NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Pelarian dalam Debu

​Matahari di atas Kabupaten Gianyar bersinar dengan intensitas yang nyaris brutal. Sinarnya menembus atap transparan pabrik fabrikasi pualam, menyoroti jutaan partikel debu marmer yang melayang di udara bagai kawanan serangga putih mikroskopis. Udara terasa berat, sarat dengan kelembapan tropis yang mencekik dan aroma tajam dari bahan kimia epoksi yang sedang dikeringkan. Di dalam hanggar raksasa ini, suara bising bukanlah sebuah gangguan; suara itu adalah detak jantung yang memompa kehidupan ke dalam struktur-struktur batu mati.

​Kanaya Larasati berlutut di atas lantai beton yang kasar. Kemeja flanelnya yang berwarna biru pudar telah basah kuyup oleh keringat, melekat erat di punggungnya. Lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan kecilnya yang kini dipenuhi noda debu dan beberapa goresan merah tipis akibat bergesekan dengan tepian batu yang tajam. Ia mengenakan kacamata pelindung bening, namun itu tidak cukup untuk menghentikan matanya yang memerah dan perih akibat kombinasi kelelahan kronis dan partikel asing.

​Di tangannya, senter teknis pemberian Arjuna Dirgantara memancarkan cahaya LED putih yang sangat fokus. Naya mengarahkan cahaya itu ke sepanjang urat emas alami dari sebuah blok marmer Calacatta yang baru saja dipotong.

​"Dua milimeter," gumam Naya serak, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin waterjet di sudut pabrik. "Batas toleransi deviasinya terlalu dekat dengan urat kuarsa utama. Jika kita memaksakan pengeboran untuk dudukan honeycomb di titik ini, tekanan hidrolik dari mesin akan memicu retakan rambut di dalam batu."

​Pak Nyoman, yang berjongkok di seberang balok marmer raksasa itu, menghela napas panjang dan menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang sudah berubah warna menjadi abu-abu. Ia menatap Naya dengan sorot mata yang penuh dengan keprihatinan yang tidak bisa disembunyikan.

​"Nona Naya, Anda sudah berada di posisi itu selama tiga jam tanpa beranjak sedikit pun," tegur Pak Nyoman, nadanya terdengar seperti seorang ayah yang sedang memarahi putrinya yang keras kepala. "Anda juga belum menyentuh kotak makan siang yang saya pesan sejak pukul dua belas tadi. Ini sudah pukul tiga sore. Batu-batu ini tidak akan lari ke mana-mana jika Anda beristirahat lima belas menit untuk sekadar minum air putih."

​Naya tidak mendongak. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit yang sudah usang terus meraba permukaan batu yang dingin, mencari celah, mencari cacat, mencari apa pun yang bisa mengalihkan pikirannya dari kenyataan yang menganga lebar di luar dinding pabrik ini.

​"Saya tidak lapar, Pak Nyoman," jawab Naya datar, menggeser posisi berlututnya hingga lututnya terasa ngilu beradu dengan lantai beton. "Kita berada di bawah tenggat waktu yang sangat kritis. Pak CEO di Jakarta menuntut presisi mutlak. Beliau baru saja mempertaruhkan masa depan perusahaannya, dan saya tidak akan membiarkan fabrikasi pilar keenam ini menjadi alasan bagi dewan direksi untuk mempertanyakan keputusannya."

​Mendengar nama Juna disebut, Pak Nyoman hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Nona, dengan segala hormat, Anda terlihat seperti orang yang sedang mencoba membunuh diri Anda sendiri secara perlahan menggunakan batu-batu ini. Pak Arjuna memang atasan yang keras, tapi bahkan beliau pun akan marah besar jika melihat kondisi Anda yang seperti mayat hidup begini."

​'Dia tidak akan marah, Pak Nyoman,' batin Naya miris, senyum getir melintas cepat di bibirnya yang kering dan pecah-pecah. 'Dia justru akan bersyukur. Dia mengirimku ke sini tepat agar aku bisa membunuh perasaanku dengan kelelahan fisik. Dia mengirimku ke neraka debu ini agar aku tidak perlu melihatnya bersanding dengan wanita yang sepadan dengannya.'

