Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...
Udara pagi di balkon apartemen nomor 404 terasa sedikit lebih tajam dari biasanya. Meskipun sihir penyembuhan Linda semalam telah mengangkat beban berat dari paru-paru ku, sisa-sisa kelelahan itu masih meninggalkan jejak samar di persendian ku. Aku berdiri di sana, menyesap kopi hitam tanpa gula, menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang mulai berselimut polusi dan ambisi.
Linda masih tertidur lelap di dalam. Aku bisa membayangkan posisinya sekarang: melungker seperti bola bulu yang hangat, ekornya menutupi hidungnya, dan napasnya yang teratur adalah melodi paling menenangkan yang pernah aku dengar. Dia memberikan banyak energinya untuk ku semalam. Dia menguras dirinya sendiri demi ego manusia ku yang rapuh.
“Kau berhutang nyawa padanya, Dimas,” Keluh ku sambil menatap kepulan uap kopi. “Seorang siluman rubah memberikan intinya untuk manajer logistik yang bahkan tidak bisa menjaga suhu tubuhnya sendiri. Apa yang kau berikan sebagai balasan? Hanya janji-janji tentang masa depan yang bahkan kau sendiri belum tahu bagaimana cara mewujudkannya?”
Tiba-tiba, bulu kuduk ku berdiri. Bukan karena angin pagi, tapi karena sebuah tekanan atmosfer yang mendadak berubah. Rasanya seperti ada berat yang tak kasat mata menekan bahu ku. Bau melati yang biasanya mendominasi balkon ini mendadak tertutup oleh aroma lain, aroma kayu cendana yang tua, dingin, dan... kuno.
"Indah sekali pemandangan dari kandang burung ini, bukan?"
Suara itu tidak datang dari pintu balkon. Suara itu datang dari arah pagar pembatas. Aku tersentak, hampir menjatuhkan cangkir kopi ku. Di sana, duduk dengan santai di atas pagar pembatas balkon lantai empat yang sempit, adalah seorang pria.
Dia mengenakan setelan jas abu-abu yang sangat rapi, potongannya terlihat sangat mahal, namun ada sesuatu yang sangat janggal. Kulitnya terlalu pucat, hampir seperti porselen, dan matanya... matanya berwarna perak metalik yang tidak memantulkan cahaya matahari. Rambutnya putih panjang yang diikat rapi di belakang.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa naik ke sini?" suara ku bergetar, insting manusia ku berteriak 'bahaya'.
Pria itu tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai matanya. "Naik? Aku tidak naik, Dimas. Aku hanya... berada di sini. Dan soal siapa aku, anggap saja aku adalah bagian dari masa lalu yang coba dikubur dalam-dalam oleh 'Istri Posesif' mu itu."
“Masa lalu Linda?” pikir ku cepat. “Dia bukan manusia. Tekanan ini... dia ras siluman lain. Dan dia tahu nama ku.”
"Apa mau mu? Linda sedang istirahat. Jika kau ingin bicara, bicara dengan ku," aku mencoba memasang wajah tegas, meski lutut ku terasa lemas.
Pria itu tertawa kecil, suara tawanya seperti gesekan logam yang halus. "Bicara dengan mu? Manusia yang baru saja hampir mati karena demam biasa? Kau sungguh pemberani, atau mungkin hanya terlalu bodoh karena cinta. Nama ku Genta. Dan aku adalah apa yang seharusnya menjadi pendamping Linda, jika dia tidak memilih untuk bermain rumah-rumahan di kota busuk ini."
Genta melompat turun dari pagar dengan gerakan yang terlalu ringan, nyaris tanpa suara saat kakinya menyentuh lantai balkon. Ia berjalan mendekati ku. Setiap langkahnya membuat suhu di sekitar ku turun drastis.
