Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reinkarnasi dalam Belenggu
Di tepi sungai yang dikelilingi hutan sunyi, tampak dua bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri di atas tanah basah yang becek. Pakaian mereka lusuh, berwarna kecokelatan penuh robekan yang nyaris tidak bisa lagi disebut sebagai pakaian. Namun, yang paling mencolok dan menyayat hati adalah belenggu besi hitam yang melingkari leher serta kedua tangan mereka. Besi itu berkarat, berat, dan dingin, menjadi simbol abadi dari nasib mereka yang telah jatuh ke dasar jurang kasta manusia: budak.
Salah satu bocah, yang memiliki wajah manis namun kini pucat pasi bagaikan mayat, adalah wadah baru bagi jiwa sang Anak Dewa yang jatuh, Su Fan. Di sampingnya, berdiri seorang bocah yang sedikit lebih tinggi dengan garis rahang yang tegas dan sorot mata yang menyiratkan keberanian yang melampaui usianya. Dialah Jin Tianyu, satu-satunya saksi hidup dari tragedi yang menimpa mereka.
Melihat kawan di sampingnya hanya diam terpaku dengan tatapan kosong, Jin Tianyu mendekat dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang mendalam.
“Li Fan, kau tidak apa-apa? Demi langit, katakan sesuatu! Jangan membuatku takut,” tanya Jin Tianyu dengan suara yang bergetar hebat.
Su Fan tidak menjawab. Pandangannya kosong, tersesat di dalam lorong gelap kenangan yang bukan miliknya. Dunia di sekelilingnya terasa terlalu berat, seolah hukum gravitasi di tempat ini berkali-kali lipat lebih kuat dari Alam Dewa. Udara di hutan ini terasa sesak, dipenuhi dengan aroma tanah basah dan sisa-sisa kematian dari karawan budak yang karam.
Saat tangan Jin Tianyu yang kasar karena kerja paksa menyentuh bahunya, tubuh kecil Su Fan tiba-tiba tersentak hebat. Ia menjerit histeris, sebuah pekikan yang merobek kesunyian hutan. Tangan kecilnya mencengkeram kepalanya sendiri seolah ingin mencabut rasa sakit yang membakar hebat dari dalam tengkorak.
“AAARRGH!”
“Li Fan! Hei! Ada apa denganmu!? Jangan mati sekarang!” Jin Tianyu langsung memeluk tubuh Su Fan yang ambruk ke tanah. Ia berusaha menahan tangan sahabatnya agar tidak melukai diri sendiri, air mata mulai menggenang di pelupuk mata bocah pemberani itu.
Jeritan itu terus bergema, memantul di sela-sela pohon raksasa hingga beberapa menit berlalu. Perlahan, tubuh kecil itu mulai tenang. Napasnya masih tersengal, namun saat ia membuka mata, sorot matanya kini tampak berbeda. Sorot mata itu jauh lebih dalam, lebih tajam, dan menyimpan kedewasaan serta otoritas yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak sepuluh tahun.
‘Jadi ini kenyataannya... entah bagaimana, jiwaku yang seharusnya hancur justru merasuki tubuh bocah ini tepat setelah ia menghembuskan napas terakhir. Li Fan... nama yang mirip, tapi nasib yang sangat jauh berbeda,’ pikir Su Fan sambil menggali serpihan memori yang tersisa di dalam otak tubuh barunya.
Melalui potongan ingatan yang berkelebat bagaikan mimpi buruk, Su Fan melihat kehidupan asli Li Fan. Ia adalah seorang anak dari Desa Batu Hitam, sebuah pemukiman kecil di kaki gunung. Ayahnya hanyalah seorang penggembala sapi yang tulus dan jujur, sementara ibunya adalah penjahit yang lembut dengan senyum yang selalu menghangatkan rumah mereka. Kehidupan mereka damai dan bersahaja hingga kelompok bandit bersenjata datang, mengubah desa mereka menjadi lautan api hanya dalam satu malam.
Orang tuanya tewas dalam pembantaian itu saat berusaha melindunginya. Li Fan kecil melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedang menembus dada ayahnya dan bagaimana ibunya diseret sebelum akhirnya tewas. Kenangan itu begitu menyakitkan hingga Su Fan bisa merasakan sisa-sisa kepedihan yang tertinggal di hati bocah ini.