​Ingatan tentang foto pertunangan Juna dan Aline yang ia lihat dua hari lalu di apartemennya masih tercetak jelas di balik kelopak matanya. Setiap kali Naya memejamkan mata untuk beristirahat, ia melihat kilatan lampu blitz para wartawan. Ia melihat bagaimana tangan besar Juna menggenggam tangan Aline yang lentik dan terawat. Ia melihat dunia yang tidak akan pernah bisa ia masuki, sebuah dunia di mana seorang Kanaya Larasati hanyalah sebuah instrumen kelas bawah, sementara Arjuna Dirgantara adalah dewa yang duduk di singgasananya.

​"Kita geser titik pengeborannya tiga sentimeter ke arah barat laut," perintah Naya tiba-tiba, memecah lamunannya sendiri dengan suara yang dipaksakan untuk terdengar otoriter. Ia meraih spidol industri berwarna merah dan menandai permukaan marmer itu dengan garis yang tegas. "Ini akan mengubah titik tumpu beban struktural sekitar dua persen, tapi matriks honeycomb aluminium yang diminta oleh Pak Arjuna cukup kuat untuk menkompensasi pergeseran ini. Lakukan pemotongan ulang."

​Pak Nyoman menatap garis merah itu, lalu menatap Naya. "Menggeser titik pengeboran berarti kita harus merombak ulang pola kerangka baja di dalamnya, Nona. Itu artinya tim pengelas harus bekerja lembur sampai jam dua pagi nanti."

​"Maka biarkan mereka bekerja lembur. Saya akan menemani mereka di sini sampai titik pengelasan terakhir selesai," sahut Naya tanpa keraguan sedikit pun, bangkit berdiri meskipun kakinya sempat limbung selama beberapa detik karena kram. "Kita tidak boleh gagal. Pualam ini harus menjadi mahakarya yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun."

​Naya melangkah pergi menuju stasiun kerja berikutnya, meninggalkan Pak Nyoman yang hanya bisa menatap punggung kecil itu dengan perasaan campur aduk. Pak Nyoman tahu, gadis di depannya ini tidak sedang bekerja; ia sedang melarikan diri. Dan dari pengalamannya selama puluhan tahun, pelarian ke dalam kelelahan fisik yang ekstrem biasanya akan berakhir dengan keruntuhan sistem yang jauh lebih fatal.

​Sementara itu, dua ribu kilometer dari kelembapan dan kebisingan Gianyar, di dalam salah satu ruang perjamuan eksklusif di sebuah restoran bintang lima di kawasan SCBD Jakarta, suasana terasa begitu dingin, steril, dan dipenuhi oleh kepalsuan yang dibalut dengan etika kelas atas.

​Arjuna Dirgantara duduk di ujung meja bundar yang dilapisi taplak linen putih tanpa cela. Ia mengenakan setelan jas Bespoke berwarna navy gelap, kemejanya dikancingkan hingga ke leher tanpa dasi—sebuah kompromi kecil untuk acara makan siang keluarga yang diklaim sebagai 'santai' ini. Namun, tidak ada satu pun otot di tubuh Juna yang merasa santai. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga ia merasa giginya bisa retak kapan saja.

​Di sebelahnya, Aline Wijaya duduk dengan keanggunan yang telah dilatih sejak ia lahir. Wanita itu mengenakan gaun siang berbahan silk berwarna peach yang menonjolkan kulitnya yang putih mulus. Aline sedang asyik berbincang dengan ibunya dan Sang Chairman Dirgantara tentang detail resepsi pernikahan yang akan diadakan enam bulan lagi di ballroom hotel termegah di Singapura.

