NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:450
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Konser Sunyi di Menara Kaca

Pagi pertama di Navasari tanpa kehadiran fisik Arlo terasa sangat berbeda. Alana terbangun bukan karena alarm, melainkan karena getaran halus dari kompas kuningan yang diletakkan di atas meja kristalnya. Jarumnya tidak lagi berputar; ia menunjuk lurus ke atas, ke arah bintang amber yang tetap bersinar meskipun matahari mulai merangkak naik di ufuk timur.

Alana bangkit dari tempat tidur cahayanya. Ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan, seolah-olah berat gravitasi bumi tidak lagi sepenuhnya berlaku padanya. Namun, saat ia mendekati dinding kaca menara, ia teringat akan isolasi yang kini menjadi kenyataan hidupnya. Ia adalah Sang Navigator yang terperangkap di dalam cangkang energi.

"Selamat pagi, Alana," suara Elian terdengar dari bawah, disusul oleh derap langkah kakinya yang mendaki tangga kayu.

Elian berhenti tepat di depan membran transparan. Di tangannya, ia membawa sebuah baki kayu berisi segelas teh melati hangat dan sepiring singkong rebus sarapan sederhana khas desa. Ia meletakkan baki itu ke dalam "Kotak Filter" di celah bawah membran.

"Tehnya dari kebun Bu Ratna," kata Elian sambil tersenyum tipis. "Dia bilang, dia menambahkan sedikit madu hutan untuk 'Gadis Langit' kita."

Alana mengambil gelas itu. Melalui sarung tangan energi yang kini menjadi bagian dari kulitnya, ia bisa merasakan panas teh tersebut, namun sensasinya terasa seperti sinyal digital akurat tapi tidak sepenuhnya "hangat" dalam pengertian manusia.

"Terima kasih, Elian. Bagaimana keadaan di bawah? Apakah mereka masih membicarakanku?"

Elian duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada kaca yang memisahkan mereka. "Desa sangat tenang. Seolah-olah mereka baru saja menerima wahyu. Tapi, ada masalah baru. Berita tentang 'fenomena petir ungu' semalam sudah mulai menyebar di media sosial. Seseorang di desa tetangga sempat memotretnya."

Alana menghela napas, uap tehnya membentuk pola fraktal di udara. "Aku sudah menduganya. Cahaya sebesar itu tidak mungkin disembunyikan."

"Aku sudah meminta Pak Haji untuk menutup akses jalan menuju hutan dengan alasan longsor," lanjut Elian. "Tapi itu tidak akan bertahan lama. Para pemburu misteri dan jurnalis akan segera datang."

Alana tahu ia harus mulai menjalankan tugasnya. Ia duduk di depan konsol utama yang kini telah menyatu dengan frekuensi batinnya. Ia menutup matanya, membiarkan pikirannya melayang ke luar menara, menembus lapisan atmosfer hingga ia bisa "mendengar" gema-gema emosi dari seluruh dunia.

Itu seperti sebuah konser raksasa yang sunyi. Ia mendengar tangisan seorang anak di pinggiran kota yang lapar, ia mendengar doa seorang kakek yang kesepian, dan ia mendengar jeritan ketakutan dari mereka yang tertindas.

"Kau harus memilih satu, Alana," suara Arlo bergema di dalam kepalanya, terbawa oleh angin kosmik. "Jangan mencoba menyelamatkan semuanya sekaligus, atau jiwamu akan terurai lagi."

Alana memusatkan fokusnya pada sebuah sinyal yang sangat lemah, namun sangat murni. Sinyal itu datang dari sebuah rumah sakit di kota yang jauh. Seorang gadis muda sedang berjuang melawan penyakit yang merampas kemampuannya untuk bicara. Gadis itu sedang menatap jendela, mencari satu saja alasan untuk terus bertahan hidup.

Alana mengambil pena kristalnya. Ia tidak menulis di kertas. Ia menulis langsung pada jalinan cahaya yang menghubungkan menara itu dengan bintang amber.

"Untuk jiwamu yang sunyi...

Dunia mungkin telah mengambil suaramu, tapi langit mendengar setiap detak harapanmu. Jangan menyerah pada kegelapan di dalam ruangan itu. Malam ini, aku akan meminjamkan sedikit cahayaku untukmu. Lihatlah ke atas pukul sembilan malam, dan kau akan tahu bahwa kau tidak pernah bertarung sendirian."

Alana meluncurkan pesan itu. Bukannya menjadi meteor, pesan itu pecah menjadi ribuan partikel cahaya yang tidak terlihat oleh mata manusia, namun akan dirasakan sebagai dorongan semangat yang tiba-tiba di dalam dada gadis di rumah sakit tersebut.

Menjelang sore, Elian kembali ke menara dengan wajah cemas. "Alana, ada sebuah mobil jip hitam yang terparkir di batas desa. Bukan milik militer, tapi milik seorang vlogger terkenal yang spesialisasi di fenomena supranatural. Namanya Reno. Dia punya jutaan pengikut."

