Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Kediaman keluarga Brawijaya tampak begitu ramai,terlihat tuan rumah sibuk memberikan instruksi ke para pelayan . Mama Retno yang sedari pagi sibuk mengurus menu hidangan untuk tamunya terlihat puas dengan hasil kerja para pelayan.
" Nyonya, untuk dessert nya semua sudah di hidangkan sesuai permintaan nyonya." Ujar kepala pelayan.
Mama Retno menghela napas lega lalu tersenyum puas. "Baik sekali, terima kasih banyak atas kerja keras kalian semua. Sekarang periksa kembali area meja tamu, pastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi ya. Jangan sampai ada yang kurang apa-apa saat acara masih berlangsung."
Malam ini adalah perayaan ulang tahun tuan Brawijaya yang ke lima puluh tahun,di usia nya yang sudah tak muda lagi pria paruh baya itu masih terlihat awet muda dan gagah.
Kepala pelayan mengangguk pelan "Tentu nyonya, saya akan segera memeriksa semuanya bersama tim." Setelah itu dia pun bergegas pergi untuk menyampaikan instruksi kepada rekan-rekannya. Di kejauhan, tuan Bramawijaya juga baru saja selesai memberikan arahan dan mulai menyapa para tamu yang datang satu per satu. Suasana kediaman semakin meriah dengan kedatangan lebih banyak tamu yang membawa ucapan selamat dan hadiah.
Setelah kepala pelayan pergi, Mama Retno melihat ke arah ruang tamu yang sudah penuh sesak. Tuan Brawijaya sedang asik berbincang dengan beberapa tamu penting, wajahnya penuh senyum saat membicarakan rencana kerja sama yang mungkin akan terjalin.
" Tuan ,ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan dan Nyonya ," ujar salah satu pelayan muda yang datang dengan sedikit tergesa-gesa.
Tuan Brawijaya menyela pembicaraannya sebentar dan menoleh ke arah pelayan. "Siapa itu?" tanyanya dengan nada ramah.
" Kalau tidak salah seperti nya keluarga dari tuan Wijaya, tuan." jawab pelayan tersebut sambil menunjuk ke arah pintu belakang ruang tamu.
Sejenak tuan Brawijaya tersentak kaget,karena nama itu begitu sangat familiar di telinga . " "Wijaya.? Lirih tuan Brawijaya dengan suara sedikit gemetar karena kegembiraan. Mama Retno pun langsung mendekat, matanya berbinar harap. Mereka sudah mengetahui siapa yang datang ke acara mereka malam ini. Seorang teman lama yang sudah sangat lama tidak bertemu.
Tanpa berlama-lama, Tuan Brawijaya menyampaikan maaf singkat kepada tamu bisnisnya dan segera berjalan ke arah pintu belakang, diikuti erat oleh Mama Retno yang sudah tidak sabar. Saat pintu terbuka, seorang pemuda tampan dengan jas hitam yang rapi berdiri bersama seorang wanita dan pria paruh baya yang masih terlihat sangat muda di usianya yang sudah tak muda lagi mengenakan gaun putih muda yang elegan.
"Bram.." teriak Wijaya sambil berlari cepat untuk memeluk sahabat lamanya itu. Tangan Tuan Brawijaya yang tadinya ingin mengulurkan tangan langsung berubah jadi pelukan erat, matanya sedikit kemerahan karena emosi. Mama Retno dan mama Delia pun melakukan hal yang sama membuat pria muda yang tak lain adalah Rain terlihat kebingungan.
"Delia! Sudah berapa lama kita tidak bertemu!" ujar Mama Retno sambil erat memeluk wanita yang berdiri di samping pria paruh baya itu. Kedua wanita itu saling menangis bahagia, seolah semua waktu yang terlewat hanya seperti semalam saja.
Sementara itu, Tuan Brawijaya masih belum bisa melepaskan pelukannya dari Wijaya. "Kawan lama... aku sudah merindukanmu begitu lama. Kenapa kamu tidak memberi tahu kalau kamu akan datang ke sini?" tanya Tuan Brawijaya dengan suara yang masih sedikit bergemuruh.
Wijaya tersenyum hangat sambil mengusap punggung sahabatnya. "Maafkan aku Bram, aku ingin memberikan kejutan untuk ulang tahunmu yang spesial ini. Sudah lima puluh tahun kan? Kamu masih tetap gagah seperti dulu!"