​"Arjuna, sayang," suara Aline tiba-tiba menarik Juna dari lamunannya. Wanita itu meletakkan tangannya yang lembut dan dihiasi cincin berlian raksasa di atas lengan Juna. Sentuhan itu terasa ringan, namun bagi Juna, rasanya seperti seekor lintah yang menempel di kulitnya. "Ibu baru saja menyarankan agar kita menggunakan florist dari Paris untuk mendekorasi lorong pelaminan. Bagaimana menurutmu? Kau kan ahlinya dalam soal estetika dan ruang."

​Juna perlahan memutar kepalanya, menatap tangan Aline yang bertengger di lengannya selama satu detik penuh sebelum menatap wajah tunangannya itu. Sorot mata Juna begitu kosong, begitu hitam, dan begitu mematikan hingga Aline secara refleks menarik tangannya kembali dengan senyum yang mendadak canggung.

​"Gunakan siapa pun yang kau mau, Aline," ucap Juna dengan suara baritonnya yang datar dan tanpa emosi, terdengar persis seperti mesin penjawab otomatis. "Selama itu masuk dalam anggaran Public Relations keluarga Wijaya dan tidak mengganggu jam kerjaku, kau memiliki kebebasan penuh untuk mendesain panggung pertunjukanmu sendiri."

​Sang Chairman, yang duduk di ujung meja yang berlawanan, menghentikan gerakan pisaunya di atas piring steak Wagyu. Pria tua itu menatap Juna dengan mata elangnya yang memancarkan ancaman tersembunyi.

​"Panggung pertunjukan, Arjuna?" tanya Sang Chairman, suaranya sangat tenang namun membuat suhu di ruangan itu seolah turun sepuluh derajat. "Pernikahan ini adalah simbol dari aliansi strategis terbesar abad ini. Ini bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah pernyataan kekuasaan. Aku harap kau menunjukkan antusiasme yang lebih baik daripada seorang manajer yang sedang membacakan laporan kuartal yang merugi."

​Juna membalas tatapan ayahnya tanpa gentar. Di dalam kepalanya, ia ingin sekali membalikkan meja ini, mencekik pria tua itu, dan berteriak bahwa aliansi ini dibangun di atas bangkai kebebasannya dan penderitaan seorang gadis tak bersalah. Namun, rasionalitasnya yang kejam, zirah es yang telah ia tempa selama belasan tahun, kembali mengambil alih kendali.

​"Antusiasme saya tersimpan untuk hal-hal yang menghasilkan profit jangka panjang, Ayah," jawab Juna dengan senyum sinis yang sangat tipis, sebuah ekspresi yang sangat identik dengan ekspresi ayahnya. "Pernikahan ini hanyalah prasyarat administratif untuk memastikan kelancaran merger lahan di kawasan emas. Antusiasme emosional adalah kelemahan yang Ayah ajarkan untuk saya hindari, bukan?"

​Sang Chairman mendengus pelan, sebuah suara yang mengisyaratkan kepuasan yang bengis. Ia kembali memotong dagingnya. "Bagus. Setidaknya kau masih mengingat pelajaran dasarmu dengan baik. Lanjutkan."

​Juna tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia merogoh saku bagian dalam jasnya dan mengambil ponsel khususnya. Ia menunduk, menyembunyikan layar ponsel itu dari pandangan Aline, dan membuka laporan keamanan harian yang baru saja masuk dari tim bayangannya di Bali.

​Laporan Harian 03. Target berada di pabrik sejak pukul 06.00 WITA. Kondisi visual emosional: sangat tertekan dan mengabaikan kesejahteraan fisik. Target menolak istirahat dan makan siang. Tanda-tanda kelelahan ekstrem mulai terlihat. Tim medis standby dalam radius lima kilometer.

​Tangan Juna yang memegang ponsel bergetar sangat hebat hingga ia harus meletakkannya di atas paha untuk menyembunyikannya. Udara di sekitarnya mendadak terasa lenyap. Ia merasa seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang merogoh ke dalam dadanya dan meremas jantungnya dengan sekuat tenaga.

