NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:891
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perang dingin

Bus sekolah mulai bergerak meninggalkan gerbang, tapi suasana di dalam bus Kelompok 7 lebih mirip ruang sidang daripada bus pariwisata. Selena duduk di bangku tengah, diapit oleh dua "raksasa" yang energinya saling bertabrakan.

Di sebelah kanan, Zeus duduk dengan tangan bersedekap, menutup matanya tapi otot rahangnya terlihat mengeras. Di sebelah kiri (di seberang lorong), Leon duduk sambil memangku laptopnya, tapi matanya sesekali melirik ke arah Selena yang sedang sibuk membongkar tas bekalnya.

"Kalian mau sosis?" tanya Selena tanpa beban, menyodorkan potongan sosis goreng ke arah Zeus.

Zeus membuka satu matanya. "Nggak lapar."

"Kalau Leon mau?" Selena berpaling ke kiri dengan senyum manis yang sama seperti tadi pagi.

Leon terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak mengambil sosis dari kotak makan Selena. "Makasih, Sel."

Suasana mendadak makin dingin. Zeus yang tadinya mau tidur, langsung menegakkan punggungnya. Dia merebut kotak makan dari tangan Selena dan menaruhnya di pangkuannya sendiri.

"Jangan makan sambil bagi-bagi di jalan. Nanti lo mabuk darat," kata Zeus protektif (tapi lebih ke arah posesif).

"Wah, perhatian banget ya Ketua Thunder kita ini."

"Muncul deh seten satu ini"batin selena.

Suara itu datang dari kursi tepat di belakang Selena. Lucas bersandar di kursinya dengan gaya santai, memakai earphone yang tergantung di lehernya. Dia sudah memperhatikan interaksi mereka sejak tadi.

"Tapi hati-hati, Sel," lanjut Lucas sambil mencondongkan badannya ke depan, bibirnya tepat berada di dekat telinga Selena. "Orang yang terlalu banyak ngatur biasanya yang paling cepat bikin bosan. Kalau lo butuh udara bebas, baris belakang selalu kosong buat lo."

Zeus langsung memutar badannya ke belakang, menatap Lucas dengan mata yang seolah ingin meledakkan bus itu sekarang juga. "Tutup mulut lo, Snake. Atau gue pastiin lo nggak bakal sampai ke lokasi camp dalam keadaan utuh."

Lucas hanya tertawa kecil, suara tawa yang tenang tapi memprovokasi. "Galak banget. Kayak anjing penjaga yang takut tulang kesayangannya dicuri."

Melihat tensi yang makin nggak karuan, Selena berdiri dari kursinya. Dia mengambil botol minyak kayu putih dari saku jaketnya (hadiah dari Zeus tempo hari).

"STOP!" teriak Selena pelan tapi tegas. "Ini bus, bukan ring tinju! Zeus, lo duduk diem! Leon, lo lanjut ngetik! Dan lo, Ular Kadut di belakang... kalau berisik lagi, gue semprot mata lo pake minyak kayu putih ini!"

Satu bus mendadak diam. Axel yang duduk di baris paling depan sampai menoleh ke belakang dan mengacungkan jempol. "Gila, Ibu Dirut emang beneran punya kuasa!"

Selena duduk kembali dengan nafas terengah-engah. "Gue mau tidur. Siapa pun yang berisik, bakal gue keluarin dari daftar penerima jatah mi instan malam ini!"

Mendengar ancaman soal "mi instan", Zeus dan Lucas langsung bungkam. Mereka berdua tahu, di hutan nanti, Selena adalah pemegang kunci logistik makanan enak.

Selena pun menyandarkan kepalanya ke bahu Zeus (karena bahu Zeus yang paling dekat), membuat Zeus kaget tapi perlahan-lahan merilekskan tubuhnya agar Selena nyaman. Dari seberang lorong, Leon menutup laptopnya dengan pelan, sementara Lucas di belakang hanya bisa menatap pemandangan itu dengan mata yang makin gelap.

Begitu bus berhenti di area perkemahan yang dikelilingi pohon-pohon pinus raksasa dan tanah yang agak becek, Selena turun dengan gaya paling sombong sedunia. Ia memakai kacamata hitamnya dan menunjuk ke arah tanah kosong yang cukup luas.

"Oke, anak buahku! Sesuai kesepakatan di sekolah tadi, karena gue adalah 'Ketua Sampingan' alias Ibu Dirut, gue yang bakal ambil alih tugas paling krusial: Mendirikan Tenda!" seru Selena sambil menepuk dadanya bangga.

