Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan di rumah Kakek Sabiru
Waktu liburan tiba,sesuai rencana Kala dan Sean akan berlibur di rumah sang kakek.
Mereka berangkat sejak pagi dan di antar oleh sopir Arsen.Beberapa jam kemudian, mobil yang membawa Kalandra dan Sean tiba di rumah sang kakek.
Rumah itu berada di tengah lahan yang sangat luas.Di sekelilingnya terdapat berbagai macam tanaman.Cabai,tomat,selada,wortel,bawang.Hingga berbagai jenis sayuran dan buah lainnya.
Tidak jauh dari rumah, terdapat kandang sapi yang cukup besar.Suara ayam terdengar dari arah belakang rumah.
Begitu turun dari mobil, Kalandra langsung menghirup udara dalam-dalam."Seger banget."
Sean mengambil barang-barang mereka dari bagasi."Udara kota juga enak."
"Enggak."
"Bedanya?"
"Di sini nggak ada suara klakson."
Sean mengangguk."Benar dek,gak bising kaya di kota."
Belum sempat mereka masuk ke rumah, seorang lelaki tua keluar dari arah kebun.Rambutnya sudah memutih.Namun, tubuhnya masih terlihat kuat.
"Kalandra!"
Kalandra langsung tersenyum."Kakek!"
Ia berjalan cepat lalu memeluk sang kakek."Kakek sehat?"
"Sehat."
"Tapi kok,Kakek tambah tua ya."
Sang kakek langsung menatapnya."Baru datang sudah kurang ajar."
Kalandra tertawa.Sean yang berdiri di belakang mereka ikut menyalami sang kakek."Sehat, Kek?"
"Sehat. Abang juga makin besar."
Sean mengangguk."Padahal umur abang baru mau sembilan belas kek."
"Di mata Kakek, kalian tetap anak kecil."
Kalandra langsung menunjuk Sean. "Kalau adek emang masih kecil Kek,gak kayak..."
Sean menatapnya."Kenapa sama gue?"
"Karena abang memang udah tua."
"Dasar adek lucknuth." pekik Sean membuat Kakek mereka tertawa.
Hari pertama di desa langsung diisi dengan kegiatan ala pedesaan.Kakek meminta mereka membantu memanen beberapa sayuran.
Kalandra yang awalnya terlihat sangat bersemangat. "Ini gampang."
Sean menatapnya."Yakin lo dek?"
"Yakin."
Lima belas menit kemudian,Kalandra duduk di pinggir kebun sambil memegangi punggungnya.
Sean menatapnya. "Katanya tadi bilang gampang?"
"Memang gampang."
"Terus kenapa duduk?"
"Nyobain tanah,apa sama empuknya kaya sofa di rumah atau gak."
"Dasar stres! alasan aja lo." Sean langsung tertawa.
Kakek yang mendengar percakapan mereka hanya menggelengkan kepala.
"Kalau debat, kalian berdua memang paling hebat."
Kalandra langsung berdiri."Adek bantu lagi,Kek."
"Adek,jangan sampai sayurannya kamu cabut semua ya!"
"Ya, Kakek tenang aja.Kala udah jago soal begini."
Setelah selesai memanen sayuran,mereka kemudian membantu memberi makan sapi.Kalandra berdiri di depan salah satu kandang sambil membawa rumput.
"Ini buat sapi yang mana?"
"Yang itu." Tunjuk kakek pada seekor sapi simetal yang begitu besar.
"Namanya siapa?"
"Enggak semua sapi Kakek kasih nama,dek."
Kalandra terlihat kecewa. "Kasih nama aja,kek."
Sean langsung menoleh."Jangan."
"Kenapa?"
"Pasti nanti loo kasih kasih nama semua tuh sapi.."
Kalandra menunjuk seekor sapi. "Yang itu namanya Budi."
Sean menatapnya."Kenapa Mark?
"Soalnya sapi yang itu keliatan ada darah bulenya."
"Kalandra kampret,bisa aja lo."
Sean dan Kakek tertawa mendengarnya.
