Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Pertikaian Pagi-pagi
Senin pagi di Gedung Lumina selalu membawa energi yang khas. Suara ding lift yang silih berganti, aroma kopi dari pantry, dan derap langkah sepatu di lantai marmer menciptakan simfoni kesibukan awal pekan.
Nadinta melangkah keluar dari lift lantai 15 dengan langkah mantap. Dia mengenakan blouse sutra berwarna champagne yang dipadukan dengan rok pensil hitam, rambutnya dibiarkan tergerai rapi dan wajahnya dipulas makeup segar yang menonjolkan kepercayaan dirinya.
"Pagi, Bu Nadinta," sapa Sinta di meja resepsionis dengan senyum lebar, sedikit takut namun hormat.
"Pagi, Sinta," balas Nadinta ramah namun singkat.
Dia berjalan melewati lorong utama menuju area divisi pemasaran. Beberapa staf yang berpapasan dengannya mengangguk hormat. Nadinta mulai menikmati kebiasaan ini, kebiasaan di mana dia dipandang lebih dari sekadar karyawan teladan.
Namun, langkahnya terhenti saat dia berbelok menuju lobi divisi.
Di sana, berdiri di tengah jalan seolah sedang menghadang musuh, adalah Arga.
Pria itu terlihat berantakan. Kemejanya yang mahal terlihat kusut, seolah tidak disetrika dengan benar. Matanya merah dan bengkak, tanda kurang tidur. Wajahnya memancarkan campuran antara kelelahan ekstrem dan amarah yang siap meledak.
Begitu melihat Nadinta, mata Arga langsung menyala. Dia tidak menunggu sedetik pun. Dia melangkah lebar, setengah berlari, memotong jarak di antara mereka.
"Nadinta!" panggil Arga, suaranya cukup keras hingga beberapa kepala di kubikel terdekat menoleh.
Nadinta tidak berhenti. Dia hanya menatap Arga sekilas, lalu terus berjalan melewatinya seolah Arga adalah tiang yang menghalangi jalan.
"Pagi, Mas," ucap Nadinta sambil tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.
"Nggak usah pura-pura bego!" Arga berbalik, mengejar Nadinta. Dia menghadang tubuh Nadinta, memaksanya berhenti.
"Kita perlu bicara. Sekarang."
"Mas, ini jam kantor. Profesional dikit, please." tegur Nadinta, mencoba melangkah ke samping.
Namun Arga sudah kehilangan akal sehatnya. Tekanan hutang dari Maya dan rasa dipermalukan di apartemen kemarin membuatnya nekat.
Dengan gerakan kasar, Arga mencengkeram lengan atas Nadinta. Cengkeramannya kuat, menyakitkan.
"Ikut aku," desis Arga.
Nadinta menatap tangan Arga yang mencengkeram lengannya, lalu menatap mata pria itu dengan dingin.
"Lepasin, Mas! Apa-apaan, sih?"
Arga tidak melepaskannya. Dia justru menarik Nadinta sedikit menepi ke dekat dinding, menjauh dari pandangan langsung resepsionis, namun masih di area terbuka.
"Kenapa? Ngerasa pinter kamu?" sembur Arga, napasnya yang berbau kopi pahit dan rokok menerpa wajah Nadinta.
"Kamu ngerjain aku habis-habisan Sabtu kemarin, kan? Kamu sengaja ninggalin aku di kasir biar aku yang bayar semua belanjaan kamu!"
Nadinta tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat merdu namun menyakitkan di telinga Arga.
"Ngerjain?" tanya Nadinta dengan nada polos yang dibuat-buat. "Kamu ngomong apa sih, Mas?"
"Jangan bohong!" potong Arga, wajahnya merah padam. "Kamu bilang kamu nyariin dompet ke mobil, tapi aslinya kabur nggak tau kemana. Kamu kira aku bodoh apa?"
Arga menekan suaranya menjadi bisikan penuh kebencian.
