NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Sekar tetap diam sejenak, memberi ruang… bukan untuk Aji, tapi untuk dirinya sendiri agar tidak ikut terbawa. “Aku nggak ngambil,” katanya akhirnya, suaranya rendah tapi jelas. “Aku memperjuangkan.”

Aji melangkah maju satu langkah. “Perjuangan apa?! Selama ini Sea sama aku!”

Sekar menatapnya lurus. “Dan kamu bahkan nggak tahu dia sakit.” Kalimat itu menghantam.

Aji terdiam sesaat, tapi amarahnya tidak padam. “Jangan sok jadi ibu baik sekarang!” balasnya keras. “Kemarin kamu ke mana aja?!”

Sekar tidak langsung menjawab. Ia bisa saja menjelaskan semuanya tentang bagaimana ia dihalangi, tentang bagaimana ia menahan diri, tentang semua usaha yang tidak pernah dilihat. Tapi ia memilih tidak. Karena ini bukan lagi tentang pembuktian lewat kata-kata. “Aku ada sekarang,” jawabnya singkat.

Aji menggeleng keras, frustrasi. “Kamu pikir kamu bisa menang?”

Sekar tidak terpancing. Ia justru terlihat semakin tenang. “Aku nggak lagi mikir soal menang atau kalah, Ji,” katanya pelan. “Aku mikir soal apa yang terbaik buat Sea.”

“Yang terbaik itu dia sama bapaknya!” bentak Aji.

Sekar menahan napas, lalu berkata dengan lebih dalam, “Yang terbaik itu… dia hidup di tempat yang aman.”

Sunyi sejenak. Aji menatapnya tajam. “Kamu nuduh aku nggak bisa jaga anak?”

Sekar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap balik, tanpa perlu banyak kata. Tatapan itu… sudah cukup. Cukup untuk menjawab. Cukup untuk menyakiti.

Aji menggeram pelan, emosinya kembali naik. “Ini semua gara-gara kamu punya uang sekarang, ya? Jadi kamu ngerasa lebih hebat?”

Sekar menggeleng. “Ini bukan soal uang.”

“Terus apa?!”

Sekar akhirnya melangkah sedikit lebih dekat, suaranya tetap rendah, tapi kali ini lebih tajam dari sebelumnya. “Soal tanggung jawab.”

Aji terdiam.

Sekar melanjutkan, “Soal kamu yang hilang berhari-hari.”

“Soal anak kita yang nggak sekolah.”

“Dan soal dia sakit… tanpa ada yang bawa ke dokter.”

Setiap kalimatnya jatuh pelan, tapi menghantam.

Aji tidak langsung membalas. Untuk pertama kalinya, ia seperti kehilangan kata.

Sekar menarik napas panjang. “Kalau kamu marah… marah saja,” lanjutnya. “Tapi proses ini tetap jalan.” Ia mundur satu langkah, kembali memberi jarak. “Aku nggak akan berhenti, Ji.” Kalimat itu tidak keras. Tapi tegas. Dan final. Sekar lalu berbalik, membuka pintu, dan masuk kembali ke dalam rumahnya. Meninggalkan Aji di luar dengan amarah yang masih membara… dan kenyataan yang tidak lagi bisa ia kendalikan.

***

Hari itu seharusnya menjadi hari yang ringan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sekar melihat Sea tertawa lepas benar-benar tertawa, bukan senyum tipis yang dipaksakan. Mereka bertemu Lita dan anaknya di sebuah mall, menghabiskan waktu seperti keluarga kecil yang utuh. Makan bersama, memilih mainan dengan penuh antusias, lalu berlari-lari kecil di area playground. Sekar duduk di pinggir, memperhatikan putrinya dengan mata yang hangat, sesekali tersenyum tanpa sadar. Ada rasa haru yang diam-diam menyelinap, betapa sederhana kebahagiaan itu, tapi betapa lama ia tidak memilikinya.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ponselnya bergetar. Sekar awalnya tidak terlalu memperhatikan, sampai ia melihat nama pengirimnya. Ibu Aji.

Entah kenapa, dadanya langsung terasa tidak enak. Ia membuka pesan itu. Dan dunia seperti berhenti sesaat. Anaknya Mila meninggal.

Sekar membeku.

Matanya terpaku pada layar, napasnya tertahan. Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya… menghantam dalam. Ia bahkan butuh beberapa detik untuk benar-benar memahami.

“Kenapa?” tanya Lita pelan, menyadari perubahan wajah Sekar.

