Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Dingin Yang Tak Kunjung Usai
Suasana di dalam jet pribadi yang membawa Arga menuju Zurich terasa hampa. Kabin mewah yang dilapisi kulit domba dan kayu mahoni itu tidak memberikan kehangatan sedikit pun bagi pria yang kini duduk terpaku menatap gumpalan awan di balik jendela. Di depannya, segelas wiski dengan es batu yang mulai mencair dibiarkan begitu saja. Pikiran Arga tidak ada di atas ketinggian tiga puluh ribu kaki; pikirannya tertahan di sebuah apartemen kecil di Praha, di mana dia membayangkan Elina sedang menatap layar ponselnya dengan air mata yang membasahi bantal.
Arga merogoh ponselnya, menyalakannya sejenak hanya untuk melihat apakah ada balasan. Dan benar saja, rentetan pesan masuk menghantam layarnya seperti peluru.
Ga, kamu bercanda kan? Aku sudah di bandara, aku sudah menunggu di depan pintu kedatangan.
Kenapa ponselmu mati? Arga, jangan buat aku takut. Apa terjadi sesuatu yang buruk di kantor?
Urusan apa yang lebih penting dari janji kita, Ga? Aku cuma mau kamu di sini. Cuma sebentar saja tidak apa-apa.
Tolong angkat teleponku. Satu kali saja.
Pesan terakhir dikirim dua jam yang lalu. Isinya singkat, namun sanggup membuat pertahanan Arga runtuh seketika.
Aku benci jarak ini, Ga. Aku benci karena setiap kali aku merasa kita sudah dekat, kamu selalu punya alasan untuk melangkah mundur.
Arga mematikan ponselnya kembali. Dadanya terasa sesak, seolah-olah oksigen di dalam kabin itu habis. Dia ingin sekali berteriak pada pilot untuk memutar balik pesawat, terbang ke Praha, memeluk Elina, dan menceritakan semuanya. Dia ingin bilang, "El, aku sekarang kaya raya. Aku punya segalanya. Kita bisa hidup bahagia selamanya." Tapi surat kakeknya terus terngiang seperti kutukan. Jika kamu langsung menemui Elina tanpa 'perisai' itu, kamu hanya akan membawanya ke dalam maut.
"Tuan Arga?" suara lembut Dani memecah kesunyian. Asisten pribadinya itu berdiri dengan tablet di tangan. "Laporan dari tim keamanan di Praha baru saja masuk. Nona Elina sudah pulang ke apartemennya. Dia baik-baik saja, meskipun terlihat sangat sedih. Tim kita sudah menyebar di radius lima ratus meter dari lokasinya. Belum ada tanda-tanda orang suruhan Winata atau pihak lain yang mengikuti."
Arga mengangguk lemah. "Terus pantau dia, Dan. Jangan sampai dia sadar kalau sedang diawasi. Dia tidak suka privasinya diganggu."
"Baik, Tuan. Dan mengenai Bank Volkstadt di Zurich... saya sudah mengatur pertemuan dengan kepala cabangnya besok pagi pukul sembilan. Mereka sangat tertutup, tapi begitu saya menyebutkan nomor Safe Deposit Box 712, nada bicara mereka langsung berubah formal. Sepertinya kakek Anda bukan nasabah biasa di sana."
Arga memutar-mutar koin perak di jemarinya. "Kakekku adalah misteri yang bahkan aku sendiri tidak pahami, Dan. Selama ini aku mengenalnya sebagai pria tua sederhana yang hobi berkebun dan koleksi buku tua di gang sempit Jakarta. Siapa sangka dia punya urusan di jantung keuangan dunia?"
"Mungkin itu sebabnya beliau menyembunyikan Anda, Tuan. Dunia ini kejam bagi orang-orang yang memiliki terlalu banyak rahasia berharga," balas Dani bijak.
Pesawat mulai merendah, menembus kabut tebal yang menyelimuti pegunungan Alpen. Begitu mendarat di Zurich, Arga langsung disambut oleh udara yang jauh lebih menusuk daripada Jakarta. Jika di Jakarta udaranya lembap dan menyesakkan, di sini udaranya kering dan tajam, seolah-olah ingin menguliti siapa pun yang tidak siap.