​'Tiga hari, Kanaya. Kau berada di sana baru tiga hari dan kau sudah mencoba menghancurkan dirimu sendiri,' batin Juna, matanya terpejam erat, menahan rasa frustrasi yang luar biasa. 'Kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan? Kau sedang mencoba membunuh setiap ingatanku di dalam kepalamu dengan rasa lelah. Kau menyiksa fisikmu agar hatimu berhenti merasakan sakit.'

​Juna merasakan kepedihan yang sangat murni menyayat nuraninya. Ia adalah arsitek dari rasa sakit gadis itu. Ia yang mengirim Naya ke pulau itu dengan alasan profesionalisme, padahal itu adalah satu-satunya cara untuk menjauhkan Naya dari radar mematikan ayahnya. Namun, melihat Naya menghancurkan dirinya sendiri dari jarak dua ribu kilometer jauhnya terasa seribu kali lebih menyiksa daripada menghadapi kemarahan sang Chairman.

​'Aku tidak bisa membiarkannya terus seperti ini,' Juna membuat keputusan di dalam kepalanya, sebuah resolusi gelap yang perlahan terbentuk di balik topeng esnya. 'Aku harus menemukan alasan. Aku harus menciptakan sebuah krisis yang cukup besar, cukup logis, dan cukup mengancam profit perusahaan, sehingga Ayah tidak akan punya pilihan lain selain membiarkanku terbang ke Bali hari ini juga.'

​"Permisi," Juna tiba-tiba berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat mendadak, membuat kursi kayu jati yang berat itu berderit kasar bergesekan dengan lantai marmer.

​Semua mata di meja makan menatapnya dengan terkejut.

​"Ada apa, Arjuna?" tanya Aline, keningnya berkerut tidak suka melihat tata krama yang buruk. "Kita belum selesai membahas soal undangan VVIP."

​"Ada masalah struktural kritis di server pusat terkait pengiriman material tahap akhir," dusta Juna dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan. Ia menatap lurus ke arah ayahnya. "Sesuatu yang membutuhkan otoritas level CEO untuk diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam, atau kita akan menghadapi penalti keterlambatan miliaran rupiah dari kontraktor MEP. Saya harus kembali ke kantor sekarang."

​Tanpa menunggu persetujuan atau bantahan dari siapa pun, Juna memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang perjamuan dengan langkah lebar dan cepat. Di matanya, tidak ada lagi Aline, tidak ada lagi ayahnya, tidak ada lagi pernikahan. Yang ada di kepalanya hanyalah satu tujuan absolut: ia harus menciptakan badai agar ia bisa memiliki alasan untuk terbang menembus awan dan menyelamatkan gadisnya dari kehancuran.

​Pukul lima sore di pabrik fabrikasi Pak Nyoman.

​Suasana semakin panas dan pengap. Debu pualam kini tidak hanya melayang di udara, tetapi telah mengendap menjadi lapisan tipis berwarna putih kelabu di atas setiap permukaan, termasuk di pundak dan helm proyek Naya.

​Naya sedang berdiri di atas scaffolding (steger baja) setinggi tiga meter. Ia sedang melakukan pengecekan visual tahap akhir pada injeksi epoksi di bagian dalam lengkungan pilar keenam. Tubuhnya terasa seringan kapas, bukan karena rileks, melainkan karena ia tidak mengonsumsi apa pun selain dua cangkir kopi hitam sejak pagi. Kepalanya berdenyut-denyut dengan ritme yang menyiksa, pandangannya sesekali mengabur, namun ia terus memaksa dirinya untuk fokus.

​"Tekanan vakum sudah mencapai minus tujuh puluh kilopascal, Nona!" teriak teknisi dari bawah, mengawasi panel indikator pada mesin pompa epoksi. "Kita siap untuk tahap polimerisasi curing suhu tinggi!"

​Naya mengusap keringat yang mengalir deras di pelipisnya, meninggalkan coretan abu-abu yang kotor di wajahnya yang pucat. Ia menyorotkan senternya ke arah celah mikroskopis di antara matriks aluminium dan lapisan marmer.