"Kau tahu apa yang dia berikan pada mu semalam, Dimas?" Genta bertanya, matanya yang perak menatap ku dengan tajam. "Dia memberikan. Esensi hidupnya. Bagi ras kami, itu bukan sekadar energi. Itu adalah bagian dari jiwanya. Dia memperpendek umurnya sendiri hanya agar kau bisa bangun dan kembali bekerja di kantor mu yang menyedihkan itu."
Aku tertegun. Gelas kopi di tangan ku kini terasa sangat berat. "Dia... dia bilang itu hanya energi spiritual biasa."
"Tentu saja dia bilang begitu," Genta mencibir, ia bersandar di tembok balkon, menatap ke arah kamar tidur di mana Linda berada. "Dia adalah rubah yang posesif. Dia tidak ingin kau merasa berhutang. Dia ingin kau merasa bahwa kau adalah miliknya, dan dia akan melakukan apa pun untuk menjaga 'propertinya' tetap utuh. Tapi pertanyaannya, sampai kapan?"
"Apa maksud mu?"
"Kau adalah manusia, Dimas. Kau menua. Kau melemah. Kau akan mati dalam sekejap mata bagi ukuran waktu kami," Genta mendekat, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang menghantui. "Dalam tiga puluh tahun, kau akan menjadi pria tua yang keriput, sementara dia akan tetap secantik hari ini. Dalam lima puluh tahun, kau akan terkubur di tanah, dan dia akan tetap hidup, menanggung beban kehilangan yang akan membuatnya gila. Kau menghancurkan masa depannya dengan ego cinta mu."
“Dia benar,” Keluh batin ku terasa seperti ditusuk belati. “Kesenjangan ini... aku selalu mencoba mengabaikannya. Aku selalu berpikir 'jalani saja hari ini'. Tapi Genta benar. Aku adalah beban bagi keabadiannya.”
"Kami bukan pasangan beda ras pertama, Genta. Banyak cerita tentang—"
"Cerita?!" Genta memotong dengan suara yang mendadak meninggi, memancarkan aura kemarahan yang membuat kaca jendela balkon bergetar. "Cerita manusia selalu berakhir bahagia karena kalian tidak pernah menulis lanjutannya setelah kematian sang pria. Kau tahu apa yang terjadi pada siluman yang ditinggal mati pasangan manusianya? Mereka menjadi Yakan, rubah liar yang kehilangan akal sehat. Mereka menghancurkan diri mereka sendiri karena rasa sakit yang tidak bisa diproses oleh keabadian mereka."
Genta mencengkeram kerah baju ku. Kekuatannya luar biasa. "Linda adalah salah satu yang terkuat di klan kami. Dia seharusnya menjadi ratu, bukan pelayan bagi manajer logistik! Jika kau benar-benar mencintainya, lepaskan dia. Biarkan dia kembali ke tempat yang seharusnya, sebelum kau benar-benar membunuhnya dengan kefanaan mu."
"Aku tidak akan melepaskannya," kata ku dengan gigi terkatup, menatap langsung ke mata peraknya. "Dan dia tidak akan pernah mau pergi. Dia memilih ku."
"Dia memilih racun, dan kau adalah botolnya," Genta melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Pikirkan tentang 'Si Kecil' yang kalian impikan. Kau pikir anak itu akan bahagia? Setengah manusia, setengah siluman. Dia akan diburu oleh ras kami karena dianggap noda, dan dia akan dijauhi oleh ras mu karena dianggap monster. Kau ingin memberikan hidup yang penuh penderitaan pada anak mu sendiri?"
Kata-kata tentang Elkan benar-benar memukul telak jantung ku. Mimpi indah semalam mendadak berubah menjadi bayangan kelam yang menakutkan.
"Kau hanya cemburu, Genta," aku mencoba menyerang balik secara verbal. "Kau tidak bisa memiliki hatinya, jadi kau mencoba meracuni pikiran ku."
