Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah di Kampus
Mobil mewah hitam metalik berhenti perlahan, parkir tepat di pinggiran gerbang kampus yang begitu megah, disusul dengan sederetan mobil lain yang sudah terparkir rapi di samping dan belakangnya.
Kampus besar yang cukup terkenal, Sera menghela nafas sebelum akhirnya melepaskan safety belt dan keluar dari mobilnya.
Beberapa mahasiswa mulai lalu lalang di sekitaran, dilihat dari penampilan kebanyakan, mereka memang dari kalangan kelas atas, bahkan ada yang membawa tas mewah yang seolah ingin menunjukkan statusnya.
Sera henya menggelengkan kepala, namun juga memakluminya.
Melangkahkan kakinya, baru satu bulan yang lalu, Sera membawa berkas Adik sepupunya untuk masuk ke universitas ini, dan sekarang harus kembali, bukan karena prestasi, tapi justru masalah baru yang ditimbulkan.
Berjalan menyusuri jalanan kecil, menuju ke sebuah pintu gerbang yang di janjikan, membawa tas mahal merek eksklusif yang harganya selangit dan juga outfit dari atas sampai bawah bisa buat beli toko perhiasan jika dalam bentuk rupiah, sempurna, itulah ibarat kata siapa pun yang melihat Sera saat ini.
Aura CEO yang sangat kentara, bahkan tatapannya lurus menembus desas-desus yang lirih di dengar dari mulut para mahasiswi yang tengah menilainya.
Semua memang harus di lakukan, karena Sera sebentar lagi akan menghadapi bagian yang lebih dahsyat setelah urusan adik sepupunya, yaitu berjumpa dengan CEO Rudolf Company.
Tak lama, akhirnya Sera menemukan siapa yang di cari, wanita cantik dengan mata birunya yang mencolok, bersinar bagai berlian yang tengah di temukan di lautan, menenggelamkan.
Ada senyuman, yang di akui Sera memang wanita satu ini cantiknya tak tergoyahkan, walaupun dirinya juga sama tentunya.
"Bahagia banget buat aku jantungan?" ucap Sera yang kini sudah berada dekat dengan Alen.
"Biar gak terlalu banyak lemak di sana, bisa mati muda" jawaban yang membuat Sera ingin sekali memukul kepalanya.
"Ini kampus apa arena peperangan sebenarnya?"
"Sepertinya disini memang lebih mirip arena perang, banyak senjata siap membunuh siapa saja, bahkan ada peledak dan ranjau yang harus membuat ku waspada"
"Harusnya aku memasukkan mu ke kampus militer Alensky!"
Alen tertawa, lalu memeluk erat Sera, bagaimana pun ikatan darah keduanya sangat kuat, hingga Sera hanya akan kejam di kata-kata saja, karena dia akan berada di garis terdepan jika sampai ada yang menyakiti Alensky sepupunya.
Kemudian Alen membawa Sera ke ruangan yang telah di sediakan, Keduanya berjalan masuk dengan penuh sikap hormat dan martabat.
Di dalam sana sudah ada seorang laki-laki yang tak lain adalah dewan kampus yang mewakili, kemudian disisi kanan ada tiga orang, yang tak lain si korban dan kedua orang tuannya.
Dimulai dari kesempatan yang di berikan lebih dulu pada pihak yang mengaku korban.
"Saya tidak terima, anak saya sampai masuk Rumah Sakit dengan lima jahitan di kepalanya, itu sangat mengerikan dan ini sudah termasuk kriminal!" teriak seorang wanita dengan gincu merah membara seperti emosinya.
"Baik Nyonya mohon tenang" Ucap salah satu direksi kampus di sana.
"Saya sampai mual dan muntah, bahkan sulit untuk berpikir, pasti ada kelainan di otak saya karena perbuatan wanita itu" tunjuk sang korban tepat ke arah Alensky.
"Dan gadis itu harus di tuntut berat atas perbuatannya!" suara menggema seketika mengejutkan semuanya, siapa lagi kalau bukan ayah sang korban.
Semakin tidak kondusif, semakin merasa di pojokan, dan Sera masih diam mempelajari semua alurnya, hingga di menit berikutnya dia berhasil menemukan celah untuk masuk dalam percakapan.
"Lebih baik kita tanya kan langsung pada yang di sebut pelaku dan korban, adil bukan?" Tanya Sera, kini sudah duduk dan melihat ke arah Alen dan korbannya.
