NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 14) Istri cantik dari Indonesia

Jarum jam antik di dinding ruang tamu utama menunjukkan pukul sepuluh tepat. Denting halusnya menggema pelan, seolah menegaskan setiap detik yang terbuang dalam penantian.

David masih duduk tegap di sofa. Ia melirik waktu di jam tangan mahalnya dengan tatapan tajam, namun terselip gelisah yang samar.

Pukul sepuluh lewat dua menit.

Alisnya berkerut tipis.

"Kenapa dia lama sekali?" batinnya. "Apa yang sedang dia lakukan di kamar? Segitunya dia tidak ingin berjalan bersamaku, sampai harus mengulur-ulur waktu?"

David mengembuskan napas pelan.

Tiada lama kemudian, hentakan sepatu hak tinggi terdengar dari lantai atas.

Tok. Tok. Tok.

Suara itu menggema di tangga marmer melengkung, memantul indah di dinding-dinding tinggi. David spontan mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Dadanya, tanpa ia sadari, berdebar satu ketukan lebih cepat.

Ia mendongak.

Dan waktu seperti melambat.

Laila berjalan menuruni tangga dengan satu tangan berpegangan pada ukiran besi berlapis emas. Langkahnya anggun, terukur, seolah setiap pijakan telah diperhitungkan. Gaun panjang membalut tubuhnya dengan sempurna. Potongannya sederhana, namun jatuhnya kain itu mengikuti lekuk tubuhnya dengan begitu sempurna.

Kulitnya seputih susu, bersih tanpa cela. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar di belakangnya membuat sosoknya seakan diselimuti aura keemasan. Kedua bola matanya berkilau, bagaikan danau yang menyimpan rahasia.

Rambut hitam panjangnya tergerai indah, bergerak halus setiap kali ia melangkah bak kepakan sayap merpati yang hendak terbang.

Riasannya tipis. Natural. Tetapi justru itulah yang membuat kecantikannya semakin memancar. Bibirnya berwarna merah muda lembut, pipinya merona alami. Tidak berlebihan. Tidak mencolok. Namun memikat.

David terpaku.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah kontrak, ia baru benar-benar melihat kecantikan Laila yang sesungguhnya.

Wanita itu… sangat mempesona.

David berdiri tanpa sadar. Kakinya melangkah mendekati tangga. Senyum tipis mengembang di wajahnya.

Saat Laila hampir mencapai anak tangga terakhir, David mengulurkan tangannya.

"Hari ini," ucapnya rendah namun jelas, "kau sangat mempesona, istriku."

Laila terdiam sejenak. Matanya yang indah memandangi wajah pria di hadapannya. Ada jeda di sana. Hening yang mengandung sesuatu yang tak terucap.

Ia beralih menatap tangan David.

Lalu perlahan, dengan gerakan lembut, Laila meletakkan tangannya di atas telapak tangan pria itu.

Sentuhan itu ringan. Namun terasa seperti aliran listrik yang menyentuh kulit.

"Terima kasih," jawab Laila pelan, disertai senyum tipis yang membuat sudut mata David menghangat.

Di sudut ruangan, para pelayan yang menyaksikan momen itu mulai berbisik-bisik.

"Wah, lihatlah… mereka sangat serasi," gumam salah satu pelayan perempuan dengan mata berbinar.

"Benar sekali," sahut yang lain. "Sepertinya mereka memang jodoh yang telah ditakdirkan Tuhan."

Bisikan-bisikan tersebut seperti riak kecil di permukaan danau, tak mengganggu, namun cukup terdengar.

Laila mendengarnya samar-samar. Ia menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi canggungnya yang entah mengapa pipinya jadi memerah. Hatinya berusaha tetap netral. Ia tidak boleh terlena. Semua ini hanya bagian dari sandiwara yang disepakati.

"Mengapa sentuhan tangan David terasa hangat?" batinnya. "Perlakuannya juga lebih lemah lembut dari sebelumnya. Ditambah, pujiannya barusan, benar-benar membuatku terganggu."

Perasaan Laila berkecamuk.

David lantas menggenggam tangan Laila dengan mantap, tidak terlalu erat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak ingin melepasnya. Mereka berjalan berdampingan melewati ruang tamu besar itu. Langkah mereka seirama, seperti dua nada yang akhirnya menemukan harmoni.

Pintu utama terbuka.

Cahaya pagi menyambut mereka dengan cerah.

Angin lembut berembus, menggerakkan ujung gaun Laila. Aroma bunga dari taman depan rumah menyebar di udara, segar dan manis.

Di halaman luas yang dipenuhi mobil-mobil mewah, Leo sudah berdiri di sana. Sopir sekaligus orang kepercayaan David, mengenakan setelan rapi dan kacamata hitam.

