NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Pagi di Rumah Keluarga Wiratama,

Setelah obrolan panjang semalam yang ditutup dengan pelukan hangat, Alvian bangun pagi dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

Dadanya tak lagi terasa sesak, pikirannya tidak lagi dipenuhi bayangan Aru yang akan pergi meninggalkannya. Meski rasa takut itu belum sepenuhnya hilang, setidaknya kini ia mampu mengendalikannya.

Pagi itu, rumah keluarga Wiratama terasa lebih hidup dari biasanya.

Sudah hampir seminggu mereka tidak sarapan bersama. Meja makan yang biasanya ramai mendadak sepi karena Alvian harus dirawat di rumah sakit. Kini, untuk pertama kalinya setelah hari-hari tegang itu, mereka duduk bersama lagi.

Aroma nasi goreng spesial buatan Mama Yasmine memenuhi ruangan. Telur mata sapi dengan pinggiran sedikit garing terhidang rapi di atas setiap piring.

Mama Yasmin tersenyum melihat semuanya duduk lengkap.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa sarapan bareng lagi,” ucapnya pelan, matanya sempat menatap Alvian lebih lama.

Alvian tersenyum kecil. “Iya, Ma. Rasanya beda.”

“Tapi ingat,” sela Bisma sambil menunjuk adiknya dengan sendok, “habis ini kamu istirahat. Jangan sok kuat.”

“Iya, Phi,” jawab Alvian patuh, meski ekspresinya sedikit pasrah.

Aru duduk di sampingnya, memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Sikap itu justru membuat Alvian tak berani membantah.

Bisma yang sudah menyelesaikan sarapannya menatap Aru.

“Kamu jadi nyelesain kontrak kerja kamu sama Pak Bara hari ini, dek?”

Aru menghentikan sendoknya, lalu mengangguk.

“Iya, Phi. Hari ini Aru mau tanda tangan surat resign.”jawabnya.

Mama Yasmin menoleh cepat. “Serius hari ini, Nak?”

“Iya, Ma,” jawab Aru lembut.

“Kemarin Aru juga sudah bicara langsung sama Pak Bara.”

Bisma mengangguk pelan, menandakan ia sudah tahu. “Karena Bella yang pegang perusahaan sekarang?”

Aru tersenyum tipis. “Iya. Dan sesuai kesepakatan awal, kontrak Aru memang berakhir kalau perusahaan dipegang anaknya Pak Bara.”

Alvaro yang duduk bersandar santai menimpali,

“Berarti besok kamu jadi pengangguran dong, dek?”

Aru terkekeh kecil. “Belum juga bang. Aru masih ada tanggung jawab.”

Alvian langsung mengangkat wajahnya. “Tanggung jawab apa?”

“Nyelesain proyek kerja sama antara Wijaya Company dan Baskara Grup,” jawab Aru tenang.

Alvian mengernyit. “Bukannya kontrak kamu sudah selesai?”

“Secara administrasi iya,” jawab Aru. “Tapi secara moral dan profesional, Aru nggak bisa lepas gitu aja.”

Ayah Dika mengangguk setuju. “Itu baru anak ayah.”

Alvian masih terlihat penasaran. “Kenapa bukan Bella yang lanjutin?”

“Pak Bara belum percaya sepenuhnya,” jelas Aru. “Apalagi ini proyek besar.”

“Proyek apa memangnya?”tanya Ayah Dika.

“Pembangunan rumah sakit dan hotel,” jawab Aru singkat.

Ruangan mendadak hening.

Mama Yasmin sampai berhenti mengunyah.

“Dua-duanya?”

“Iya, Ma.”

Bisma bersiul pelan. “Pantesan Pak Bara belum berani lepas.”

Alvian menatap Aru dengan campuran kagum dan cemas.“Progresnya?”

“Delapan puluh persen,” jawab Aru. “Hari ini Aru ke lokasi sama mas Kenan dan Joe.”

Ekspresi Alvian langsung berubah. “Kenapa harus sama Kenan?” tanyanya cepat, nadanya jelas tak suka.

Aru menoleh heran. “ Kan mas Kenan itu CEO-nya, Kak.”

“Tapi kan ada Joe,” bantah Alvian. “Dia juga keponakan nya Om Bas.”

Bisma tertawa kecil. “Joe itu keras kepalanya kayak kamu.”

“Iya,” sahut Aru ikut menimpali.“Dia aja jadi sekretaris Kenan karena dipaksa Om Bas.”

Alvian terdiam. Wajahnya menunduk sedikit.

Alvaro menghela napas.

“Masalah kerja jangan dicampur perasaan.”

Alvian mengangguk pelan, menyadari sikapnya sendiri.

“Kamu berangkat bareng kakak atau sendiri?” tanya Alvaro kemudian.

“Aru sendiri aja,” jawabnya.

Ayah Dika menyela, “Ayah ke kantor juga. Hari ini meeting sama investor Thailand.”

Mama Yasmin menepuk meja pelan.

“Sudah, habiskan makanannya. Jangan telat.”

“Iya, Ma,” jawab mereka serempak.

...****************...