"Kamu sengaja bikin aku bayar barang-barang kamu yang mahal itu! Dasar, emang cewek sialan!"
Kalimat terakhir itu keluar dari mulutnya tanpa sengaja. Seketika mengubah atmosfer di antara mereka berdua.
Nadinta menatap Arga dengan tatapan iba yang menghina. Dia melepaskan cengkeraman Arga dengan sentakan yang mengejutkan.
"Lucu ya, Mas?" ucap Nadinta, merapikan lengan bajunya yang kusut bekas tangan Arga.
"Padahal waktu di studio foto, kamu juga ngelakuin hal yang sama. Pura-pura sakit perut terus ninggalin aku sendirian buat lunasin DP-nya. Tapi, giliran aku yang ngelakuin, kamu malah marah-marah."
"A-aku..." Arga seketika mati kutu.
Nadinta melangkah maju satu langkah, menginvasi ruang personal Arga, membuatnya refleks mundur..
"Kenapa, Mas? Kamu pikir aku bodoh?" bisik Nadinta dengan suara yang hanya dapat didengar oleh Arga.
"Atau jangan-jangan..." Nadinta memiringkan kepalanya, matanya berkilat licik. "Kamu sekarang lagi bangkrut, nggak punya uang. Jadi kamu sampe bela-belain dateng ke apartemenku dua hari berturut-turut cuma buat minta kembaliin uangnya."
Wajah Arga pucat. Tembakan itu mengenai sasaran.
"Aku nggak bangkrut!" sangkal Arga cepat, defensif. "Uangku cuma lagi ketahan di investasi!"
Pada detik itu juga, Nadinta langsung mundur selangkah dan mengubah total ekspresi wajahnya.
"Bagus kalau begitu," Nadinta tersenyum manis. "Berarti baju-baju itu anggap saja hadiah prewedding dari Mas. Terima kasih ya. Aku suka banget pilihannya."
"Ta-tapi, ganti uangnya, Din! Please?" desak Arga putus asa. "Aku butuh uang itu sekarang! Itu uang... uang pegangan aku."
Nadinta menatap Arga. Dia melihat keringat dingin di dahi pria itu. Dia tahu Arga sedang dikejar-kejar Maya untuk mengembalikan uang itu.
"Ganti?" Nadinta tertawa lagi. "Mas, kita ini mau nikah. Uang Mas kan uang aku juga. Anggap saja itu cicilan nafkah. Masak sama calon istri perhitungan sih? Malu dong sama mobilnya."
"Kamu bener-bener..." Arga kehabisan kata-kata. Dia ingin marah, tapi logika Nadinta—yang menggunakan senjata Arga sendiri—membuatnya mati kutu.
"Lagipula, Mas," suara Nadinta berubah menjadi bisikan tajam.
"Kalau Mas ribut soal uang sepuluh juta di sini, nanti orang-orang dengar lho. Nanti mereka tahu kalau Arga si pemilik Pajero ternyata nggak mampu beliin baju pacarnya. Mas mau reputasi Mas hancur?"
Arga menoleh cepat ke sekeliling. Beberapa staf mulai melirik ke arah mereka. Arga sadar dia tidak bisa membuat keributan lebih lanjut. Dia terjebak.
Nadinta tersenyum, lalu berbalik badan hendak meninggalkan Arga.
Namun, saat dia berbalik, matanya menangkap gerakan di balik pilar besar dekat pantry.
Ada seseorang yang sedang berdiri di sana, berpura-pura sedang mengaduk kopi, tapi telinganya jelas-jelas diarahkan ke percakapan mereka.
Maya.
Wanita itu mengenakan kemeja kerja yang terlalu ketat, wajahnya terlihat penasaran dan curiga. Dia pasti melihat pertengkaran mereka dan mencoba menguping.
Sebuah ide jahat melintas di benak Nadinta.
Ini kesempatan emas. Arga sedang panik karena uangnya habis dipakai Nadinta, tapi dia tidak berani bilang ke Maya. Maya sedang menunggu uangnya kembali. Jika mereka dipertemukan sekarang, ledakannya akan sangat menarik.