Alana menatap ke arah luar, ke arah jalan setapak yang berkelok. Ia bisa merasakan frekuensi asing yang mencoba memindai area tersebut. Itu bukan frekuensi jahat seperti Martha, tapi frekuensi yang penuh rasa ingin tahu yang sembrono yang terkadang jauh lebih berbahaya.

"Dia akan mencoba masuk ke sini, Elian," kata Alana. "Dan jika dia melihatku dalam kondisi seperti ini, seluruh dunia akan tahu bahwa Navasari menyimpan sesuatu yang bukan dari dunia ini."

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Elian, tangannya mengepal.

"Jangan gunakan kekerasan. Itu hanya akan membuatnya semakin penasaran. Biarkan dia masuk ke hutan, tapi berikan dia 'pemandangan' yang salah. Aku akan memanipulasi kabut untuk menyesatkan alat sensornya."

Alana yang berdiri di balkon menara, tangannya mulai menenun kabut tebal yang mulai turun menyelimuti Navasari. Di bawah sana, di dalam jip hitamnya, Reno sang vlogger mulai menyalakan kameranya, tidak menyadari bahwa ia sedang memasuki sebuah wilayah di mana hukum realitas telah ditulis ulang oleh seorang wanita yang jatuh cinta pada langit.

Perang melawan rasa ingin tahu dunia luar telah dimulai, dan Alana menyadari bahwa menjaga rahasia terkadang jauh lebih melelahkan daripada menghadapi musuh yang nyata.

Konser Sunyi di Menara Kaca

Pagi pertama di Navasari tanpa kehadiran fisik Arlo terasa seperti bangun di sebuah planet yang baru saja lahir. Alana terbangun bukan karena alarm ponsel atau cahaya matahari yang menyengat, melainkan karena getaran halus yang merambat dari lantai kayu menara menuju tulang belakangnya. Getaran itu berasal dari kompas kuningan yang diletakkan di atas meja kristalnya jarumnya kini tidak lagi berputar mencari kutub utara bumi, melainkan menunjuk lurus ke atas, tegak lurus ke arah bintang amber yang tetap bersinar di langit pagi, menantang dominasi matahari.

Alana bangkit dari ranjang cahayanya, sebuah jalinan energi yang terasa seperti sutra namun memberikan topangan sekuat baja. Ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan, seolah-olah berat gravitasi bumi yang padat tidak lagi sepenuhnya memiliki otoritas atas dirinya. Saat ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah lembah, ia menyadari bahwa setiap gerakannya meninggalkan pendaran debu indigo halus di udara, yang perlahan-lahan menghilang seperti uap.

Ia adalah Sang Navigator, namun ia juga seorang tahanan. Menara observasi ini sekarang adalah seluruh dunianya.

"Selamat pagi, Alana," suara Elian terdengar dari bawah, bergema di sepanjang tangga melingkar. Langkah kakinya terdengar lebih lambat dari biasanya, membawa beban tanggung jawab yang baru saja ia pikul.

Elian berhenti tepat di depan membran transparan yang memisahkan ruang observasi dengan bagian rumah lainnya. Membran itu kini tampak seperti dinding air yang membeku, bergetar lembut setiap kali frekuensi Alana berubah. Di tangannya, Elian membawa sebuah baki kayu berisi segelas teh melati hangat dan sepiring singkong rebus yang masih mengepulkan uap.

"Tehnya dari kebun Bu Ratna," kata Elian sambil tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa lelah di matanya. "Dia bilang, dia menambahkan sedikit madu hutan untuk membantu 'Gadis Langit' kita memulihkan tenaganya."

Alana berlutut di dekat celah bawah membran, tempat sebuah kotak filter khusus berada. Ia mengambil gelas itu. Melalui sarung tangan energi indigo yang kini menyatu dengan kulitnya, ia bisa merasakan panas teh tersebut, namun sensasinya terasa seperti data digital ia tahu itu panas, ia tahu aromanya melati, namun ia merindukan sensasi kulit yang bersentuhan langsung dengan keramik gelas tanpa perantara energi.

"Terima kasih, Elian. Bagaimana keadaan di desa? Apakah mereka... takut padaku?" tanya Alana pelan, suaranya kini memiliki lapisan gema yang jernih, seperti suara yang keluar dari dalam sumur kristal.

Elian duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada sisi luar membran kaca. "Ketakutan mereka sudah berubah menjadi pemujaan, Alana. Itu yang justru membuatku cemas. Pak Haji mulai melarang orang asing masuk ke desa, dan warga mulai meletakkan bunga di depan gerbang rumah ini. Namun, ada masalah yang lebih modern daripada sekadar mitos desa."

Elian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layar kepada Alana. "Fenomena petir indigo semalam terekam oleh ponsel warga di desa tetangga. Videonya sudah viral di Jakarta. Orang-orang menyebutnya 'The Navasari Anomaly'. Dan pagi ini, aku melihat sebuah jip hitam terparkir di batas desa. Itu milik Reno, vlogger misteri yang punya jutaan pengikut. Dia bukan agen militer, tapi dia punya 'senjata' yang lebih berbahaya di zaman sekarang: kamera dan pengikut yang haus sensasi."

