Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT TENTANG JALAN
Ayah menerima surat itu dengan kedua tangan. Ia tidak langsung membacanya. Kertas putih bersih tersebut tampak terlalu resmi berada di rumah kami yang dindingnya menghitam oleh asap tungku. Di bagian atas ada nama sekolah dan cap biru. Di bawahnya, baris-baris panjang dipenuhi kata yang jarang kami gunakan sehari-hari: permohonan, akses pendidikan, keselamatan siswa, dan sarana penghubung.
“Baca pelan-pelan saja,” kata Bu Satya.
Ayah duduk dekat pintu agar mendapat cahaya. Bibirnya bergerak mengikuti setiap kata. Ia hanya tamat kelas empat SD. Membaca surat panjang membuat keningnya berkerut, tetapi ia tidak meminta orang lain membacakan. Ayah selalu ingin memahami sesuatu sebelum memberi namanya.
Aku duduk di sampingnya. Beberapa kata juga tidak kupahami. Bu Satya menjelaskan bahwa surat itu meminta pemerintah desa dan kecamatan memperbaiki jalan setapak serta membuat jembatan aman bagi anak sekolah. Ia tidak menjanjikan pembangunan segera. Ia hanya mengatakan surat tersebut dapat menjadi bukti bahwa masalah kami benar-benar ada.
“Kalau saya tanda tangan, apakah jalannya pasti dibangun?” tanya Ayah.
“Tidak pasti,” jawab Bu Satya jujur. “Tetapi kalau tidak ada permohonan, mereka dapat terus mengatakan tidak pernah menerima laporan.”
Ayah memandang sungai yang tidak terlihat dari rumah. Suaranya masih terdengar samar karena arus belum sepenuhnya turun.
“Dulu sudah pernah ada surat,” katanya.
“Surat lama mungkin hilang. Kita buat yang baru dan simpan salinannya.”
Ayah mengangguk. Ia mengambil pena milik Bu Satya. Tangannya yang terbiasa memegang cangkul terlihat kaku saat membuat tanda tangan. Huruf W pada namanya miring, kemudian garis berikutnya bergetar. Namun, ketika pena diangkat, wajahnya tampak lebih lega.
“Berapa tanda tangan?”
“Sebanyak mungkin dari warga yang memakai jalan.”
Setelah Bu Satya pulang, Ayah tidak beristirahat. Ia melipat surat ke dalam map plastik bekas pupuk, lalu mengajakku berkeliling dusun. Nira ingin ikut, tetapi Ibu menyuruhnya tinggal karena tumitnya belum benar-benar sembuh.
Rumah pertama adalah milik Pak Darma, ayah Karsa dan Lila. Ia membaca surat sambil berdiri di bawah kandang ayam. Tanpa banyak bertanya, ia menandatangani dan menawarkan dua batang bambu untuk jembatan sementara.
“Anak saya pernah jatuh di batu kedua,” katanya. “Untung air sedang rendah.”
Rumah berikutnya milik Bu Mirah. Ia tidak pandai menulis, sehingga hanya membubuhkan cap jempol dengan tinta dari stempel sekolah yang ditinggalkan Bu Satya. Matanya berkaca-kaca ketika menyebut Sari pernah tidak masuk sekolah selama lima hari karena sungai meluap.
Tidak semua orang menyambut kami dengan harapan. Pak Karya, petani yang rumahnya dekat ujung dusun, tertawa kecil setelah membaca bagian tujuan surat.
“Sudah berapa kali orang datang membawa kertas seperti ini?” katanya. “Kertas tidak bisa menjadi jalan.”
“Kalau tidak dicoba, kita tidak punya apa-apa,” jawab Ayah.
“Kita juga tidak punya apa-apa setelah mencoba.”
Aku merasa marah, tetapi Ayah tetap tenang. Ia tidak memaksa Pak Karya menandatangani. Sebelum pergi, ia hanya berkata bahwa cucu Pak Karya akan masuk sekolah dua tahun lagi dan mungkin juga membutuhkan jembatan.
Di rumah Mbah Wreda, bau lem karet dan kulit sepatu memenuhi ruangan. Orang tua itu membaca surat melalui kacamata tebal. Tangannya berhenti pada kalimat tentang hak anak mendapatkan perjalanan yang aman.