"Cemburu? Mungkin," Genta tersenyum pahit. "Tapi kebenaran tetaplah kebenaran meski diucapkan oleh pria yang cemburu. Hubungan ini adalah bunuh diri perlahan bagi Linda. Lihat dia sekarang... dia tertidur seperti orang mati karena dia memberi mu hidupnya. Berapa banyak lagi 'hidup' yang tersisa untuk dia berikan pada mu sebelum dia benar-benar habis?"
Tiba-tiba, pintu balkon terbuka dengan bantingan keras.
"KELUAR DARI SINI, GENTA!"
Itu suara Linda. Tapi suaranya bukan lagi suara lembut yang aku dengar semalam. Suaranya berwibawa, penuh dengan kekuatan yang menggetarkan udara. Dia berdiri di sana dengan rambut yang acak-acakkan, namun matanya berkilat hijau neon yang sangat terang. Sembilan ekor bayangan, bukan hanya satu, muncul di belakangnya, menari-nari dengan liar menunjukkan kemarahan puncaknya.
Genta menoleh, wajahnya kembali tenang. "Ah, Sang Ratu sudah bangun. Kau terlihat... lelah, Linda. Manusia ini benar-benar menguras mu."
"Jangan berani-berani kau menyentuhnya atau meracuni pikirannya," Linda melangkah maju, berdiri di depan ku, menjadikannya perisai yang kokoh. "Dimas adalah pasangan ku. Takdir ku adalah takdirnya. Jika aku harus menjadi Yakan suatu hari nanti, itu adalah pilihan ku, bukan urusan mu!"
"Pilihan yang bodoh," desis Genta. "Lihat dia, Linda. Dia gemetar karena takut pada ku. Dia tidak akan pernah bisa melindungi mu. Selamanya, kaulah yang akan menjadi pelindungnya. Kau yakin ingin menjadi tiang penyangga bagi makhluk yang akan runtuh dalam beberapa dekade?"
"AKU TIDAK PEDULI!" teriak Linda. Sebuah gelombang energi keluar dari tubuhnya, membuat Genta terpaksa mundur satu langkah. "Pergi sekarang, atau aku akan memastikan klan mu kehilangan satu anggota hari ini."
Genta menatap Linda lama, ada kesedihan samar di mata peraknya. "Baiklah. Aku pergi. Tapi ingat kata-kata ku, Dimas. Setiap hari yang kau habiskan dengannya adalah sehari yang kau curi dari keabadiannya. Nikmatilah waktu pinjaman mu."
Dengan satu kedipan mata, Genta menghilang, meninggalkan aroma cendana yang perlahan memudar ditiup angin pagi.
Hening.
Linda masih berdiri tegak, ekor bayangannya perlahan menghilang masuk kembali ke tubuhnya. Bahunya mulai turun, dan dia berbalik menatap ku. Kilat di matanya hilang, berganti dengan kecemasan yang luar biasa.
"Dimas... kau tidak apa-apa? Apa dia menyakiti mu?" Linda memegang wajah ku, tangannya masih terasa dingin.
Aku tidak menjawab. Aku menatapnya, benar-benar menatapnya. Wanita cantik ini, yang baru saja mengusir 'masa lalunya' demi aku. Wanita yang rela memberikan esensi hidupnya agar aku bisa bekerja.
“Genta benar,” Keluh ku dengan pedih. “Aku adalah pencuri waktu. Aku adalah botol racun itu.”
"Linda... apa benar kau memberikan jiwa mu pada ku semalam?" tanya ku dengan suara serak.
Linda terdiam. Ia mengalihkan pandangannya. "Itu... itu hanya prosedur penyembuhan biasa, Dimas. Jangan dengarkan dia. Genta selalu suka melebih-lebihkan sesuatu."
"Tatap mata ku, Linda," aku memaksanya menatap ku. "Apakah benar kau memperpendek umur mu untuk ku?"
