Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Aldo merebahkan tubuhnya di atas kursinya yang empuk di ruang tamu, wajahnya lusuh dan tampak lelah. Hana menghampiri Aldo sambil membawa secangkir teh hangat beraroma melati yang sangat harum.
Hana: "Ini tehnya, mas." ucapnya sambil meletakkannya di atas meja.
Aldo: "Terima kasih, sayang." ucapnya. Aldo mengambil cangkir yang berisi teh hangat itu lalu meminumnya dengan hati-hati. Aldo menatap Hana, dan memalinkan wajahnya ke sudut ruangan rumahnya seolah-olah mencari sesuatu. "Di mana Kenzo?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Hana: "Kenzo di rumah mama, mas. Tadi siang mama datang menjemputnya." ucapnya dengan yakin.
Aldo: "Oh, begitu." ucapnya pelan. Aldo menghela nafas panjang, lalu menatap wajah Hana dalam-dalam.
Hana: "Ada apa, mas? Kenapa wajahmu tegang?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Aldo: "Besok aku akan berangkat, sayang." ucapnya dengan suara berat.
Hana: "Ke mana?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Aldo terdiam sesaat, ia tampak berat mengatakan tentang kepergiannnya.
Aldo: "Aku akan ke kota Bandung selama sebulan. Aku membuka cabang baru di sana." ucapnya dengan pelan namun tegas.
Hana: "Apakah selama itu, mas?" tanyanya dengan perasaan tertekan.
Aldo: "Iya, sayang. Aku harus mengurus semuanya secara detail." ucapnya dengan yakin.
Hana: "Hmmm." wajah Hana tampak tegang, setahu dirinya Aldo tidak pernah mau membuka cabang perusahaannya di kota lain karena Aldo tipe pria yang tidak ingin repot dan harus bolak-balik dari kotanya ke kota yang lain.
Aldo: "Kenapa, sayang? Apakah ada yang salah dalam perkataanku?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Hana: "Tidak ada, mas." ucapnya dengan pelan. "Jam berapa kamu berangkat, mas?" tanyanya. "Aku ingin mempersiapkan pakaianmu." ucapnya lagi.
Aldo: "Sekitar pukul 7 pagi, sayang. Aku harus ke bandara pukul 6." ucapnya dengan penuh keyakinan.
Hana: "Baiklah, mas. Sekarang kamu mandi dulu, ya." ucapnya dengan wajah yang dingin. Tanpa berkata-kata, Aldo beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ke dalam kamarnya. Hana masih duduk terpaku sendirian di ruang keluarga, ia memikirkan perkataan Aldo yang akan berangkat ke kota lain esok hari.
Hana: "Mengapa mas Aldo tidak memberitahuku sebelumnya tentang keberangkatannya, ya? Apakah mas Aldo lupa? Mengapa dia harus buru-buru?" Hana bertanya-tanya dengan rasa penasaran di dalam hatinya. Mbok Titi berjalan pelan menghampiri Hana yang masih duduk termenung sendirian.
Mbok Titi: "Maaf, nyonya." ucapnya pelan sambil menatap Hana.
Hana: "Iya, mbok." sahutnya pelan.
Mbok Titi: "Mau masak apa malam ini, nyonya? Nyonya mau daging atau ayam?" tanyanya.
Hana: "Masak daging rendang saja, mbok. Biarkan mas Aldo makan makanan kesukaannya malam ini." sahutnya dengan penuh perhatian. "Besok pagi mas Aldo akan berangkat selama sebulan di kota Bandung." ucapnya lagi.
Mbok Titi: "Iya, nyonya." ucapnya. Mbok Titi membalikkan badannya, dia berjalan pelan meninggalkan Hana yang masih duduk di ruang keluarga. Beberapa detik kemudian, Hana melangkah pelan menyusul mbok Titi ke dapur. Hana membantu mbok Titi menyiapkan makan malam untuk Aldo. Sedangkan di dalam kamar, Aldo selesai mandi dan berganti pakaian. Aldo meraih ponselnya, lalu mengetik beberapa pesan dan mengirimkannya kepada seseorang.
Isi pesan Aldo: "Tunggu aku besok di bandara sekitar pukul 6 lewat, ya. Aku akan mengabarimu saat aku tiba di bandara." itulah isi pesan Aldo kepada seseorang yang misterius. Beberapa menit berlalu, Hana masuk ke dalam kamar dan menghampiri Aldo yang sedang duduk di tepi ranjang.
