Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sidang mediasi berakhir tanpa kesepakatan rujuk. Keputusan Kevin benar benar bulat. Ia sama sekali tidak ingin mempertahankan pernikahan itu meskipun Iren berkali kali menyatakan ingin bertahan. Bagi Kevin, kesempatan sudah ia berikan jauh sebelum hari ini, dan empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu seseorang berubah.
Di lorong pengadilan suasana terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Iren berjalan beberapa langkah di belakang Kevin. Kali ini tidak ada lagi teriakan atau amarah yang meledak. Yang tersisa hanya rasa terdesak yang menekan dadanya.
“Kevin, tunggu.”
Langkah Kevin sempat terhenti, tetapi ia tidak langsung berbalik. Iren mempercepat langkah hingga sejajar dengannya lalu menatap wajah pria itu dengan campuran harap dan cemas.
“Aku sudah bilang aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau belajar jadi istri yang lebih baik. Apa itu masih tidak cukup?”
Kevin menoleh perlahan. Tatapannya tetap tenang, tetapi jelas dingin. Ia tidak menjawab sepatah kata pun dan kembali melangkah meninggalkan Iren begitu saja.
Lorong itu terasa semakin panjang ketika Kevin terus berjalan tanpa sekali pun menoleh. Sementara Iren berdiri mematung, napasnya memburu, dadanya naik turun menahan campuran marah, malu, dan tidak terima.
“Lihat saja, Kevin. Aku pasti akan mendapatkan kamu kembali. Kamu hanya milikku. Tidak ada satu orang pun yang boleh mengambilmu dariku.”
***
Kevin kembali ke perusahaan dengan ekspresi yang sama datarnya seperti tadi. Namun begitu membuka pintu ruangannya, langkahnya sedikit terhenti karena melihat Vano sudah duduk santai di kursi tamu.
Kevin berdecak pelan dan berjalan melewatinya tanpa menyapa, seolah pria itu hanya bagian dari perabot ruangan.
Vano justru berdiri sambil bertepuk tangan pelan. “Aku tidak menyangka kamu benar benar bisa kembali ke posisi ini,” katanya dengan senyum tipis.
“Kalau tidak ada yang penting, pergi,” sahut Kevin singkat.
“Ayolah, Vin,” ujar Vano sambil memasukkan tangan ke saku celananya. “Jangan kaku begitu. Kamu sudah kembali ke kursi itu, artinya pengaruhmu masih kuat. Kamu pasti bisa bantu aku bangkit lagi. Kita bisa jadi partner yang saling menguntungkan.”
Kevin akhirnya menatapnya lurus. “Kamu pikir aku akan masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya?”
“Tentu tidak,” jawab Vano cepat. “Aku tahu betul bagaimana perjuanganmu untuk bisa duduk di sana lagi.” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum miring. “Kamu bahkan sampai harus menikahi wanita tua itu, kan?”
Sudut bibir Kevin terangkat tipis, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Aku kira setelah empat tahun tidak bertemu kamu jadi lebih pintar,” ucapnya tenang. “Ternyata masih sama saja.”
“Apa maksudmu?” tanya Vano dengan nada tertahan.
Kevin menatapnya tanpa berkedip. “Sederhana saja. Orang yang culas dan berpikiran sempit akan tetap melihat dunia sebatas ujung kukunya.”
Kalimat itu jatuh tenang, tetapi cukup untuk membuat rahang Vano mengeras. Tangannya mengepal sebelum akhirnya ia meninju meja Kevin dengan keras. Suara benturan itu menggema di ruangan, sementara matanya melotot tajam penuh amarah.
Namun Kevin sama sekali tidak terpancing. Ia justru berjalan memutari meja, lalu duduk santai di kursinya sambil menyilangkan tangan. Tatapannya balas mengunci Vano, dingin dan penuh kendali.
“Apa yang membuatmu begitu bangga, Vin?” sindir Vano dengan napas masih berat. “Kamu saja tidak bisa menaklukkan satu wanita.”
