Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.
Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.
Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.
"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.
"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.
Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan Diantara Rak Buku
Suasana di perpustakaan SMA Bina Bangsa terasa sejuk dan tenang. Aroma khas kertas dan buku-buku tua menyambut Anggi saat ia melangkah masuk melewati pintu kaca yang berdecit pelan.
"Gi, gue ketagihan snack gurih yang di kantin tadi deh," bisik Mely sambil menunjuk ke arah luar. "Gue balik ke kantin sebentar ya, mau beli cemilan sama minuman buat kita nugas nanti. Lo duluan aja cari bukunya!"
"Eh, emang boleh bawa makanan ke perpus?" tanya Anggi ragu.
"Boleh kok, asal makan di area meja luar dekat taman perpus," jawab Mely mengedipkan sebelah matanya ceria. "Dah ya, tunggu sebentar!"
Sebelum Anggi sempat membalas, Mely sudah melenggang pergi meninggalkannya sendirian. Anggi menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, lalu berjalan menyusuri rak-rak tinggi bernomor di lorong bagian belakang.
Jemari lentiknya menelusuri punggung-punggung buku tebal berlabel Fisika Lanjutan & Bank Soal Kelas X. Suasana lorong perpustakaan yang sepi membuat langkah kakinya terdengar begitu jelas.
Saat Anggi akhirnya menemukan buku yang dicari di rak bagian atas dan berjinjit untuk menggapainya, sebuah jemari jemari tebal mendahuluinya dari belakang, mengambilkan buku tersebut dengan mudah.
Anggi terkejut dan berbalik cepat.
"Cari yang ini, kan?"
Zayan berdiri begitu dekat di hadapannya, memegang buku Fisika yang diinginkan Anggi. Rupanya setelah menyelesaikan urusannya dengan wali kelas tadi, Zayan langsung menuju perpustakaan.
Anggi mendongak, menatap mata tajam namun hangat milik sang Ketua OSIS.
"K-Kak Zayan?" bisik Anggi kaget. "Iya... buku yang itu."
Zayan menyerahkan buku tersebut ke telapak tangan Anggi, senyum tipisnya kembali mengukir di wajah tampannya. "Tadi aku lihat kamu lewat kelas. Mely ke mana? Kok sendirian di lorong sepi begini?"
"Dia mau ke kantin, Kak," jawab Anggi pelan sambil menerima buku Fisika yang disodorkan Zayan. "Mau beli cemilan sebentar."
Zayan mengangguk-angguk paham, menyandarkan satu bahunya santai pada rak buku di samping mereka. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana seragamnya.
"Pantesan tinggal sendirian," kata Zayan dengan nada bercanda yang halus. "Mely memang anaknya gitu, nggak bisa diam kalau dengar kata kantin."
Anggi terkekeh pelan. "Iya, Kak. Tapi Mely baik banget kok, dari hari pertama udah banyak bantu aku adaptasi di sini."
"Baguslah kalau kamu cepat betah," Zayan menatap Anggi dengan lekat. Tatapan mata cowok itu begitu jujur dan hangat, tanpa ada sedikit pun kesan menghakimi. "Terus gimana pelajaran sejauh ini? Ada kendala atau kesulitan?"
"Sejauh ini aman, Kak. Cuma ini mau memperdalam materi Fisika aja," sahut Anggi sambil menunjukkan cover buku tebal di tangannya.
Zayan tersenyum tipis. "Kalau nanti ada materi Fisika atau mata pelajaran lain yang bikin pusing, tanya aja ke aku. Jangan sungkan."
Anggi sempat terpaku sejenak menatap Zayan. Tawaran itu terdengar begitu tulus. Tidak ada drama, tidak ada kepalsuan—hanya perhatian hangat yang membuat dada Anggi terasa jauh lebih ringan.
"Makasih banyak ya, Kak Zayan," ucap Anggi tulus.
"Sama-sama, Anggi." Zayan menepuk pelan puncak kepala Anggi—sebuah gestur kecil yang refleks namun sukses membuat jantung Anggi berdesir hangat—sebelum akhirnya memundurkan langkahnya. "Ya udah, aku mau balikin berkas OSIS ke penjaga perpus dulu. Nanti kalau Mely udah datang, jangan makan di dalam perpus ya, ntar disemprot Bu Yayuk."
Anggi tertawa kecil lalu mengangguk cepat. "Siap, Kak!"
Dengan langkah tegapnya, Zayan berjalan menuju meja petugas perpustakaan. Sementara itu, Anggi berdiri memegang bukunya, merasakan kehangatan yang perlahan menggeser sisa-sisa kekecewaan di hatinya.