"Di mulai dari saya" seru wanita yang menjadi korban.
'"Okey silahkan" ucap Sera dengan wajah serius namun penuh senyuman.
Wanita itu pun bersiap, untuk ukuran orang yang mengalami luka berat tentu aneh saja dia tidak merasa pusing untuk banyak bicara, dan Sera melihat hal yang pastinya hanya sebuah sandiwara.
"Alen sengaja mengambil batu dan melemparkan ke kepalaku, banyak yang melihat hal itu, aku yakin dia sengaja melakukannya untuk membuat luka berat, lihat perbuatannya, aku harus menerima lima jahitan di kepala, bukankah itu sangat berbahaya?!"
"Okey, sekarang waktu mu bicara Alensky" ucap salah satu dewan direksi memberikan kesempatan.
"Saya melakukan tidak tanpa alasan, karena apa yang dilakukan wanita itu sudah keterlaluan, kalau saya memberikan luka di kepalanya, dia lebih kejam dengan membuat saya luka pada batin dan mental saya"
"Kau bohong, apa maksud mu?!" sahut Ayah korban.
"Tenanglah pak, kita harus adil mendengar dari kedua belah pihak, lanjutkan Alen" Sahut Sera menengahinya.
"Hobi nya merendahkan orang, bicara kasar penuh tekanan, hampir semua teman di kelas takut karena dia juga melakukan tindakan kekerasan jika ada yang melawan, dengan beberapa teman Genk nya yang sengaja direkrut untuk menakuti kami, tidak ada yang berani, saya pun sebenarnya sudah berusaha menghindari, tapi dia terus datang dan menggangguku dengan kata-kata kurang ajarnya, mengatakan aku tak punya orang tua, keturunan orang aneh penuh sihir dan mantra, dan keturunan iblis betina"
"APA?!"
Jelas Sera tak terima, seketika rahangnya mengeras menatap tajam wanita yang tadinya menjadi korban.
"Itu tidak benar!, aku hanya bercanda" sanggahnya.
"Lihat itu, adikmu saja yang terlalu manja, lemah dan mudah tersinggung!" sahut ibu yang sedang membela anaknya.
"Siapa yang lemah?, jelas sekali anak anda yang manja dan suka drama" jawab Alensky.
"KAU!"
"Tenang!" sahut Sera yang kini sudah mengangkat tangan.
Alensky tersenyum tipis, saat nya beraksi batinnya, dia selalu suka melihat Sera beraksi dengan penuh perhitungan dan tak terbantahkan, KEREN!
"Dengan semua penjelasan yang sudah di berikan dari kedua belah pihak, saya tidak akan mundur, silahkan memutuskan apapun dan kami siap" ucap Sera dengan senyuman manis dan tatapan mata yang menusuk.
"Kami akan membawa masalah ini ke ranah hukum!" seru Laki-laki yang terlihat begitu percaya diri.
"Silahkan, kami tidak keberatan, kami punya tim yang akan menyelesaikannya, tidak harus saya sendiri yang turun tangan untuk urusan sekecil ini, saya masih punya banyak urusan penting yang harus di selesaikan" Sera akhirnya beranjak dari tempatnya.
"Jangan sampai menyesal jika nama besar keluarga kalian akan tercoreng!" ucap ibu yang selalu membela anaknya dari tadi.
"Tidak masalah, selama ini tak ada yang bisa menyentuh kami, jadi coba saja kalau berani" Sera memberi tatapan tajam dan senyumannya.
"Kau kira kami takut?!"
"Aku hanya mengingatkan, siapa yang sedang kalian lawan, keluarga Nugraha" Cukup singkat Sera menutup pembicaraan, lalu kini melangkah pergi dengan penuh harga diri, menggandeng Alensky yang juga mengedipkan satu matanya sebelum pergi.
"Benar dia mengatakan kau wanita iblis?" tanya Sera tetap berjalan lurus.
"Hem, tidak ada yang aku kurangi atau lebihi" jawab Alen.
"Harusnya kau membuatnya koma" jawab Sera.
Alensky sontak menatap Sera tak percaya, rasanya tangannya gatal seketika.
Sementara di dalam ruangan yang di tinggalkan, bukan hanya jajaran Direksi yang ketar ketir dengan ancaman Sera, tapi juga pihak korban yang baru tau siapa sebenarnya keluarga Nugraha.
Bersambung.
Yuk mana Komen, Like vote dan tonton iklannya.
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