Cerita ini bercerita tentang seorang gadis bernama Viona yang tidak pernah dianggap apalagi di terima oleh keluarganya. Karena sang mama meninggal ketika melahirkan nya dan saudara kembarnya Vivian.
Bahkan ayah kandungnya tidak pernah menganggap nya ada . Lebih parahnya Viona dianggap pembawa sial oleh keluarganya.
Setelah Viona tumbuh dewasa dan pergi dari rumah orang tua nya. Malah badai semakin kuat menghantamnya. Gagalnya pernikahan nya karena saudara kembarnya.
Tolong jangan kasih Rate jelek ya! Kalau tidak berkenan membaca silahkan di skip saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayya mell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Bu Septi dan suami benar-benar meneror pak Sapto dan bu Minah tanpa henti.
Pasangan suami istri itu selalu datang untuk membuat keributan selama seminggu ini.Kecuali kalau hari tengah hujan mereka tidak akan datang. Ternyata mereka takut kehujanan juga. Bahkan ketua Rt serta aparat desa terkait sudah memperingati keduanya.
Astrid sendiri sudah sesumbar pada teman-temannya jika dia akan membeli mobil baru sebentar lagi. Dan pasti akan membuat teman-temannya iri.
"Pak bagaimana ini , itu Septi semakin menjadi saja?" tanya bu Minah pada suaminya.
" Bapak juga bingung bu, padahal sudah jelas-jelas kalau tempat ini bukan warisan . Malah mau minta bagian, kayaknya mereka itu memang kurang sajen buk" ujar pa Sapto.
Di tengah obrolan mereka kebetulan Viona datang. Kali ini masih bersama dua sahabatnya. Tadinya Satria ingin ikut, tapi Viona menolak karena tahu kalau ibu angkatnya tak begitu menyukai Satria.
Baru saja datang ,Viona sudah mendengar keributan dari luar. Siapa lagi kalau bukan Septi dan sang suami.
" Mereka datang lagi bu?" tanya Viona.
" Iya hampir setiap hari seperti itu nak" jawab Bu Minah.
" Ibu , ada ember tidak ? Kalau bisa si ada air bekas cuci piring atau bekas apa gitu sekalian" celetuk Manda.
" Hah" Viona dan bu Minah serta Lili heran dengan pertanyaan Manda.
" Mau buat apa Man?" tanya Lili.
" Ada deh, pokok nya kasih ke aku dulu!" ujar Manda. Bu Minah paham dan akan membiarkan Manda memberi pelajaran pada mereka. Karena jujur bu Minah sendiri benar-benar terganggu dengan kedatangan adik ipar dan suaminya itu setiap hari.
Dengan langkah cepat bu Minah mengambil air bekas cucian piring tadi pagi. Walaupun airnya todak terlalu keruh lumayan lah.
Manda menerima air itu dengan senang hati. Dia juga menyuruh bu Minah dan yang lain untuk tidak mengikuti nya. Cukup melihat dari jauh saja.
Dan Manda mulai berjalan menuju tempat dimana Septi dan Joko berdiri sambil berteriak-teriak seperti orang sedang demo. Tapi bedanya mereka cuma berdua saja tidak ada masa.
" Sapto ,Minah kalian jangan serakah. Menguasai harta peninggalan kedua orang tua ku tanpa mau membaginya secara adil!" teriakan Septi hanya itu-itu saja sedari tadi.
Dan ..Byurrrrrr..... Satu ember air bekas cucian piring membasahi wajah mereka dengan sempurna . Tanpa aba-aba, mungkin sebagian air ada yang tak sengaja mereka telan.
" Berisik ! Kalian !' Hardik Manda kali ini.
" Mau sampai kapan kalian berteriak seperti ini. Apa tidak bosen , apa kalian tidak lelah. Kalau kalian tidak lelah dan tidak bosan. Semua penghuni disini yang lelah dan bosan mendengarkan orasi kalian yang penuh dengan khayalan itu" Omelan Manda tanpa jeda yang membuat Septi dan Joko terdiam sejenak.
" Bocah ! Tahu apa kamu. Kami hanya menuntut hak kami yang dikuasai oleh Sapto dan istrinya" Suara Septi tak kalah lantang.
" Nenek Lampir , apa kamu tidak malu mengakui sesuatu yang bukan milikmu. Baik kalau kamu masih mencari keributan disini . Terpaksa kami akan menempuh jalur hukum. Viona tolong telfon polisi sekarang juga. Nanti semua biar di urus pengacara keluargaku!" kali ini Lili yang bersuara . Dia tak tahan menghadapi para pemalas seperti Septi dan suaminya.
" Lapor saja kami tidak takut!" Septi menantang. Sementara Joko mulai ciut.
Benar saja tak lama polisi datang ke Tkp . Septi tertegun ternyata inj bukan ancaman belaka. Setelah berdiskusi, Septi dan Joko dilarang mendekati tempat itu lagi. Jika mereka ketahuan masih berani mendekat maka jeruji besi akan menjadi tempat tinggal mereka yang baru.
Viona juga menunjukan bukti-bukti kepemilikan yang sudah menjadi atas namanya. Dulu tempat itu masih atas nama Oma Selasih.
Septi dan Joko pulang tapi mereka belum menyerah.Masih ada cara lain yang akan mereka gunakan untuk menguasai harta yang bukan hak mereka.
" Bapak sama ibu , lain kali bilangnya kalau mereka berulah lagi. Biar Viona bisa menghandle mereka." ujar Viona.
" Iya Vio,bapak sama ibuk juga sudah resah sebenarnya. Kamu tahu tidak mereka itu selalu datang kesini membuat keributan. Sampai ada dua penghuni yang sudah pindah dari sini " bu Minah memberitahu kebenaran pada Viona.
" Ini tidak bisa di biarkan , aku harus bertindak!" kata Viona. Sebelum pulang Viona berpesan untuk pak Sapto dam bu Minah jika mereka datang lagi. Viona harus segera di beritahu.
⭐⭐⭐
Sementara di kediaman Yang Na. Fajar dan Alma masih berusaha untuk mencari informasi tentang Viona. Berbeda dengan Sebastian dan Winda yang sudah memilih kembali ke rumah mereka sendiri.
Andra juga sangat menyesal, dia berkali-kali menyuruh orang untuk mencari Viona tapi hasilnya selalu nihil. Bukan tanpa alasan hasilnya selalu Nihil , semua karena ulah Vivian yang menyabotase orang Suruhan Andra.
" Maafkan kakak Vio. Kakak benar-benar bukan kakak yang baik. Karena keegoisan kakak yang menganggap kamu pembawa sial sehingga kamu menghilang entah kemana sekarang!" gumam Andra di ruangan nya.
Andra sudah berusaha,dan dia bertekad jika bertemu dengan Viona . Andra akan melakukan apapun untuk mendapat maaf dari adiknya. Dan dia juga berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Viona.
Maaf baru up ya....karena sakit..... tapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai membaik . Walaupun masih agak lemes .