Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bruk
"Kakek yang membereskan semuanya. Dia melarangmu mencari mereka dan memerintahkanku menganggap kejadian itu tidak pernah ada. Aku bersumpah, Aulia, Aku mencintaimu bukan karena kontrak atau untuk menutupi apapun. Aku baru menemukan rumah setelah ada kamu."
"Tapi Clarissa bilang anak itu ada, Mas. Dan dia sedang mencarimu," bisik Aulia dingin.
Tepat saat itu, ponsel Ryan berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal:
"Chekmate Ryan. Sarah dan Putramu sudah ada di Jakarta. Mari kita lihat apakah kakek Surya masih menginginkanmu saat ia melihat cucu pertamanya yang asli."
Ryan menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Clarissa benar-benar ingin membakar seluruh hidupnya, bahkan jika ia harus menghancurkan hati wanita hamil yang paling dicintai Ryan.
Ryan menatap mata Aulia yang basah dengan seksama. Ia tahu, jika ia membiarkan keraguan ini menggantung satu malam saja, segalanya akan hancur. Ia tidak bisa hanya mengandalkan kata-kata manis.
"Aulia, aku nggak akan memintaku percaya begitu saja. Aku akan membuktikannya sekarang," tegas Ryan.
Ryan mengambil ponselnya dan menghubungi nomor pribadi Mira. "Mira, aktifkan protokol darurat Hubungi tim detektif swasta kita di New York dan bawa berkas rahasia dari brankas kode 'omega' sekarang!"
Dua jam kemudian, Mira tiba di penthouse dengan napas tersengal-sengal, membawa sebuah koper besi kecil. Ryan membukanya di depan Aulia. Di dalamnya bukan hanya foto, tapi tumpukan dokumen hukum dan laporan laboratorium yang asli.
"Sarah pernah mencoba memeras kakek saat aku berusia 21 tahun," Ryan mulai menjelaskan sambil menyodorkan sebuah dokumen bertanggal sepuluh tahun lalu. "Kakek Surya bukan orang yang mudah di tipu. Sebelum ia mengeluarkan uang sepeser pun, dia memaksa Sarah melakukan tes DNA secara diam-diam melalui sampel yang diambil diam-diam dari rumah sakit di Amerika."
Aulia membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. Di sana tertulis dengan jelas dalam bahasa Inggris medis yang kaku : Probability of paternity: 0,00%.
Anak itu bukan anakku, Aulia. Sarah hamil dengan pria lain, kekasih gelapnya yang merupakan mata-mata pesaing bisnis kita. Mereka ingin menyusupkan 'ahli waris palsu' ke dalam keluarga Aditama untuk menguasai saham dari dalam," lanjut Ryan.
Ryan kemudian memutar sebuah rekaman suara dari filenya digital di kopernya. Terdengar suara Sarah yang sedang menangis, mengakui semuanya di depan pengacara kakek Surya karena ia takut akan di penjara."
"Kakek membayar Sarah bukan untuk menutupi aibku, tapi untuk menjauhkan penipu itu dari hidupku selamanya. Aku diperintahkan diam karena kakek malu hampir tertipu oleh skema murahan seperti itu," ujar Ryan pedih.
Aulia tertegun. Ia melihat wajah Ryan yang penuh luka lama. "Lalu siapa yang dibilang Clarissa ada di Jakarta sekarang?"
"Itu pasti aktor atau orang yang dibayar Clarissa untuk menggertak kita. Clarissa hanya memegang foto-foto mesra itu, tapi dia tidak tahu tentang hasil tes DNA ini karena Kakek menyimpannya di brankas paling rahasia," jelas Ryan.
Ryan berdiri, aura CEO-nya mulai muncul dengan dingin. Ia langsung menelpon Clarissa lewat load speaker.
"Clarissa, aku tahu kamu sedang mendengarkan," suara Ryan datar namun mematikan. "Bawa Sarah dan Anaknya ke kantor besok pagi. Aku sudah menyiapkan tim medis untuk tes DNA langsung di depan seluruh jajaran direksi dan media jika kamu mau. Tapi ingat, begitu hasilnya keluar dan terbukti itu penipuan, aku tidak akan hanya membuat perusahaan ayahmu bangkrut. Aku akan memastikan kamu membusuk di penjara atas tuduhan pemerasan dan pencemaran nama baik."
Hening di seberang sana. Tak lama terdengar suara napas yang memburu sebelum sambungan diputuskan secara sepihak.
"Dia nggak akan berani datang, Aulia," kata Ryan sambil meletakkan ponselnya.
"Tugasmu selesai, Mira. Kamu boleh pergi." kata Ryan.
"Iya, Pak. Kalo gitu saya permisi," Mira membungkukkan sedikit tubuhnya untuk pamit pada Ryan dan Aulia.
"Iya, Mira. Makasih," jawab Aulia.
