"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur dari Kamar 07
Puri, Rendra, Ayu, dan Dina membeku. Mereka tahu tidak ada waktu untuk menjelaskan. Mereka harus segera keluar dari sana.
"Lari!" teriak Puri, melempar buku catatan itu kepada Rendra.
Puri mendorong orang asing itu sekuat tenaga, membuatnya terhuyung ke belakang. Rendra, Ayu, dan Dina segera berlari menuju pintu.
Orang asing itu, yang ternyata cukup kuat, dengan cepat mendapatkan kembali keseimbangannya. Ia berteriak marah dan berusaha mengejar mereka.
"Tangkap mereka!" teriaknya, membuat suara gaduh di lorong.
Puri dan teman-temannya berlari secepat mungkin di sepanjang lorong yang sempit dan gelap. Mereka bisa mendengar langkah kaki orang asing itu semakin mendekat.
"Ke mana kita harus pergi?" tanya Ayu dengan nada panik.
"Ke jendela belakang!" jawab Rendra, mengingat jalan yang mereka lalui saat masuk.
Mereka berbelok ke kiri dan berlari menuju dapur. Mereka bisa melihat cahaya bulan yang masuk melalui jendela yang terbuka.
"Cepat!" teriak Puri, melompati tumpukan piring kotor di dapur.
Mereka berhasil mencapai jendela dan melompat keluar satu per satu. Mereka mendarat di tanah dengan keras, tapi mereka tidak punya waktu untuk mengeluh.
"Kita harus pergi dari sini sebelum mereka menangkap kita," kata Dina, mengatur napasnya.
Mereka berlari menuju kebun belakang penginapan, berusaha mencari tempat persembunyian. Mereka melihat sebuah gudang kecil di dekat pagar.
"Kita sembunyi di sana!" bisik Rendra.
Mereka berlari menuju gudang dan masuk ke dalamnya. Gudang itu gelap dan penuh dengan peralatan kebun. Mereka bersembunyi di balik tumpukan pot bunga dan menunggu dengan cemas.
Mereka bisa mendengar suara orang asing itu dan beberapa orang lainnya berlari di sekitar kebun, mencari mereka.
"Ke mana mereka pergi?" tanya suara seorang pria.
"Aku tidak tahu," jawab suara yang lain. "Mungkin mereka sudah melarikan diri keluar dari penginapan."
Puri dan teman-temannya menahan napas, berharap mereka tidak ditemukan. Mereka bisa mendengar langkah kaki semakin mendekat ke arah gudang.
Tiba-tiba, pintu gudang terbuka dengan
"...Tiba-tiba, pintu gudang terbuka dengan kasar, membuat mereka tersentak kaget. Seorang pria dengan wajah garang berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan tatapan penuh amarah.
"Kalian!" teriak pria itu. "Kalian pikir bisa kabur dari kami?"
Puri dan teman-temannya tahu mereka telah tertangkap. Mereka tidak punya pilihan lain selain menghadapi pria itu.
"Siapa kalian?" tanya Puri dengan nada menantang. "Dan apa yang kalian inginkan dari kami?"
Pria itu tersenyum sinis. "Pertanyaan bagus," jawabnya. "Tapi aku yang seharusnya bertanya. Siapa kalian dan kenapa kalian mencuri buku catatan itu?"
"Kami hanya ingin tahu kebenaran," jawab Rendra dengan nada membela diri. "Kami ingin tahu tentang keluarga Handoko dan kutukan yang menimpa mereka."
Pria itu tertawa. "Kebenaran? Kalian tidak akan bisa menangani kebenaran. Kebenaran itu terlalu berbahaya untuk kalian."
"Kami tidak takut," kata Ayu dengan nada berani. "Kami akan mencari tahu kebenaran, meskipun itu berarti kami harus menghadapi kalian."
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Kalian bodoh," katanya. "Kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi. Kalian telah mencampuri urusan yang seharusnya tidak kalian campuri."
Pria itu memberi isyarat kepada beberapa orang yang berdiri di belakangnya. "Tangkap mereka," perintahnya. "Bawa mereka ke tempat Pak Kepala Desa."
Puri, Rendra, Ayu, dan Dina tahu mereka dalam masalah besar. Mereka dikelilingi oleh orang-orang yang tidak mereka kenal dan yang jelas-jelas memiliki niat buruk. Mereka harus mencari cara untuk melarikan diri, atau mereka akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan.
Dengan cepat, Puri mengambil keputusan. "Lari!" teriaknya, mendorong Rendra ke depan.
Puri dan teman-temannya berlari keluar dari gudang dan berpencar ke arah yang berbeda. Mereka tahu mereka harus berpisah agar lebih sulit untuk ditangkap.
Puri berlari secepat mungkin menuju hutan di belakang penginapan. Ia bisa mendengar suara orang-orang itu mengejar dirinya. Ia tahu mereka tidak akan menyerah begitu saja.
Ia harus mencari tempat persembunyian yang aman dan menyusun rencana untuk menyelamatkan teman-temannya. Ia tidak bisa membiarkan mereka tertangkap. Ia harus menemukan cara untuk mengungkap kebenaran dan mengakhiri kutukan Pulau Tengkorak, meskipun itu berarti ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Puri berlari secepat yang ia bisa, jantungnya berdebar kencang. Pepohonan di hutan itu tampak seperti bayangan yang mengancam, dan setiap suara membuatnya tersentak. Ia tahu orang-orang itu mengejarnya, dan ia tidak bisa membiarkan mereka menangkapnya.