Begitu melihat tuannya dan Laila mendekat, ia segera membungkuk hormat, lalu dengan sigap berjalan membuka pintu belakang mobil mewah itu. Interiornya berlapis kulit krem, bersih tanpa noda, beraroma lembut khas mobil baru.

David tidak langsung masuk. Ia menoleh pada Laila. "Silakan," ucapnya pelan.

Laila menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil. Ia sedikit mengangkat gaunnya agar tidak tersangkut, kemudian melangkah masuk ke dalam mobil dengan anggun.

Selama gerakan itu, David tidak mampu mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wanita itu.

Tatapannya mengikuti setiap detail. Baik cara Laila duduk dengan punggung tegak, maupun saat ia merapikan rambutnya ke belakang telinga, dan ketika menutup pintu perlahan.

Setelahnya, barulah David Mendoza memasuki mobil. Duduk tepat disebelah Laila.

Mobil meluncur perlahan meninggalkan halaman rumah megah itu. Gerbang besi terbuka otomatis, lalu tertutup kembali begitu kendaraan keluar.

**********

Mesin mobil melaju halus membelah jalanan kota Sao Paulo yang padat. Gedung-gedung tinggi berdiri kokoh di kanan dan kiri, memantulkan cahaya matahari yang mulai condong. Di dalam mobil berkilau itu, suasana terasa hening, tegang, dan penuh jarak yang tak kasatmata.

Laila duduk di sisi kiri bangku belakang. Tangannya terlipat di atas pangkuan, jari-jarinya saling bertaut seolah mencari pegangan. Ia menatap keluar jendela, memperhatikan setiap bangunan, lampu lalu lintas, pejalan kaki, dan mural warna-warni di dinding kota seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.

Di sisi lain, David duduk tegap dengan rahang mengeras. Jas hitamnya rapi tanpa cela. Namun, sikapnya yang tenang tak mampu menyembunyikan pikirannya yang sibuk.

Tak ada percakapan.

Hanya suara mesin mobil dan sesekali klakson kendaraan lain yang memecah sunyi.

David akhirnya mengalihkan tatapannya. Matanya memandang wajah Laila yang terpantul samar di kaca jendela. Rambut panjang perempuan itu tergerai lembut, tersapu cahaya senja. Sorot matanya berbinar, seolah ia sedang menelaah dunia satu per satu.

Sudut bibir David terangkat membentuk senyum kecil.

"Dia seperti anak kecil yang bersembunyi dibalik tubuh wanita dewasa," batinnya.

Mobil pun melambat.

Leo, yang duduk di kursi pengemudi, menoleh sedikit melalui kaca spion.

"Kita sudah sampai Tuan," ujarnya sopan.

Mobil berhenti dengan mulus di pelataran sebuah pusat perbelanjaan megah yang menjulang tinggi dengan arsitektur modern dan kaca-kaca besar yang memantulkan langit.

Laila berkedip bingung.

Ia celingak-celinguk, mencoba memahami tempat itu.

David menangkap ekspresi kebingungannya dan tersenyum tipis.

"Kita sedang berada di Muito Rico Mall," ucapnya tenang. "Mal paling besar di Sao Paulo, Laila."

Laila tersentak pelan.

"Benarkah?" gumamnya hampir tak percaya.

Ia melongok ke arah David. Lelaki itu sudah lebih dulu keluar dari mobil dan kini berdiri di samping pintu Laila. Tangan kanannya terulur, wajahnya dihiasi senyuman yang sulit diartikan, antara lembut dan penuh percaya diri.

"So... maukah kau menghabiskan waktumu bersamaku di Muito Rico Mall, hari ini?” tanyanya.

Laila membisu sejenak. Namun perlahan, ia mengulurkan tangannya.

Anggukan kecil mengiringi gerakannya.

David kembali menggenggam tangan itu dengan hangat dan lembut.

Mereka berjalan keluar dari mobil. Begitu berdiri berdampingan, David meletakkan tangan Laila yang ia genggam ke lengannya, mengalungkannya dengan natural, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.

"Pegang yang erat," bisiknya pelan.

Laila menelan ludah, tetapi menurut. Di belakang mereka, Leo dan beberapa pengawal berpakaian hitam turun mengikuti dengan sigap.

Pintu kaca otomatis terbuka.

Seketika, gemerlap lampu kristal, aroma parfum mahal, dan kilau etalase butik kelas dunia menyambut mereka.

Beberapa orang yang berlalu-lalang mulai memperhatikan. Tatapan penasaran, kagum, dan bisik-bisik halus terdengar samar.

"Siapa mereka?"

