Renazia Putri Maharaja, adalah salah satu orang yang beruntung di dunia. Selain pintar dan cantik, wanita yang baru saja menginjak umur 27 tahun itu, juga memiliki keluarga yang sangat sayang padanya, serta teman yang banyak.
Ditambah dengan kesuksesannya di dunia desainer, membuat orang-orang iri padanya.
Namun, semuanya hilang dalam semalam, ketika Rena tiba-tiba terbangun di tempat yang asing dengan tubuh yang berbeda, dengan nasib yang berbeda juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaestra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
duapuluhsatu
Rena melakukan hal yang nekad. Setelah, memastikan Dante berangkat kerja, Rena langsung melaksanakan rencana yang sudah dia susun sejak semalam.
Wanita itu sangat ingin bertemu dengan sosok yang terlihat mirip dengan Sheyena. Makanya, dia berencana untuk mengikuti mobil yang biasanya membawa bahan makanan ke mansion Moretti.
Untungnya, dia berhasil. Wanita itu melangkah ke dalam sebuah toko baju dan, membeli baju untuk menggantikan baju pelayan milik Via yang dia curi.
Setelah selesai, dia segera melangkah menuju toko roti Valerie. Dalam hati, dia berharap, orang yang ingin dia temui ada di dalam toko roti itu.
Keberuntungan sepertinya berpihak padanya. Saat sampai di dekat toko roti Valerie, sosok itu juga baru saja tiba. Dengan segera, Rena ikut melangkah masuk ke dalam toko itu.
Valerie yang sedang berbicara dengan karyawannya, terkejut ketika melihat Rena yang tiba-tiba ada di depan pintu tokonya. Karna, Rena adalah orang yang tidak pernah keluar dari rumahnya. Ditambah dengan sikap Dante yang melarang wanita itu untuk keluar.
Dia segera menghampirinya. "Rena? Bagaimana kamu bisa sampai di sini?" Valerie melirik ke arah belakang Rena, memastikan wanita itu datang sendirian atau bersama dengan pelayannya. Namun, dia tidak menemukan apapun, menandakan jika Rena datang sendiri,
Rena beralih menatap Valerie. "Nanti aku cerita. Aku sedang perlu dengan seseorang."
Valerie mengikuti arah pandang Rena. Dia mengernyitkan keningnya, ketika menyadari Rena sedang menatap Sheyena yang sedang memilih roti dari etalase. "Sheyena? Kamu perlu apa dengan dia?"
Mendengar nama Sheyena, Rena sontak menatap Valerie. "Nama dia Sheyena?"
Valerie menganggukkan kepalanya. Dia benar bingung dengan Rena, reaksi wanita itu sangat aneh. "Iya. Kamu ada urusan apa sama dia?"
"Aku ... hanya ingin berkenalan dengan dia."
Valerie masih bingung dengan kelakuan Rena. Namun, dia tetap membawa temannya itu untuk bertemu dengan Sheyena, walaupun Rena tidak mengatakan apapun.
"Hai, Sheyena."
Sheyena yang masih memilih roti, sontak menoleh. Dia tersenyum ramah ketika melihat sosok Valerie di dekatnya. "Oh, hai, Valerie." Sheyena beralih menatap Rena. Alisnya terangkat sebelah. "Dan...?"
"Ah, perkenalkan nama aku ... Rena." Rena mengulurkan tangannya.
Sheyena terlihat terkejut ketika mendengar nama itu. Dia mengerutkan keningnya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Hm, mungkin iya, mungkin tidak," Rena menjawab dengan nada ragu.
"Dia teman aku," sahut Valerie.
"Ah, teman yang biasa kamu ceritakan?"
Valerie menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Sedangkan, Rena terlihat penasaran dengan apa yang Valerie ceritakan ke Sheyena tentangnya.
"Dia ingin berkenalan dengan kamu."
Sheyena tertawa pelan sambil menatap ke arah Rena. "Oh, iya? Mungkinkah kamu salah satu pembaca novel aku?"
Alis Rena nyaris menyatu. "Novel?" Dia tidak menyangka, Sheyena di dunia ini, juga seorang penulis.
Kini giliran Valerie dan Sheyena yang terlihat bingung. Keduanya saling lirik.
"Iya. Sheyena adalah seorang penulis. Ada beberapa novelnya yang sudah tertib dan banyak dicari dan dibaca orang. Tidak mungkin, kamu tidak tau itu?"
Rena kelihatan kebingungan. Dia tidak tau, mau menjawab apa.
"Valerie, tidak semua orang harus tau siapa aku." Sheyena beralih menatap Rena. "Kamu suka baca?"