Nadinta tidak jadi pergi ke ruangannya. Dia justru mengubah arah, berjalan mendekati pilar tempat Maya bersembunyi.
"Eh, ada Maya!" sapa Nadinta dengan suara lantang dan ceria, membuat Maya terlonjak kaget dan nyaris menumpahkan kopinya.
"Eh... Nadin. Pagi," jawab Maya gugup, tertangkap basah.
Arga yang masih berdiri di belakang menoleh kaget melihat Maya ada di sana. Wajahnya semakin pucat. Mati aku, pikir Arga. Jangan sampai Maya tahu.
"Kebetulan banget kamu di sini, May," kata Nadinta, langsung menggandeng lengan Maya dengan akrab. "Kamu lagi free kan? Ke ruangan aku yuk sebentar."
"Hah? Ngapain?" Maya bingung, matanya melirik Arga yang memberikan kode mata panik 'jangan mau'.
"Ada masalah proyek gudang yang mau aku bahas. Penting banget," bohong Nadinta.
"Sekalian aku mau tunjukin sesuatu. Kemarin Sabtu aku habis belanja banyak banget lho di Grand Indonesia. Ada barang-barang lucu yang pasti kamu suka."
Mata Maya melebar. Belanja? Grand Indonesia? Sabtu? Itu adalah waktu dan tempat yang sama saat Arga meminjam kartu kreditnya!
"Belanja?" ulang Maya, suaranya menajam. Dia menoleh ke Arga dengan tatapan curiga.
"Iya! Mas Arga baik banget lho, May," lanjut Nadinta, memuji Arga di depan selingkuhannya.
"Dia beliin aku baju-baju branded banyak banget. Tas, sepatu, dress... totalnya lumayan lah, sepuluh jutaan. Katanya hadiah spesial."
JEDER.
Wajah Arga berubah menjadi abu-abu. Lututnya lemas.
Wajah Maya berubah dari bingung menjadi merah padam karena amarah.
Sepuluh juta.
Angka yang sama persis dengan yang dipinjam Arga darinya. Arga bilang uang itu untuk keperluan mendesak kantor atau apalah. Ternyata... untuk membelikan Nadinta baju?
"Sepuluh juta?" tanya Maya, suaranya bergetar menahan ledakan. Dia menatap Arga dengan tatapan yang seolah ingin menguliti pria itu hidup-hidup.
Arga menggeleng-gelengkan kepala panik, mencoba memberi sinyal pada Maya, tapi Maya sudah terlalu emosi.
"Iya! Keren kan Arga?" Nadinta pura-pura tidak melihat ketegangan di antara mereka. Dia menarik tangan Maya.
"Aku beruntung banget punya calon suami kaya dia..."
"Yuk ke ruangan aku, May. Aku tunjukin foto-fotonya. Bagus-bagus banget barangnya. Kamu pasti naksir. Sekalian kita ngobrol soal... budget."
Nadinta menekankan kata budget.
Maya menatap Arga sekali lagi dengan tatapan membunuh, lalu menoleh ke Nadinta. Wanita itu mengangguk, menyanggupi ajakan Nadinta.
Melihat reaksi itu, Nadinta seketika tersenyum puas. Dia berjalan menuju ruangannya, menggandeng Maya yang sedang mendidih.
Arga ditinggalkan berdiri sendirian di koridor, merasa seperti orang yang baru saja menjatuhkan bom di kakinya sendiri. Dia tahu, begitu pintu ruangan Nadinta tertutup, perang dunia ketiga akan dimulai. Dan dia adalah target utamanya.
Untuk sepersekian detik, Nadinta menoleh ke belakang. Melihat ekspresi wajah Arga yang kini menjadi pucat pasi. Wanita itu tak mampu lagi menahan senyuman puasnya.
Kehancuranmu semakin dekat, Mas.