Sekar menelan ludah, suaranya hampir tidak keluar. “Anaknya… Mila… meninggal.”

Lita terdiam.

Sekar langsung berdiri. Ia menoleh ke arah Sea yang masih bermain, wajah kecil itu penuh tawa tanpa tahu apa pun. “Sea…” panggil Sekar pelan.

Sea menoleh, lalu berlari kecil menghampiri.

“Kita pulang dulu, ya.” Tidak banyak penjelasan. Sekar hanya menggenggam tangan Sea erat, seolah ingin memastikan anak itu benar-benar ada di sisinya. Perjalanan menuju rumah duka terasa sunyi. Tidak ada yang banyak bicara. Sekar hanya menatap jalan, pikirannya campur aduk, sedih, kaget, dan entah kenapa… ada rasa yang sulit ia jelaskan. Bukan bahagia, tentu saja tidak. Tapi juga bukan sekadar iba.

Sesampainya di sana, suasana duka langsung terasa pekat. Tangis terdengar di beberapa sudut, orang-orang berkumpul, wajah-wajah muram memenuhi ruangan.

Sekar masuk dengan langkah pelan, menggandeng Sea di sampingnya. Di dalam, ia melihat Mila. Duduk diam. Pucat. Kosong.

Tubuhnya terlihat lemah, seperti belum pulih dari persalinan, tapi matanya… lebih kosong dari itu. Tidak ada tangis, tidak ada amarah. Hanya diam yang dalam, seperti seseorang yang kehilangan terlalu banyak dalam satu waktu.

Sekar berhenti beberapa langkah dari sana. Dadanya terasa berat. Namun sebelum ia sempat mendekat, suara lain lebih dulu muncul tajam, tanpa filter. “Harusnya sebelum lahiran itu minta maaf dulu.”

Sekar menoleh.

Ibunya Mila berdiri tidak jauh dari sana, wajahnya keras, matanya menyapu ke arah Sekar tanpa ragu.

“Sudah terlalu banyak kalian berdua menjahati dia,” lanjutnya, nada bicaranya ceplas-ceplos, tidak peduli pada situasi. “Sekarang gimana rasanya? Anak kalian diambil Tuhan.” Kalimat itu jatuh begitu saja di tengah suasana duka.

Beberapa orang terdiam. Sekar juga. Ia tidak membalas. Padahal… sebagian dari kata-kata itu, jika ditarik jauh ke belakang, bukan sepenuhnya salah. Tapi cara, waktu, dan keadaan semuanya tidak tepat.

Sekar menarik napas pelan, menahan banyak hal yang hampir keluar. Ia menoleh kembali ke arah Mila. Perempuan itu tetap diam. Tidak menyanggah, tidak membela diri, tidak juga menangis. Seolah ia bahkan tidak punya tenaga untuk merespon dunia di sekitarnya. Dan di saat itulah, sesuatu di hati Sekar melunak.

Bukan karena lupa. Bukan karena memaafkan sepenuhnya. Tapi karena ia melihat… luka yang nyata. Luka seorang ibu. Sekar melangkah perlahan mendekat. Ia tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada kalimat penghiburan yang ia rasa cukup. Ia hanya berdiri di dekat Mila. Hadir. Tanpa menghakimi. Tanpa mengungkit masa lalu. Karena untuk sekali ini rasa sakit itu tidak perlu dibandingkan.

***

Hari-hari setelah itu berjalan dengan ritme yang berbeda. Tidak lagi penuh kepanikan seperti sebelumnya, tapi juga belum benar-benar tenang. Proses pengambilan hak asuh terus berjalan di belakang layar, pengacara Sekar sesekali memberi kabar, mengingatkan bahwa semuanya butuh waktu. Dan untuk pertama kalinya, Sekar mencoba menerima itu. Ia berhenti mengejar waktu, berhenti memaksakan hasil, dan memilih hadir sepenuhnya di satu hal yang saat ini ada dalam genggamannya yaitu Sea.

Selama Sea bersamanya, Sekar seperti menebus semua yang pernah hilang. Ia memperhatikan hal-hal kecil yang dulu mungkin terlewat cara Sea makan, cara ia tidur, kebiasaan kecilnya saat bermain, bahkan ekspresi wajahnya saat diam. Sekar tidak lagi ingin melewatkan apa pun. Kasih sayang yang dulu sempat tertahan kini mengalir tanpa sisa, tanpa takut, tanpa ragu.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!