Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Festival Tiga Rumah
Sorakan para murid masih menggema di halaman utama Akademi Duskveil setelah pengumuman pembukaan festival selesai.
Bendera-bendera besar berkibar di antara menara batu tinggi akademi. Cahaya matahari pagi memantul dari jendela-jendela kaca berwarna, menciptakan kilatan warna di halaman luas yang dipenuhi murid.
Festival Akademi akhirnya dimulai.
Dan seperti setiap tahun—
Seluruh akademi berubah menjadi jauh lebih hidup.
Arkan berdiri di antara kerumunan bersama Kael. Di sekeliling mereka, ratusan murid dari tiga rumah berkumpul sambil berbicara penuh semangat.
Kael menyeringai lebar.
“Akhirnya dimulai.”
Arkan memandang panggung dengan tenang.
Seorang guru tua yang berdiri di sana melanjutkan pidatonya.
“Festival Akademi akan berlangsung selama beberapa hari ke depan!”
Sorakan kembali terdengar.
Guru itu mengangkat tangannya.
“Selama festival berlangsung, kalian akan menyaksikan berbagai kegiatan.”
Ia mulai menyebutkan satu per satu.
“Turnamen sihir!”
Beberapa murid Lightveil langsung bersorak.
“Pertunjukan artefak sihir!”
Sekelompok murid Natureveil tampak bertepuk tangan.
“Pameran penelitian sihir dari berbagai rumah!”
Para murid yang lebih serius tampak tersenyum puas.
Guru itu berhenti sejenak sebelum berkata dengan nada lebih kuat.
“Dan tentu saja…”
Ia tersenyum.
“Perlombaan puncak festival.”
Kerumunan langsung menjadi lebih bersemangat.
Kael menyikut Arkan.
“Ini yang paling ditunggu.”
Guru itu melanjutkan,
“Permainan Tiga Bendera.”
Sorakan besar memenuhi halaman.
Semua orang di akademi mengenal permainan itu.
Sebuah kompetisi sederhana.
Namun selalu menjadi yang paling seru.
Setiap rumah akan menjaga bendera mereka.
Dan tugas peserta sangat jelas.
Curi bendera rumah lain.
Lalu tancapkan di markas rumahmu sendiri.
Namun tentu saja—
Dengan sihir.
Ilusi.
Perangkap.
Dan strategi.
Guru itu akhirnya menutup pidatonya.
“Buktikan kemampuan kalian!”
Sorakan terakhir menggema di halaman.
Festival pun resmi dimulai.
---
Beberapa hari berikutnya—
Akademi Duskveil benar-benar berubah seperti kota festival.
Lapangan latihan penuh dengan berbagai pertandingan sihir.
Arkan sempat menonton beberapa di antaranya.
Murid-murid Lightveil menunjukkan kemampuan sihir cahaya mereka dengan presisi luar biasa.
Ledakan cahaya, perisai bersinar, dan mantra pelindung memenuhi udara.
Di sisi lain akademi—
Natureveil mengadakan pertunjukan manipulasi alam.
Tanaman merambat tumbuh dari tanah.
Akar bergerak seperti ular.
Beberapa murid bahkan memanggil burung-burung kecil untuk membantu mereka.
Kael sangat menikmati semuanya.
“Ini bagian terbaik festival!” katanya berkali-kali.
Sementara itu—
Drackveil menunjukkan sisi yang lebih agresif.
Duel sihir.
Ilusi bayangan.
Mantra penekan.
Para murid Darkveil terkenal karena gaya bertarung mereka yang langsung dan kuat.
Namun Arkan tidak terlalu terlibat dalam sebagian besar acara itu.
Ia lebih sering mengamati.
Kadang dari kejauhan.
Kadang dari tepi lapangan.
Namun semakin mendekati hari terakhir festival—
Suasana akademi berubah lagi.
Semua orang menunggu satu hal.
Permainan Tiga Bendera.
Kompetisi terakhir.
Yang menentukan rumah mana yang menjadi juara festival tahun ini.
---
Pagi hari pertandingan—
Lapangan besar akademi sudah dipenuhi murid bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.
Bendera tiga rumah sudah dipasang di berbagai titik lapangan.
Merah gelap untuk Drackveil.
Hijau untuk Natureveil.
Putih keemasan untuk Lightveil.
Area pertandingan dibagi menjadi tiga wilayah.
Setiap rumah memiliki markas kecil tempat bendera mereka dijaga.
Kael berdiri di samping Arkan dengan wajah penuh semangat.
“Kita akan menang tahun ini.”
Arkan hanya mengangguk pelan.
Keduanya sudah mendaftar sebagai peserta untuk Drackveil.
Sementara itu—
Dari arah lain—
Leyna berjalan mendekat bersama kelompok Natureveil.
Rambutnya yang panjang bergerak tertiup angin pagi.
Ia melihat Arkan.
“Sepertinya kita akan jadi lawan hari ini.”
Arkan menjawab tenang,
“Sepertinya begitu.”
Leyna tersenyum kecil.
Namun sebelum mereka sempat bicara lebih jauh—
Dua orang lain mendekat.
Solan.
Dan Seris.
Seragam Lightveil mereka tampak sangat mencolok di antara kerumunan.
