NovelToon NovelToon
DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lorenzo Leonhart

✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, Jum'at, pukul 19.00 wib, dan Minggu Pukul 07.00 wib.


Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.

Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.

Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.

dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sayap Besi dan Wabah yang Tak Dikenal

Hari ke-5 Pasca Peluncuran Regulus.

Lokasi: Benteng Vargos, Sektor Manufaktur.

Langit di atas Vargos tidak lagi sunyi. Suara kepakan sayap ribuan Harpy kini menjadi musik latar baru bagi benteng yang dulunya hanya dihuni makhluk darat itu. Integrasi ras Harpy Sayap Perak berjalan cepat berkat sistem manajemen Ren yang tak kenal ampun namun adil.

Di pelataran bengkel terbuka Sektor Utara, hawa panas dari tungku peleburan raksasa bercampur dengan angin dingin pegunungan. Di sinilah jantung industri militer Vargos berdetak, dipimpin oleh dua kepala divisi yang sangat bertolak belakang namun saling melengkapi.

"HEI! TURUN DARI SANA!" Gorn mengayunkan palu godam raksasanya ke udara, mengusir sekelompok Harpy muda. Otot-otot lengannya yang sebesar batang pohon menegang saat ia mengangkat rangka meriam artileri seberat satu ton sendirian. "Itu laras meriam yang baru saja kubengkokkan dengan tanganku sendiri, Burung Bodoh! Jangan jadikan tempat bertengger!"

Para Harpy muda itu mencicit kaget dan terbang berhamburan. Bagi mereka, suhu logam yang masih memancarkan panas adalah tempat yang nyaman.

Di meja kerja seberangnya, Thrumm sang Dwarf tidak sedikit pun terganggu oleh teriakan Gorn. Ia sedang duduk dengan kacamata pembesar bersarang di matanya, menggunakan pinset kecil untuk menyusun roda gigi seukuran semut dan menyambungkannya ke sirkuit kristal miasma.

"Jangan buang tenagamu untuk berteriak, Gorn," kekeh Thrumm tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya. "Fokus saja menempa pelat baja itu. Biarkan otot besarmu yang menciptakan fondasinya, sementara ketelitianku yang memberikannya 'nyawa'."

Ratu Syra mendarat dengan anggun di antara meja Gorn dan Thrumm. Penampilannya telah berubah drastis. Tubuh Syra kini dibalut oleh Exoskeleton ringan berwarna hitam matte, sebuah mahakarya kolaborasi keduanya.

Rangka utamanya yang kokoh dan tahan banting ditempa oleh tenaga mentah Gorn, sementara sirkuit rumit yang mengalirkan mana secara konstan dirakit secara presisi oleh jemari ahli Thrumm.

Syra mengangkat lengannya, memeriksa cakar mekanis baru yang terpasang di sarung tangannya. Bilah-bilah logam itu berkilau tajam, dialiri energi listrik statis.

"Luar biasa," ucap Syra tajam, dengan nada hormat yang ditujukan pada kedua pekerja itu. Ia menyabetkan tangannya ke arah bongkahan batu granit sisa bengkel. SRET! Batu itu terpotong rapi seperti mentega. "Beratnya terasa pas. Gorn, tempaanmu memberikan stabilitas, dan Thrumm, kalibrasi mekanikmu membuat cakar ini merespons sarafku seketika. Dengan ini, Sky Raiders kami bisa merobek lambung kapal udara musuh semudah membuka kulit jeruk."

Ren Akasa berjalan mendekat dari arah menara komando. Langkahnya tenang, namun setiap pekerja di bengkel itu baik Lizardman, Dwarf, maupun Harpy segera menghentikan pekerjaan mereka dan menunduk hormat.

"Itu tujuannya, Syra," ucap Ren datar. "Pasukanmu tidak lagi hanya pelempar tombak. Kecepatan dan daya hancur presisi adalah doktrin baru kalian."

Syra segera berlutut dengan satu kaki. "Sovereign. Unit pertama Sky Raider siap untuk instruksi tempur. Apakah kita akan menyerang ibu kota manusia hari ini?"