Rena menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sheyena tersenyum, lalu mengambil sebuah novel dari dalam tasnya. "Ini. Karya pertama aku. Aku harap kamu suka."
Rena menerima novel itu, dan dia kembali terkejut ketika membaca judul dari novel yang dia pegang. Sama seperti novel pertama Sheyena di dunianya dulu.
"Kamu ... punya adik perempuan?" Rena bertanya sambil mengangkat kepalanya, menatap Sheyena. Ada sedikit harapan jika Sheyena memiliki adik juga. Dan, harapannya, adik Sheyena ada kaitannya dengan dirinya.
"Tidak. Aku anak tunggal."
Bahu Rena merosot. Dia menghela napas, terlihat raut kekecewaan di wajahnya. "Begitu, yah?"
"Iya. Ah, maaf. Aku harus pergi sekarang," pamit Sheyena sambil melirik jam di tangannya. Wanita itu dengan segera melangkah menuju meja kasir dan membayar rotinya. Dia kembali mendekati Rena. "Lain kali, kita bicara lagi, yah," ucap sambil mengusap bahu Rena.
Hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Sheyena di dunianya dulu.
"Iya."
Sheyena tersenyum, lalu melangkah keluar dari toko roti. Valerie menatap Rena dengan berharap Rena menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Rena, kamu kenapa ingin berkenalan dengan Sheyena?"
"Tidak. Aku hanya penasaran saja." Pupil mata Rena melebar ketika melihat jam dinding. "Aku harus segera pulang."
Rena hendak beranjak, namun Valerie menahannya. "Jelaskan dulu, Rena."
Rena dengan segera menepis pelan tangan Valerie dari lengannya. "Maaf, Valerie. Aku akan menceritakannya. Tapi, bukan sekarang."
Tanpa mendengar jawaban Valerie, Rena langsung berlari keluar. Namun, sesuatu terjadi ketika dia membuka pintu toko roti, sesuatu yang keras tiba-tiba menghantam dirinya. Karna, tidak memperhatikan sekitar.
"Awhh," Rena meringis kesakitan. Dia mengangkat kepalanya, dan terkejut mendapati sosok Dante yang berdiri di depan, menatapnya dengan tatapan tajam.
Dia segera bangkit berdiri. "D-Dante..."
Rena tidak berani menatap Dante, karna menurutnya, Dante terlihat marah. Dalam hati, dia berharap Dante tidak memberikannya hukuman yang berat.
"Enzo, bawa wanita ini pulang," perintahnya pada Enzo yang langsung dilaksanakan oleh Enzo. Demi keselamatannya, Rena terpaksa mengikuti apa maunya Dante untuk sementara. Valerie yang melihat temannya sepertinya dalam bahaya, segera menghampiri mereka.
"Rena, kamu tidak apa-apa?" tanya Valerie.
"Aku tidak apa-apa."
Dante melirik Valerie dengan lirikan tajam. Seolah, memberikan pertanda untuk menjauh dari Rena. Namun, Valerie mengabaikannya.
Valerie segera membawa Rena ke belakangnya, berniat melindunginya. "Rena tidak akan ke mana-mana. Dia akan tetap di sini. Aku akan mengantarnya pulang nanti. Kalian pergi dari sini!"
Rena merasa terharu karna, Valerie terlihat menjaganya.
Dante terkekeh. Jelas dia tidak suka dengan perintah yang diberikan oleh Valerie. "Kamu diam. Walaupun, kamu temannya Rena, kamu tidak memiliki hak terhadapnya. Aku suaminya. Aku memiliki hak." Pria itu beralih menatap Rena. "Pulang, sekarang!" tekannya.
Rena menggigit bibir dalammnya. Dia menatap punggung Valerie dan Dante secara bergantian. Lalu, dengan terpaksa dia melangkah keluar dari balik punggung Valerie. "Maaf, Valerie. Aku harus pulang."
Bukan takut pada Dante, hanya saja, Rena tidak ingin Dante kembali mengurungnya di ruangan bawah tanah itu. Makanya, dia mengikuti apa maunya Dante. Dan, juga dia tidak ingin Valerie terkena imbasnya.
Dengan berat hati, dia melepaskan tangan Valerie dari lengannya. "Maaf. Aku harap, kita akan bertemu lagi." Dengan perlahan dia menghampiri Enzo dan masuk ke dalam mobil. Sedangkan, Dante masih berdiri di depan toko roti Valerie dan tampak berbicara dengannya.
Rena tidak tau, apa yang mereka bicarakan. Tapi, dilihat dari raut wajah Valerie, wanita itu terlihat sangat marah.
...bersambung