Mata Linda mulai berkaca-kaca. "Apa gunanya umur panjang jika aku harus melihat mu menderita di depan ku? Aku tidak peduli pada keabadian, Dimas! Aku peduli pada mu! Aku peduli pada sarang kita! Jika aku punya seribu tahun, aku akan memberikan sembilan ratus tahun di antaranya hanya agar aku bisa menghabiskan seratus tahun bersama mu sebagai manusia!"
Aku menariknya ke dalam pelukan ku, memeluknya seerat mungkin. Rasa bersalah dan cinta berperang di dalam dada ku. Aku merasa sangat kecil, sangat tidak layak mendapatkan pengabdian sebesar ini.
"Maafkan aku, Linda. Maafkan aku karena aku begitu lemah," bisikku di rambutnya.
"Kau tidak lemah," Linda menangis di dada ku. "Kau adalah kekuatan ku. Jangan dengarkan Genta. Dia hanya ingin memisahkan kita. Jangan biarkan dia menang, Dimas. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku karena 'kebaikan' mu. Itu bukan kebaikan, itu adalah pembunuhan bagi ku."
“Aku terjebak,” pikir ku. “Aku mencintainya sedalam lautan, tapi cinta ku adalah beban baginya. Namun, jika aku pergi, itu akan menghancurkannya. Genta benar tentang risiko, tapi Linda benar tentang pilihan. Kami sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.”
"Aku tidak akan pergi," kata ku, mencoba meyakinkan diri ku sendiri juga. "Tapi aku janji satu hal pada mu, Linda. Aku akan mencari cara. Aku akan mencari cara agar aku bisa mengimbangi mu. Entah itu dengan ilmu pengetahuan, atau dengan mencari rahasia lain dari ras mu. Aku tidak akan membiarkan mu menanggung beban ini sendirian."
Linda mendongak, menghapus air matanya dengan ekornya yang lembut. "Kau serius?"
"Ya. Jika kau memberikan hidup mu untuk ku, maka aku akan mendedikasikan sisa hidup ku untuk menemukan cara agar kita bisa benar-benar bersama... selamanya. Bukan hanya waktu pinjaman."
Linda tersenyum, senyum yang sangat rapuh namun indah. "Terima kasih, Dimas. Itu sudah cukup bagi ku."
Malam itu, kencan kami di pasar malam dan mimpi tentang Elkan terasa jauh berbeda. Sekarang, ada bayang-bayang Genta dan realitas keabadian yang menghantui kami. Namun, di balkon apartemen nomor 404, di bawah langit Jakarta yang mulai sibuk, aku menyadari bahwa hubungan beda ras ini bukan lagi sekadar komedi romantis atau slice-of-life yang manis.
Ini adalah perjuangan hidup dan mati. Ini adalah pemberontakan terhadap hukum alam.
“Kau ingin aku melepaskannya, Genta?” Keluh ku saat melihat Linda kembali ke dapur dengan langkah yang sedikit lebih ringan. “Lihat saja nanti. Aku mungkin hanya manusia, tapi manusia punya satu senjata yang tidak dimiliki siluman yang sombong seperti mu: kemampuan untuk mengubah takdir demi orang yang mereka cintai.”
Aku kembali menyesap kopi ku yang sudah dingin. Rasanya pahit, sepahit kenyataan yang baru saja aku dengar. Tapi di balik rasa pahit itu, ada tekad yang mulai membara.
Masa depan kami mungkin penuh risiko, Elkan mungkin akan menghadapi dunia yang kejam, tapi selama Linda membelit kaki ku dengan ekornya dan menatap ku dengan mata hijau yang posesif itu, aku tidak akan pernah menyerah.
"Dimas! Kopinya sudah dingin, ayo masuk dan sarapan!" teriak Linda dari dalam.
"Iya, Sayang! Aku datang!"
Aku melangkah masuk ke dalam apartemen, meninggalkan bayang-bayang Genta di balkon. Rahasia apartemen nomor 404 kini bertambah satu: sebuah janji seorang manusia untuk mengalahkan waktu demi siluman yang dicintainya.