Arga melangkah turun dari pesawat, mengenakan overcoat hitam panjang yang elegan. Di landasan pacu, sebuah Mercedes-Benz antipeluru sudah menunggunya. Perjalanan menuju hotel tidak memakan waktu lama, namun Arga merasa setiap detik berlalu seperti berjam-jam. Kota Zurich yang indah dengan arsitektur klasik dan danau yang jernih sama sekali tidak menarik perhatiannya. Matanya terus terpaku pada koin perak itu.
Malam itu, di kamar presidential suite yang menghadap langsung ke Danau Zurich, Arga mencoba memejamkan mata. Namun, setiap kali dia menutup mata, yang dia lihat adalah wajah Siska yang tertawa mengejek, disusul wajah Elina yang menangis. Kontras yang luar biasa. Dia telah menghancurkan satu wanita yang mengkhianatinya, tapi dalam prosesnya, dia juga melukai satu wanita yang paling mencintainya.
Tiba-tiba, ponsel satelit yang diberikan Dani berdering. Ini bukan ponsel pribadinya.
"Ya?" Arga menjawab singkat.
"Tuan Arga, ini Hendrawan dari Jakarta." Suara bankir senior itu terdengar sedikit cemas. "Saya hanya ingin memberi peringatan. Siska dan Surya Winata sepertinya tidak tinggal diam. Mereka mulai menghubungi beberapa kenalan lama kakek Anda di Singapura. Mereka mencoba mencari tahu dari mana sumber dana PT Cakrawala sebenarnya. Saya bisa menahan mereka untuk sementara, tapi jika mereka tahu Anda ada di Swiss, mereka mungkin akan menjual informasi itu kepada musuh-musuh lama Pak Broto di Eropa."
Arga mendengus dingin. "Biarkan saja mereka mencoba, Pak Hendrawan. Keluarga Winata itu seperti kecoak; mereka akan terus berlari mencari celah meski sudah terinjak. Yang penting, pastikan semua aset mereka yang sudah kita sita tidak bisa mereka tarik kembali. Soal di sini, saya yang akan urus."
"Baik, Tuan. Hati-hati di sana. Zurich bukan Jakarta. Di sana, uang bicara lebih keras, tapi peluru bicara lebih cepat."
Panggilan berakhir. Arga berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota yang terpantul di permukaan danau. Jarak. Kata itu kembali menghantuinya. Dia berada di Swiss, Elina di Ceko, dan musuh-musuhnya di Indonesia. Jarak fisik ini mungkin bisa ditempuh dengan pesawat dalam hitungan jam, tapi jarak kepercayaan yang mulai retak antara dia dan Elina mungkin tidak akan pernah bisa diperbaiki seumur hidup.
Dia mengambil selembar kertas dari meja hotel dan sebuah pulpen. Dia ingin menulis surat untuk Elina, surat yang mungkin tidak akan pernah dia kirimkan.
El, jika suatu saat nanti kamu tahu kenapa aku harus pergi malam itu, kuharap kamu bisa memaafkanku. Aku sedang berperang dengan hantu-hantu dari masa lalu kakekku. Aku melakukan ini agar suatu saat nanti, saat kita bertemu lagi, tidak akan ada lagi jarak di antara kita. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan.
Arga meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Dia tidak butuh kata-kata puitis. Dia butuh kekuatan untuk menyelesaikan ini secepat mungkin.
Besok pagi, pintu Safe Deposit Box 712 akan terbuka. Dan Arga tahu, apa pun yang ada di dalamnya akan mengubah hidupnya selamanya. Entah itu akan menjadi perisai yang menyelamatkannya, atau justru menjadi beban baru yang akan menjauhkannya lebih lama lagi dari pelukan Elina.
Arga merebahkan tubuhnya di ranjang yang luas dan dingin itu. Dia mematikan lampu, membiarkan kegelapan Zurich menelannya. Di dalam hatinya, dia hanya membisikkan satu nama sebelum akhirnya terlelap karena kelelahan.
"Tunggu aku, El. Sebentar lagi saja."