NovelToon NovelToon
Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.

Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang Masa Lalu yang Mengintai

Bab 4

Hening kembali menyelimuti ruangan itu, namun kali ini bukan keheningan yang dingin, kosong, dan penuh ancaman seperti dulu. Elena duduk diam di tepi tempat tidur, matanya tak lepas dari wajah tenang Alvaro yang sedang terlelap. Sesekali ia mengusap rambut halus anak itu dengan ujung jarinya yang lembut, merasakan betapa berharganya nyawa kecil yang kini diamanatkan kepadanya. Di luar jendela, hujan masih terdengar menetes pelan membasahi kaca, seolah mengiringi detak jantungnya yang perlahan mulai kembali tenang. Napasnya teratur, meski rasa takut masih tersisa di sudut hati—takut salah langkah, takut terbongkar, tapi lebih takut jika ia gagal melindungi anak ini.

Belum lama berselang, terdengar ketukan halus dan sopan di pintu. Dokter yang dipanggil Leonid datang membawa tas medisnya. Pria paruh baya itu menunduk hormat saat masuk, namun tatapan matanya sempat melirik heran saat melihat Alvaro tidur pulas berdekatan dengan Elena—sesuatu yang tak pernah ia lihat selama bertahun-tahun merawat keluarga ini. Dulu, Elena selalu menjauhkan diri dari anaknya, bahkan tak sudi menatapnya lebih dari sedetik.

"Maaf mengganggu istirahat Nyonya," ucapnya pelan dengan nada penuh rasa hormat yang masih terasa ragu. "Tuan Leonid berpesan agar saya memeriksa kondisi Nyonya sebentar, memastikan tidak ada cedera dalam atau pusing yang berlebihan."

Elena mengangguk pelan, berusaha bangkit perlahan tanpa mengganggu tidur Alvaro yang begitu lelap. "Terima kasih, Dokter. Tolong... tolong periksa juga kondisi anak saya. Sepertinya dia sering kurang makan, dan matanya sering terlihat takut saat didekati siapa pun."

Dokter itu tertegun sejenak, matanya melebar tak percaya mendengar perhatian yang tulus itu, namun ia segera menunduk kembali menyembunyikan rasa kagetnya. "Baik, Nyonya. Segera saya periksa keduanya dengan teliti."

Pemeriksaan berlangsung tenang dan hati-hati. Dokter memberikan obat penenang ringan untuk Elena dan vitamin lengkap untuk Alvaro, serta menyarankan menu makanan bergizi yang harus diberikan secara bertahap agar perut anak itu tidak kaget. Elena mendengarkan setiap petunjuk dengan saksama, seolah sedang menghafal ilmu yang paling penting dan berharga baginya. Setelah dokter pamit dan pintu tertutup kembali, suasana kembali hening, namun kini ada rasa harap yang mulai tumbuh perlahan di hati Elena—harapan bahwa mungkin saja mereka bisa membangun kehidupan yang lebih baik dari ini semua.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.

Saat hari mulai menjelang sore, langit yang tadinya mendung kini berubah gelap kembali. Terdengar suara gaduh pelan dari lantai bawah, suara orang berbicara agak tinggi namun segera diredam, disusul langkah kaki yang berat, tergesa-gesa, dan penuh amarah yang ditahan menaiki tangga menuju kamar ini. Jantung Elena kembali berdegup kencang seakan mau copot. Ia segera mengeratkan selimut pada Alvaro yang masih tidur, lalu berjalan perlahan menuju pintu yang sedikit terbuka, berusaha mengintip siapa yang datang.

Belum sempat ia melihat dengan jelas, pintu kamar didorong kasar dari luar hingga berbunyi keras.

Bukan Leonid yang masuk, melainkan seorang pria lain yang tak asing lagi di ingatannya. Pakaiannya rapi namun terlihat mencolok, rambutnya disisir rapi memakai minyak wangi yang terlalu menyengat hingga memenuhi ruangan, dan senyum di bibirnya terasa licik, penuh kepura-puraan, serta kemarahan yang disembunyikan. Saat melihat Elena berdiri kaku di sana, pria itu langsung tersenyum lebar, lalu melangkah hendak mendekat dengan tangan terbuka seolah ingin memeluknya.

