Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — Orang yang Tidak Diingat
Pagi datang dengan langit cerah untuk pertama kalinya setelah beberapa hari hujan panjang.
Kim Ae Ra berdiri di halte bus sambil memandang langit biru pucat. Udara masih dingin, namun terasa ringan. Ia memegang payung hitam yang kini hampir menjadi kebiasaan baru di tangannya.
Beberapa kali ia berpikir untuk mengembalikannya kepada Hyun Jae Hyuk.
Namun setiap kali hendak melakukannya, selalu ada alasan kecil untuk menundanya.
Bus datang, dan rutinitas kembali berjalan.
---
Aegis Corp tampak lebih sibuk dari biasanya.
Begitu Ae Ra tiba di lantai eksekutif, Yoo Min Ji langsung menghampirinya.
“Tim Haesung mengirimkan daftar peserta pertemuan minggu depan.”
Ae Ra menerima dokumen itu.
Nama-nama asing memenuhi halaman, sebagian besar direktur dan eksekutif senior.
Ia membacanya sekilas sebelum berhenti pada satu kalimat kecil di bagian bawah:
**Perwakilan Strategi Eksternal.**
Nama belum dicantumkan.
“Akan diumumkan nanti,” kata Min Ji singkat.
Entah kenapa, Ae Ra merasakan kegelisahan kecil tanpa alasan jelas.
---
Di ruangannya, Jae Hyuk terlihat lebih fokus dari biasanya.
“Kita harus mempersiapkan semua kemungkinan,” katanya sambil membaca laporan.
Ae Ra mencatat cepat.
“Apakah kerja sama ini berbahaya?”
Jae Hyuk mengangkat pandangan.
“Kerja sama dengan pesaing selalu berbahaya.”
Jawaban itu terdengar seperti peringatan.
---
Hari berjalan cepat hingga sore.
Ae Ra hampir tidak memiliki waktu istirahat. Namun di tengah kesibukan, ia mulai menyadari sesuatu—ia tidak lagi merasa asing di kantor itu.
Beberapa staf mulai berbicara normal dengannya.
Beberapa bahkan meminta bantuannya tanpa nada meremehkan.
Perubahan kecil, tapi nyata.
Saat ia sedang merapikan dokumen, aroma kopi hangus dari pantry kembali tercium samar.
Tubuhnya menegang refleks.
Napasnya tersendat.
Kilatan cahaya oranye kembali muncul di kepalanya.
Api.
Suara retakan.
Pelukan hangat.
Ia menutup mata kuat-kuat.
“Ae Ra.”
Suara Jae Hyuk membawanya kembali.
Ia berdiri di sampingnya tanpa diketahui sejak kapan.
“Kau pucat.”
“Aku baik-baik saja.”
Namun kali ini ia tidak langsung percaya.
“Kau boleh istirahat.”
Ae Ra mengangguk pelan.
---
Malam hari, ia pulang lebih lambat dari biasanya.
Lampu toserba sudah menyala terang ketika ia masuk.
*Klining…*
Bo Ram melambaikan tangan.
Seo Jun sedang membaca sesuatu di balik kasir.
“Kau terlihat lelah,” katanya.
“Aku mencium bau asap lagi di kantor.”
Seo Jun berhenti membaca.
Tatapannya berubah sedikit lebih serius.
“Kau tidak suka api?”
Ae Ra menggeleng.
“Aku tidak tahu… rasanya seperti pernah terjadi sesuatu.”
Bo Ram yang sedang menata barang tiba-tiba diam.
Ia menunduk cepat, pura-pura sibuk.
Seo Jun memperhatikan perubahan kecil itu.
Namun ia tidak bertanya lebih jauh.
“Minum dulu,” katanya sambil menyerahkan minuman hangat.
Ae Ra tersenyum kecil.
Di tempat ini, semuanya terasa sederhana.
---
Di luar toko, malam berjalan tenang.
Namun jauh di pusat kota, Hyun Jin Suk duduk sendirian di ruang kerjanya.
Di tangannya terdapat laporan kerja sama dengan Haesung.
Matanya berhenti pada satu bagian kecil.
Nama keluarga lama yang hampir terlupakan.
Ia menghela napas panjang.
“Takdir memang aneh…”
Pikirannya tanpa sadar teringat pada seorang pria bertahun-tahun lalu.
Seorang supir yang selalu tersenyum sopan.
Dan malam kebakaran yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Jin Suk menutup dokumen itu perlahan.
Ia tahu sesuatu yang lama terkubur… mungkin akan segera muncul kembali.
---
Di sisi lain kota, Ae Ra berjalan pulang di bawah lampu jalan.
Angin malam berhembus pelan.
Ia membuka payung meski hujan tidak turun.
Kebiasaan aneh yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
Langkahnya melambat.
Untuk sepersekian detik, ia merasa seperti pernah berjalan di bawah payung yang sama… bersama seseorang yang tidak bisa ia ingat wajahnya.
Perasaan hangat itu datang lalu pergi.
Ae Ra menggeleng kecil.
“Aku benar-benar aneh akhir-akhir ini.”
Ia melanjutkan langkahnya.
Tidak menyadari bahwa seseorang di masa lalunya… perlahan mulai berjalan kembali menuju hidupnya.