NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana pulang

Raka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, melewati jalanan kota yang mulai ramai di sore hari. Pikirannya melayang pada Nadira, istrinya yang sekarang sedang berada di rumah Mamanya.

Sepanjang hari di kantor, Raka tidak bisa fokus bekerja. Pikirannya terus pada Nadira. Apa yang dia lakukan sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia menangis? Apa dia mencari Raka?

Berkali-kali Raka melirik ponselnya, berharap ada pesan atau telepon dari Mamanya. Tapi tidak ada. Itu seharusnya pertanda baik, artinya Nadira baik-baik saja.

Tapi tetap saja, Raka tidak tenang.

Akhirnya pukul lima sore, Raka langsung membereskan pekerjaannya dengan cepat, bahkan lebih cepat dari biasanya lalu pamit pulang. Beberapa rekan kerjanya menatapnya dengan tatapan bingung karena biasanya Raka adalah orang terakhir yang pulang.

Tapi Raka tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya Nadira.

Sampai di rumah Mamanya... rumah sederhana di pinggiran kota dengan halaman kecil dan pagar kayu putih, Raka langsung turun dari mobil dan berjalan cepat menuju pintu depan.

Ia mengetuk pintu. "Ma! Aku pulang!"

Pintu terbuka. Mama Nita berdiri di sana dengan wajah yang... khawatir.

Raka langsung tahu ada yang tidak beres.

"Ma, kenapa? Nadira kenapa?" tanya Raka cepat dengan nada panik.

Mama menghela napas panjang. "Masuk dulu, Nak."

Raka masuk dengan langkah cepat, matanya langsung mencari Nadira.

Dan ia menemukannya... Nadira duduk di sofa dengan wajah yang murung. Matanya merah, sembab, tanda ia baru menangis. Bibirnya mengerucut, tangannya memeluk bantal dengan erat.

Raka langsung mendekat. "Dira... kamu kenapa?"

Nadira mengangkat wajahnya, menatap Raka dengan mata yang berkaca-kaca.

"Om..." suaranya lirih, penuh kesedihan. "Nadira mau pulang. Nadira mau ketemu Ibu sama Bapak."

Raka merasakan dadanya diremas kuat. Ia melirik Mamanya dengan tatapan meminta penjelasan.

Mama Nita duduk di samping Nadira, mengusap punggungnya dengan lembut.

"Dari tadi siang Nadira terus nanya kapan Ibu dan Bapaknya pulang," ucap Mama dengan suara pelan. "Mama sudah coba alihkan perhatiannya, ajak main, ajak masak, ajak nonton TV. Tapi tetap saja, Nadira terus nanya. Sampai akhirnya dia nangis. Nangis minta pulang ketemu orangtuanya."

Raka duduk di depan Nadira, menatap wajah wanita itu yang penuh air mata.

"Dira..." panggil Raka pelan.

"Nadira kangen Ibu sama Bapak..." isak Nadira dengan suara bergetar. "Kenapa mereka nggak pulang-pulang? Kenapa Nadira nggak boleh pulang? Nadira janji nggak akan nakal lagi..."

Air mata Nadira jatuh semakin deras. Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan orangtuanya, dan memang itulah yang ia rasakan sekarang.

Raka merasakan matanya memanas. Hatinya hancur melihat Nadira seperti ini.

Ia ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa orangtua Nadira sudah meninggal, bahwa mereka tidak akan pernah pulang, bahwa Nadira harus menerima kenyataan itu.

Tapi bagaimana ia bisa mengatakan itu pada Nadira yang sekarang seperti anak kecil berusia lima tahun?

Mama Nita menatap Raka dengan tatapan yang penuh arti.

"Raka," ucapnya pelan. "Mungkin... kamu harus bawa Nadira pulang."

Raka mengerutkan dahi. "Pulang? Maksud Mama..."

"Pulang ke kampungnya," potong Mama. "Ke kampung tempat Nadira tinggal dulu bersama orangtuanya."

Raka terdiam. Ia menatap Mamanya dengan tatapan bingung.

"Tapi Ma... Aku nggak tahu dimana makam orangtua Nadira. Yang aku tahu cuma nama kampungnya aja. Nadira pernah cerita kalau dia tinggal di kampung dekat Garut," ucap Raka dengan nada ragu.

Mama mengangguk. "Ya sudah. Bawa dia ke sana. Ke kampungnya. Siapa tahu orangtuanya dimakamkan di sana. Atau setidaknya... Nadira bisa lihat rumahnya dulu. Rumah tempat dia tinggal waktu kecil. Mungkin itu bisa membantu dia mengingat sesuatu. Atau setidaknya... membuat dia lebih tenang."

Raka menatap Nadira yang masih menangis, menangis dengan tangisan yang memilukan.

Mama benar. Mungkin ini yang Nadira butuhkan.

Raka menarik napas dalam, lalu mendekat pada Nadira. Ia duduk di samping wanita itu, mengusap punggungnya dengan lembut.

"Dira," panggil Raka dengan suara lembut. "Nadira mau pulang?"

Nadira langsung mengangguk, anggukan cepat dengan mata yang penuh harap.

"Mau! Nadira mau pulang sekarang!" ucapnya dengan suara yang masih bergetar.

Raka tersenyum yang dipaksakan tapi dibuat se-hangat mungkin.

"Oke. Om akan antar Nadira pulang. Kita pergi besok pagi, oke? Kita pulang ke kampung Nadira. Kita cari Ibu dan Bapak," ucap Raka dengan suara lembut meski hatinya remuk.

Nadira menatap Raka dengan mata yang berbinar, air matanya berhenti mengalir, digantikan dengan senyuman lebar yang tiba-tiba muncul.