"Kalau begitu yang sebelahnya namanya siapa?"
Kalandra berpikir."Joko."
Sean langsung memegang keningnya. "Kenapa Joko?"
Kalandra mengangkat bahu."Keliatan ada darah jawa nya"
"Serah lo deh Kal,atur seplenger mungkin." Jawab Sean pasrah.
Menjelang sore, mereka beralih ke kandang ayam.Kakek meminta mereka membantu mengambil telur.Kalandra langsung mengenakan sepatu boots.
"Ini pekerjaan mudah." ucapnya jumawa.
Sean menatapnya."Kenapa?"
"Karena gue punya pengalaman."
"Pengalaman apa?" Tanya Sean penasaran."Lo pernah ngambil telur?"
"Pernah"
Sean terdiam semakin dalam."Dimana?"
"Peternakan HayDay."
Sean menjatuhkan rahanya. "Rasanya gue pengen ganti adek.Saya menyerah!" Sean mengangkat kedua tangannya ke atas membuat kakek kembali tertawa.
Kalandra masuk ke dalam kandang.Beberapa detik kemudian terdengar teriakan.
"ABANG!"
Sean langsung berlari mendekat."Kenapa?"
"Ada ayam ngejar adek!"
Sean menatap ayam yang berdiri beberapa meter dari Kalandra. "Itu cuma ayam doang,dek"
"Tapi dia agresif banget sih!"
Ayam tersebut berjalan mendekat.Kalandra langsung mundur.
"Bang Sean!"
Sean tertawa. "Katanya punya pengalaman."
"Jangan ketawa! Bantuin gue!"
Kakek yang melihat dari luar kandang hanya bisa tertawa. "Dasar anak kota."
Akhirnya Sean masuk dan membantu Kalandra mengambil telur.Namun, ketika mereka keluar,Kalandra membawa sebuah keranjang penuh telur dengan senyum bangga.
"Berhasil."
Sean menatap keranjang itu. "Yang mengambil telurnya gue!."
"Tapi yang pegang keranjangnya kan gue."
"Jadi?"
"Kita kerja sama." ucap Kala cuek.
Sean menghela napas."Serah lo lah."
Kedua kakak beradik itu nampak begitu senang melakukan hal yang jarang ia lakukan di kota sana.Apalagi Kalandra yang begitu menikmati kehangatan yang di berikan sang kakek.
.
.
Malam menjelang mereka duduk di teras rumah bersama sang kakek.Udara terasa dingin dan hanya suara jangkrik yang terdengar dari sekitar kebun.
Kalandra duduk sambil memakan jagung rebus sedangkan Sean bersandar di kursi.
"Enak juga di sini."
Kakek tersenyum."Makanya sering-sering datang kesini.Tengokin kakek."
Kalandra mengangguk. "Nanti lah kalau aku udah punya motor bakal sering datang kesini."
"Motor?"
Kalandra mengangguk."Adek pengen motor kaya abang,tapi papa gak pernah kasih." adu nya dengan wajah sedih.
Kakek Sabiru berdecak mendengarnya."Papa kamu kaya orang susah aja."
"Padahal cuma beli motor doang,gak bakal bikin uangnya habis."
"Iya tuh Kek,gak tau lah sama Ages Sabiru...padahal harga motor dama harga hp aku,lebih mahalan hp aku."
Sean hanya geleng kepala mendengarnya.Kalandra memang paling bisa jika sudah berdrama seperti ini.
"Ya sudah,besok siang kita beli motor buat kamu."
Kalandra langsung berbinar "Beneran Kek?"
"Iya,pilih motor yang kalian suka sebagai hadiah ulangtahun adek dari kakek."
Sean langsung menyela."Tapi kan abang gak lagi ultah Kek."
"Gak apa-apa.Itu sebagai hadiah karena abang sudah jadi abang yang baik untuk adek."
Kakek Sabiru mengusap sayang kedua cucunya.
"Makasih kakek."
Sean dan Kalandra langsung memeluk sang kakek.
