"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Yandra
"Runi, kamu tidak bisa menyembunyikan hal sebesar ini. Bagaimanapun juga kesembuhan kamu yang paling utama," ucap Vano tak abis pikir.
Runi menatap Vano begitu dalam. "Bang, katakan berapa persen tingkat kesembuhan aku?" Tanyanya ingin jawaban yang sejujurnya.
Vano menghela nafas dalam. "Abang tidak bisa menentukannya. Karena semua atas izin Allah."
"Tapi sebagai dokter yang sudah sering menangani kasus seperti ini, tentunya Abang sudah bisa menakarnya sesuai pengalaman yang sering Abang temui. Tolong jawab pertanyaan aku dengan jujur, Bang. Sungguh aku sudah ikhlas apapun takdirku," ungkap wanita itu memohon.
Vano terdiam sejenak. Meskipun terasa berat, tetapi ia harus profesional dalam mengemban tugas ini. Ia sebagai dokter harus berkata jujur.
"Kurang lebih satu tahun paling lama," jawab Vano terpaksa mengatakannya.
Runi mengangguk dan tersenyum lega. Itu artinya ia masih bisa memberikan tempat tinggal untuk bayinya selama sembilan bulan di rahimnya.
"Bang, aku sudah ikhlas bila aku harus pergi menghadap sang khalik. Tetapi aku mohon biarkan bayiku tetap hidup dan lahir ke dunia ini. Karena jika aku mengorbankan bayiku, tidak ada jaminan aku akan sembuh seperti sediakala 'kan? Jika pada akhirnya aku harus mati juga, maka biarkanlah bayiku tetap hidup," ungkap Runi membuat hati Vano terasa ngilu. Sebegitu besarnya pengorbanan seorang ibu demi memberi kehidupan untuk bayinya.
Vano tak tahu harus berkata apa lagi. Ia sangat di lema, karena Runi harus menyembunyikan semua ini.
"Bang, aku mohon tolong bantu aku untuk menyelamatkan bayiku. Lakukan saja tes DNA agar mas Yandra yakin dan bisa menerima bayi ini."
Lagi-lagi Vano menghela nafas dalam. "Baiklah, tetapi kamu harus janji sama Abang untuk rajin kontrol dua minggu sekali, dan minum obat rutin. Apapun keluhan kamu segera kasih tahu Abang," ujar Vano terpaksa mengikuti kemauan adik iparnya.
Seketika Runi tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih banyak ya, Bang. Aku janji akan mengikuti segala perintah Abang."
"Baiklah. Seminggu yang akan datang kamu harus melakukan pemeriksaan lanjutan. Nanti akan Abang buatkan jadwal konsul dengan dokter onkologi."
"Baik, Bang." Runi mengangguk patuh.
Pintu ruangan itu di buka dari luar. Ternyata Yandra yang masuk kedalam ruangan tersebut.
"Kenapa kamu tidak angkat telepon aku? Kebiasaan banget ya, lebih baik nggak usah pake ponsel sekalian. Nggak ada guna banget tuh ponsel," omel Yandra pada Runi.
"Ah maaf, ponsel aku mode silent," jawab Runi jujur.
"Ngapain pake mode silent?"
"Nggak ada apa-apa, cuma tidak ingin terganggu saja saat konsul sama dokter Vano," jawab wanita itu beralasan.
Yandra tak lagi meneruskan ucapannya. Ia menatap Runi dan Vano silih berganti.
"Apakah sudah dilakukan tes DNAnya?" Tanyanya sudah tak sabar.
"Belum. Kami sengaja nunggu kamu dulu," jawab Vano.
"Yasudah, kalau begitu silahkan lakukan tes DNA sekarang."
"Baiklah."
Dengan mengucapkan bismillah, Runi berbaring di bed pasien untuk pengambilan sampel darah dan juga sampel cairan ketuban. Sebenarnya ia sangat khawatir dengan keselamatan bayinya. Semoga semua akan baik-baik saja.
Dokter Vano dan perawat fokus dengan pekerjaannya. Sementara itu Yandra berdiri di samping tempat tidur Runi. Wanita itu menatap wajah lelaki yang ia cintai begitu dalam. Andai saja Yandra tidak meragukan kesetiaannya.
"Mas, kenapa kamu tidak mempercayai aku?" Tanyanya dengan suara serak.
Yandra menghela nafas dalam. "Jangan membahas hal itu lagi. Sebelumnya aku sudah mengatakan alasannya," jawabnya datar.
"Jika nanti bayi ini terbukti anak mas Yandra. Apakah mas akan menyayangi aku?"
Lagi-lagi pertanyaan Runi seperti menjebaknya. Ia tidak bisa memberikan janji yang belum tentu bisa ia penuhi. Karena saat ini ia belum bisa memastikan perasaannya pada Runi.
