Ia datang membawa cinta yang dipinjamkan dalam kehidupan Aira Maheswari.
cukup hangat untuk dipercaya, cukup palsu untuk menghancurkan.
Keluarga Aira runtuh, ekonomi hampir patah, dan jiwanya perlahan kehilangan arah.
Ketika dendam menunaikan tugasnya dan ia ditinggalkan di titik paling sunyi,
Hingga seorang lelaki yang mencintainya sejak bangku SMP akhirnya mengetuk pintu terakhir.
Ia datang bukan untuk melukai,
melainkan menyelamatkan.
Di antara dendam yang menyamar sebagai cinta
dan cinta yang setia menunggu dalam diam,
pintu mana yang akan Aira pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Malam itu hujan turun rintik, tidak deras, tapi cukup untuk membuat udara dingin merambat ke tulang.
Aira baru saja turun dari ojek di depan rumah nya dan Langit sudah berdiri di teras rumah nya, tangan bersedekap, rahang mengeras.
“Kita perlu bicara,” katanya tanpa salam.
Nada itu membuat Aira langsung tahu, ini bukan percakapan biasa.
“Aku capek, Langit,” jawab Aira pelan sambil membuka pintu.
“Kita bisa besok?”
“Tidak,” potong Langit, mengikuti Aira masuk.
“Kalau besok, kamu bakal bilang lusa. Kalau lusa, kamu bilang minggu depan. Kamu terus menghindar.”
Aira menaruh tasnya perlahan.
Tangannya gemetar, entah karena dingin atau karena firasat.
“Aku tidak menghindar,” katanya.
“Aku cuma...”
“Kamu berubah!” suara Langit meninggi.
“Sejak kerja sama dia, hidup kamu cuma dia, dia, dan dia!”
“Jangan teriak,” Aira menahan.
“nanti ibuku bisa dengar.”
“Aku nggak peduli!”
Langit mendekat satu langkah.
“Kamu sekarang bahkan harus mikir dulu buat jawab pesan aku!”
Aira menatapnya, lelah.
“Karena setiap pesan kamu bukan nanya kabar. Tapi ngatur.”
Langit terdiam sesaat.
Lalu tertawa pendek, sinis.
“Ngatur? Aku pacar kamu, Aira. Wajar dong aku peduli.”
“Peduli bukan berarti mengontrol,” suara Aira bergetar. “Kamu marah kalau aku pulang telat. Kamu marah kalau aku ketemu teman. Kamu marah bahkan kalau aku diam.”
“Karena kamu selalu banyak alasan!” bentak Langit. “Kamu selalu belain dia!”
“Aku tidak membela siapa pun!” Aira akhirnya meninggi juga. “Aku cuma ingin bernapas!”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Panjang. Berat.
Langit menatap Aira lama, lalu berkata dengan suara lebih rendah, tapi jauh lebih menusuk.
“Kalau kamu harus pilih,” katanya,
“kamu pilih aku atau pekerjaan kamu? Pilih aku atau dia?”
Pertanyaan itu menghantam Aira seperti tamparan.
“Aku tidak mau memilih,” jawabnya lirih.
“Kenapa harus memilih?”
“Karena kamu sudah setengah pergi,” kata Langit. “Dan aku nggak mau nunggu orang yang nggak pernah benar-benar ada.”
Aira menelan ludah.
Dadanya sesak.
“Kalau kamu nggak bisa nurut sama aku,” lanjut Langit, “kalau kamu masih kerja dengan dia, kita putus.”
Kata itu jatuh.
Resmi.
Tanpa jalan kembali.
Aira berdiri terpaku.
“Aku mencintaimu, Langit,” katanya akhirnya, air mata mulai jatuh. “Tapi aku juga mencintai diriku sendiri. Dan aku kehilangan dia sejak bersama kamu.”
Langit menggeleng.
“Kalau kamu benar-benar cinta aku, kamu nggak akan bilang gitu.”
Ia mengambil kunci motor di saku jaketnya
“Pikirkan baik-baik,” katanya dingin.
“Aku kasih kamu waktu. Tapi jangan lama.”
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya, Aira tidak mengejarnya.
Ia duduk di lantai, memeluk lututnya, menangis tanpa suara.
Bukan karena ditinggalkan.