​"Tunggu," Naya menyipitkan matanya. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena lonjakan adrenalin. "Ada yang salah."

​Cahaya putih dari senter itu menembus lapisan urat marmer Calacatta Gold yang tipis. Di sana, tersembunyi jauh di dalam struktur batu alami yang diklaim sebagai batu kualitas premium tingkat satu, Naya melihat sebuah bayangan gelap yang seharusnya tidak ada. Itu bukan sekadar urat kuarsa biasa. Itu adalah internal micro-fissure—sebuah retakan alami yang tersembunyi di dalam perut batu, tidak terlihat dari luar, namun berpotensi mematikan.

​'Jika kita menyuntikkan epoksi bersuhu tinggi ke dalam celah ini, tekanan termal akan membuat gas terperangkap di dalam retakan tersembunyi ini,' otak Naya bekerja dengan kecepatan kilat, menganalisis bencana fisik yang akan terjadi. 'Batu ini akan meledak dari dalam saat proses pendinginan. Seluruh pilar akan hancur.'

​"Matikan pompa vakumnya! Sekarang!" teriak Naya sekuat tenaga, suaranya melengking mengatasi bisingnya pabrik. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mencoba melihat lebih jelas seberapa panjang retakan tersembunyi tersebut.

​"Apa yang terjadi, Nona?!" Pak Nyoman berlari mendekat ke bawah steger, wajahnya panik. "Mesin sudah berjalan!"

​"Matikan, Pak Nyoman! Ada micro-fissure di kuadran selatan! Batu ini cacat dari alam!"

​Namun, teriakan Naya datang terlambat beberapa detik. Mesin pompa epoksi sudah mulai menyuntikkan cairan polimer panas ke dalam celah pilar.

​Naya bisa mendengar sebuah bunyi yang sangat halus, namun sangat menakutkan bagi seorang arsitek. Bunyi krek yang teredam dari dalam batu pualam. Bunyi material yang tidak sanggup menahan tekanan.

​"Menjauh dari pilar!" Naya berteriak pada para pekerja di bawah, mencoba mundur dari posisinya di atas steger.

​Namun, rasa lelah yang ekstrem akhirnya mengkhianati tubuhnya. Saat ia melangkah mundur, kakinya yang kram tidak menjejak dengan sempurna di atas papan besi steger. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Di saat yang sama, tekanan gas dari epoksi yang terperangkap di dalam retakan batu akhirnya mencapai titik kritis.

​BAM!

​Suara ledakan tumpul terdengar sangat keras. Salah satu lempengan marmer seberat puluhan kilogram di bagian atas pilar terlepas dari rangkanya, pecah menjadi beberapa bongkahan tajam, dan melesat keluar.

​Salah satu pecahan marmer itu menghantam pagar steger tempat Naya berdiri. Guncangan keras itu melempar tubuh Naya. Dunia di sekelilingnya berputar dengan liar. Naya merasa tubuhnya melayang di udara yang dipenuhi debu putih, sebelum akhirnya rasa sakit yang luar biasa menghantam bahu dan sisi kanan tubuhnya saat ia membentur tumpukan karung pasir di lantai pabrik.

​Suara jeritan panik para pekerja, suara mesin alarm yang mendadak berbunyi, dan suara langkah kaki yang berlarian menjadi hal terakhir yang Naya dengar sebelum kegelapan yang pekat menyedot kesadarannya tanpa ampun.

​Tiga jam kemudian, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.

​Sebuah jet pribadi mewah berjenis Gulfstream G650ER mendarat membelah langit malam Bali dengan raungan mesin yang memekakkan telinga. Pesawat itu belum sepenuhnya berhenti sempurna di area apron VVIP ketika pintunya terbuka.

​Arjuna Dirgantara melangkah turun dari tangga pesawat dengan kecepatan yang menyerupai badai yang sedang mengamuk. Ia tidak lagi mengenakan setelan jas navy yang ia pakai saat makan siang. Ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung kasar, kancing kerahnya terbuka, dan wajah yang terlihat seperti malaikat maut yang baru saja bangkit dari neraka.