Namun, yang lebih kejam adalah apa yang terjadi setelahnya. Di kamp tawanan, seorang dukun misterius dengan jubah hitam yang bau busuk memeriksa mereka. Mereka mencari anak-anak dengan Spiritual Root untuk dijadikan komoditas kelas atas. Dari puluhan tawanan yang menangis, hanya tiga yang lolos: Li Fan, Jin Tianyu, dan adik perempuan Li Fan yang baru berusia tujuh tahun, Li Mei.
Li Mei diperlakukan berbeda secara mencolok. Ia memiliki Tubuh Pesona Fatamaya, sebuah konstitusi tubuh langka yang berada di urutan kelima dalam daftar Konstitusi Surgawi yang tercatat dalam Kitab Abadi. Tubuh pesona itu adalah berkah luar biasa bagi seorang kultivator wanita di puncak, namun merupakan kutukan paling mengerikan bagi seorang budak. Li Mei langsung dipisahkan, dibawa pergi oleh kereta kuda mewah menuju tempat rahasia untuk dipersiapkan sebagai "barang koleksi" bagi bangsawan tinggi atau kultivator sesat.
Sementara itu, Li Fan dan Jin Tianyu dirantai layaknya binatang peliharaan dan dibawa ke utara menuju tambang-tambang kematian. Dalam perjalanan penuh siksaan, kelaparan, dan cambukan itu, Jin Tianyu selalu menjadi pelindung bagi Li Fan yang fisiknya lebih lemah. Jin Tianyu adalah anak yatim piatu di desa yang sama, yang sejak kecil sudah terbiasa hidup keras, sehingga ia merasa bertanggung jawab atas Li Fan.
Hingga akhirnya, sebuah bencana terjadi. Migrasi binatang buas besar-besaran menyerang karavan bandit mereka. Dalam kekacauan tersebut, gerbong besi tempat mereka dikurung terjatuh ke dalam jurang yang curam dan masuk ke dalam sungai yang mengalir sangat deras. Itulah titik di mana Li Fan yang asli mati karena tenggelam dan benturan, dan Su Fan mengambil alih sisa-sisa kehidupannya.
Kini, Su Fan perlahan mengangkat wajahnya. Cahaya matahari yang menyelinap di antara celah dedaunan terasa hangat, namun terasa asing di kulitnya yang kotor.
‘Aku tidak tahu mekanisme apa yang memungkinkan reinkarnasi di dunia yang lebih rendah ini... Tapi jika langit memberi aku kesempatan kedua, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan membangun kembali kekuatanku, mencari ayahku, dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku hingga ke akar-akarnya!’
Su Fan menoleh ke arah Jin Tianyu. Ia mengamati bocah di depannya dengan saksama. Meskipun masih kecil dan penuh luka, Jin Tianyu memiliki aura seorang pemimpin yang alami. Ia tenang di bawah tekanan, tabah, dan yang paling penting, memiliki kesetiaan yang murni. Di dunia kultivasi yang penuh dengan pengkhianatan keji seperti yang dilakukan oleh saudarinya, Su Wanning, sosok seperti Jin Tianyu adalah permata yang lebih langka daripada batu roh kualitas tertinggi.
“Aku baik-baik saja,” ucap Su Fan dengan suara yang jauh lebih stabil dan berat, mengejutkan Jin Tianyu. “Hanya sedikit sakit kepala akibat benturan air tadi... Kamu tidak perlu khawatir lagi.”
Jin Tianyu menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit mereda. Ia membantu Su Fan berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangan mereka yang terbelenggu berdenting, menciptakan suara besi yang memilukan di tengah hutan yang sunyi.
“Li Fan... sepertinya surga masih ingin kita hidup. Kita berhasil lolos dari para bandit dan maut di sungai tadi. Meski yang lain... mereka semua sudah pergi,” ujar Jin Tianyu dengan nada sedih, matanya menatap ke arah hilir sungai yang membawa jasad teman-teman senasib mereka.