Di Ruang CEO Baskara Grup,

Ruang CEO Baskara Grup tampak rapi dan sunyi.

Kenan duduk di balik meja besar, menatap layar laptopnya dengan fokus. Di depannya, Joe berdiri sambil mengetik cepat, wajahnya tegang.

Kenan menghentikan ketikannya.

“Kita jadi ke lokasi proyek hari ini?”tanya Kenan.

“Iya,” jawab Joe tanpa menoleh.“Habis makan siang.”sambung nya.

“Bareng Aru?”tanya nya lagi.

Joe berhenti mengetik, lalu menatap Kenan datar.

“Iya.”

Kenan tersenyum kecil.

Joe menghela napas panjang, kembali mengetik.

“Lo jangan senyum-senyum sendiri. Ganggu konsentrasi.”

Kenan bersandar di kursinya. “Gue cuma senang.”

Joe menoleh, menatapnya tajam.“Lo tau nggak, tiap lo senyum kayak gitu, kerjaan gue nambah?”

Kenan terkekeh.

“Bercanda amat.”

Joe memijat pelipisnya. Saat menoleh lagi, ia mendapati Kenan bersandar santai di kursi, memainkan pulpen, dengan senyum bodoh yang tak juga hilang.

Kesabaran Joe habis.

Bhukk!

Berkas dilempar tepat ke meja Kenan.

“Masih sempat senyum?” geram Joe. "Dari tadi gue suruh lo tanda tangan, malah melamun. "

Joe menunjuk berkas di tangan Kenan dengan wajah kesal yang sudah tidak ditutupi lagi.

“Ini berkas penting, Kenan. Kalau bukan karena tanda tangan lo, proyek bisa ketahan. Lo itu CEO, bukan remaja lagi kasmaran,” omelnya panjang.

Kenan akhirnya mengambil berkas itu, membacanya sekilas—sangat sekilas—lalu langsung mengambil pulpen.

“Gue lupa,” ucap Kenan santai. Ia mengambil berkas itu dan membacanya sekilas—sangat sekilas, nyaris tanpa benar-benar fokus.

“Lupa kepala bapak lo!!” bentak Joe tanpa tedeng aling-aling.

“Di dalam otak lo itu isinya cuma Aru doang! Dasar duda bucin! Cepet tanda tangan nih!” perintahnya sambil menunjuk berkas di tangan

Kenan dengan wajah penuh kekesalan.

“Iya, bawel,” jawab Kenan enteng.

Tanpa banyak bicara lagi, Kenan langsung menandatangani berkas itu kilat, lalu menyodorkannya kembali. Joe langsung merebut berkas tersebut dengan kasar. Wajahnya jelas menunjukkan betapa tipisnya sisa kesabaran yang ia miliki hari ini.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Joe mengambil laptop dan map berkasnya, lalu berbalik keluar dari ruangan CEO.

“Lo mau ke mana?” tanya Kenan sambil sedikit mencondongkan badan ke depan.

Joe berhenti tepat di depan pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan sisa tenaga untuk tetap waras. Lalu ia berbalik, memasang senyum tipis yang jelas dipaksakan.

“Huft… Pak Kenan yang terhormat,” ucapnya dengan nada sarkas, “saya harus kembali ke ruangan saya karena masih banyak berkas yang harus saya periksa dan serahkan ke Anda. Permisi, Pak.”

Begitu kalimat itu selesai, Joe langsung keluar.

BRAKK!

Pintu ruangan CEO tertutup keras, menjadi pelampiasan emosi Joe yang sejak pagi sudah

dijejali pekerjaan dan grafik tak berujung.

Kenan tersentak kaget.

“Astaghfirullah!” serunya refleks.

“WOI, JOE! KALAU NUTUP PINTU BISA PELAN DIKIT NGGAK?! ITU PINTU MAHAL! GUE BELI PAKE UANG, BUKAN PAKE DOA!”

Teriakan Kenan menggema hingga ke area kerja karyawan.

Joe, yang namanya dipanggil dengan nada tinggi barusan, sama sekali tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju ruangannya sendiri, tak peduli dengan amukan sang CEO.

Di luar ruangan, para karyawan yang mendengar suara bentakan Kenan langsung saling pandang. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah tegang.

“Duh… suara Pak Kenan bikin bulu kuduk gue merinding,” bisik seorang karyawan.

“Iya, sumpah. Jantung gue rasanya mau copot.”

“Kok gue jadi takut sendiri ya?”

“Bisa mati muda gue lama-lama kerja di sini,” sahut yang lain lirih, lalu menambahkan cepat,

“tapi gajinya gede sih…”

“Kapan ya Pak Kenan jinak?” gumam yang lain.

Seorang karyawan mengatupkan kedua tangannya.

“Yuk, kita doa bareng-bareng. Semoga Pak Kenan cepat ketemu pawangnya.”

“Aamiin,” jawab yang lain kompak.

Di dalam hati mereka, satu harapan yang sama terucap:

semoga ada seseorang yang suatu hari bisa menenangkan sang bos—agar mereka tak lagi jadi sasaran amukan hanya karena pintu dibanting atau berkas terlambat ditandatangani.

Bersambung...........

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!