NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20: mencari kekuatan sejati

Hutan perbatasan itu terasa sangat sunyi, hanya ada suara ranting kering yang patah setiap kali kaki Rubellite melangkah dengan berat. Raze berjalan tepat di sampingnya, satu tangannya selalu siaga di hulu pedang. Matanya yang tajam menyisir kegelapan, bukan karena takut pada pengejar, tapi karena hutan ini terkenal dengan binatang buas dan monster yang sering muncul saat malam.

"Nona," panggil Raze pelan, suaranya dalam. "Sudah bertahun-tahun saya menjalankan misi di perbatasan Utara. Selama itu, saya hanya menerima kabar kalau Anda baik-baik saja di bawah perlindungan Panglima Valerius dan Yang Mulia Kaisar. Tapi hari ini... semuanya tidak masuk akal."

Rubellite menghela napas panjang, menatap lurus ke depan dengan tatapan dingin. "Dunia yang kau tinggalkan dulu sudah tidak ada, Raze. Semuanya berubah sejak setahun lalu."

"Siapa sebenarnya Shiera itu, Nona?" tanya Raze lagi, rahangnya mengeras. "Kenapa semua orang di istana menatapnya seolah dia adalah dewi yang suci, sementara Anda... bahkan ayah Anda sendiri membiarkan Anda membusuk di penjara?"

Rubellite berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang pendek. "Dia muncul tiba-tiba. Dia terlihat lembut dan lemah, tapi dia membawa 'kabut'. Dia memanipulasi ingatan semua orang, Raze. Ayahku, kaisarmu, bahkan Valerius... semuanya merasa Shiera adalah segalanya bagi mereka."

Raze mengerutkan kening, wajahnya tampak sangat bingung sekaligus geram sebagai seorang pengawal. "Maksud Anda, mereka dikendalikan? Kaisar—pria yang paling menyayangi Anda—bisa membuang putri kandungnya sendiri hanya karena pengaruh sihir?"

"Iya," jawab Rubellite datar. "Di mata Ayah sekarang, akulah yang mencoba meracuni Shiera di altar suci klan Valtia. Mereka tidak hanya membenciku, mereka merasa jijik padaku."

Anna, yang sejak tadi memegang lengan Rubellite agar tetap seimbang, mulai terisak. "Tuan Raze, tidak ada yang percaya pada Nona. Shiera menjatuhkan dirinya sendiri, lalu dia menunjuk Nona Rubellite sebagai pelakunya. Kaisar... beliau bahkan tidak mau mendengar satu patah kata pun pembelaan dari Nona."

Raze mengepalkan tangannya hingga sarung tangan besinya berderit nyaring. "Sialan! Jadi selama bertahun-tahun saya bertaruh nyawa di perbatasan hanya untuk pulang ke kerajaan yang dipimpin oleh Kaisar yang sudah menjadi boneka sihir?"

"Dunia ini sudah menjadi palsu, Raze," bisik Rubellite, matanya mulai berpendar emas tipis tanpa ia sadari. "Dan aku butuh pedangmu untuk menghancurkan kepalsuan itu."

Tiba-tiba, dari semak-semak yang gelap, terdengar suara geraman rendah yang semakin jelas. Sepasang mata merah menyala muncul, mengincar Rubellite dari balik kegelapan malam. Tanpa perlu perintah, Raze langsung bergerak pasang badan.

Sring!

Pedang panjangnya tercabut dengan suara berdenging yang tajam. Dalam satu gerakan kilat, Raze menerjang ke depan. Ia bukan lagi ksatria yang lelah, ia kembali menjadi pengawal pribadi yang mematikan. Satu tebasan horizontal membelah udara, disusul hantaman zirah bahunya yang membuat serigala monster itu terpental menghantam pohon. Raze melompat, menghujamkan pedangnya tepat ke jantung makhluk itu hingga monster itu kaku tak bernyawa.

Setelah pertarungan singkat namun brutal itu, Raze menyarungkan pedangnya dengan satu sentakan cepat. Bangkai serigala hutan itu tergeletak tak bernyawa, namun ada kabut hitam tipis yang menguap dari luka-lukanya—pemandangan yang membuat Raze mengernyit.

"Hutan ini sudah tidak sehat, Nona," gumam Raze sambil kembali ke posisi di samping Rubellite.

Mereka terus berjalan menembus sisa kegelapan hingga cahaya obor yang temaram mulai terlihat di balik bukit. Itu adalah Desa Nelayan Sunyi, sebuah pemukiman kecil yang sangat terpencil hingga peta kerajaan pun jarang mencatatnya.

Setelah melewati jalanan desa yang becek dan bau garam, Raze menemukan sebuah penginapan tua berdinding kayu lapuk. Ia membayar pemilik penginapan dengan satu koin perak terakhirnya untuk sebuah kamar di lantai atas yang paling sudut.

Di dalam kamar penginapan...

Suasana sangat hening. Anna sibuk membasuh kaki Rubellite yang penuh luka dan debu dengan air hangat yang tersisa. Sementara itu, Raze berdiri tegak di depan pintu yang terkunci, menjalankan tugasnya sebagai pengawal meski tubuhnya sendiri sudah sangat lelah.

"Duduklah, Raze," ucap Rubellite pelan. "Kau bukan lagi di barak ksatria. Istirahatlah."

Raze ragu sejenak, namun akhirnya ia duduk di kursi kayu yang berderit. Matanya menatap Rubellite yang kini tampak lebih tenang, meski ada gurat kelelahan yang luar biasa di wajahnya.