Zeus menaikkan alisnya, menatap tumpukan besi penyangga dan kain tenda yang beratnya bukan main. "Lo yakin? Pasang tenda butuh tenaga sama teknik, Sel. Mending lo bagian petik bunga aja sana."

"Dih, meremehkan! Gue udah nonton tutorialnya di YouTube tadi malem! Kalian bertiga—Zeus, Leon, Lucas—pergi cari kayu bakar atau berburu naga kek, pokoknya urusan istana ini biar gue yang tangani!" balas Selena sambil mulai membongkar tas tendanya.

Leon sempat ragu. "Sel, mau gue bantu...?"

"Gak usah, Leon! Sana, sana! Jangan ganggu kreativitas arsitektur gue!"

Ketiga cowok itu akhirnya pergi (atas perintah tegas Zeus untuk tetap mengawasi dari kejauhan), meninggalkan Selena sendirian dengan gulungan tenda besar yang ukurannya lebih lebar dari badannya.

30 Menit Kemudian: Drama Dimulai

Langit mulai mendung, angin hutan bertiup kencang, dan Selena mulai menyadari bahwa tutorial di YouTube tidak semudah kenyataan.

"Ini besi kenapa panjang banget sih?! Terus ini lubangnya di mana? Kenapa kain ini malah nutupin muka gue?! WOI! TOLONG! GUE KEBUNGKUS TENDAAA!"

Selena berteriak-teriak di bawah gundukan kain tenda yang roboh menimpanya. Dia bergulung-gulung di tanah seperti kepompong raksasa yang gagal jadi kupu-kupu. Usahanya memasang tiang penyangga malah bikin tiang itu melengkung dan hampir mengenai kepalanya sendiri.

Rora yang lewat sambil membawa jerigen air langsung berhenti dan ngakak sampai lemas. "SELENA! Lo lagi kemping apa lagi dikafanin sama tenda?!"

Selena mengeluarkan kepalanya dari balik kain dengan rambut yang sudah penuh daun kering dan wajah yang sudah kotor kena tanah. "Rora... hiks... gue nyesel! Kenapa tadi gue sok ide banget mau pasang gubuk ini sendirian?! Ternyata YouTube bohong! Masang tenda lebih susah daripada nahan tawa pas liat muka Zeus marah!"

Selena duduk di atas tanah, mulai mendramatisir keadaan dengan pura-pura nangis bombay. "Huhu... gue capek... tanganku lecet... gue mau pulang aja ke rumah... gue mau makan seblak, bukan makan tanah..."

Tiba-tiba, sebuah tangan besar menarik kain tenda yang menutupi kaki Selena. Zeus berdiri di sana dengan wajah yang sulit diartikan—antara mau marah atau mau ketawa. Di belakangnya, Leon sudah siap dengan palu pasak, dan Lucas hanya bersandar di pohon sambil tersenyum miring.

"Tadi katanya nggak mau dibantu kreativitas arsitekturnya?" sindir Zeus sambil menarik Selena berdiri.

Selena langsung memeluk lengan Zeus (tanpa malu dilihat orang banyak). "Bos PLN! Ampun! Gue tarik kata-kata gue tadi! Ternyata gue lebih cocok jadi bagian konsumsi alias tukang makan daripada tukang bangunan! Pasangin dong, Zeus... ya? Ya? Nanti gue kasih marshmallow paling gede buat lo!"

Zeus menghela napas panjang, lalu melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Selena. "Duduk di sana. Diem. Jangan pegang apa pun sebelum lo bener-bener bikin tenda ini jadi layangan."

Dengan cekatan, Zeus, Leon, dan Lucas (yang terpaksa kerja bareng demi Selena) mulai mendirikan tenda. Hanya butuh waktu 10 menit, tenda besar itu berdiri kokoh dan gagah.

Selena yang duduk di atas batu sambil ngemil cokelat cuma bisa melongo. "Gila... ternyata punya anak buah sangar emang lebih enak daripada kerja sendiri."

Lucas menoleh ke arah Selena. "Lain kali kalau butuh tempat bernaung yang lebih nyaman, gue selalu terbuka buat lo, Sel."

"Diem lo, Ular!" potong Zeus cepat sambil melempar tas Selena ke dalam tenda. "Masuk! Rapihin barang lo!"

Selama dua hari di perkemahan, Selena sebenarnya cukup bersinar. Dari lomba makan kerupuk hutan sampai lomba estafet air, dia selalu jadi yang paling berisik. Tapi, begitu memasuki hari terakhir, tepatnya saat sesi Uji Nyali atau Jurit Malam diumumkan, wajah Selena yang tadinya cerah mendadak pucat pasi seperti kertas HVS.

