Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22: DARI STARTING GRID KE MIMBAR (NERO POV)
Sore itu, suasana madrasah lebih ramai dari biasanya. Pak Malik tiba-tiba ngumpulin seluruh pemuda desa di aula kecil samping masjid. Gue yang lagi asyik ngerapihin buku bahasa Inggris langsung ditarik Pak Malik ke depan.
"Mas Muhammad Nero," panggil Pak Malik dengan suara yang mantap. "Anak-anak muda di sini butuh mendengar perspektif baru. Tolong, bagikan sedikit saja... kenapa seorang pembalap kota mau 'berhenti' di desa ini dan memilih jalan yang sekarang Mas jalani."
Gue mematung. Ini lebih bikin gemeteran daripada balapan lawan pro di sirkuit internasional. Gue liat Ikdam duduk di barisan depan sambil ngasih jempol dan muka "Ayo-Bro-Lo-Bisa", sementara Davi senyum tenang di pojokan.
Gue maju, berdiri di depan mic yang suaranya agak kresek-kresek. Gue narik napas dalem, ngerasain dinginnya udara sore yang masuk ke paru-paru.
"Halo semuanya... Assalamu'alaikum," sapa gue ragu.
(Cieeee udah bisa pake 'Ain)
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!" sahut mereka serempak, bikin nyali gue agak naik.
"Gue... eh, saya... mungkin bukan orang yang pinter dalil kayak Ustadz Davi," gue mulai jujur, suara gue agak serak. "Dulu, dunia saya cuma soal kecepatan. Saya pikir, makin kencang motor saya, makin jauh saya bisa lari dari masalah. Saya punya segalanya di kota. Uang, gengsi, kawan tongkrongan. Tapi tiap malem, pas mesin motor mati, saya ngerasa kosong banget. Kayak ada lubang di dada yang nggak bisa ditambal pake bensin."
Gue liat beberapa pemuda mulai fokus dengerin.
"Pas saya nyampe di desa ini, saya dapet 'hukuman'. Tapi ternyata, ini bukan hukuman dari bokap saya, melainkan undangan dari Yang Di Atas. Saya liat kalian, liat Pak Malik, liat gimana kedamaian itu ada bukan di harta, tapi di sujud. Saya nemuin kalau 'menang' itu bukan saat kita nyalip orang lain, tapi saat kita berhasil nyalip ego kita sendiri."
Gue nyeritain soal mimpi-mimpi gue, soal betapa beratnya ngelepas atribut "Nero si keren" demi jadi "Muhammad Nero" yang harus belajar baca Alif-Ba-Ta dari nol.
"Hijrah itu bukan soal jadi orang suci dalam semalam," lanjut gue, mata gue berkaca-kaca pas inget penglihatan sepertiga malem itu. "Hijrah itu soal berani jujur ke diri sendiri kalau kita butuh pegangan. Saya bukan mau pamer, tapi saya ngerasa jauh lebih 'gagah' saat dahi saya nyentuh sajadah daripada saat tangan saya megang gas motor. Karena di depan Tuhan, kita semua sama-sama pemula."
Aula itu hening total. Pas gue selesai ngomong, nggak ada tepuk tangan riuh, tapi gue liat banyak dari mereka yang nunduk, ada juga yang matanya berkaca-kaca. Pak Malik meluk gue erat banget pas gue turun dari mimbar.
"Masya Allah, Mas Nero. Kalimat yang keluar dari hati, akan sampai ke hati," bisik Pak Malik.
Sore itu, gue ngerasa bener-bener diterima. Bukan sebagai 'tamu kota', tapi sebagai kakak, teman, dan saudara seiman bagi mereka. Gue bukan lagi orang asing yang cuma numpang lewat. Gue adalah bagian dari denyut nadi desa ini.
.
.
Gue ngerasa plong banget setelah turun dari panggung kecil itu. Rasanya kayak baru aja ngelewati tikungan paling tajam dalam hidup gue tanpa jatuh. Tapi, momen emosional itu nggak berhenti di situ. Begitu acara bubar, ada kejadian yang bikin gue sadar kalau omongan gue tadi bener-bener "nyampe".
Pas gue lagi jalan balik ke rumah Oma, gue liat salah satu pemuda yang tadi dengerin gue. Namanya Rian, dia lagi jongkok di pinggir jalan depan bengkel kecil yang udah tutup. Motor bebek tuanya mogok, dan dia kelihatan frustrasi banget.
"Kenapa, Yan? Businya mati?" tanya gue sambil ikut jongkok.
"Enggak tahu, Mas Nero. Tiba-tiba ngeden terus mati total," jawabnya sungkan.
Gue langsung turun tangan. Memori gue soal mesin balap yang ribet ternyata masih berguna buat nanganin motor sederhana ini. Sambil tangan gue belepotan oli hitam, kita ngobrol. Rian cerita kalau motor itu satu-satunya alat dia buat mengangkut hasil kebun ke pasar.
Gue tertegun. Ternyata skill mekanik yang dulu gue pakai cuma buat gaya-gayaan dan adu gengsi di jalanan, sekarang bisa punya arti sebesar ini buat hidup seseorang. Begitu mesinnya nyala kembali dengan suara brem-brem yang sehat, senyum Rian jauh lebih "mahal" daripada piala balapan mana pun.
Malamnya, setelah selesai jam belajar mandiri bareng Davi, gue duduk sendirian di teras rumah Oma. Gue iseng buka laptop, sekadar pengen mengecek tugas buat anak-anak besok. Tapi, jantung gue rasanya mau copot pas melihat ada angka (1) di kotak masuk email gue.
Nama pengirimnya: Ainun Salsabila Adiakara.
Gue nelan ludah, jari gue gemetar pas ngeklik pesan itu.
"Wa’alaikumussalam, Mas Nero Vane?
Atau sekarang saya harus panggil Mas Muhammad?
Jujur, saya kaget sekali baca email Mas. Tulisan Mas beda banget, kerasa lebih... tenang. Tapi ada satu hal yang bikin saya penasaran dan pengen tanya langsung.
Mas mualaf, ya?
Soalnya seingat saya, dulu Mas belum pakai nama Muhammad. Tapi apa pun itu, saya ikut senang dengar perubahan Mas. Nama baru itu bagus sekali, Mas. Semoga 'mesin' barunya benar-benar membawa Mas sampai ke tujuan yang diridhai-Nya.
Kairo lagi dingin, Mas. Doakan saya juga istiqomah di sini.
Wassalam,
Ainun"
Gue nyender ke kursi, napas gue agak sesak karena senang yang nggak karuan. Gue senyum-senyum sendiri natap layar.
Gue langsung megang dahi, teringat Pak Malik.
Besok, gue harus cerita ke beliau kalau nama pemberiannya sukses bikin bidadari di Kairo bertanya-tanya. Gue Muhammad Nero Vane Akbar, dan malam ini, gue merasa jadi cowok paling beruntung di dunia.
------
Next chapter udah gk pake NERO POV~
Tapi khusus pandangan author sendiri ><