"Nona," panggil Raze, suaranya kini lebih rendah. "Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran saya sejak kita di hutan tadi. Anda... Anda sempat bicara sendiri. Dan mata Anda... ada kilatan emas yang tidak pernah saya lihat sebelumnya."

Rubellite terdiam sejenak. Ia melirik bayangannya di cermin tua yang buram. Di dalam kepalanya, Helios tertawa rendah. “Ksatria ini sangat peka. Ceritakan saja sebagian, atau dia akan mengira kau benar-benar sudah gila karena siksaan penjara.”

"Raze," Rubellite menatap pengawalnya itu dengan serius. "Ingatkah kau tentang legenda Helios, naga matahari yang katanya tersegel di bawah fondasi kerajaan kita?"

Raze mengangguk perlahan. "Dongeng pengantar tidur untuk anak-anak bangsawan. Tapi itu hanya legenda, Nona."

"Bukan legenda, Raze. Dia nyata. Dan dia adalah satu-satunya yang bicara padaku saat aku hampir mati kedinginan di penjara bawah tanah itu," bisik Rubellite. "Dia yang membantuku bertahan hidup. Dia yang menunjukkan kalau dunia ini sudah dikuasai kabut hitam milik Shiera."

Raze terpaku. Sebagai seorang pria yang mengandalkan logika pedang, ia sulit mempercayai hal mistis seperti itu. Namun, ia melihat sendiri bagaimana Rubellite berjalan menembus hutan malam ini tanpa rasa takut sedikit pun.

"Jadi... Anda punya kontrak dengan entitas itu?" tanya Raze, tangannya tanpa sadar mencengkeram hulu pedang. "Apakah dia berbahaya bagi Anda?"

"Dia berbahaya bagi musuh-musuhku, Raze. Bagiku... dia adalah harapan terakhir untuk membuat Ayah dan Valerius sadar betapa hinanya perlakuan mereka," Rubellite mengepalkan tangannya. "Besok, kita tidak akan lari selamanya. Kita akan mencari sisa-sisa roh Helios yang tersegel di luar wilayah ini."

Raze menatap Nona-nya lama, lalu ia menundukkan kepala. "Jika itu keinginan Anda, maka itu adalah misi saya. Saya tidak peduli naga atau dewa apa yang ada di kepala Anda, selama dia membantu Anda mendapatkan kembali keadilan Anda."

Anna yang mendengarkan percakapan itu hanya bisa memeluk kaki Rubellite sambil menangis dalam diam. Malam itu, di bawah atap penginapan yang bocor, sumpah baru telah tercipta.

Cahaya matahari pagi mulai masuk menembus celah-celah kayu penginapan yang lapuk, membawa aroma amis laut dan udara dingin yang menusuk tulang. Rubellite terbangun dengan tubuh yang masih terasa kaku, namun matanya langsung terbuka lebar saat merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.

Raze sudah berdiri tegak di sudut kamar sejak sebelum fajar pecah. Pengawal itu sudah mengenakan zirahnya kembali, pedangnya tersampir rapi di pinggang, dan tatapannya waspada ke arah pintu.

"Anda sudah bangun, Nona?" suara Raze rendah, namun penuh perhatian. "Anna sedang di bawah, menyiapkan sedikit bekal untuk perjalanan kita hari ini."

Rubellite bangkit dari tempat tidur yang keras. Luka di kakinya sudah dibalut rapi oleh Anna semalam, meski rasa perihnya masih tertinggal. Di dalam kepalanya, suara Helios kembali bergetar, kali ini lebih berwibawa.

“Jangan terlalu lama membuang waktu, Kecil. Aku bisa merasakan getaran jiwaku di arah Barat Laut, di balik tebing karang yang menjorok ke laut. Ada segel kuno yang mulai melemah di sana.”

"Kita berangkat sekarang, Raze," ucap Rubellite sambil merapikan jubah hitamnya. "Helios sudah menunjukkan arahnya. Kita menuju tebing karang di Barat Laut."

Raze mengangguk tegas, tidak mempertanyakan dari mana Rubellite tahu arahnya. Sebagai pengawal, tugasnya hanya satu: memastikan jalan yang dilalui Nona-nya aman.

Saat mereka melangkah keluar dari penginapan, suasana desa masih sepi. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat kerumunan kecil di papan pengumuman desa. Bukan poster buronan biasa, melainkan berita fitnah yang baru saja tiba dari ibu kota.

"Putri Rubellite Valtia dinyatakan sebagai identitas palsu yang telah mencuri garis keturunan suci. Ia adalah pembawa kutukan yang mencoba mencelakai Nona Shiera—sang cahaya klan yang asli."

Warga desa mulai berbisik-bisik ketakutan. Mereka menatap curiga ke arah orang asing yang baru keluar dari penginapan. "Jadi itu alasan kenapa laut kita akhir-akhir ini mengamuk? Karena ada putri palsu yang membawa sial?"

"Nona, tetap di belakang saya," bisik Raze, tangannya secara refleks bergerak ke hulu pedang. Ia menatap tajam warga desa itu, membuat mereka langsung mundur ketakutan.

"Identitas Anda benar-benar dihapus, Nona," bisik Raze geram. "Mereka menyebut Anda Putri Palsu agar tidak ada satu pun orang yang berani menolong kita."

"Aku tidak peduli lagi dengan nama itu, Raze," jawab Rubellite dingin sambil terus melangkah menuju batas desa. "Biarkan mereka mencari 'Putri Palsu'. Karena yang akan mereka temukan nanti adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan."

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!