"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.
Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.
Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.
Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Itu Haknya, Bukan Tanggung Jawabku
Di waktu yang bersamaan, suasana di kediaman keluarga Atmajaya tidak jauh berbeda. Sejak surat wasiat sang kakek selesai dibacakan, Dirga masih memilih duduk di ruang keluarga dengan wajah yang sulit diartikan.
Tidak ada satupun dari mereka yang kembali membuka pembicaraan selama beberapa menit terakhir. Bagi Dirga, pernikahan bukanlah sesuatu yang dapat diputuskan oleh sebuah surat wasiat, terlebih ketika dirinya telah memiliki perempuan yang ingin di nikahi.
"Ada satu hal yang belum sempat saya sampaikan, Tuan Dirga," ujar sang pengacara keluarga yang masih berada di sana.
Dirga mengangkat pandangannya. "Apa lagi?" tanyanya singkat.
"Keluarga dari pihak perempuan yang akan fi jodohkan dengan anda, telah mengetahui isi surat wasiat yang sama malam ini."
Ucapan tersebut sontak membuat Dirga mengernyitkan dahinya. "Malam ini juga?"
"Benar. Surat wasiat dari kedua belah pihak memang di jadwalkan untuk di bacakan di hari yang sama."
Lukman dan Laras saling berpandangan sebelum akhirnya sang pengacara kembali membuka map yang berada di hadapannya.
"Calon yang akan dijodohkan dengan anda bernama Kanaya Pradipta."
Untuk pertama kalinya malam itu, Dirga akhirnya mengetahui nama perempuan yang telah dipilih oleh sang kakek untuknya.
"Kanaya Pradipta?" ulangnya pelan.
"Benar. Beliau merupakan putri tunggal dari keluarga Pradipta."
Nama keluarga tersebut tentu bukanlah nama yang asing bagi keluarga Atmajaya. Kedua keluarga memang telah saling mengenal sejak puluhan tahun yang lalu melalui persahabatan kedua kakek mereka.
"Jadi dia putri dari Tama Pradipta?" tanya Lukman untuk memastikan.
"Benar, Pak."
Dirga hanya menyandarkan tubuhnya pada sofa tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Nama dan latar belakang perempuan itu sama sekali tidak menarik perhatiannya.
"Saya rasa, alangkah baiknya jika kedua keluarga di pertemukan terlebih dahulu sebelum Tuan Dirga mengambil keputusan," lanjut sang pengacara.
"Aku sudah mengambil keputusan sejak surat wasiat itu dibacakan," sahut Dirga dingin.
"Tuan Dirga...."
"Aku tidak tertarik dengan perjodohan ini."
Laras menghela napas pelan. Ia tentu telah menduga jawaban yang akan diberikan oleh putranya.
"Setidaknya temui dia sekali saja, Dirga," ujarnya.
"Untuk apa?"
"Karena dia juga berada di posisi yang sama denganmu."
Dirga terdiam sejenak. Kalimat sang ibu sedikit banyak memang ada benarnya. Perempuan itu pun dipaksa menerima sebuah amanat yang tidak pernah direncanakannya. Namun, hal tersebut tetap tidak mengubah keputusannya.
"Aku akan datang jika memang kedua keluarga ingin bertemu," ujarnya akhirnya.
Ucapan tersebut membuat Lukman dan Laras sedikit terkejut.
"Tapi jangan berharap aku akan menerima perjodohan ini."
Baginya, menghadiri pertemuan keluarga hanyalah bentuk penghormatan terakhir untuk sang kakek. Selebihnya, keputusan untuk menikah tetap berada ditangannya.
Dirga sama sekali tidak mengetahui bahwa di malam yang sama, seorang perempuan bernama Kanaya Pradipta tengah duduk di kamarnya sambil menatap sebuah map putih yang berisi masa depan yang telah dipersiapkannya selama bertahun-tahun.
Dan tanpa mereka sadari, jalan hidup keduanya perlahan mulai dipertemukan oleh sebuah surat wasiat yang tidak pernah mereka minta.
...****************...
Pagi hari datang dengan ritme yang cepat tanpa disadari, kediaman keluarga Atmajaya kembali dipenuhi dengan pembahasan mengenai surat wasiat yang dibacakan semalam.
Dirga yang baru saja menyelesaikan sarapannya tampak sibuk membaca beberapa dokumen yang dibawa dari kantor. Baginya, perjodohan tersebut tidak lebih dari sebuah keputusan ynag tidak masuk akal.