Tapi karena sadar
ia sudah lama sendirian di dalam hubungan itu.
...####...
Malam semakin larut ketika ponsel Kartik berdering.
Nama di layar membuatnya langsung berdiri.
Ibu Aira.
“Halo, Tan?” jawabnya cepat.
Suara di seberang bergetar.
“Kartik… Aira masih di kantor, ya?”
Kartik menoleh ke jam.
Pukul sebelas malam.
“enggak tan,” jawabnya pelan.
“Aira pulang sekitar jam delapan.”
Hening.
“Tidak mungkin,” suara itu mulai panik.
“Aira belum sampai rumah. Saya telepon tidak diangkat.”
Jantung Kartik berdetak keras.
“Tan tenang,” katanya cepat.
“Saya akan cari Aira. Saya janji.”
Telepon terputus.
Kartik meraih jaket, kunci mobil, dan keluar tanpa berpikir panjang.
Di dalam mobil, tangannya gemetar.
Pikirannya berlari ke segala kemungkinan terburuk.
VO Kartik
Kenapa aku membiarkanmu pulang sendiri.
Kenapa aku terlalu sibuk menjaga jarak, sampai lupa memastikan kamu benar-benar aman.
Ia menyusuri jalan menuju rumah Aira.
Lampu-lampu kota terasa terlalu terang, terlalu jauh.
Saat melewati taman kecil dekat perumahan Aira, ia mengerem mendadak.
Di bangku taman itu
ada sosok yang sangat ia kenal.
Aira.
Duduk membungkuk.
Bahu bergetar.
Menangis.
Kartik mematikan mesin.
Langkahnya pelan, hampir tidak terdengar.
“Aira…”
Nama itu keluar lirih, hampir seperti doa.
Aira mendongak.
Matanya merah, basah, kosong.
“Pak Kartik?” suaranya pecah.
“Kenapa Bapak di sini?”
Kartik berlutut di depannya, tidak peduli jas mahalnya menyentuh tanah basah. Hujan masih turun dengan perlahan.
“Ibumu khawatir,” katanya.
“Kamu tidak bisa dihubungi.”
Aira tertawa kecil di antara isaknya.
“Maaf… aku lupa.”
Kartik menahan napas.
“Kenapa kamu di sini?”
Pertanyaan itu akhirnya membuka bendungan.
“Aku capek,” Aira menangis keras.
“Aku sangat mencintai Langit. Aku mencintainya dari awal. Dari pertemuan di halte. Dari saat aku percaya dia akan menjaga aku.”
Kartik menunduk, dadanya seperti diremas.
“Tapi kenapa rasanya sakit kalau terus bersama?” lanjut Aira, menangis terisak.
“Kenapa aku harus merasa bersalah setiap kali aku bahagia tanpa dia?”
Ia memukul dadanya sendiri.
“Aku masih cinta dia, Pak. Dan itu yang paling menyakitkan.”
Tangis Aira pecah sepenuhnya.
Kartik akhirnya berbicara,
dengan suara yang bergetar, hampir runtuh.
“Aira, Kamu tidak salah karena mencintai.”
Ia menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Tangannya mengepal.
“Tapi kamu tidak seharusnya menderita demi cinta.”
Aira menatapnya.
“Kenapa Bapak selalu tenang kenapa bukan langit?”
Aira menangis lebih keras.
Dan Kartik.
akhirnya retak.
Air mata jatuh tanpa suara.
Ia membiarkannya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak kuat.
Hujan sudah berhenti sepenuhnya.
Tanah di taman masih basah, memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram.
Aira duduk di bangku itu dengan bahu lelah, mata sembap, napas belum sepenuhnya pulih.
Kartik sudah berdiri beberapa langkah di depannya.
Ia tidak duduk terlalu dekat.
Tidak ingin terlihat seperti menguasai ruang Aira.
Beberapa menit berlalu dalam sunyi.
Lalu Aira berbicara lagi
pelan, tapi tajam.
“Pak Kartik…”
Kartik menoleh.
“Apa yang mau saya katakan ini mungkin tidak adil,” kata Aira lirih. “Tapi saya sudah terlalu capek untuk menyimpannya.”
Kartik mengangguk kecil.
“Silakan.”
Aira menarik napas dalam-dalam.