"Oke, kelompok tujuh. Rute kalian adalah menyusuri jalan setapak di dekat jurang mati sampai ke pohon beringin tua," ucap Pak Bambang sambil membagikan satu senter kecil yang sinarnya redup-redup mati.

Selena menelan ludah. "Pak, kalau saya ganti tugas jadi penjaga gerbang neraka aja boleh nggak? Kayaknya lebih aman daripada ke beringin tua."

"Nggak ada alasan, Selena! Ini ujian mental!" tegas Pak Bambang.

"Tapi pak....."

"Gak ada alesan"pak bambang serem mukanya.

"Eh iya iya"selena ciut.

Di perjalanan...

Melihat Zeus dan Lucas yang tampak santai seolah-olah cuma mau jalan-jalan ke minimarket, harga diri Selena terusik. Dia nggak mau kelihatan lemah di depan dua cowok yang memperebutkannya ini.

"Cih, cuma hutan gelap doang," ucap Selena sambil membusungkan dada, meskipun lututnya gemetaran. "Gue mah udah biasa liat yang serem-serem. Liat muka Zeus pas bangun tidur aja gue nggak pingsan, apalagi cuma liat beringin kalau ada apa-apa gue colok matanya!"

Zeus melirik Selena dengan sudut mata. "Oh ya? Terus kenapa tangan lo megangin ujung jaket gue kenceng banget sampai mau robek gitu?"

Selena langsung melepaskan jaket Zeus. "Ini... ini namanya teknik grounding! Biar gue nggak terbang kena angin hutan!"

Leon, yang sejak tadi diam memperhatikan peta, tiba-tiba bersuara. Suaranya yang datar dan dingin kali ini terdengar sangat mutlak.

"Selena," panggil Leon.

"Ya, Leon yang paling pinter?"

"Karena lo tadi bilang paling berani dan mau jadi ketua geng," Leon menyodorkan senter redup itu ke tangan Selena. "Lo yang pimpin di depan. Jalannya paling depan. Gue di belakang lo buat mantau peta, Zeus sama Lucas di barisan terakhir buat jaga-jaga kalau ada serangan dari belakang."

Selena membeku. "H-hah? Gue? Di depan? Sendirian?"

"Katanya calon Bos?" goda Lucas sambil tertawa miring. "Seorang pimpinan itu harus berani buka jalan buat anak buahnya, kan? Masa Ibu Dirut sembunyi di ketek Zeus?"

"Bukan sembunyi! Gue cuma... gue cuma mau ngasih kesempatan kalian buat liat punggung gue yang keren!" balas Selena dengan suara yang makin mencicit.

Akhirnya, dengan langkah yang sangat pelan—bahkan lebih pelan dari siput—Selena mulai melangkah masuk ke kegelapan hutan. Senter di tangannya bergoyang-goyang karena tangannya gemetar hebat.

"A-aman ya guys? Masih ada di belakang gue kan?" tanya Selena setiap tiga detik.

"Masih," jawab Zeus singkat tepat di belakangnya.

"Gue di sini, Kecil. Tenang aja," sahut Lucas dari barisan paling belakang.

Tiba-tiba, terdengar suara "SREEKK... SREEKK..." dari balik semak-semak.

Selena langsung loncat dan berbalik arah, ia membenamkan wajahnya di dada Zeus sambil menjerit tertahan. "HUWAAA! APAAN TUH?! POCONG?! APA ULAR KADUT ANAK BUAHNYA LUCAS?!"

Zeus memegang bahu Selena, menahan tawa yang hampir pecah. "Itu cuma kelinci lewat, Selena. Mana katanya tadi yang mau nyolok mata setan?"

Leon yang berjalan di samping mereka hanya bisa menggelengkan kepala. "Baru sepuluh meter, Sel. Perjalanan masih jauh."

Selena melepaskan pelukannya dari Zeus, mencoba mengatur napas sambil benerin posisi kacamata hitamnya yang tadi dia pake (biar keliatan keren padahal malem-malem). "I-itu tadi cuma tes refleks! Oke, lanjut! Pimpinan nggak boleh kalah sama kelinci!"

Langkah Selena makin lama makin mirip robot yang kehabisan baterai. Hutan semakin gelap, dan suara burung hantu di kejauhan benar-benar bikin bulu kuduknya berdiri tegak. Senter di tangannya sudah tidak membantu, malah bikin bayangan pohon-pohon besar itu terlihat seperti tangan raksasa yang mau menerkamnya.

"G-guys, pohon beringinnya kok... kok gede banget? Terus itu... itu apaan yang putih-putih gelantungan?!" bisik Selena dengan suara yang sudah bergetar 8,5 skala Richter.