Rain yang melihat kedua orang tua mereka begitu akrab akhirnya mendekat dengan hati-hati. "Tuan Bram, Bu Retno... perkenalkan, saya Rain, anak dari Wijaya dan Delia," ujarnya dengan sopan sambil membungkuk rendah. Wanita yang berdiri di sisinya juga segera mengikuti langkahnya.
"Wah, kamu sudah tumbuh besar , Rain! om masih ingat waktu kamu kecil dulu sering berantem sama putri kita di halaman rumah," ujarnya sambil tertawa hangat.
Delia pun menambahkan, "Kita memang sudah terlalu lama tidak bertemu ya Bram, Retno. Setelah aku dan Wijaya pindah ke Dubai dulu, jalan hidup kita memang sedikit terpisah. Tapi kami selalu mengingat kalian berdua dan kenangan indah kita bersama."
Saat itu, suara musik yang sedang berlangsung tiba-tiba berhenti sebentar. Seorang pelayan muncul dan mengumumkan bahwa saatnya sudah tiba untuk memotong kue ulang tahun. Tuan Brawijaya dengan senang hati mengajak Wijaya dan keluarganya untuk berdiri bersama di depan kue yang besar dan indah.
Tepat di saat seorang pria tampan dan wanita cantik dengan gaun berwarna merah ,dan makeup yang sangat natural namun terlihat begitu menawan,di sampingnya berdiri seorang pria tampan dengan di balut tuxedo berwarna hitam elegan. Mereka adalah Aisyah dan Firdaus.
Sepasang mata sedari tadi memandangi mereka .
"Saudara-saudara sekalian! Izinkan aku memperkenalkan teman terbaikku yang sudah sangat lama tidak bertemu , Wijaya dan keluarganya!" teriak Tuan Brawijaya sehingga semua tamu memperhatikan mereka. "Kita berteman sejak masa muda dan pernah merencanakan banyak hal bersama.
Semua tamu langsung bersorak riuh dan memberikan tepukan tangan yang meriah.
Pesta semakin meriah ,semua tamu berbaur dalam kebahagiaan. Rain melihat Aisyah duduk di salah satu bangku taman yang menghadap kolam kecil dengan ikan koi yang berenang tenang. Gadis itu mengenakan gaun panjang berwarna merah muda kontras dengan kulitnya yang putih bersih seperti susu, rambutnya yang hitam lebat diikat dengan ikat kepala berbunga. Ia sedang melihat ke arah kolam dengan wajah yang tenang namun tampak pikirannya berada di tempat lain.
Rain berjalan dengan langkah yang pelan, tidak ingin mengganggunya . Saat sudah cukup dekat, dia berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Aisyah?" panggilnya dengan suara yang lembut.
Aisyah sedikit terkejut dan menoleh ke belakang. Wajahnya menunjukkan ekspresi bingung sejenak sebelum dia mengenali Rain. "Pak Rain? Anda ada di sini?" tanyanya dengan suara yang lemah.
Pertemuan ketiga mereka yang selalu tanpa di rencanakan,entah kebetulan atau memang jalan nya sudah seperti itu.
Rain mendekat dan berdiri di depan nya, kemudian duduk di sisi lain bangku itu dengan jarak yang cukup agar tidak membuatnya merasa tidak nyaman. "Maaf jika saya mengganggu. Ternyata kamu putri om Bram." Ujar Rain lembut,ia merasa begitu lucu dengan jalan hidupnya. Wanita asing yang ia kagumi dan ia letakkan di dasar hatinya ternyata bukanlah orang asing . Mereka pernah dekat saat masih kecil dulu tapi mungkin Aisyah tidak mengingatnya karena kejadian itu sudah sangat lama. Jika bukan karena pertemuan kedua orang tua mereka dan cerita dari mereka Rain tidak akan kembali mengingat kenangan kecilnya bersama Aisyah dulu saat ia masih berada di Indonesia sebelum keluarganya memutuskan pindah ke Dubai dan menetap di sana. Saat itu Aisyah masih berumur lima tahun dan Rain berumur delapan tahun.
Mendengar nama ayahnya, ekspresi Aisyah sedikit berubah menjadi lebih waspada. " Kamu mengenal papa ku?"