"Ayah harap kamu benar-benar mempertimbangkannya, Dirga," ujar Lukman membuka pembicaraan.
"Tidak ada yang perlu di pertimbangkan," jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.
Laras yang duduk di samping sang suami pun menghela napas pelan. Semalam, mereka memang sengaja tidak memaksa Dirga untuk memberikan jawaban. Namun, melihat putranya yang begitu keras kepala, keduanya mulai merasa keputusan sang kakek tidak akan mudah untuk dijalankan.
"Kamu bahkan belum mengetahui siapa calon istrimu," ujar Laras.
"Aku juga tidak tertarik untuk mengetahuinya." Jawaban dingin itu sudah cukup membuat kedua orang tuanya saling bertukar pandang.
"Dia berasal dari keluarga yang baik," lanjut Laras mencoba meyakinkan.
"Banyak perempuan berasal dari keluarga yang baik di luar sana, Bu."
Dirga meletakkan cangkir kopinya di atas meja sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku sudah memiliki perempuan yang ingin kunikahi. Jadi sampai kapan pun jawabanku akan tetap sama."
Mendengar jawaban tersebut, Lukman akhirnya membuka map cokelat yang telah dipersiapkannya sejak tadi.
"Kalau begitu, setidaknya kalian ketemu dulu untuk saling mengenal satu sama lain."
"Ayah-..."
"Dirga."
Untuk pertama kalinya pagi itu, Lukman memotong ucapan putranya dengan nada yang cukup tegas.
"Kamu boleh menolak perjodohan ini. Tidak ada yang melarangmu. Namun, bukan berarti kamu boleh menolak tanpa mengetahui siapa perempuan yang telah dipilih oleh kakekmu"
Dirga terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. Dengan enggan, ia menerima sebuah map yang disodorkan oleh sang ayah.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar data diri dan sebuah foto seorang perempuan yang tengah mengenakan kemeja putih dengan senyum tipis di wajahnya.
Kanaya Pradipta.
Dirga membaca nama yang tertera di sana dengan ekspresi datar.
"Usianya dua puluh lima tahun. Lulusan terbaik dari universitasnya dan berasal dari keluarga Pradipta," jelas Lukman.
"Aku mengenal ayahnya cukup baik. Mereka adalah keluarga yang sangat di hormati."
Dirga tidak terlalu tertarik dengan seluruh penjelasan tersebut. Baginya, semua informasi itu tidak akan mengubah keputusannya.
"Dia terlihat baik," ujar Laras pelan.
"Aku tidak membutuhkan perempuan baik untuk memenuhi isi surat wasiat, Bu. Aku membutuhkan perempuan yang ingin kunikahi."
Ucapan Dirga kembali membuat suasana ruang makan menjadi hening.
Beberapa saat kemudian, ponsel Dirga bergetar menampilkan nama Viona di layar. Sudut bibirnya sedikit melunak sebelum menerima panggilan tersebut.
"Iya?"
"Sayang, kamu masih di rumah orang tuamu?" tanya Viona dari seberang sana.
"Iya masih."
"Aku merindukanmu. Aku mau ketemu sama kamu."
Dirga melirik foto Kanaya yang masih berada di atas meja makan sebelum menjawab, "Baiklah, nanti malam."
"Ya sudah aku tunggu ya.."
Panggilan pun berakhir tak lama kemudian.
Tanpa ragu, Dirga menutup kembali map yang berisi seluruh informasi mengenai Kanaya dan menyerahkannya kepada sang ayah.
"Aku tidak akan mengubah keputusanku."
"Bagaimana jika Kanaya menerima perjodohan ini?" tanya Laras.
"Itu haknya."
"Lalu bagaimana dengan perasaannya, Dirga?"
Dirga bangkit dari kursinya dan merapikan jas yang di kenakannya. "Itu bukan tanggung jawabku, Bu."
Dirga menghela napas pelan sebelum melangkah meninggalkan ruang makan.
Baginya, surat wasiat tetaplah sebuah surat wasiat. Ia bisa menghormati amanat terakhir sang kakek tanpa harus mengorbankan keputusan yang telah diambilnya sejak lama.
Satu-satunya perempuan yang ingin di nikahinya adalah Viona.
Sedangkan perempuan bernama Kanaya itu...hanyalah seseorang yang secara tidak sengaja di pertemukan dengannya oleh takdir yang sama sekali tidak pernah ia inginkan.