Setelah Mira pergi, Ryan kembali berlutut di hadapan Aulia, menyandarkan kepalanya di perut Aulia yang besar. "Maafkan aku karena pernah menjadi begitu bodoh di masa lalu. Maaf karena masa laluku membuatmu menangis."
Aulia mengusap rambut Ryan pelan. Rasa sesak di dadanya, perlahan menghilang, digantikan oleh rasa bangga melihat bagaimana Ryan menghadapi masalahnya dengan jujur.
"Mas, jangan pernah sembunyikan apa pun lagi dariku. Sekecil apa pun itu," bisik Aulia.
"Aku janji, nggak ada rahasia lagi. Hanya ada aku, kamu dan jagoan kecil ini." kata Ryan.
Malam itu, drama Clarissa akhirnya menemui titik buntu. Keesokan harinya, di kabarkan bahwa Clarissa dan keluarganya mendadak pindah ke luar negeri. Mereka menjual sisa saham mereka dengan harga murah karena ketakutan aka. ancaman Ryan.
Aulia pun kembali menikmati masa-masa kehamilannya dengan tenang, hingga suatu malam....
"Mas! Mas Ryan, bangun!" Aulia meringis sambil memegang perut bagian bawahnya. "Airnya... kasurnya basah!"
Ryan yang sedang tidur langsung melompat dari tempat tidur. "Basah? Kamu ngompol, Sayang?"
"Bukan ngompol, Mas! Ketubannya pecah! Bayinya mau lahir!" teriak Aulia panik.
Malam yang tenang di penthouse seketika berubah menjadi medan perang. Ryan yang biasanya mampu memimpin rapat direksi dengan wajah sedingin es, mendadak berubah menjadi pria yang kehilangan fungsi otaknya hanya karena rembesan air di sprei.
"Ketuban? Oke, oke! Jangan panik Aulia! Tarik napas!" teriak Ryan, padahal dialah yang napasnya paling memburu seperti habis lari marathon.
Ryan berlari ke arah lemari, bukannya mengambil tas perlengkapan bayi yang sudah disiapkan sejak dua bulan lalu, ia malah mengambil koper kantornya.
"Mas, kamu mau kerja atau mau nganter aku lahiran?"pekik Aulia sambil menahan mules yang mulai datang secara teratur.
"Eh, salah. Maaf, Sayang!" Ryan melempar kopernya dan mulai mengacak-acak lemari. Ia kemudian mengambil helm proyek miliknya dan memberikannya pada Aulia.
"Pakai ini, Sayang! Biar aman kalo di jalan ada apa-apa!"
Aulia menatap Ryan dengan pandangan tak percaya. "Mas Ryan Aditama, aku mau melahirkan, bukan mau meninjau fondasi gedung! Ambil tas bayi di pojok sana!" perintah Aulia.
Ryan memukul jidatnya lalu segera mengambil tas perlengkapan bayi. Setelah itu, dengan tangan gemetar, Ryan menggendong Aulia menuju lift. Di dalam mobil, Ryan memacu Roll Roice-nya seperti pembalap formula 1.
"Mas,, pelan-pelan, kamu bikin aku mual bukan cuma mulas!" protes Aulia sambil memegang pegangan di atas pintu.
"Kita harus cepat, Aulia! Aku nggak mau anakku lahir di jok kulit ini! Dia harus lahir di kamar VVIP!" Ryan terus membunyikan klakson pada setiap mobil yang menghalanginya, padahal jalanan Jakarta jam tiga pagi itu sangat sepi.
Begitu sampai di lobi Rumah sakit, Ryan turun dan berteriak, "Suster! Dokter! Darurat! Istri saya mau meledak!"
Dokter dan suster pun ikutan panik. Tapi berusaha menenangkan Ryan.
Di dalam ruang persalinan, kepanikan Ryan mencapai puncaknya. Ia memakai baju steril dengan posisi terbalik. Saat dokter mulai meminta Aulia untuk mengejan, Ryan justru lebih sibuk memberika. instruksi layaknya mandor bangunan.
"Ayo, Aulia. Dorong, sesuai timeline! Kamu bisa melakukannya! Ingat struktur pernapasan yang kita pelajari!" Ryan menggenggam tangan Aulia begitu erat sampai kuku Aulia membekas di kulitnya.
"Mas.... sakit... diam!" rintih Aulia.
"Dokter, kenapa dia kesakitan begitu!? Berikan dia obat apa saja! Beli rumah sakit ini kalo perlu, asal dia nggak sakit lagi!" teriak Ryan pada dokter kandungan yang sudah terbiasa dengan suami-suami panik.
"Pak Ryan, tolong tenang atau saya suruh satpam mengeluarkan Anda," kata sang dokter tenang.
Ryan langsung bungkam. Ia berdiri di samping kepala Aulia, wajahnya pucat pasi. Saat melihat sedikit darah, mata Ryan mulai berputar-putar.
"Aulia, kok banyak merah-merah... aku rasa aku mau..."
BRUK!
Bersambung.....