Wajah Runi tampak sendu saat Yandra tidak menjawab pertanyaannya. Kenapa rasanya sedih sekali. Sesulit itukah permintaannya?
Setelah melalui prosesnya, akhirnya selesai juga pengambilan sampel untuk di bawa ke ruang labor.
"Kira-kira berapa lama akan keluar, Bang?" Tanya Yandra pada Vano.
"Akan Abang usahakan secepatnya. Paling lambat tiga hari kedepan hasilnya sudah keluar."
"Baiklah. Aku harap sebelum aku berangkat ke kota Medan hasil tes DNA sudah keluar."
"Kamu jadi ujian praktek ke kota Medan?" Tanya Vano.
"Iya Bang, selama tiga bulan di sana," jawab Yandra.
Runi yang mendengar pembicaraan mereka. Ada perasaan tidak rela bila harus berpisah dengan sang suami.
"Aku ikut mas Yandra ya?" Ujarnya membuat Yandra dan Vano seketika menatap padanya.
"Nggak, kamu nggak boleh ikut," jawab Vano yang tidak mengizinkan. Ia menatap Runi seakan memberi peringatan bahwa kondisinya tidak memungkinkan.
Sementara itu Yandra hanya berwajah datar dan seperti tidak menghiraukan ucapan Runi.
Runi tersenyum dengan anggukan. "Aku cuma bercanda kok, Bang. Ya nggak mungkinlah ikut sama mas Yandra."
"Yasudah, sekarang kamu dan Yandra pulanglah. Nanti obat kamu biar Abang minta supir yang mengantarkan."
"Kenapa harus minta supir yang mengantarkan?" Tanya Yandra menatap heran.
"Nanti lama antrian pengambilan obat," jawab Vano beralasan. Takut bila Yandra mengetahui obat yang akan di konsumsi oleh Runi.
"Biar aku yang ambil obatnya, Abang berikan saja resepnya sama aku. Nanti aku minta tolong sama bagian farmasi," ujar Yandra membuat Runi ketar-ketir.
Vano menatap Runi dengan wajah bingung. Runi yang masih duduk di bed pasien, ia segera turun untuk meminta resep obat dari Vano.
"Berikan sama aku saja, Bang. Biar aku saja yang ambil obatnya. Aku tidak ingin merepotkan mas Yandra. Karena tes DNA belum membuktikan bayi ini milik mas Yandra, maka tidak perlu repot mengurusi aku," ujar Runi berlagak cuek.
"Ya pergilah." Vano menyerahkan resep obat tersebut pada Runi.
"Kamu mau kemana, Yan?" Cegat Vano saat Yandra hendak ikut keluar bersama Runi.
"Ya mau pulang, Bang. Sekalian mau nemuin petugas farmasi minta tolong obatnya Runi di percepat pengemasannya."
"Ah biarkan sajalah Runi yang menunggu di sana. Kamu sini dulu temani Abang ngobrol sebentar."
"Abang mau bicara apaan?" Tanya Yandra menatap heran. Tidak biasanya sang kakak mau bicara banyak di saat jam kerjanya. Apalagi ia melihat pasien Vano sudah banyak mengantri di luar untuk menunggu panggilan pemeriksaan.
"Ya bicara tentang hati. Saat ini aku sedang menyukai seseorang," jawab Vano tersenyum.
Yandra mengurungkan niatnya untuk menyusul Runi. Ia sedikit tertarik dengan pembahasan Vano tentang cinta. Ini adalah hal yang langka karena Vano mengatakan sedang jatuh cinta.
"Abang jatuh cinta dengan siapa? Jangan bilang menyukai kaum pelangi?"
"Hahaha... Gila kamu. Ya nggaklah, dikira aku tidak normal selama ini?" Vano terkekeh mendengar ucapan Yandra.
"Ah syukurlah jika memang tidak seperti itu. Soalnya baru kali ini aku dengar Abang suka pada seseorang. Katakan, siapa wanita yang Abang sukai?" Tanya Yandra penasaran.
"Rahasia, aku belum berani kasih tahu kamu siapa wanita itu. Karena aku takut di tolak," jawabnya memang begitu.
"Ah, nggak asyik sama sekali pembahasannya. Jika tidak ingin cerita ngapain ngelarang aku untuk keluar. Udalah, nanti malam kita bahas lagi. Kita ketemu di cafe biasa, karena pasien Abang udah banyak ngantri di luar."
Vano terkekeh kecil dan membiarkan Yandra keluar dari ruangannya. Sementara itu Runi sudah duduk di kursi tunggu di depan apotek RS. Wajahnya tampak murung dan sayu.