Su Fan merasa aneh dipanggil Li Fan, namun ia segera menekan ego kebesarannya. Identitas ini adalah penyamaran paling sempurna. Siapa yang akan menyangka bahwa buronan yang paling dicari di Alam Dewa kini bersembunyi di balik tubuh mungil seorang budak yang bahkan tidak bisa membuka rantainya sendiri?
“Ya... kita masih hidup, dan itu adalah modal utama kita untuk membalas semua ini,” sahut Su Fan pendek.
Jin Tianyu menatap hamparan hutan yang luas dan tak berujung, lalu melihat ke langit yang mulai meredup. “Lalu, apa rencanamu sekarang, Li Fan? Kita tidak punya makanan, tidak punya peta, dan tangan kita masih terbelenggu besi terkutuk ini. Jika bandit-bandit itu menyisir sungai, kita akan tamat.”
Su Fan memandangi belenggu di tangannya dengan tatapan meremehkan. Baginya, besi ini hanyalah penghalang fisik yang rapuh. Masalah utamanya adalah tubuh ini sama sekali belum tersentuh oleh energi spiritual.
“Kembali ke jalan utama adalah bunuh diri. Kita juga tidak tahu di mana posisi kita sekarang, tapi menilai dari sungai ini, kita berada di wilayah pinggiran Kekaisaran. Untuk sementara, kita harus bertahan hidup di hutan ini. Cari tempat yang tinggi untuk memantau sekitar, atau cari gua yang aman dari binatang buas. Kita harus melepaskan belenggu ini secepat mungkin,” instruksi Su Fan dengan sangat sistematis.
Jin Tianyu menatap Su Fan dengan dahi berkerut, merasa ada yang sangat aneh dengan sahabatnya itu. Sejak kapan Li Fan yang cengeng dan penakut bisa menganalisis wilayah kekaisaran dan menentukan strategi bertahan hidup?
“Kenapa kau tiba-tiba jadi terdengar sangat bijak begini? Apa kepalamu benar-benar terbentur batu sangat keras sampai mengubah otakmu?” tanyanya dengan nada curiga namun ada bumbu candaan untuk menutupi ketakutannya sendiri.
Su Fan tersenyum tipis, sebuah senyum penuh teka-teki yang membuat wajah kekanak-kanakannya terlihat sangat misterius.
“Anggap saja aku mendapat pencerahan dari langit setelah melihat gerbang kematian. Sekarang aku menyadari bahwa dunia ini hanya berpihak pada mereka yang punya rencana dan kekuatan. Bagaimana? Apa kau mau terus bersamaku, atau kau ingin mencoba keberuntunganmu sendiri?”
Jin Tianyu terdiam sejenak. Ia menatap mata Su Fan yang kini tampak bercahaya dengan kecerdasan yang seolah bisa menembus waktu. Ia merasakan aura yang sangat meyakinkan, sebuah tekanan batin yang belum pernah ia rasakan bahkan dari kepala bandit sekalipun.
“Jika itu kau... kurasa aku tidak punya alasan untuk tidak percaya. Lagipula, aku sudah berjanji pada ibumu untuk menjagamu,” jawab Jin Tianyu dengan anggukan mantap.
Su Fan terkekeh kecil. Dalam hatinya, ia merasa sedikit tersentuh. Ketulusan anak ini adalah sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya sebagai pangeran.
‘Anak ini punya potensi yang luar biasa. Tulang dan ototnya sangat cocok untuk teknik kultivasi fisik. Aku akan melatihnya. Jika aku bisa mengajarinya sedikit teknik kultivasi dasar yang kuketahui dari Alam Dewa, dia akan menjadi pedang yang sangat tajam untuk melindungiku di masa depan.’
“Ayo jalan. Jangan biarkan maut mengejar kita lagi,” ajak Su Fan sambil melangkah masuk lebih dalam ke jantung hutan.
Langkah kaki mereka yang kecil meninggalkan jejak di tanah basah. Di belakang mereka, sungai terus mengalir, menghanyutkan masa lalu yang pahit. Di depan mereka, hutan belantara yang ganas menunggu. Namun bagi Su Fan, ini bukanlah awal dari penderitaan baru, melainkan langkah pertama dari sebuah pembalasan dendam yang akan mengguncang langit dan bumi.
Cerdas...
Lucu...