"Elena... sayang, kau sudah sadar? Aku khawatir sekali mendengar kau jatuh pingsan kemarin. Aku hampir saja datang lebih awal," ucapnya dengan nada merayu yang dibuat-buat, membuat perut Elena mual seketika.

Ingatan dalam kepalanya langsung melesat kembali tajam. Itu Rian. Kekasih gelap Elena asli. Orang yang bersama-sama merencanakan pengkhianatan, merencanakan pelarian membawa harta Leonid, dan yang paling mengerikan—merencanakan cara untuk menyingkirkan Alvaro agar tidak menjadi penghalang.

Elena mundur selangkah, menjaga jarak aman sekuat tenaga agar tidak tersentuh oleh pria itu. "Kau... apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk ke rumah ini?"

Rian berhenti melangkah, alisnya terangkat tinggi mendengar nada bicara yang begitu berbeda, dingin, dan menjauh. "Kau bicara apa? Aku kan datang menjenguk wanitaku sendiri. Bukankah kita sudah berjanji akan pergi bersama setelah semuanya selesai?" Ia melirik sekilas ke arah tempat tidur, lalu wajahnya langsung berubah masam dan jijik melihat Alvaro tidur tenang di samping Elena. "Dan kenapa anak itu ada di sisimu? Kau bahkan tak pernah sudi menyentuhnya sedikit pun dulu!"

Darah Elena mendidih menahan amarah, tapi ia tahu ia harus tetap tenang. Jika ia salah bicara atau menunjukkan sikap yang terlalu jauh berbeda, semuanya akan terbongkar sebelum waktunya. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan getaran suaranya sebaik mungkin.

"Aku sadar banyak hal, Rian. Saat terbaring tak sadarkan diri kemarin... aku sempat berpikir panjang. Dan rencana kita... batalkan saja. Aku tidak bisa melakukannya lagi."

Wajah Rian seketika berubah gelap, matanya menyala penuh amarah dan keterkejutan. Ia melangkah maju lagi, lalu menutup pintu kamar dengan kasar hingga bunyinya memantul di dinding. "Apa kau bicara sembarangan?! Kau lupa apa yang sudah kita rencanakan berbulan-bulan? Kau lupa semua janjimu padaku? Dan kau lupa siapa yang akan rugi besar kalau kau mundur sekarang? Kau pikir kau bisa main-main denganku begitu saja?!"

"Kau tidak mengerti keadaan sekarang," jawab Elena tegas namun suaranya tetap rendah agar tidak membangunkan Alvaro. "Aku tidak bisa meninggalkan anakku. Dan aku tidak bisa terus mengkhianati Leonid yang sudah memberiku segalanya. Aku ingin berubah, Rian. Tolong mengertilah."

Rian tertawa keras namun tanpa tawa yang sebenarnya, terdengar mengerikan dan penuh ancaman. "Berubah? Kau ingin berubah jadi ibu yang baik begitu saja? Dasar pengecut! Kau hanya takut pada tatapan tajam suamimu itu! Kau pikir kau bisa berhenti begitu saja setelah menyeretku ke dalam masalah ini? Kau sudah terlalu jauh melibatkanku, Elena. Dan aku tidak akan membiarkanmu membuangku begitu saja seperti sampah!"

Ia mendekat lagi hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Elena, menatap tajam tepat ke manik matanya. "Ingat baik-baik perkataanku. Jika kau berani melanggar janji atau menjauh dariku, aku akan membongkar semuanya. Aku akan memberitahu Leonid setiap detail rencana kita, setiap kata manis yang kau ucapkan padaku, dan kau tahu persis apa yang akan terjadi pada lehermu saat itu. Kau akan mati bersamaku, Elena!"

Ancaman itu terasa begitu nyata, tajam, dan dingin menusuk jantung Elena. Ia tahu Rian bukan orang yang main-main. Ia tahu betapa kejamnya dunia tempat mereka berada sekarang. Namun saat ia menoleh sebentar melihat Alvaro yang masih terlelap damai, seolah tak tahu bahaya yang sedang mengancam nyawanya, kekuatan kembali mengisi dadanya. Ia tidak boleh takut. Ia harus melindungi anak itu walau harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.

"Kau boleh bilang apa saja pada siapa pun," ucap Elena mantap tanpa memalingkan wajah. "Tapi mulai sekarang, aku bukan Elena yang dulu kau kenal. Aku tidak akan lari kemana-mana. Dan aku tidak akan membiarkan kau atau siapa pun mencelakai anakku atau suamiku."