Ren menggeleng pelan, matanya menatap peta hologram di tengah ruangan. "Belum. Menyerang Arthemis yang sedang siaga satu sekarang hanya akan membuang nyawa pasukanmu. Tugas kalian saat ini adalah intelijen."

Ren menunjuk ke arah peta di sekitar Hutan Blackwood. "Aku butuh peta topografi detail radius 500 kilometer besok pagi. Dan, aku butuh kalian menyebarkan 'mata' di setiap desa perbatasan."

Silas muncul dari bayangan pilar, membawa sangkar berisi puluhan kelelawar kecil. Mata hewan itu telah diganti dengan lensa kristal merah buatan Thrumm.

"Lepaskan mereka di malam hari," jelas Silas dengan senyum tipis. "Mereka terhubung ke Jaringan Saraf Menara. Apa yang mereka lihat, Tuan Leon bisa melihatnya."

Tiba-tiba, dari bayangan Ren sendiri, Kagehisa muncul. Ia berlutut, mata merah menyalanya yang biasanya datar tanpa emosi kini tampak terganggu.

"Tuanku," lapor Kagehisa mendesak.

"Ada anomali."

"Jelaskan."

"Unit bayangan hamba di perbatasan Desa Riveru menemukan fenomena tidak wajar. Desa itu... sunyi, namun penduduknya masih di sana. Mereka tidak hidup, tapi juga tidak mati seperti mayat hidup ciptaan Silas. Tubuh mereka bermutasi. Energinya sangat kacau dan lapar."

Ren terdiam. Sistem di matanya berkedip cepat.

[Analisis: Pola energi memiliki kemiripan 70% dengan 'Abyssal Corruption' bercampur 30% 'Twisted Divine Residue'.]

"Kacau dan Suci secara bersamaan?" gumam Ren, firasat buruk menjalar di tengkuknya. "Kagehisa, kirim Mika untuk menyelidiki secara visual. Perintahkan dia untuk tidak terlibat kontak fisik. Jika ada sesuatu yang bisa mengubah struktur biologis secepat itu, aku ingin tahu apa itu sebelum menyebar ke wilayah kita."

Lokasi: Katedral Agung Arthemis, Ibu Kota Solaria.

Sementara Vargos sibuk memperkuat diri, kepanikan melanda jantung kekuasaan manusia.

Di dalam ruang rapat rahasia, Paus Richard duduk dengan wajah pucat. Di hadapannya, Kardinal Uriel sedang memutar Memory Crystal yang berlumuran darah kering, sisa dari regu Paladin elit 'Dawn Seekers'.

Kristal itu memproyeksikan gambar holografik yang kabur. Terdengar teriakan ngeri. Bayangan hitam dengan cakar raksasa melintas. Darah terhisap ke udara, disusul tawa gila yang tak asing. Proyeksi mati mendadak dengan suara tulang diremukkan.

Hening.

"Lima Paladin Elit..." suara Paus Richard bergetar menahan amarah. "Lenyap dalam dua menit. Dan makhluk itu memakan energi suci mereka? Penistaan macam apa ini?"

"Itu pasti monster baru ciptaan Raja Iblis Vargos," simpul Kardinal Uriel, keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Raja Iblis Leon pasti telah bereksperimen pada mayat pahlawan terdahulu!"

Paus Richard memukul meja marmer. "Dia sudah keterlaluan! Pertama senjata guntur raksasa, lalu mencuri Harpy, dan sekarang menciptakan Devourer?!"

Seorang pendeta muda menerobos masuk, napasnya memburu. "Yang Mulia! Laporan darurat dari Desa Oakhaven dan Riveru! Kedua desa hilang kontak sejak semalam. Pedagang melaporkan melihat penduduk saling memakan di jalanan!"

"Wabah mayat hidup," desis Uriel ngeri. "Vargos mulai menyebarkan penyakitnya."