Dengan semangat,keduanya langsung membuka hp untuk mencari referensi motor-motor keren yang kini sedang do gandrungi para anak muda.
Kakek menatapnya Kalandra sebentar.
"Bagaimana papa mu?"
"Baik,Kek."
"Masih sibuk?"
"Banget."
Kalandra menghela napas. "Kadang papa terlalu sibuk."
Sean meliriknya.Kakek juga memperhatikan wajah Kalandra.
"Kenapa?"
"Enggak."
"Kalau ada masalah, cerita."
Kalandra menggigit jagungnya."Papa akhir-akhir ini sering makan bareng sama rekan bisnisnya."
Sean langsung menoleh.Kakek mengangkat alis. "Rekan bisnis perempuan?"
Kalandra mengangguk. "Iya."
"Terus?"
Kalandra terdiam Ia sendiri tidak tahu mengapa hal itu terus mengganggu pikirannya. "Enggak apa-apa."
Sean tersenyum kecil. "Dia cemburu,kek."
Kalandra langsung menoleh."Siapa yang cemburu?"
Sean menunjuknya."Lo!."
"Enggak!"
Kakek tertawa."Kenapa cemburu?"
Kalandra langsung mengerutkan kening."Kala gak cemburu,kek."
"Ya sudah."
Kakek mengangguk santai."Berarti tidak cemburu."
Kalandra terdiam.Beberapa detik kemudian, ia bergumam,
"Tapi papa udah beberapa kali batal makan sama aku."
Sean dan Kakek saling menatap.
m Kalandra menunduk."Padahal Kala cuma mau makan sama papa."
Kakek tersenyum lembut."Mungkin Ages tidak bermaksud begitu."
"Aku tahu."
"Tapi kamu tetap merasa sedih?."
Kalandra tidak menjawab.Sean kemudian menepuk bahunya. "Kalau kangen tuh bilang,dek."
Kalandra menatapnya. "Sudah."
"Terus?"
"Kadang tetap batal karena papa ada pertemuan."
Di kota yang berbeda...
Ages baru saja keluar dari ruang kerjanya.Ia melihat meja makan yang hanya berisi satu piring.
Ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk dari Kalandra.
✉️ Pap
Ages langsung tersenyum.
✉️ Iya?
Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.
✉️Papa lagi apa?
✉️ Papa baru saja beres kerja.
✉️ Papa sudah makan?
Ages menatap layar ponselnya,ia akan memberitahukan Kala jika dirinya sudah makan tadi bersama rekan kerjanya.Namun, sebelum sempat mengetik, pesan baru masuk.
✉️Pap...
✉️ Hm?
✉️ Besok2 jangan makan sama rekan bisnis papa.
Ages terdiam.Ia membaca pesan itu sekali lagi,kemudian membalas.
✉️ Kenapa?
Balasan Kalandra tidak langsung datang.Beberapa menit kemudian, akhirnya muncul.
✉️ Enggak kenapa-kenapa.
Ages mengerutkan kening.Ia tahu putranya.Dan ia tahu betul kalimat "enggak kenapa-kenapa" dari Kalandra biasanya berarti ada sesuatu.
Sementara di desa, Kalandra sedang duduk di teras rumah kakeknya bersama Sean.Sean melirik layar ponselnya.
"Jadi gimana?"
Kalandra menghela napas."Gimana apanya?"
"Lo bilang apa ke Om Ages?"
"Enggak ada."
Sean tersenyum."Kala."
Kalandra terdiam.Kemudian ia kembali memakan jagung rebusnya.
"Gue cuma nggak mau papa lupa kalau masih punya gue."
Sean yang semula ingin menggodanya akhirnya diam.Karena di balik kalimat sederhana itu terdapat rasa takut yang bahkan Kalandra sendiri belum benar-benar pahami.Takut jika suatu hari nanti Ages tidak lagi hanya memiliki dirinya.
.......
.......
.......
...♡ Sabiru ♡...
》《 Tolong tinggalkan jejaknya readers ku 🥰