“Dulu aku berhenti sekolah karena kakiku tidak punya alas,” katanya. “Sekarang anak-anak punya alas, tetapi jalannya yang hampir tidak ada.”
Mbah Wreda menandatangani dengan tulisan kecil dan rapi. Ia juga memberikan tali merah sepanjang beberapa depa.
“Untuk mengikat map supaya tidak basah,” katanya.
Ayah membungkus map dengan kain, lalu mengikatnya memakai tali merah itu. Ia menguji simpulnya dua kali agar tidak terlepas ketika dibawa menuruni bukit. Warna tersebut tampak mencolok di antara pakaian dan rumah yang kusam. Bertahun-tahun kemudian, setiap melihat tali merah, aku selalu teringat hari ketika orang-orang miskin mencoba membuat suara mereka cukup kuat untuk didengar kantor yang jauh.
Kami berjalan dari rumah ke rumah sampai matahari turun. Beberapa warga menandatangani. Sebagian meminta waktu berpikir. Ada pula yang menolak karena takut diminta menyumbang uang. Ayah berulang kali menjelaskan bahwa surat itu tidak memungut biaya.
Di rumah Pak Leman, kami bertemu tiga anak yang sedang mengeringkan sandal sekolah dekat tungku. Sandal mereka lebih tipis daripada sepatuku dan salah satunya diikat kawat. Pak Leman tidak dapat membaca surat, sehingga Ayah membacakannya dari awal sampai akhir. Setelah mendengar kalimat tentang keselamatan anak, ia menandatangani dengan cap jempol. Ia berkata anak sulungnya pernah berhenti sekolah selama satu musim hujan karena ibunya takut membiarkannya menyeberang. Aku mencatat cerita itu dalam buku Mbah Wreda. Saat itulah aku mengerti bahwa satu keterlambatan dapat terlihat kecil, tetapi jika dikumpulkan bertahun-tahun, ia dapat berubah menjadi pendidikan yang hilang.
Menjelang senja, kami mendatangi rumah terakhir di punggung bukit. Seorang nenek bernama Mbah Rukmi tinggal bersama dua cucunya. Ia tidak memiliki anak yang masih sekolah, tetapi tetap memberi cap jempol. “Jalan bukan hanya milik orang yang berjalan hari ini,” katanya. “Besok, cucuku juga akan melewatinya.” Ucapan itu membuat Ayah memegang map lebih erat.
Ketika kembali, telapak sepatuku terasa panas. Jahitan di bagian depan masih bertahan, tetapi debu masuk melalui celah kecil. Nira menunggu di ambang pintu dan langsung menghitung tanda tangan.
“Dua belas,” katanya. “Cukup untuk membuat jalan?”
“Cukup untuk membawa surat,” jawab Ayah.
Keesokan paginya, Ayah pergi ke balai desa. Sebelum berangkat, Ibu menyalin tanggal, jumlah tanda tangan, dan tujuan surat pada secarik kertas yang disimpan di kaleng beras. Ia tidak ingin kami kembali tanpa ingatan jika surat utama hilang. Ayah membawa map di dalam karung plastik agar terlindung dari hujan. Aku ikut karena hari Minggu dan Bu Satya berpesan agar salinan surat tidak hilang. Nira ingin datang, tetapi Ibu membutuhkan bantuannya mengiris singkong.
Balai desa berada dekat jalan kabupaten. Bangunannya jauh lebih besar daripada rumah kami, dengan lantai tegel dan meja panjang. Di dinding terpajang daftar rencana pembangunan: perbaikan kantor, saluran air dekat pasar, gapura desa, dan pengecatan lapangan. Aku mencari kata Wanasetra, tetapi tidak menemukannya.
Pak Bramantya duduk di belakang meja. Ia mengenal Ayah karena pernah membeli singkong dari dusun kami. Wajahnya tidak galak. Ia membaca surat dengan teliti, bahkan menghitung tanda tangan satu per satu.
“Guru sekolah ikut membuat?” tanyanya.
“Bu Satya membantu,” jawab Ayah. “Ia sudah melihat jalannya.”
Pak Bramantya mengangguk. “Masalahnya bukan saya tidak percaya. Saya tahu jalan ke dusun memang buruk.”
Harapan tumbuh di dadaku.
“Tapi?” tanya Ayah.
Pak Bramantya meletakkan surat di meja. “Anggaran pembangunan tahun ini sudah habis.”