“Sejak Bapak muncul di hidup saya… semuanya jadi berantakan.”
Kalimat itu jatuh.
Langsung.
Tanpa bantalan.
Kartik tidak bergerak.
Tapi sesuatu di wajahnya berubah.
“Hubungan saya dan Langit tidak pernah seburuk ini,” lanjut Aira, suaranya mulai bergetar. “Kami bertengkar, kami saling curiga, kami saling menyakiti… sejak Bapak ada.”
Kartik menelan ludah.
“Mungkin bukan salah Bapak,” Aira cepat menambahkan, air matanya jatuh lagi.
“Tapi faktanya… sejak Bapak masuk dalam hidup saya, semuanya jadi rumit.”
Ia memandang Kartik dengan mata merah.
“Kalau saja Bapak tidak muncul,” bisiknya,
“mungkin aku dan Langit tidak akan sejauh ini.”
Kata kalau saja itu seperti pisau.
Kartik memalingkan wajah.
Lampu taman memantul di matanya, membuatnya terlihat lebih merah.
Ia mengedipkan mata beberapa kali.
Menahan.
Menekan.
Mengunci emosinya sekuat tenaga.
VO Kartik
Jadi begini rasanya…
Menjadi orang yang kehadirannya dianggap luka.
“Aira,” katanya akhirnya.
Suaranya tetap tenang, tapi lebih rendah dari sebelumnya.
“Apa kamu yakin… semua masalah itu muncul karena saya?”
Aira terdiam.
Tangannya mengepal di pangkuan.
“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.
“Aku cuma tahu… hidupku lebih sederhana sebelum semuanya jadi seperti ini.”
Kartik tersenyum kecil.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Saya mengerti,” katanya.
Dan di situlah, sesuatu di dalam Kartik benar-benar runtuh.
Bukan karena Aira marah.
Bukan karena Aira menuduh.
Tapi karena ia menyadari:
cintanya telah menjadi beban.
Ia menarik napas panjang.
Sangat panjang.
“Aira,” katanya pelan, “kalau kehadiran saya membuat hidup kamu lebih berat… maka saya tidak seharusnya ada di sini.”
Aira mendongak cepat.
“Maksud Bapak apa?”
Kartik menatapnya.
Langsung.
“Saya berjanji,” katanya, suaranya bergetar sangat tipis, nyaris tak terdengar.
“Begitu kasus ayah kamu benar-benar selesai… begitu semuanya aman…”
Ia berhenti sejenak.
Menarik napas.
Matanya semakin merah.
“…saya akan pergi.”
Aira membeku.
“Pergi?” suaranya nyaris tidak keluar.
Kartik mengangguk.
“Saya tidak akan muncul lagi di hidup kamu,” katanya. “Tidak di kantor. Tidak di sekitar keluarga kamu. Tidak di tempat mana pun.”
Ia menunduk.
Satu tetes air jatuh ke tanah, entah dari hujan yang tersisa, atau dari matanya.
“Saya tidak ingin menjadi alasan kamu kehilangan siapa pun.”
Aira berdiri mendadak.
“sudah terlambat semua nya sudah hancur, dan seharusnya bapak tidak ada di sini”
Kartik tertawa kecil
tawa yang hancur.
Ia mengangkat wajahnya lagi.
Matanya merah.
Basah.
Tapi suaranya tetap dijaga.
“Saya mencintai kamu, Aira,” katanya akhirnya
bukan sebagai pengakuan,
melainkan sebagai perpisahan yang terlalu dini.
“Tapi saya tau kamu tidak akan bisa menerima saya.”
Aira menutup mulutnya.
Tangisnya pecah.
“Pergi dari hidup saya, saya membenci kamu, langit benar kalau kamu datang ke hidup saya memiliki tujuan terselubung” katanya dengan emosi yang meluap-luap.
Kartik tersenyum lembut.
Senyum orang yang sudah siap kehilangan.
“Saya akan pergi,” katanya.
Ia melangkah mundur satu langkah.
Memberi jarak lagi.
“pulanglah Tante pas sangat cemas, dan saya harap kamu selalu bahagia Aira" katanya pelan, Kartik pergi meninggalkan Aira matanya semakin mera, tangis nya pun tak bisa di tahan, ia pergi dengan Aira mata yang menetes.
Bersambung