"Itu akar gantung, Sel. Jangan norak," sahut Zeus datar, meski tangannya sudah siap siaga di belakang punggung Selena.

"Tapi kok akarnya punya mata?!"

Tiba-tiba, dari arah dahan beringin yang paling gelap, muncul sepasang mata merah (ternyata burung hantu, tapi bagi Selena itu adalah utusan dari alam gaib) disertai suara tawa melengking khas panitia yang memang sedang bertugas menakut-nakuti peserta.

"KIKIKIKIKIKIKI...."

"HUWAAAA! MAK! JANGAN JEMPUT SELENA SEKARANG! SELENA BELUM JADI DIRUT BENERAAAN!"

Selena berteriak sekuat tenaga, badannya berputar 180 derajat, matanya mendelik, dan dalam hitungan detik, kesadarannya hilang total. Tubuh mungilnya limbung ke arah belakang.

Karena posisi barisan mereka yang acak-acakan akibat kepanikan Selena, orang yang paling dekat untuk menangkapnya bukan Zeus, melainkan Lucas.

Dengan gerakan refleks seorang atlet, Lucas menangkap tubuh Selena tepat sebelum kepalanya mencium tanah. Ia mendekap Selena di dadanya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di pundaknya.

"Dapet," gumam Lucas dengan senyum miring yang terlihat jelas di bawah sinar rembulan.

Zeus yang melihat pemandangan itu merasa seperti ada kabel listrik yang korslet di dalam otaknya. Aura dinginnya mendadak berubah jadi api yang membara.

"Lepasin dia, Lucas!" bentak Zeus sambil melangkah maju, tangannya sudah menarik lengan baju Lucas dengan kasar. "Dia tanggung jawab kelompok gue. Jangan sentuh dia pake tangan ular lo itu!"

"Tanggung jawab kelompok?" Lucas malah mempererat dekapannya pada Selena yang pingsan. "Lo yang nyuruh dia jalan di depan, lo yang bikin dia ketakutan sampai pingsan. Gue yang nolongin, jadi sekarang dia aman sama gue."

Suasana jadi makin mencekam. Di bawah pohon beringin tua, bukannya takut sama setan, Zeus dan Lucas malah siap baku hantam memperebutkan Selena yang masih pingsan dengan mulut sedikit menganga.

Leon mendesah berat. Dia berjalan ke tengah-tengah mereka, lalu dengan paksa mengambil tangan Selena yang lemas dan mengecek nadinya.

"Berhenti jadi bocah," ucap Leon dingin ke arah Zeus dan Lucas. "Dia pingsan beneran, bukan lagi akting drama Korea. Tekanan darahnya turun. Kalau kalian terus berantem, dia bisa hipotermia di sini."

Leon menatap Zeus dengan tajam. "Zeus, lo yang gendong. Lucas, lo bawa tas dia. Kita balik ke pos sekarang lewat jalur potong yang gue buat. Jangan ada yang protes."

Zeus langsung menyambar tubuh Selena dari dekapan Lucas dengan gerakan protektif. Dia menggendong Selena ala bridal style, mendekapnya sangat erat seolah tak mau kehilangan satu detik pun.

Lucas terpaksa melepaskan Selena, wajahnya terlihat sangat tidak puas, tapi dia tetap mengambil tas gunung Selena yang super berat itu. "Kali ini gue ngalah karena dia lagi sakit. Tapi di sekolah nanti, taruhannya beda lagi, Zeus."

Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di pos medis. Begitu Selena dibaringkan di tandu dan diciumkan bau minyak kayu putih (hadiah dari Zeus yang tadi dia simpan), mata Selena perlahan terbuka.

Dia melihat Zeus, Leon, dan Lucas berdiri melingkarinya dengan wajah serius.

"Gue... gue udah di surga ya?" tanya Selena lemah. "Kok malaikatnya serem-serem semua? Ada yang mukanya kayak kulkas, ada yang kayak komputer, terus ada yang kayak ular..."

Rora yang baru datang langsung memeluk Selena sambil menangis. "SELENA! Lo idup lagi! Gue kira lo udah dibawa sama penunggu beringin tadi!"

Selena mencoba duduk, lalu menatap Zeus yang bajunya sudah kotor karena menggendongnya tadi. "Zeus... tadi yang nangkep gue pas mau jatuh siapa? Rasanya... rasanya parfumnya beda sama punya lo."

Zeus langsung memalingkan wajah, sementara Lucas hanya tersenyum tipis dari pojok ruangan.

Bersambung...

1
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!