Paus Richard berdiri, aura sucinya meledak menerangi ruangan. "Kita tidak bisa menunggu Pahlawan Kenji kembali. Kita bahkan tidak tahu nasibnya. Aktifkan Project Seraphim."

Mata Uriel terbelalak. "Project Seraphim belum stabil! Menggunakan 'Batu Malaikat' pada inang manusia berisiko kematian 95%! Itu bisa membunuh Putri Elara!"

"Aku tidak peduli!" raung Paus. "Kita butuh kekuatan penyeimbang. Jika Pahlawan gagal, kita akan menciptakan Malaikat Perang dari darah bangsawan kita sendiri."

Mereka tidak sadar, ironi terbesar sedang terjadi. Monster di rekaman itu bukanlah ciptaan Ren. Itu adalah Pahlawan mereka sendiri.

Lokasi: Desa Riveru (Kini Zona Merah).

Malam telah jatuh. Desa Riveru kini tampak seperti lukisan neraka. Asap hitam membumbung dari lumbung yang terbakar, membawa bau daging gosong dan anyir darah.

Di tengah alun-alun, Kenji Sato duduk di atas tumpukan mayat. Ia sedang mengunyah sepotong lengan kepala desa. Bunyi tulang diremukkan terdengar nyaring di keheningan malam.

"Kurang..." gumam Kenji. Separuh wajahnya tertutup kerak hitam yang berdenyut, dengan mata kuning reptil yang liar.

Di sekelilingnya, lusinan "warga desa" berdiri mematung. Mata mereka hitam pekat tanpa pupil, kulit abu-abu membusuk, dan dari punggung mereka mencuat tulang-tulang berduri. Mereka meneteskan liur hitam yang korosif.

Mereka adalah Chaos Thralls. Tidak patuh dan rapi seperti Undead milik Ren, makhluk ini bergerak menyentak-nyentak, didorong oleh satu insting primitif dari induk semang mereka: Rasa lapar.

Kenji menatap layar statusnya yang berwarna merah darah.

[Level: 45]

[Race: Chaos Hybrid (Unique)]

[Skill: Hive Mind (Low) - Aktif.]

[Army Size: 128 Units.]

"Leon punya pasukan disiplin dan strategi..." Kenji bergumam pada entitas yang kini berbagi pikiran dengannya. "Tapi aku... aku tidak butuh strategi. Aku punya penularan."

Kenji berdiri. Seratus dua puluh delapan Chaos Thralls ikut menegakkan tubuh serentak. Energi hitam bercampur emas kotor memancar dari tubuh Kenji, membuat monster-monster itu mendesis kegirangan.

"Sistem," panggil Kenji, suaranya terdistorsi parah.

[????????]

"Di mana kota terdekat dengan populasi di atas sepuluh ribu jiwa?"

[Analisis: Kota Dagang 'Gold Harbour'. Jarak: 40 Kilometer ke Timur.]

Kenji menyeringai lebar hingga kulit pipinya robek. "Bagus. Kita butuh lebih banyak bahan baku untuk berevolusi. Kita akan buat pesta penyambutan untuk Leon."

Kenji berjalan keluar dari desa, diikuti gelombang pasukannya. Mereka tidak butuh istirahat. Mereka hanya butuh daging segar untuk menggandakan jumlah.

Lokasi: Menara Regulus, Ruang Strategi.

Dua jam kemudian.

Ren sedang meninjau peta digital ketika Mika melompat masuk lewat jendela. Jarang Mika terlihat berkeringat, tapi kali ini napasnya terengah dan wajahnya pucat pasi.

"Tuan," lapor Mika, menghilangkan nada main-mainnya. "Mataku tidak pernah bohong. Aku merekam ini dari jarak aman. Lihat sendiri."

Mika meletakkan Recording Orb di atas meja. Hologram 3D muncul, memperlihatkan Desa Riveru dari kejauhan. Lensa diperbesar, menampilkan Kenji berdiri di atas mayat, dikelilingi warga desa yang telah bermutasi.

Mata Ren menyipit tajam. Hawa dingin menyebar di ruangan. "Kenji Sato? Dia masih hidup?"

