NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keseruan kampanye kesehatan

Kini kartu pemeriksaan milik Clara dan Viola sudah penuh dengan stempel. Tinta berbagai warna memenuhi kolom-kolom kecil di kertas itu. Begitu pula kartu milik Alvian yang sejak tadi tak pernah benar-benar menjauh dari mereka.

Lapangan tengah mulai dipadati peserta. Kursi-kursi plastik tersusun menghadap panggung undian, sementara suara musik latar dan pengumuman panitia bercampur menjadi satu dengan riuh percakapan warga.

Clara menatap tenda terakhir bertuliskan Penukaran Kartu.

“Vi, kita tuker kartunya dulu sama kupon undian,” ucapnya pelan.

Viola mengangguk cepat dan hendak melangkah, namun tiba-tiba berhenti lalu berbalik.

“Eh Yan,” protesnya sambil berkacak pinggang kecil. “Lu mending sama bapak-bapak sana deh. Ngapain sih dari tadi ngikutin kami mulu?”

Alvian menyeringai santai, tangan dimasukkan ke saku celana. “Gue kan jagain lu, Vi. Takut lu tiba-tiba nerkam orang. Nanti bisa gue rukiyah.”

Mata Viola langsung melotot tajam.

Clara nyaris tertawa, tapi ia menahan diri. Suasana sudah cukup ramai, ia tak ingin Viola benar-benar meledak seperti biasanya.

Viola mendengus pelan. “Lu mau gue tonjok, Yan?”

Alvian malah terkekeh kecil.

“Ayo kak, kita tinggalin aja musang ini,” ucap Viola sambil menggandeng lengan Clara.

Clara melirik Alvian sekilas, lalu tersenyum tipis. “Udah lah, Vi. Kasian… nanti kayak anak ayam kehilangan induknya.”

Viola spontan menahan tawa, bahunya sedikit bergetar.

Alvian hanya cengengesan, kali ini tak membalas. Entah karena malas atau karena memang tak punya kata-kata untuk melawan Clara.

Tepat saat Clara dan Viola masuk ke tenda penukaran, Anton memanggil dari kejauhan.

“Yan! Sini bentar!”

Alvian menoleh, lalu berlari kecil menghampiri Anton tanpa banyak protes.

Di dalam tenda, suasananya sedikit lebih teduh. Petugas memeriksa kartu mereka satu per satu, memastikan setiap kolom sudah lengkap dengan stempel.

“Sudah ya, Mbak. Ini kupon undiannya. Disimpan baik-baik.”

Clara menerima kupon kecil berwarna kuning itu, begitu pula Viola.

Tak lama kemudian mereka keluar dari tenda, kembali ke lapangan yang kini semakin penuh.

Viola mengangkat kuponnya di depan wajahnya seolah sedang menatap benda berharga.

“Semoga aku dapat hadiah utama” gumamnya penuh harap. Lalu ia tertawa kecil. “Tapi kalau gayung juga nggak papa sih.”

Clara tersenyum melihat kepolosan itu.

“Aamiin,” sahutnya pelan, ikut mengaminkan doa Viola.

Angin siang berhembus ringan, membawa aroma debu lapangan dan suara tawa orang-orang di sekitar mereka.

Tak lama kemudian suara MC mulai terdengar melalui pengeras suara, sedikit mendengung di awal sebelum akhirnya jelas.

“Bapak Ibu sekalian… mohon untuk duduk ditempat yang sudah disediakan…”

Kerumunan yang tadinya menyebar perlahan bergerak mendekat ke arah panggung.

“Ayo kak!” seru Viola tiba-tiba, matanya berbinar penuh semangat.

Belum sempat Clara menanggapi, Viola sudah lebih dulu menarik tangannya.

Clara terkejut, hampir kehilangan keseimbangan.

“Vi, tunggu…” ucap Clara pelan, namun suaranya tenggelam di antara riuh orang-orang yang sama-sama berdesakan ingin lebih dekat ke panggung.

Viola tetap melangkah cepat, menyelinap di antara tubuh-tubuh yang berdiri rapat. Clara terpaksa mengikuti, bahunya sesekali tersenggol, langkahnya tersendat karena kerumunan yang semakin padat.

“Viola… pelan-pelan…” Clara mencoba lagi, tapi lagi-lagi suaranya hilang ditelan sorak dan panggilan MC.

Di tengah desakan itu, tanpa ia sadari, gantungan tas kecil berbentuk buku dengan pulpen mini yang tergantung di resleting tasnya tersangkut pada lengan seseorang.

Terdengar bunyi kecil cekrek, nyaris tak terdengar. Gantungan itu terlepas dan jatuh ke tanah.

Benda kecil itu tergeletak di atas tanah berumput dilapangan, lalu terinjak puluhan alas kaki yang berlalu-lalang tanpa sadar. Pulpen mininya sedikit tergores, ujung buku mungilnya terkena bekas tanah.