Ia tersenyum miring, jelas berniat memancing emosi. “Kamu tahu beberapa hari lalu aku dan dia sempat beradu argumen. Lucu sekali, karena setelah itu suasananya berubah. Bibirnya lembut, aromanya juga wangi. Empat tahun menikah, apa kamu pernah benar benar merasakannya?”
Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang bergerak di mata Kevin. Bukan ledakan amarah, melainkan kilatan yang sulit ditebak. Rasa kesal itu tipis, hampir tak terlihat, entah karena selama bertahun tahun ia tidak pernah mendapatkan kedekatan yang sewajarnya sebagai suami, atau karena harga dirinya sedang disentuh dengan cara yang paling rendah oleh seseorang yang dulu ia anggap teman.
Namun ekspresinya tetap tenang.
“Kamu marah?” lanjut Vano, semakin percaya diri karena mengira ucapannya berhasil. “Aku tahu kamu masih menyimpan dia di hatimu. Percuma saja kamu kembali jadi Kevin Haris yang sekarang. Di mata Iren, kamu tetap Kevin menantu pecundang. Dia tidak akan pernah melirikmu.”
Kevin menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.
“Kamu benar soal satu hal,” katanya dengan suara rendah namun jelas. “Aku memang tidak butuh wanita yang tidak tahu batas dan tidak punya moral.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap Vano tepat di mata.
“Kalau dia memang memilihmu, berarti kalian memang cocok. Jadi silakan saja. Aku bahkan bisa merestui kalian.”
Nada suaranya tidak meninggi, tidak juga terdengar tersinggung. Justru ketenangan itu yang membuat dada Vano terasa semakin sesak, seolah semua provokasinya tidak pernah benar-benar menyentuh Kevin.
“Kau…” nada suara Vano sempat meninggi, tetapi dalam hitungan detik ia menahannya kembali. Ia datang bukan untuk berkelahi dengan Kevin. Ia anggap amarah barusan hanyalah pancingan yang gagal.
Ia menarik napas lalu merapikan ekspresinya. “Sudahlah. Anggap saja tadi cuma urusan wanita.” Ia berdeham pelan sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih serius. “Kita kembali ke topik utama saja, Vin. Setelah kamu resmi bercerai dengan Iren, saham yang dulu sempat aku alihkan itu sekarang ada di tanganmu atau tetap di dia? Aku butuh kepastian. Aku perlu itu untuk kembali ke keluargaku.”
Kevin tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, jemarinya bertaut santai di atas meja, seolah pertanyaan itu tidak lebih penting dari laporan harian yang belum ia baca.
“Jadi ini tujuanmu datang ke sini?” tanyanya akhirnya.
Vano menatapnya lurus. “Aku tidak punya waktu untuk basa basi.”
Kevin tersenyum tipis. “Lucu sekali. Dulu kamu begitu yakin melepas semuanya, sekarang kamu datang mencarinya lagi.”
“Itu hakku,” balas Vano cepat. “Tanpa saham itu, aku tidak punya posisi apa pun di keluarga. Kamu tahu sendiri bagaimana mereka.”
“Tahu,” jawab Kevin tenang. “Dan justru karena aku tahu, aku heran kamu masih berpikir bisa kembali hanya dengan selembar kertas kepemilikan.”
Rahang Vano kembali menegang. “Jawab saja pertanyaanku.”
Kevin menatapnya beberapa detik, lalu berkata dengan nada datar, “Saham itu tidak pernah benar benar hilang. Secara hukum masih terikat pada perjanjian awal. Selama proses perceraian belum selesai, statusnya tetap menggantung.”
“Maksudmu sekarang di tangan Iren?” tanya Vano tajam.
“Aku tidak bilang begitu,” sahut Kevin. “Tapi satu hal yang pasti, kamu tidak akan mendapatkannya semudah itu.”
Ruangan mendadak terasa lebih pengap. Vano menatap Kevin, mencoba membaca celah di wajah pria itu, namun yang ia temukan hanya ketenangan yang sulit ditembus.
“Apa maumu sebenarnya?”