Rian hendak berteriak kembali, tangannya terangkat seolah ingin menampar atau mencengkeram leher Elena, namun tiba-tiba suara langkah kaki berat dan teratur terdengar mendekat dari luar pintu. Suara yang sangat dikenali keduanya. Leonid.

Wajah Rian seketika berubah pucat pasi. Ia melirik Elena dengan pandangan tajam penuh peringatan dan ancaman mati, lalu dengan gerakan cepat ia menyelinap di balik tirai jendela yang besar tepat saat pintu kamar didorong terbuka.

Leonid masuk dengan wajah yang masih kaku namun terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan dengan tajam, seolah indranya menangkap ada sesuatu yang tidak beres, ada bau wangi yang asing, ada ketegangan yang menggantung di udara. Tatapannya berhenti lama pada wajah Elena yang terlihat pucat pasi, napasnya sedikit memburu, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Ada apa?" tanyanya singkat namun tajam, matanya tak lepas dari wajah Elena.

Elena menelan ludah susah payah, berusaha menyembunyikan rasa takut dan gugupnya. "Tidak... tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut saat pintu terbuka tadi. Aku kira kau belum akan pulang sebentar lagi."

Leonid melangkah maju perlahan, matanya menatap tajam ke arah tirai jendela yang sedikit bergerak ditiup angin kecil. "Kau berbohong. Ada orang lain di sini."

Darah Elena seakan berhenti mengalir seketika. Ia tahu jika Leonid menemukan Rian sekarang, semuanya akan hancur lebur sebelum sempat diperbaiki. Ia maju selangkah, berdiri menghalangi pandangan Leonid ke arah jendela. "Leonid... tolong percayai aku sebentar saja. Benar-benar tidak ada siapa-siapa. Aku hanya sedang teringat hal-hal buruk masa lalu yang membuatku kaget."

Leonid berhenti melangkah. Ia menatap wajah Elena lekat-lekat, mencari kepalsuan atau ketakutan karena bersalah di sana. Namun yang ia temukan hanyalah ketakutan yang tulus, ketakutan akan kehilangan sesuatu yang berharga, bukan ketakutan karena tertangkap basah berbuat salah. Untuk sesaat hening mencekam di antara mereka, lalu Leonid perlahan mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan keraguan yang dalam.

"Baik. Untuk saat ini aku percaya. Tapi ingat baik-baik pesanku. Jangan ada satu pun rahasia yang kau sembunyikan dariku. Karena bagaimanapun kau menutupinya, aku akan tahu. Dan konsekuensinya kau tahu sendiri."

Ia berbalik sejenak menatap Alvaro yang masih tenang tidurnya. "Makan malam akan siap sebentar lagi. Bawa dia turun ke ruang makan kalau dia sudah bangun. Aku tunggu kalian di bawah."

Saat Leonid melangkah keluar dan pintu tertutup rapat, Elena baru bisa menghela napas panjang yang tertahan sedari tadi. Kakinya terasa lemas seketika hingga ia harus bertumpu pada tepi meja. Rian keluar dari balik tirai dengan wajah penuh amarah yang tak bisa diluapkan, menatap Elena dengan tatapan tajam yang mengancam nyawa.

"Ini belum selesai, Elena. Kita belum selesai bicara. Tunggu saja apa yang akan kulakukan," bisiknya tajam dengan suara bergetar menahan emosi, lalu ia menyelinap keluar lewat pintu samping yang menghubungkan ke balkon, menghilang begitu saja ke dalam kegelapan sore.

Elena terduduk lemas di tepi tempat tidur, air mata tak sadar menetes kembali. Ia tahu bahaya tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari sisa masa lalu yang kelam milik Elena asli yang masih terus mengikutinya. Namun saat ia melihat wajah polos Alvaro, ia segera mengusap air matanya dan menguatkan hati kembali. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan ia harus siap menghadapinya walau harus berhadapan dengan maut sekalipun.

 

Bersambung...

1
ocvia
🤣baik kak
Susi Nugroho
Nanti bikin Elena mengandung kembar.... Lanjut....
yula
👍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ocvia: siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu.... Semangat
ocvia: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!