​Di belakangnya, Riko berlari kecil mencoba menyamai langkah bosnya yang luar biasa lebar, membawa tas kerja berisi dokumen-dokumen krisis.

​Sebuah SUV hitam anti-peluru sudah menunggu di landasan. Juna masuk ke kursi belakang dan langsung membanting pintu dengan sangat keras.

​"Pabrik Nyoman. Sekarang. Jangan pedulikan batas kecepatan," perintah Juna pada sopirnya, suaranya sangat rendah, dingin, dan mematikan. "Jika ada polisi yang menghentikan, tabrak saja barikadenya. Aku yang akan membayar ganti ruginya."

​Sopir itu menelan ludah dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. SUV raksasa itu melesat keluar dari bandara, membelah jalanan Tol Bali Mandara seperti peluru hitam yang menembus kegelapan malam.

​Juna menyandarkan kepalanya ke kursi kulit mobil, memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa tulang rusuknya akan patah. Berita tentang kecelakaan di pabrik baru sampai kepadanya satu jam yang lalu. Laporan medis awal menyatakan Naya tidak mengalami cedera tulang belakang yang fatal karena terjatuh di atas karung pasir, namun gadis itu tidak sadarkan diri akibat kelelahan kronis dan syok ringan.

​Namun, Juna tidak peduli pada laporan medis. Juna tidak peduli pada kerugian miliaran rupiah akibat pilar marmer yang pecah. Juna bahkan tidak peduli pada ancaman ayahnya yang sempat meneleponnya saat ia menaiki jet pribadi tadi, mempertanyakan kewarasannya terbang ke Bali di tengah persiapan konferensi pers lanjutan.

​'Persetan dengan Ayah. Persetan dengan Aline. Persetan dengan Grand Azure,' umpat Juna di dalam hatinya yang sedang berdarah. Tangannya gemetar hebat, ia mencengkeram lututnya sendiri untuk menghentikan getaran itu. 'Aku mencoba melindungimu dengan mengirimmu pergi, Kanaya. Tapi aku lupa bahwa kau sama keras kepalanya denganku. Kau memilih untuk menghancurkan dirimu sendiri daripada menyerah pada pengasingan ini.'

​Juna menyadari satu kenyataan absolut yang menakutkan malam itu: jarak fisik tidak bisa melindunginya, dan juga tidak bisa melindungi Naya. Paradoks yang ia ciptakan telah menjadi senjata makan tuan. Dengan menjauhkan Naya, ia justru mendorong gadis itu mendekati jurang kematian.

​'Bertahanlah, Kanaya,' bisik Juna di tengah kegelapan kabin mobil yang melaju gila-gilaan. 'Buka matamu. Marahlah padaku. Pukul aku. Lakukan apa saja yang kau mau untuk menghukumku. Tapi tolong... jangan tinggalkan aku sendirian di dunia yang dingin ini.'

​Dua puluh menit kemudian, SUV hitam itu mengerem mendadak dengan suara decitan ban yang melengking di halaman depan pabrik fabrikasi Pak Nyoman yang kini dipenuhi oleh lampu sorot darurat dan pita kuning pembatas area.

​Juna menendang pintu mobilnya hingga terbuka, tidak memedulikan rintik hujan yang mulai membasahi bumi Gianyar. Ia melangkah masuk ke dalam hanggar yang kini sunyi dari suara mesin, hanya dipenuhi oleh para pekerja yang duduk terdiam dengan wajah tegang.

​Langkah kaki Juna yang berat menggema di atas lantai beton. Ia berjalan melewati pecahan marmer yang berserakan, melewati noda darah yang menempel di ujung steger baja, matanya yang tajam dan dipenuhi keputusasaan menyapu seluruh area untuk mencari satu-satunya wanita yang berhasil meruntuhkan kerajaan logikanya.