Clara sama sekali tak menyadari kehilangannya.

Beberapa menit kemudian, setelah para peserta mulai duduk dan suasana perlahan mereda, kerumunan tak lagi sepadat tadi.

Di antara celah kaki kursi dan serpihan debu lapangan, sebuah tangan berhenti.

Tangan itu meraih gantungan kecil yang nyaris tertutup tanah.

Ia mengangkatnya perlahan. Ibu jari membersihkan debu yang menempel, menyeka goresan kecil di permukaan buku mungil itu.

Pulpen mininya masih utuh, ia menatapnya sejenak. Lalu, tanpa berkata apa pun, gantungan itu ia simpan dengan hati-hati.

Clara kini duduk di barisan tengah bersama Viola. Angin siang berhembus pelan, menggerakkan ujung-ujung tenda. Suara orang-orang yang berbincang perlahan mereda ketika MC kembali mengangkat mikrofon nya.

“Terima kasih atas partisipasi Bapak dan Ibu sekalian yang telah meramaikan acara hari ini…”

Beberapa peserta masih berdiri, sebagian lagi duduk sambil menggenggam kupon undian mereka erat-erat.

Clara duduk tenang, kuponnya terlipat rapi di antara jari-jarinya. Di sampingnya, Viola sudah duduk tak sabar, tubuhnya sedikit condong ke depan.

“Selanjutnya,” lanjut MC dengan suara bersemangat, “marilah kita sambut CEO Forrer Pharmaceutical Indonesia, Bapak Noel Baskara, untuk memberikan sepatah dua patah kata atas kampanye hari ini.”

Riuh kecil langsung terdengar.

“HAH? Itu yang tadi pasang gelang?” bisik seseorang di belakang Clara.

“Iya, yang tinggi itu…”

Noel berjalan naik ke atas panggung dengan langkah tenang. Ia mengenakan kaus polo putih dengan logo regional Forrer di dada kiri, dipadukan celana bahan gelap. Sederhana, tapi tetap terlihat rapi.

Wajahnya datar seperti biasa. Sorot matanya menyapu kerumunan dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Beberapa wanita dewasa berbisik pelan, sebagian remaja tak bisa menahan kekaguman.

“Saya sangat berterima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu pada kampanye kesehatan hari ini.”

Suaranya tenang, tidak terlalu tinggi, namun cukup jelas terdengar sampai barisan tengah tempat Clara duduk.

“Melihat orang di samping kita selalu sehat adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Karena itu, saya berharap kalian bisa merawat dan mengawasi tubuh kalian… bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan yang lebih panjang.”

Suasana mulai hening.

Beberapa peserta yang tadi bercakap kini benar-benar mendengarkan.

“Sama seperti Forrer Pharmaceutical Indonesia yang akan terus membantu dalam memelihara kesehatan tubuh anak-anak, remaja, orang tua, hingga para lansia. Saya mendirikan perusahaan ini karena ingin rakyat di Indonesia memiliki kehidupan yang lebih sehat dan lebih baik.”

Tepuk tangan pecah ketika Noel selesai berbicara. Suasana sangat meriah, beberapa orang bahkan berdiri.

Di sekitar Clara mulai terdengar obrolan.

“Pantesan gede perusahaannya… orangnya visioner banget.”

“Masih muda tapi udah jadi CEO.”

“Ganteng lagi…”

Viola hampir meloncat di kursinya.

“Kak… serius deh, definisi paket lengkap!” bisiknya sambil tertawa kecil.

Clara hanya tersenyum samar, tidak ikut dalam euforia itu. Matanya tetap tertuju ke panggung, tapi sorotnya tenang, tanpa gelombang.

Tak lama kemudian MC kembali mengambil alih.

“Baiklah… sekarang yang paling kita tunggu-tunggu! Saatnya pengundian hadiah!”

Kerumunan langsung berubah riuh. Beberapa orang berdiri lagi, suasana menjadi hidup dan penuh harap.

Di sisi panggung, berbagai yang membuat peserta kampanye sangat bersemangat sudah tersusun rapi, sepeda motor, laptop, sembako, voucher kesehatan, peralatan dapur dan bahkan alat olahraga.

Viola menunjuk ke arah hadiah-hadiah itu dengan mata berbinar.

“Kak! Aku doain semoga Kak Clara dapat motor!” serunya sedikit berteriak karena suara sekitar makin ramai.

Clara terkekeh pelan. “Aku kan nggak bisa bawa motor.”

“Nanti aku ajarin deh, Kak!” sahut Viola penuh keyakinan, seakan-akan nomor kupon Clara sudah pasti akan disebut.

Clara menggeleng kecil, senyum tipis masih menghiasi wajahnya.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!