"Lihat pengawalnya…"

"Pria itu tampan sekali…"

Laila merasakan pipinya menghangat. Ia masih merangkul lengan David, tetapi kini langkahnya sedikit kaku.

David meliriknya dari sudut mata. Wajah Laila memerah. Bibirnya terkatup rapat.

"Imut sekali," batin David, geli. Sebuah sensasi aneh, membuatnya ingin tersenyum terus-menerus.

Mereka lalu memasuki butik pertama.

Sepatu.

Semua merek terkenal dunia berderet rapi. Laila bahkan tak berani menyebut harganya dalam hati.

"Coba yang itu," ujar David sambil menunjuk sepasang sepatu hak tinggi berwarna nude.

Laila menggeleng pelan. "Tidak perlu, ini terlalu..."

"Coba saja." Nada suara David tegas, tetapi tak memaksa.

Pramuniaga dengan cekatan membantu Laila mengenakan sepatu itu.

Begitu Laila berdiri, David menatapnya dari atas ke bawah.

"Sempurna," katanya singkat.

"Saya akan ambil," lanjutnya pada pramuniaga.

Laila membelalak. "Tu.. maksudku, Dev... ini harganya pasti mahal sekali.”

David hanya tersenyum. "Jangan berkata begitu, sayang. Itu adalah kalimat terlarang."

Kemudian, mereka ke butik berikutnya.

Gaun...Tas... Kacamata.

Setiap kali Laila mencoba sesuatu, David membelinya tanpa ragu.

"Yang ini juga, bungkus."

"Tambahkan yang warna hitam."

"Ambil dua ukuran."

Leo dan para pengawal mulai dipenuhi kantong-kantong belanjaan mewah. Tangan mereka hampir tak muat lagi menenteng semua barang.

Saat mereka berjalan menyusuri lorong mal, rombongan itu menjadi pusat perhatian.

Tentengan berderet. Pengawal berbaris. David dan Laila berjalan di depan seperti pasangan bangsawan.

Laila menunduk, pipinya semakin merah.

"Sepertinya kita sudah jadi pusat perhatian," bisiknya pelan.

"Benar. Karena kau cantik," jawab David santai.

Laila menatapnya cepat. "Bukan itu maksudku."

David terkekeh pelan.

Mereka berhenti di depan sebuah toko perhiasan yang berkilau memantulkan cahaya lampu seperti bintang.

David melangkah masuk tanpa ragu. Laila mengikuti, jantungnya berdegup lebih cepat.

Etalase berisi kalung berlian, anting, dan cincin tersusun elegan.

David menunjuk beberapa kalung berlian dengan desain berbeda. "Yang itu. Dan itu juga. Coba kenakan padanya."

Pramuniaga tersenyum profesional.

Kalung pertama dipasang di leher Laila.

Lehernya jenjang dan putih bersih. Kilau berlian memantul indah di kulitnya.

Kalung kedua.

Lalu ketiga.

Semua terlihat menawan.

Penjaga toko mendekat, tersenyum kagum. "Semuanya tampak sangat cocok pada Anda, Nyonya," katanya tulus. "Selama saya bekerja di sini, saya belum pernah menemukan pelanggan yang secantik anda. Anda pasti dari luar negeri, bukan?"

Laila tersenyum sopan. "Iya. Saya dari Indonesia."

"Wah, pantas saja," sahut penjaga toko itu. "Kecantikan Anda berbeda. Sungguh anggun. Anda juga sangat lancar menggunakan bahasa Portugis. Luar biasa..."

Ia lalu menoleh pada David. "Anda benar-benar pria yang beruntung memiliki istri secantik Nyonya, Tuan."

Laila hampir tersedak.

David justru menyeringai puas. "Tentu saja," jawabnya ringan. "Aku bahkan kesulitan mengalihkan pandanganku dari wajah cantiknya."

Tatapan David lurus pada Laila. Intens. Dalam. Penuh makna. Membuat jantung Laila berdegup tidak karuan. Ia sontak menunduk cepat, pipinya memanas.

"Apa-apaan sih… dasar," gerutu Laila dalam hati.

David tertawa kecil melihat reaksinya. "Aku ambil semuanya," katanya pada penjaga toko.

"Semuanya?" tanya Laila kaget.

David menoleh padanya. "Yes, baby..."

"Menurutku, itu semua cocok padamu." Lanjutnya mengeluarkan black card tanpa batas.

Transaksi berlangsung cepat.

Tak lama, kotak-kotak perhiasan elegan telah berpindah ke tangan Leo dan para pengawal.

"Ternyata benar, dia memang pria terkaya di urutan 23 dunia," batin Laila membatu. Seperti emot batu.🗿

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!