​Fase 3 telah menemukan titik apinya. Dan di atas tanah Bali yang dipenuhi debu dan puing-puing pualam ini, benteng penyangkalan Arjuna Dirgantara secara resmi telah rata dengan tanah.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​Kamera bergerak pelan, menyusuri sebuah lorong rumah sakit mewah yang sangat sepi dan dingin di Singapura. Lampu neon memancarkan cahaya putih yang steril, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding.

​Delapan belas tahun yang lalu.

​Arjuna kecil, yang saat itu baru berusia sepuluh tahun, duduk sendirian di atas kursi tunggu logam yang dingin. Ia memeluk sebuah maket arsitektur kecil yang terbuat dari kayu balsa tipis dan kertas—sebuah rumah mungil yang sangat indah dan rapuh, yang ia buat dengan susah payah selama berminggu-minggu sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya yang sedang terbaring kritis di dalam ruang ICU.

​Tiba-tiba, ayahnya, Sang Chairman Dirgantara, berjalan menghampirinya dengan langkah yang sangat kaku. Pria tua itu tidak melihat ke arah ruang ICU, melainkan menatap tajam ke arah maket kayu di pelukan Juna kecil.

​"Apa itu, Arjuna?" tanya ayahnya dengan suara yang sangat rendah dan mengancam.

​"Ini... ini rumah impian untuk Ibu, Yah," jawab Juna kecil dengan suara bergetar, matanya memancarkan harapan yang polos. "Jika Ibu melihat ini, Ibu pasti akan punya semangat untuk cepat sembuh dan pulang."

​Sang Ayah tidak tersenyum. Ia justru mengangkat tangannya dan, dengan satu gerakan kasar yang sangat disengaja, menyentuh maket rapuh itu hingga jatuh dari pangkuan Juna kecil. Maket itu menghantam lantai marmer rumah sakit dan seketika hancur berkeping-keping. Kayu balsa yang tipis itu patah, atap kertasnya robek.

​Juna kecil terbelalak, air mata langsung menggenang di matanya. Ia menatap puing-puing rumah impiannya dengan hati yang hancur.

​"Lihat itu, Arjuna," suara ayahnya menggema dengan kejam di lorong yang sunyi. "Sesuatu yang rapuh tidak akan pernah bisa bertahan di dunia nyata. Jika kau menggantungkan harapanmu pada hal-hal yang rapuh—seperti kayu tipis itu, atau seperti perasaan ibumu—kau hanya akan berakhir dengan memungut kepingan kehancuran."

​Sang Ayah membungkuk, menatap lurus ke mata Juna kecil yang dipenuhi ketakutan. "Jika kau ingin melindungi sesuatu yang kau anggap berharga, kau tidak boleh membuatnya dari bahan yang lemah. Kau harus membuatnya dari baja, beton, atau pualam yang tidak bisa dihancurkan. Dan yang paling penting... kau tidak boleh menunjukkan pada dunia bahwa benda itu berharga bagimu. Karena saat musuhmu tahu apa kelemahanmu, mereka akan menghancurkannya dengan mudah, persis seperti apa yang baru saja aku lakukan pada mainan konyolmu ini."

​Kamera melakukan close-up ekstrim pada mata Juna kecil yang menatap puing-puing maketnya. Kepolosannya mati di detik itu juga. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh sorot mata yang kosong dan dingin. Ia menyadari sebuah pelajaran kejam: untuk melindungi apa yang ia cintai, ia harus mengubahnya menjadi sesuatu yang sekeras batu, atau ia harus berpura-pura tidak pernah mencintainya sama sekali.

​Tatapan dingin dan kosong yang sama persis seperti yang kini digunakan oleh Arjuna Dirgantara dewasa, yang sedang berdiri di tengah puing-puing pualam di pabrik Bali, menyadari bahwa pelajaran ayahnya tentang perlindungan melalui kedinginan ternyata telah gagal total dan justru hampir membunuh satu-satunya wanita yang ia cintai.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!