Hana: "Makan malam sudah siap, mas." ucapnya dengan lembut.
Aldo: "Iya, sayang. Aku akan keluar sebentar lagi." ucapnya sambil tersenyum tipis.
Hana: "Jangan lama-lama, ya, mas. Makanannya nanti dingin, loh." ucapnya. Aldo menatap wajah Hana dan tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. Hana kembali melangkah dengan pelan keluar dari dalam kamarnya dan menunggu Aldo di ruang makan.
Mbok Titi: "Kenapa tuan tidak keluar untuk makan, nyonya?" tanyanya dengan heran sambil menatap tajam ke arah pintu kamar Hana.
Hana: "Sebentar lagi, mbok. Aku akan menunggunya di sini." ucapnya dengan sabar.
Mbok Titi: "Saya ke kamar dulu, nyonya." ucapnya pelan.
Hana: "Silahkan, mbok." sahutnya. Beberapa detik kemudian Aldo keluar dari dalam kamarnya, dia berjalan pelan menghampiri Hana yang sedang duduk di ruang makan.
Aldo: "Apakah aku lama, sayang?" tanyanya. "Maaf karena telah membuatmu menunggu." ucapnya lagi dengan rasa bersalah.
Hana: "Tidak apa-apa, mas." sahutnya sambil tersenyum tipis. Hana mengambil piring yang terletak di atas meja, lalu mengambil nasi putih dan lauknya untuk Aldo. "Ini makananmu, mas." ucapnya sembari memberikan ke tangan Aldo.
Aldo: "Terima kasih, sayang." sahutnya. Malam itu, setelah menghabiskan makan malamnya Aldo berbincang-bincang bersama Hana di ruang keluarga. Mereka membahas banyak hal tentang rencana sekolah anak mereka yaitu, Kenzo yang akan masuk di sekolah dasar. Di tengah perbincangan mereka, ponsel Aldo selalu berbunyi.
Hana: "Siapa yang menelponmu, mas?" tanyanya dengan rasa penasaran. "Angkat saja dulu, mas." ucapnya lagi.
Aldo: "Ini hanya pesan biasa, sayang. Jangan hiraukan." ucapnya dengan santai.
Hana: "Balas saja dulu pesannya, mas. Mungkin pesan itu penting." ucapnya sambil melirik ke arah ponsel Aldo.
Aldo: "Baiklah, sayang." ucapnya. Aldo mulai mengetik beberapa balasan untuk pesan yang telah diterimanya. Aldo tersenyum tipis saat menatap layar ponselnya. Hana menatap wajah Aldo dengan rasa penasaran dan bertanya-tanya dalam hatinya tentang seseorang yang telah membuat wajah suaminya tersenyum bahagia saat membaca pesannya.
Hana: "Kelihatannya pesan seseorang itu penting bagimu, mas. Kamu kelihatan bahagia sekali." ucapnya sambil menatap wajah Aldo dalam-dalam.
Aldo: "Pesan dari seorang teman, sayang. Dia memberiku ucapan selamat." ucapnya.
Hana: "Ucapan selamat untuk apa, mas?" tanyanya dengan heran.
Aldo: "Karena aku telah membuka cabang baru besok." ucapnya.
Hana: "Oh, begitu." sahutnya dengan wajah dingin.
Aldo: "Aku ke kamar dulu, ya. Aku ingin tidur dengan cepat." ucapnya.
Hana: "Iya, mas." sahutnya. Aldo beranjak dari duduknya, dia melangkah dengan terburu-buru menuju ke dalam kamarnya. Hana menghela nafas pendek, dia mengambil ponselnya dan mulai menelpon ibunya yang bernama tante Laras. Beberapa kali Hana menelpon tante Laras hingga akhirnya panggilan Hana dijawab oleh ibunya.
Tante Laras: "Ada apa, nak?" tanyanya.
Hana: "Bagaimana dengan Kenzo, ma?" tanyanya dengan cemas.
Tante Laras: "Biarkan Kenzo menginap di rumah mama, nak. Besok adalah hari minggu." ucapnya.
Hana: "Aku ingin bicara dengan Kenzo, ma." ucapnya pelan.
Tante Laras: "Kenzo sudah tidur, nak." sahutnya.
Hana: "Baiklah, ma. Besok aku yang akan jemput Kenzo." ucapnya.
Tante Laras: "Iya, Hana." sahutnya. Tante Laras dan Hana sama-sama menutup pembicaraan mereka.
************************************