"Lebih buruk," koreksi Mika jijik. "Dia bermutasi. Monster yang dia ciptakan menyerang hewan ternak, dan hewan itu berubah dalam hitungan menit. Tuan, ini Biohazard (Bahaya Biologis)."

Silas tersenyum sadis, merasa tertarik, "Itu wabah patogen yang hidup."

"Jika dia menuju kota manusia..." Ren menganalisis skenario terburuk dengan cepat, "Arthemis akan mengira itu serangan biologis dari kita. Mereka akan mengerahkan Paladin untuk menyerang Vargos, sementara Kenji memakan mereka dari belakang sampai habis."

"Tepat," sahut Mika. "Jika Kenji memakan cukup banyak manusia, dia bisa berevolusi menjadi sesuatu yang bahkan Railgun pun tak bisa bunuh karena regenerasinya."

Ren mematikan hologram dengan kasar. Wajahnya sangat serius. Rencana awalnya adalah perang konvensional yang elegan melawan Arthemis. Tapi sekarang, variabel liar telah masuk. Kenji bukan lagi rival. Dia adalah virus. Kanker yang harus diangkat sebelum membunuh dunia yang ingin dikuasai Ren.

"Ubah rencana," perintah Ren dingin. "Kita tak bisa membiarkan virus ini menyebar ke Gold Harbour. Ini bukan lagi penaklukan. Ini Pest Control (Pengendalian Hama)."

Ren menekan komunikator di telinganya, menyambung langsung ke bengkel bawah.

"Gorn! Aku butuh tenaga besarmu. Cetak dan rakit ratusan selongsong tong raksasa secepat mungkin. Thrumm! Siapkan ramuan Napalm Miasma dan pasang sistem pemicu presisimu di tong buatan Gorn. Jangan sampai meledak saat masih di cakar Harpy. Apa pun yang disentuh Kenji harus dibakar jadi abu."

"Kita akan menyelamatkan manusia?" tanya Behemoth bingung dari sudut ruangan.

"Tidak," jawab Ren seraya memasang sarung tangan tempurnya. "Kita berburu mantan Pahlawan sebelum dia merusak 'kebun' yang ingin kukuasai. Arthemis boleh membenciku, tapi malam ini mereka akan berutang nyawa padaku."

Ren menatap ke timur lewat jendela menara. "Mika, kirim pesan anonim ke Arthemis. Beritahu mereka untuk mengunci gerbang Kota Gold Harbour dan siapkan minyak panas. Aku ragu ego mereka mau mendengar saran dari 'iblis', tapi kita sudah memperingatkan."

Malam itu, mesin perang Vargos meraung lebih keras. Bukan untuk invasi, tapi karantina biologis. Perang tiga sisi antara Teknologi Vargos, Fanatisme Arthemis, dan Wabah Chaos Kenji segera meletus.

Bersambung.

1
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kykny....si mantan pahlawan idiot itu
Frando Wijaya
mah....spapun pasti sulit bertahan....apalg....lbh sulitny...tahan emosi
Frando Wijaya
gantz? gw merasa sedikit familiar
Frando Wijaya
trauma ya?...yah..gk heran sih...tpi utk anakny....gw gk Tau msh hidup atau dh mati
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
nee Thor...gw ingin Tanya...raja iblis ke 1 sampe 8.... apakh...dewi yg nonton itu...dh Tau?
Frando Wijaya
hmph 🙄...idiot asli
Frando Wijaya
hmph 🙄....dh mirip seperti raja iblis sebelomny
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya ✨❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan, biar aku makin semangat ✨
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Lorenzo Leonhart: siaap💪
total 1 replies
Frando Wijaya
jd begitu....alasan jd kejam gara2 mahkota itu ya? bner2 berbahaya
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩...sgt seru Thor
Frando Wijaya
itulh gw anggap mereka gagal
Frando Wijaya
sesuai dugaan saintess....bch tengkik ini penghancur
Frando Wijaya
di anggap NPC bneran wkwkwkwkwkwkwk 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!