Kael yang berdiri di samping Arkan tiba-tiba membeku.
Matanya berpindah dari Leyna…
ke Seris.
Ia berkedip beberapa kali.
“...Tunggu.”
Ia menatap Arkan.
“Kau mengenal mereka?”
Arkan menjawab singkat.
“Ya.”
Kael menatap Leyna.
Lalu Seris.
Lalu kembali ke Arkan.
Ekspresinya berubah menjadi sangat tidak percaya.
“Sebentar.”
Ia menunjuk Leyna.
“Ini Leyna.”
Ia lalu menunjuk Seris.
“Dan itu Seris Aurelius.”
Beberapa murid Lightveil di dekat mereka bahkan sempat melirik ke arah Seris.
Ia memang cukup terkenal di akademi.
Bukan hanya karena kekuatan sihirnya—
Tapi juga karena kecantikannya.
Kael menatap Arkan dengan wajah serius.
“Kau mengenal Leyna.”
Ia menunjuk Seris lagi.
“Dan kau juga mengenal Seris Aurelius?”
Arkan menjawab singkat,
“Ya.”
Kael tampak hampir kehilangan kata-kata.
“Bagaimana mungkin…”
Ia memegang kepalanya sendiri.
Namun sebelum ia sempat berkata lebih banyak—
Solan tiba-tiba menyeringai.
“Kalau kau mengenal Leyna dan Seris…”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“…kau pasti mengenalku juga, kan?”
Kael menatapnya.
Beberapa detik hening.
Lalu ia menjawab datar,
“Tidak.”
Leyna langsung tertawa.
Seris hanya menutup mulutnya sambil tersenyum tipis.
Arkan juga tampak sedikit tersenyum.
Sementara Solan—
Membeku di tempat.
“Apa?”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku Solan!”
Kael mengangkat bahu.
“Tidak pernah dengar.”
Solan tampak sangat kesal.
“Ini tidak masuk akal.”
Leyna masih tertawa.
“Maaf Solan.”
Seris berkata pelan,
“Mungkin kau tidak sepopuler yang kau kira.”
Solan menatap mereka semua dengan wajah tidak percaya.
“Pengkhianatan.”
Namun suasana santai itu tiba-tiba berubah ketika seseorang mendekat dari arah Natureveil.
Seorang pemuda berambut hijau gelap dengan ekspresi cerah.
Ia melambaikan tangan.
“Leyna!”
Leyna menoleh.
“Ah.”
Ia tersenyum.
“Eryndor.”
Pemuda itu berjalan mendekat dengan langkah santai.
Ia tampak sangat ramah.
“Wah, banyak orang di sini.”
Ia melihat Arkan.
Solan.
Seris.
Dan Kael.
Leyna berkata,
“Ini Eryndor Sylvara.”
Arkan sedikit terkejut mendengar nama itu.
Sylvara.
Salah satu dari tiga keluarga penjaga segel.
Namun Eryndor sendiri tampak sangat santai.
Ia langsung berbicara dengan cepat.
“Kalian semua ikut pertandingan juga?”
Kael mengangkat alis.
“Tentu saja.”
Namun tiba-tiba Kael menyadari sesuatu.
Ia menunjuk Eryndor.
“Tunggu.”
“Kita pernah bertemu, kan?”
Eryndor langsung tertawa.
“Benar!”
“Kita pernah latihan sihir bersama bulan lalu.”
Kael akhirnya terlihat lega.
“Bagus.”
“Setidaknya ada satu orang yang normal di sini.”
Eryndor tertawa lagi.
Ia tampak tipe orang yang sangat mudah berteman.
Beberapa murid Natureveil bahkan melambaikan tangan kepadanya dari kejauhan.
Leyna memperhatikan itu.
“Seperti biasa.”
“Banyak teman.”
Eryndor mengangkat bahu santai.
“Aku hanya suka berbicara.”
Kemudian ia menatap Arkan.
“Senang bertemu denganmu.”
Arkan mengangguk.
“Arkan.”
“Eryndor.”
Mereka berjabat tangan singkat.
Untuk sesaat—
Kelima orang itu berdiri bersama di tengah lapangan festival.
Drackveil.
Natureveil.
Lightveil.
Namun tidak satu pun dari mereka membicarakan tentang Nyanyian Malam.
Tentang gerbang bayangan.
Tentang rahasia keluarga kuno.
Hari itu—
Mereka hanya murid akademi yang akan bertanding dalam festival.
Dari kejauhan—
Sebuah lonceng besar berbunyi.
DONG.
Guru di menara pengawas mengangkat tangannya.
“Semua peserta bersiap!”
Kerumunan murid mundur ke tepi lapangan.
Para peserta mengambil posisi mereka.
Kael menepuk bahu Arkan.
“Ini dia.”
Arkan memandang lapangan luas di depan mereka.
Permainan Tiga Bendera akan segera dimulai.
Namun jauh di dalam pikirannya—
Sebuah melodi masih bergema.
Nyanyian Malam.
Dan entah kenapa—
Di tengah festival yang penuh sorakan—
Arkan merasa bayangan di sekitar lapangan itu…
sedikit terlalu tenang.