"Beneran, Om? Om mau anter Nadira pulang?" tanyanya dengan semangat yang tiba-tiba muncul, seperti anak kecil yang baru dijanjikan hadiah.

Raka mengangguk sambil tersenyum. "Beneran. Om janji."

"YEEEE!!!" Nadira langsung melompat kecil dengan girang, tangisannya hilang seketika, digantikan dengan senyuman lebar dan mata yang berbinar. "Nadira mau pulang! Nadira mau ketemu Ibu sama Bapak!"

Ia berlari-lari kecil di ruang tamu dengan girang seperti anak kecil yang sangat bahagia.

Mama Nita menatap Raka dengan tatapan penuh simpati, tatapan yang mengatakan "kamu kuat, Nak. Mama percaya kamu bisa."

Raka hanya tersenyum tipis, senyuman yang lelah, senyuman yang penuh beban.

---

Malam itu, Raka dan Nadira kembali ke apartemen. Nadira sudah tidak murung lagi, ia kembali ceria, kembali cerewet, terus berbicara tentang betapa ia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu orangtuanya.

"Om, besok kita berangkat pagi-pagi ya!" ucap Nadira dengan semangat sambil duduk di sofa, menatap Raka dengan mata berbinar.

"Iya, pagi-pagi. Kita berangkat jam enam," jawab Raka sambil tersenyum.

"Wah! Nadira nggak sabar! Nadira kangen banget sama Ibu! Nanti Nadira mau peluk Ibu! Terus Nadira mau cerita banyak hal ke Ibu!" ucap Nadira dengan girang.

Raka menatap Nadira dengan tatapan yang penuh kesedihan tersembunyi.

Hatinya sakit, sangat sakit mendengar kata-kata itu.

Karena ia tahu, besok saat mereka sampai di kampung itu, yang akan Nadira temukan bukan Ibu dan Bapak yang masih hidup.

Yang akan Nadira temukan adalah makam. Gundukan tanah. Nisan.

Dan Raka harus bersiap untuk melihat Nadira hancur, lagi.

Tapi ia harus melakukan ini. Untuk Nadira. Untuk kebaikan Nadira.

"Dira, sekarang tidur ya. Besok kita harus bangun pagi," ucap Raka sambil tersenyum.

Nadira mengangguk dengan girang. "Iya! Nadira mau tidur sekarang biar cepat pagi!"

Ia langsung berlari ke kamar dengan langkah riang, lalu berbaring di ranjang dengan senyuman lebar.

Raka berdiri di pintu kamar, menatap Nadira yang sudah menutup matanya dengan senyuman masih terpasang di wajahnya, senyuman yang polos, senyuman yang penuh harap.

"Maafkan aku, Dira," bisik Raka pelan, sangat pelan hingga Nadira tidak mendengar. "Maafkan aku karena besok aku akan membawa kamu ke kenyataan yang menyakitkan."

Ia menutup pintu kamar perlahan, lalu berjalan ke ruang tamu dengan langkah gontai.

Raka duduk di sofa, menatap kosong ke arah jendela.

Ia mengambil ponselnya, membuka Google Maps, lalu mengetik nama kampung yang pernah Nadira ceritakan dulu, Kampung Ciburial, dekat Garut.

Jaraknya sekitar tiga jam perjalanan dari Jakarta.

Raka menyimpan lokasi itu, lalu meletakkan ponselnya dengan helaan napas panjang.

Besok akan menjadi hari yang berat. Sangat berat.

Tapi ia harus kuat. Untuk Nadira.

Raka merebahkan tubuhnya di sofa, menatap langit-langit dengan mata yang lelah.

"Ya Allah... beri aku kekuatan," bisiknya pelan. "Beri aku kekuatan untuk melewati hari esok. Dan beri Nadira kekuatan untuk menerima kenyataan."

Dan di malam yang sunyi itu, Raka berbaring dengan hati yang berat, hati yang penuh kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi besok.

---

Pagi harinya, Raka bangun pukul lima subuh. Ia langsung bersiap mandi, berganti pakaian, menyiapkan tas kecil berisi pakaian ganti untuk Nadira dan dirinya sendiri, serta beberapa makanan ringan untuk perjalanan.

Ia membangunkan Nadira dengan lembut.

"Dira, bangun. Kita berangkat sekarang," ucap Raka sambil mengusap bahu Nadira pelan.

Nadira langsung terbangun, matanya langsung terbuka lebar dengan senyuman.

"Sekarang? Kita berangkat sekarang?" tanyanya dengan semangat.

"Iya. Ayo siap-siap. Mandi dulu, terus kita berangkat," ucap Raka sambil tersenyum.

Nadira langsung melompat dari ranjang dengan girang, lalu berlari ke kamar mandi.

Raka menatap punggung Nadira yang menghilang di balik pintu kamar mandi, lalu menghela napas panjang.

"Semoga hari ini berjalan baik," bisiknya pelan.

Jam enam pagi, mereka sudah di dalam mobil. Nadira duduk di kursi penumpang dengan senyuman lebar, mata berbinar menatap jalanan yang masih sepi.

"Om, berapa lama kita sampai?" tanya Nadira dengan nada excited.

"Sekitar tiga jam," jawab Raka sambil menyalakan mesin mobil.

"Wah! Lama ya! Tapi nggak apa-apa! Nadira mau ketemu Ibu sama Bapak!" ucap Nadira dengan girang.

Raka tersenyum tipis yang penuh kesedihan tersembunyi.

Mobil keluar dari area parkir apartemen, melaju perlahan melewati jalanan Jakarta yang masih sepi di pagi hari, menuju ke arah Garut...menuju ke kampung tempat Nadira dibesarkan, tempat orangtuanya dimakamkan.

Menuju ke kenyataan yang akan menghancurkan hati Nadira... lagi.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!