Ia teringat pada teman-temannya. Apa yang terjadi pada Rendra, Ayu, dan Dina? Apakah mereka berhasil melarikan diri? Apakah mereka aman?
Puri berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Ia menyadari ia tidak bisa terus berlari tanpa tujuan. Ia harus mencari tempat persembunyian yang aman dan menyusun rencana.
Ia melihat sebuah sungai kecil di dekatnya. Ia memutuskan untuk mengikuti aliran sungai itu, berharap sungai itu akan membawanya ke tempat yang aman.
Sementara itu, di tempat lain, Rendra berlari menyusuri jalan desa, berusaha menghindari pengejar. Ia melihat sekelompok orang yang sedang berkumpul di dekat balai desa. Ia tahu ia tidak bisa mendekat ke sana.
Ia berbelok ke arah yang berlawanan dan berlari menuju rumah-rumah penduduk. Ia mengetuk pintu salah satu rumah dan memohon pertolongan.
"Tolong, Pak, Bu," katanya dengan nada terengah-engah. "Saya sedang dikejar-kejar orang jahat."
Pasangan suami istri itu tampak ragu-ragu. Mereka melihat ke sekeliling dengan cemas, seolah-olah takut ada yang melihat mereka.
"Masuklah," kata si ibu akhirnya. "Cepat!"
Rendra masuk ke dalam rumah itu dan bersembunyi di balik tirai jendela. Ia mengintip keluar dan melihat orang-orang yang mengejarnya berlari melewati rumah itu.
"Terima kasih banyak, Pak, Bu," kata Rendra dengan nada lega. "Kalian telah menyelamatkan nyawaku."
"Tidak apa-apa, Nak," jawab si bapak. "Tapi kamu harus pergi dari sini secepatnya. Desa ini tidak aman lagi."
Di tempat lain, Ayu dan Dina berlari bersama-sama, bergandengan tangan erat. Mereka tahu mereka harus tetap bersama jika ingin selamat.
Mereka melihat sebuah gubuk tua di dekat sawah. Mereka memutuskan untuk bersembunyi di sana.
Mereka masuk ke dalam gubuk itu dan bersembunyi di balik tumpukan jerami. Mereka bisa mendengar suara orang-orang itu mencari mereka di sekitar sawah.
"Sepertinya mereka tidak ada di sini," kata suara seorang pria.
"Kita harus mencari mereka di tempat lain," jawab suara yang lain.
Ayu dan Dina menahan napas, berharap mereka tidak ditemukan. Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki mendekat
ke arah gubuk. Jantung mereka berdebar kencang, mereka tahu bahaya sudah dekat.
Pintu gubuk terbuka dengan derit yang memilukan. Seorang wanita tua berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Siapa kalian?" tanya wanita tua itu dengan suara serak. "Apa yang kalian lakukan di gubukku?"
Ayu dan Dina saling bertukar pandang, tidak tahu harus menjawab apa. Mereka merasa terjebak.
"Kami... kami hanya mencari tempat untuk beristirahat, Nek," jawab Ayu dengan nada gugup. "Kami sedang dalam perjalanan jauh."
Wanita tua itu menyipitkan matanya, seolah-olah tidak percaya dengan perkataan Ayu. Ia melangkah masuk ke dalam gubuk dan mendekati mereka.
"Jangan bohong padaku," kata wanita tua itu dengan nada mengancam. "Aku tahu kalian sedang bersembunyi dari seseorang. Siapa yang mengejar kalian?"
Ayu dan Dina terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tahu mereka tidak bisa mempercayai siapa pun di desa ini.
Tiba-tiba, wanita tua itu tersenyum. "Aku tahu siapa yang mengejar kalian," katanya. "Mereka adalah orang-orang Pak Kepala Desa. Mereka sedang mencari orang-orang yang mencoba mengungkap rahasia Pulau Tengkorak."
Ayu dan Dina terkejut. Bagaimana wanita tua ini bisa tahu?
"Jangan takut," kata wanita tua itu, seolah membaca pikiran mereka. "Aku ada di pihak kalian. Aku juga ingin mengungkap kebenaran tentang Pulau Tengkorak."
"Siapa Nenek sebenarnya?" tanya Dina dengan nada curiga.
"Namaku Marni," jawab wanita tua itu. "Aku adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu tentang rahasia Pulau Tengkorak. Dan aku akan membantu kalian mengungkapnya."
Sementara itu, di hutan, Puri terus berlari menyusuri sungai. Ia merasa lelah dan lapar, tapi ia tidak bisa berhenti. Ia harus menemukan tempat persembunyian yang aman dan memikirkan cara untuk menyelamatkan teman-temannya.
Ia melihat sebuah gua kecil di tepi sungai. Ia memutuskan untuk bersembunyi di sana.
Ia masuk ke dalam gua itu dan beristirahat sejenak. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Ia tahu Pak Kepala Desa terlibat dalam semua ini. Ia juga tahu orang asing yang mereka temui di penginapan itu sedang mencari informasi tentang Pulau Tengkorak.
Ia harus mencari tahu apa yang mereka sembunyikan. Ia harus mengungkap kebenaran tentang keluarga Handoko dan kutukan yang menimpa mereka.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki di luar gua. Jantungnya berdebar kencang, ia tahu bahaya sudah dekat.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*