Alana memejamkan matanya, mencoba mengabaikan rasa cemas yang mulai merayap. Ia harus mulai menjalankan tugasnya agar energinya tidak menumpuk dan menjadi tidak stabil. Ia duduk di depan konsol utama yang kini telah menyatu sepenuhnya dengan frekuensi batinnya. Ia membiarkan pikirannya melayang ke luar menara, menembus lapisan kabut Navasari, naik lebih tinggi hingga ia bisa "mendengar" gema-gema emosi dari dunia luar.

Itu adalah sebuah konser raksasa yang sunyi. Tanpa Arlo di sampingnya, suara-suara itu terdengar lebih tajam. Ia mendengar tangisan seorang ibu di sebuah kota yang dilanda konflik, ia mendengar doa seorang kakek di panti jompo yang merasa dilupakan, dan ia mendengar detak jantung seorang gadis kecil di rumah sakit yang sedang berjuang melawan penyakit pernapasan akut.

"Kau tidak bisa menjawab semuanya, Alana," suara Arlo bergema di dalam kepalanya, terbawa oleh tarikan gravitasi bintang amber. "Pilihlah satu frekuensi yang paling murni. Jadilah cahaya bagi yang paling gelap."

Alana memusatkan fokusnya pada gadis kecil di rumah sakit itu. Gadis itu sedang menatap jendela yang gelap, merasa sesak, merasa bahwa dunia telah menyerah padanya. Alana mengambil pena kristalnya, namun ia tidak menulis di atas membran. Ia menulis langsung pada jalinan cahaya yang menghubungkan menara itu dengan atmosfer.

"Untuk napasmu yang berat...

Langit meminjamkan udaranya untukmu malam ini. Setiap kali kau merasa sesak, ingatlah bahwa ada bintang amber di atas sana yang sedang bernapas bersamamu. Kau tidak sendirian dalam sunyi ini."

Begitu Alana meluncurkan pesan itu, sebuah getaran hangat menjalar di tangannya. Di kejauhan, di sebuah kamar rumah sakit yang sunyi, gadis itu tiba-tiba merasakan dadanya menjadi ringan, seolah-olah beban beton yang menghimpitnya telah diangkat oleh tangan tak terlihat. Ia tersenyum, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, monitor jantungnya menunjukkan ritme yang stabil.

Sore harinya, kabut mulai turun menyelimuti Navasari dengan kepekatan yang tidak wajar sebuah reaksi dari suasana hati Alana yang sedang waspada. Dari balkon menaranya, Alana melihat sebuah drone kecil terbang rendah menuju area hutan utara.

"Dia mulai memata-matai kita, Elian," kata Alana melalui radio internal rumah.

"Reno itu?" sahut Elian dari halaman bawah. "Dia sedang mencoba menerbangkan drone dari pinggir jalan raya. Dia pikir dia bisa mendapatkan rekaman eksklusif tentang menara ini."

Alana menatap drone itu dengan mata indigonya yang tajam. Ia bisa melihat aliran sinyal radio yang menghubungkan drone tersebut dengan pengendali di bawah. Ia tidak ingin menghancurkannya itu hanya akan memicu kecurigaan lebih lanjut. Sebaliknya, ia ingin memberikan "pemandangan" yang salah.

"Elian, masuklah ke dalam rumah," perintah Alana. "Aku akan menenun ilusi."

Alana menggerakkan tangannya secara melingkar. Ia memanipulasi butiran air di dalam kabut, mengubah indeks bias cahaya di sekitar menara. Di layar kamera drone Reno, menara observasi yang megah dan bercahaya itu tiba-tiba menghilang, digantikan oleh pemandangan pohon pinus yang lebat dan tebing yang tampak terjal.

Di pinggir jalan raya, Reno sang vlogger mengucek matanya sambil menatap monitor ponselnya. "Lho? Tadi aku lihat ada bangunan tinggi di sini. Kok sekarang cuma hutan? Sinyalnya terganggu atau tempat ini emang beneran angker?"

Alana tersenyum kecil di balik kaca isolasinya. Namun, ia tahu ini hanya kemenangan sementara. Rasa ingin tahu manusia adalah frekuensi yang paling sulit untuk diredam. Jika ia tidak bisa bersembunyi selamanya, ia harus belajar untuk hidup berdampingan dengan bayangan dunia luar tanpa pernah membiarkan mereka menyentuh intinya.

Alana yang berdiri di balkon menara, menatap bintang amber yang mulai muncul di antara sela-sela awan sore. Ia menyadari bahwa hidupnya kini adalah sebuah orkestra yang rumit: satu tangan menulis surat cinta untuk mereka yang menderita, dan tangan lainnya membangun benteng untuk mereka yang mencoba mencuri keajaiban.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!