NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan Maut

Langit kelabu pekat menggantung rendah, menyimpan guruh yang belum sempat meledak. Jakarta sore itu adalah sebuah tungku raksasa yang mendidih. Namun, perasaan yang hinggap dalam diri wanita hamil itu membuatnya sangat bahagia. Pagi tadi, Galen mengajaknya pergi untuk bertemu dengan patner bisnisnya sekaligus makan siang bersama.

Hal itu memang biasa saja bagi Shabiya. Yang membuat perasaannya senang adalah ketika dalam perjalanan pulang, mereka terjebak macetnya kota Jakarta di sore hari karena bertepatan dengan jam pulang kerja. Ide gila itu kembali muncul karena setelah sekian lama tidak mendapat celah untuk melarikan diri.

Shabiya berlari menembus trotoar Sudirman yang padat, napasnya tersengal, dan dadanya terasa sesak seolah paru-parunya diisi oleh abu. Tapi yang ada di kepalanya hanyalah satu kata. Lari. Ia harus menggunakan kesempatan apapun bahkan sekecil apapun kesempatan itu.

Gaun hamilnya yang longgar berkibar liar, menghambat langkahnya yang mulai gontai. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, melunturkan riasan wajah yang selama ini dipoles sedemikian rupa agar mirip dengan Thana. Ia kini bukan lagi sebuah mahakarya restorasi, ia hanyalah seorang wanita yang sedang ketakutan sambil membawa nyawa kecil di rahimnya yang sedang diincar oleh monster yang ia panggil suami.

"Nyonya! Berhenti!" teriakan Arsen terdengar dari arah belakang, disusul deru sepatu bot yang menghantam aspal.

Shabiya tidak menoleh. Ia menerjang kerumunan orang di depan sebuah stasiun MRT, mencoba menghilang di antara bahu-bahu manusia. Namun, keberuntungan tidak berpihak padanya. Sebuah SUV hitam milik tim keamanan Gemilar sudah memotong jalan di depan, memaksanya berbelok tajam menuju jalan raya berbeda arah yang sedang sibuk oleh arus kendaraan jam pulang kantor.

Di dalam kabin yang kedap suara itu, Galen duduk dengan rahang yang mengeras. Ia tidak ikut mengejar Shabiya, pria itu menyerahkan istrinya untuk di bawa kembali oleh para pengawalnya. Pria itu tidak mungkin membiarkannya pergi begitu saja, hanya saja hari ini Galen terlalu lelah.

Mungkin, sedikit bermain dengan wanita itu bisa memberi efek rileks bagi keduanya. Matanya menyapu jalanan dengan ketajaman elang, hingga akhirnya ia melihatnya.

Indra penglihatannya menangkap sesosok wanita berpakaian hitam, dengan rambut panjang yang berkibar berantakan, muncul dari sela-sela gang dan berlari langsung ke arah jalur cepat. Bibir yang awalnya menunjukkan senyum licik kini mulai menghilang digantikan dengan wajah datarnya yang kembali mengeras.

"Shabiya..." bisik Galen. Jantungnya yang biasanya berdetak stabil untuk urusan bisnis, kini seolah berhenti berdenyut.

Ia melihat Shabiya menoleh ke arah Arsen yang nyaris mencengkeram lengannya. Dalam kepanikan yang murni, Shabiya melompat ke badan jalan tanpa melihat ke arah kanan.

Dari arah berlawanan, sebuah truk ekspedisi bermuatan berat melaju kencang, mencoba mengejar lampu kuning yang mulai berkedip. Suara klakson yang memekakkan telinga membelah udara, namun semuanya seolah bergerak dalam gerak lambat bagi Galen.

Pria itu membuka pintu mobilnya dan berlari ke arah wanita yang sedang dalam bahaya itu. "SHABIYA! JANGAN!"

Teriakan Galen tertelan oleh deru mesin dan bising kota. Shabiya membeku di tengah jalan. Ia menoleh ke arah kanan, matanya membelalak lebar saat melihat dinding besi raksasa itu hanya berjarak beberapa meter darinya. Cahaya lampu depan truk itu menyinari wajahnya, membiaskan ketakutan yang paling purba.

CIIIITTTTTTT!

