hanya menanggapi dengan senyum yang semakin lebar, seolah kemarahan gadis itu justru menjadi pemandangan yang menghibur dan menggemaskan baginya.

"Kau ini benar-benar..."

Aslan menggelengkan kepala, namun matanya memancarkan kasih sayang yang dalam. Melihat Alana yang berdiri di sana, wajahnya merah padam, bibirnya mengerucut karena marah, membuat perasaan gemas di hati Aslan semakin tak tertahankan.

Tanpa peringatan, Aslan kembali melangkah maju, menangkap pinggang Alana dan menarik tubuh gadis itu kembali mendekat. Sebelum Alana sempat berteriak atau memprotes lagi, Aslan menunduk dan mencium bibir Alana dengan cepat namun penuh rasa. Ciuman itu singkat, namun cukup membuat Alana terdiam kaget, kata-kata kemarahan yang ada di ujung lidah hilang tak berbekas.

"Kau..." Aslan berbisik tepat di depan bibir Alana, matanya menatap tajam dan sedikit menantang. "Kalau kau terus berisik dan membuat keributan, aku tidak menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku bisa saja memutuskan untuk tidak pulang malam ini dan tetap tinggal di sini. Kau mau itu terjadi?"

Itu adalah ancaman yang jelas dan efektif. Wajah Alana yang tadi merah karena marah kini berubah pucat karena ketakutan. Ia tahu Aslan bukan orang yang suka bercanda soal hal seperti ini, dan jika pria itu benar-benar melakukannya, malapetaka besar pasti akan menimpa mereka. Alana menahan napas, menelan ludah dengan susah payah, dan akhirnya menurunkan pandangannya, berhenti memberontak meski dadanya masih naik turun karena emosi.

Melihat gadis itu akhirnya tenang, Aslan tersenyum puas lagi. Ia mengusap puncak kepala Alana pelan, seolah sedang memanjakan anak kecil yang baru saja dimarahi.

"Bagus. Itu baru tunanganku yang pintar," bisiknya. Dengan perlahan, Aslan mulai menarik diri, mundur selangkah demi selangkah menjauhi Alana. "Aku pergi sekarang. Tapi ingat... tidurlah dengan nyenyak. Besok pagi, aku ingin melihatnya."

Aslan berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah tegap. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi, menatap Alana yang masih terpaku di tempatnya, lalu menutup pintu perlahan dan menguncinya kembali dari luar dengan cara yang sama ia membukanya, meninggalkan Alana yang sendirian dengan detak jantung tak beraturan.

Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki Aslan menghilang di lorong, Alana segera berlari kecil menuju cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat menyalakan lampu meja yang redup, lalu ia memiringkan leher jenjangnya ke arah pantulan cahaya.

Di sana, tepat di bawah rahang kanannya, tercetak jelas noda kemerahan yang cukup jelas. Warnanya terlihat mencolok di atas kulit putihnya, seolah sebuah stempel yang tak terhapuskan. Alana menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak. Benar saja, itu sangat jelas. Tidak ada cara untuk menyangkal dari mana asalnya tanda itu. Ia bisa membayangkan betapa malunya ia nanti saat bertemu dengan keluarga besok pagi. Rasa marah, malu, dan juga sesuatu yang lain—rasa aneh yang membuat jantungnya berdebar—bercampur menjadi satu di dadanya.

Sementara itu, di lorong yang gelap, Aslan berjalan kembali ke kamarnya sendiri dengan langkah ringan. Senyum bahagia dan puas tak pernah hilang dari wajahnya. Begitu masuk ke dalam kamarnya yang luas dan mewah, ia bahkan tidak langsung berbaring. Ia berjalan menghampiri jendela besar yang menghadap ke arah taman, menatap langit malam yang berbintang.

Perasaan di dadanya meluap-luap. Bayangan tentang Alana dengan tanda kepemilikannya membuatnya merasa seperti pemenang terbesar di dunia. Namun, pikirannya tidak berhenti di situ saja. Semakin ia memikirkannya, semakin ia sadar bahwa menunggu hingga Alana lulus atau menunggu jadwal yang sudah direncanakan orang tua adalah hal yang terlalu menyiksa.

Pertunangan saja tidak cukup, pikir Aslan, sudut bibirnya yang tipis terangkat membentuk senyum manis sekaligus menggoda. Matanya berkilat cerdik dan penuh rencana. Aku harus mempercepat segalanya. Pernikahan ini harus dilaksanakan sesegera mungkin. Mungkin bahkan sebelum ia kembali ke Yogyakarta, atau segera setelah ia menyelesaikan studinya. Aku tidak akan membiarkan jarak memisahkan kami lagi.

Bayangannya melayang jauh ke masa depan. Ia membayangkan Alana mengenakan gaun pengantin, membayangkan hidup mereka bersama di bawah satu atap, membayangkan anak-anak yang akan lahir dari cinta mereka. Semua itu terasa begitu nyata dan indah di benaknya.

"Akan ku wujudkan secepatnya, Sayang," bisiknya pelan ke udara malam. "Kau akan menjadi istriku, secepat yang aku bisa rencanakan."

Dengan pikiran-pikiran indah itu dan senyum yang masih melekat, Aslan akhirnya berbaring, menantikan matahari terbit dengan antusiasme yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!