SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – Jejak Pertama
Nama Anggota Ekspedisi
Idris Kapten ESS Horizon
Kael Wakil Kapten
Darius Kepala Insinyur (Reaktor & Mesin)
Lyra Ahli Biologi
Rina Analis Data
Niko Navigator
Mira Dokter Kapal
Evan Pilot Utama
Leo Pakar Komunikasi
Hana Ahli Geologi Planet
Reza Kepala Keamanan
Owen Teknisi Sistem & Robotika
Peran singkat mereka
Idris → Pemimpin yang tenang dan berpengalaman.
Kael → Tokoh utama, sering mengambil keputusan di lapangan.
Darius → Suka bercanda, tetapi sangat ahli dalam bidang mesin.
Lyra → Ilmuwan yang logis dan selalu ingin mencari jawaban.
Rina → Jenius komputer, sering membantu memecahkan data dan teka-teki.
Niko → Ahli navigasi, bertanggung jawab menentukan rute perjalanan.
Mira → Dokter kapal yang perhatian terhadap seluruh kru.
Evan → Pilot yang percaya diri dan piawai mengendalikan ESS Horizon.
Leo → Ahli komunikasi dan linguistik, berusaha menerjemahkan sinyal misterius.
Hana → Ahli geologi yang meneliti planet, asteroid, dan struktur asing.
Reza → Kepala keamanan, disiplin dan selalu memikirkan keselamatan kru.
Owen → Teknisi robotika, bertugas merawat drone, robot, dan sistem pendukung kapal.
Lanjut Cerita
ESS Horizon tetap berada pada jarak aman dari puing kapal.
Di layar utama, bangkai kapal itu berputar perlahan di ruang hampa.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada tanda kehidupan.
Hanya logam yang telah rusak dimakan waktu.
Kapten Idris memecah keheningan.
"Laporan."
Rina menggeser beberapa jendela data.
"Panjang objek sekitar dua ratus tiga puluh meter."
"Hull mengalami kerusakan di beberapa bagian."
"Belum terdeteksi sumber energi aktif."
Kael menoleh kepada Owen.
"Siapkan drone inspeksi."
"Siap."
---
Owen mengendalikan dua drone berbentuk bola dari ruang kendali robotika.
Kedua drone keluar melalui hanggar kecil di bagian bawah ESS Horizon.
"AURA, tampilkan kamera Drone Satu."
"Tersambung."
Gambar beresolusi tinggi memenuhi layar.
Drone perlahan mendekati lambung kapal yang rusak.
Leo memperbesar tulisan yang hampir tertutup lapisan es.
"Masih bisa dibaca."
Huruf demi huruf mulai terlihat.
**ESV PIONEER**
Tidak ada lagi yang meragukan identitas kapal itu.
---
"Apa penyebab kerusakannya?" tanya Reza.
Hana memperhatikan hasil pemindaian material.
"Tidak ada bekas tumbukan asteroid."
"Tidak ada?"
"Tidak."
"Lalu ledakan dari dalam?" tanya Darius.
Hana menggeleng.
"Pola kerusakannya tidak sesuai."
Semua menatapnya.
"Kalau reaktor meledak, bagian tengah kapal akan hancur lebih dulu."
"Di sini justru bagian depan yang rusak paling parah."
Kael mengerutkan dahi.
"Seolah-olah..."
"...sesuatu menghantam kapal dari luar," sambung Hana.
Ruangan kembali sunyi.
---
"Drone memasuki lambung kapal," lapor Owen.
Lorong gelap muncul di layar.
Lampu drone menerangi dinding yang dipenuhi debu.
Kursi-kursi masih berada di tempatnya.
Beberapa pintu terbuka.
Tidak terlihat jasad.
Tidak terlihat barang pribadi.
Seolah kapal itu telah dikosongkan.
Mira memperhatikan rekaman itu.
"Kalau seluruh kru meninggal di dalam kapal, setidaknya kita akan menemukan sisa-sisa biologis."
"Benar," jawab Lyra.