Suara gesekan ban dengan aspal menciptakan kepulan asap hitam dan bau karet yang menyengat. Shabiya mencoba melindungi perutnya dengan kedua tangan, sebuah insting terakhir seorang ibu sebelum segalanya menjadi gelap.

DUAK!

Tubuh Shabiya terlempar beberapa meter seperti boneka kain yang rusak. Ia menghantam aspal dengan keras, berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di dekat pembatas jalan. Darah merah segar mulai merembes, kontras di atas aspal hitam yang panas, perlahan mengalir di sela-sela gaun hitamnya yang kini sobek.

Dunia seolah menjadi sunyi. Suara klakson meredup, teriakan orang-orang di sekitar menjadi dengungan yang tidak berarti.

Galen berlari menyeberang jalan, mengabaikan mobil-mobil yang mengerem mendadak di sekelilingnya. Ia jatuh berlutut di samping tubuh Shabiya yang tak bergerak. Tangannya yang gemetar hebat meraih kepala istrinya, mengangkatnya dengan sangat hati-hati.

"Tidak... tidak, jangan sekarang... Thana, jangan lagi..." suara Galen bergetar, sebuah isakan yang selama ini ia kunci rapat-rapat meledak keluar. Pria itu seolah tidak perduli dengan reputasinya sebagai sang penguasa dunia bawah

Ia melihat darah yang mulai mengalir dari paha Shabiya, membasahi kain sifon itu. Galen menyadari dengan kengerian yang tak terlukiskan bahwa kecelakaan ini bukan hanya mengancam nyawa Shabiya, tapi juga mengancam janin yang ia sebut sebagai "puncak mahakaryanya".

"Buka matamu! Shabiya! Buka matamu!" Galen berteriak, kali ini ia menyebut nama aslinya. Nama Shabiya keluar dari bibirnya bukan sebagai bentuk pengakuan identitas, melainkan sebagai bentuk keputusasaan yang paling dalam.

Arsen tiba di tempat kejadian dengan wajah pucat pasi. "Tuan, ambulans sudah di jalan..."

"TIDAK! AMBIL MOBILNYA SEKARANG!" Galen menggendong tubuh Shabiya yang lunglai. Ia bisa merasakan denyut nadi istrinya yang lemah dan tidak teratur. Wajah Shabiya yang biasanya pucat kini tertutup debu jalanan dan luka gores, namun di mata Galen, wajah itu tampak kembali seperti wajah Thana di hari terakhirnya. Hari di mana api melahap segalanya.

Di dalam mobil menuju rumah sakit terdekat, Galen mendekap Shabiya di pangkuannya. Ia menekan luka di kepala Shabiya dengan sapu tangannya, sementara tangannya yang lain terus mengusap perut Shabiya yang mulai terasa mendingin.

"Kau tidak boleh mati," bisik Galen di telinga Shabiya yang tak sadarkan diri. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Aku sudah membangun semuanya... aku sudah menyiapkan segalanya untuk kita."

Shabiya tidak menjawab. Bibirnya membiru, dan napasnya terdengar seperti embusan angin yang sangat tipis. Di dalam kegelapan ketidaksadarannya, Shabiya tidak lagi merasa sakit. Ia tidak lagi mendengar suara Galen yang menindas. Baginya, tabrakan itu adalah akhir dari narasi yang dipaksakan padanya.

Namun bagi Galen, kecelakaan ini adalah awal dari kehancuran dunianya. Ia menyaksikan dari jarak dekat bagaimana wanita yang ia agung-agungkan kembali hancur karena kesalahannya sendiri. Untuk pertama kalinya, sang penguasa malam itu menyadari bahwa ada satu hal yang sampai kapanpuntidak bisa ia kendalikan. Kematian.

Saat mobil melesat menembus kemacetan dengan sirine yang meraung, Galen menatap wajah Shabiya yang hancur. Ia mulai bertanya-tanya, apakah Tuhan sedang menghukumnya dengan mengulangi tragedi yang sama, ataukah Shabiya memang sengaja memilih untuk "tabrakan" itu demi membebaskan dirinya dari jerat obsesi yang tak berujung?

Darah Shabiya kini mengotori jas mahal Galen, meresap ke dalam serat kainnya, sebuah noda permanen yang tidak akan pernah bisa dihapus, persis seperti pengkhianatan yang baru saja ia lakukan pada wanita di pelukannya.

1
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!