"Apakah belum di panggil?" Tanya Yandra membuyarkan lamunan wanita itu.
"Ah, sebentar lagi. Mas tunggu saja di mobil," jawabnya masih mengukir senyum.
Yandra tak lantas menjawab. Ia menghampiri petugas farmasi untuk meminta obat Runi di dahulukan. Setelah itu ia segera menuju lobby. Sembari menunggu Runi, ia memanfaatkan waktu untuk menikmati kopi kesukaannya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Runi sudah datang menghampirinya.
"Udah selesai?" Tanya Yandra.
Runi mengangguk. "Hmm, kita pulang sekarang?"
"Tunggu sebentar. Aku sedang menunggu teman. Kamu duduklah dulu, atau pesan minum sana," ujar Yandra.
Runi mengamati deretan makanan ada di etalase kantin yang ada di lobby tersebut. Tidak ada yang membuatnya tertarik, tetapi ia harus tetap makan agar bayinya bisa bertahan dan tetap tumbuh seperti bayi pada umumnya.
Runi berjalan menghampiri stand yang menjual salad buah. Ia memesan satu cup dan sebotol air mineral. Sepertinya ini sudah cukup mengganjal perutnya untuk hari ini. Setelah mendapatkan makanan tersebut, ia hendak kembali ke meja tempat Yandra duduk. Namun, seketika langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri di samping Yandra.
Lagi-lagi dadanya terasa sesak saat melihat pelakor itu begitu berani mendatangi suaminya. Apakah dia teman yang di maksud oleh Yandra?
"Mas, ayolah temani aku. Kepalaku terasa sangat pusing," ucap Gracia penuh drama.
"Kamu pergi saja ke poli umum, Cia. Biar aku bantu untuk mendaftarkan," jawab Yandra seraya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pihak pendaftaran.
"Aku nggak mau, Mas. Aku ingin di temani kamu," jawabnya dengan rengek manja.
"Singkirkan tanganmu, pelakor!" Sanggah Runi menghempaskan tangan Gracia yang ada di bahu Yandra.
Gracia tersentak menatap tajam pada Runi. Kenapa wanita ini selalu saja menggagalkan rencananya. Semakin hari dia semakin berani saja.
"Runi, ayo kita pulang sekarang!" Ujar Yandra segera memisahkan Runi dan Gracia. Ia tidak ingin terjadi pertengkaran kembali antara kedua wanita itu. Rasanya malu sekali bila di lihat semua orang.
Runi menurut saat tangannya di raih oleh Yandra. Pasangan itu segera hendak meninggalkan RS. Melihat pemandangan itu membuat hati Gracia semakin sakit. Apakah Yandra sudah mulai ada rasa terhadap wanita miskin itu?
"Dasar wanita tidak tahu malu! Berlagak menjadi wanita baik, padahal kamulah yang sebenarnya pelakor itu. Kamu yang mengambil mas Yandra dari aku. Kamu sengaja menjebak Mas Yandra, padahal anak yang ada di kandungan kamu bukanlah anak mas Yandra!" Seru Gracia membuat langkah Runi terhenti.
Runi membalikkan tubuhnya menghadap pada Gracia. Ia melihat semua orang di lobby menatap sinis padanya. Dadanya terasa sangat perih. Pandai sekali wanita licik ini membalikkan fakta.
Runi berjalan menghampiri Gracia untuk memberinya pelajaran. Ia tidak akan diam saja nama baiknya dicemari oleh wanita itu.
"Tidak usah di ladeni, ayo kita pulang sekarang!" Yandra kembali menarik tangan Runi.
"Aku harus memberinya pelajaran, Mas. Lepaskan aku!" Runi memberontak, tetapi cekalan tangan Yandra terlalu kuat.
Yandra meraih pinggang Runi sehingga tubuhnya semakin erat dalam dekapan lelaki itu.
"Tenanglah, biar aku saja yang bicara," ujar Yandra membuat Runi berhenti memberontak.
Yandra menyorot tajam pada Gracia. "Jaga bicaramu, Gracia! Runi bukanlah pelakor. Sebelum kamu datang, aku sudah berjanji untuk bertanggung jawab. Dan aku harap kamu jangan menggiring opini seakan aku ini adalah lelaki tidak baik. Dan sekali lagi aku tekankan, kita tidak pernah ada hubungan apapun. Bahkan aku tidak pernah menerima cintamu!" Tegas Yandra membuat Gracia tak mampu bicara apapun. Wajahnya tampak pucat dengan bibir gemetar.
Yandra segera membawa Runi meninggalkan RS. Tak ada lagi suara yang keluar dari bibir Runi. Perasaannya saat ini sedang bercampur baur. Masih terasa mimpi saat lelaki itu memberinya pembelaan di depan semua orang.
Bersambung....