"Tapi tidak ada apa pun."
---
Drone bergerak menuju ruang komando.
Pintunya setengah terbuka.
Saat kamera masuk...
semua orang langsung memusatkan perhatian.
Ruangan itu porak-poranda.
Layar kendali pecah.
Panel-panel terbakar.
Namun ada satu benda yang masih utuh.
"Sebuah kapsul data," kata Rina.
Kapten Idris langsung memberi perintah.
"Owen."
"Bisa diambil."
Lengan mekanis drone perlahan menjepit kapsul itu.
"Tunggu."
Suara Reza menghentikannya.
"Lakukan pemindaian dulu."
Owen mengangguk.
"Memindai."
Beberapa detik kemudian.
"Tidak ada bahan peledak."
"Tidak ada radiasi berbahaya."
"Silakan ambil."
Kapsul data berhasil diamankan.
---
Ketika drone hendak keluar...
sensor gerak tiba-tiba berbunyi.
"Bip... Bip..."
Owen membeku.
"Ada apa?" tanya Kael.
"Drone mendeteksi pergerakan."
"Di mana?"
"Koridor belakang."
Semua mata tertuju ke layar.
Lampu drone diarahkan ke lorong panjang.
Kosong.
Tidak ada apa pun.
Mira menghela napas.
"Mungkin sensor rusak."
Namun AURA segera membantah.
"Sensor berfungsi normal."
"Lalu apa yang bergerak?"
"Tidak diketahui."
Owen menggerakkan kamera ke kiri.
Tetap kosong.
Ke kanan.
Masih kosong.
Tiba-tiba...
Sebuah bayangan melintas sangat cepat di ujung lorong.
"Berhenti!" seru Reza.
Owen langsung menghentikan drone.
"Perbesar gambar!"
Rina memperlambat rekaman.
Bayangan itu hanya muncul kurang dari sepersepuluh detik.
Terlalu cepat untuk dikenali.
Leo menatap layar.
"Itu manusia?"
"Tidak cukup data," jawab AURA.
---
Suasana di dek komando berubah tegang.
Kapten Idris mengambil keputusan.
"Kita tidak mengirim tim ke dalam."
Reza sedikit terkejut.
"Kapten, kalau ada penyintas..."
"Belum ada bukti."
"Tapi..."
"Kita tidak mempertaruhkan dua belas orang hanya karena satu bayangan."
Reza mengangguk.
"Baik."
---
Beberapa menit kemudian drone kembali ke ESS Horizon.
Owen menyerahkan kapsul data kepada Rina.
"Semoga isinya masih bisa dibaca."
Rina memasukkan kapsul itu ke alat pembaca data.
Lampu indikator berkedip beberapa kali.
"Lumayan."
"Media penyimpanannya masih utuh."
"Berapa lama?"
"Sekitar tiga puluh menit untuk memulihkan datanya."
Kapten Idris melihat seluruh kru.
"Selama menunggu, tidak ada yang meninggalkan pos."
"Reza."
"Ya."
"Tingkatkan status keamanan menjadi Siaga Dua."
"Siap."
---
Tiga puluh menit kemudian.
Rina berdiri dari kursinya.
"Kapten."
"Sudah berhasil?"
"Sebagian."
"Apa yang kita dapat?"
Rina menampilkan isi kapsul data ke layar utama.
Hanya ada satu berkas yang berhasil dipulihkan.
Bukan laporan.
Bukan peta.
Melainkan rekaman video berdurasi **empat puluh tujuh detik**.
Di sudut layar tertera tanggal.
**18 Agustus 2338.**
Tanggal yang sama ketika **ESV Pioneer** mengirim laporan terakhirnya kepada PPM.
Kapten Idris menarik napas panjang.
"Putar."
Seluruh lampu dek komando otomatis diredupkan.
Semua mata tertuju pada layar.
Tidak seorang pun mengetahui...
bahwa rekaman itu akan menjadi petunjuk pertama tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dua puluh tiga ekspedisi yang hilang.