Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 PERKENALAN YANG UNIK
Pandangan kakek Wilson langsung beralih cepat kepada Anita Tumbler, dia mengamati mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan penuh seksama sosok wanita berpenampilan kuno yang berdiri di hadapannya saat ini.
Lantas dia melirik tajam ke arah Adrian Wilson dengan wajah masam.
"Adrian !"
"Ya, kakek Wilson..."
"Kemari sebentar !"
"Baik, kakek..."
Adrian Wilson menghampiri kakek Wilson dengan langkah hati-hati.
Saat Adrian Wilson mendekat padanya, kakek Wilson segera menariknya menjauh dari hadapan Anita Tumbler dan Alana kecil.
"Siapa yang kau bawa itu ?"
"Calon isteriku, kakek..."
"Ba-bagaimana bisa kau membawa perempuan aneh seperti dia, Adrian ?"
"Aneh bagaimana, dia normal seperti perempuan lainnya, kakek ?!"
Mendengar jawaban Adrian Wilson, Kakek Wilson menarik nafas dalam-dalam lalu memejamkan kedua matanya.
"Fuih... ?!"
Kakek Wilson menghela nafas pelan seraya melirik kembali pada Adrian Wilson di sampingnya.
"Tidakkah kau perhatikan dia, bukannya dia sangat aneh bahkan dengan seekor hewan yang hinggap di pundaknya, bagaimana bisa kau menyebutnya "wanita" !"
"Tapi Alana menyukainya, kakek..."
"Dan bagaimana dengan Azka, apakah dia juga menyukainya ?"
"Ya..."
Kakek Wilson terdiam termenung seraya berpikir serius kemudian bergumam pelan.
"Bagaimana bisa Azka juga menyukainya, biasanya dia mempunyai selera tinggi, ini tidak mungkin... ?"
"Apanya yang tidak mungkin, kakek ?"
"Tidak ada, bukan apa-apa, Adrian..."
"Dan menurut kakek bagaimana sekarang ?"
"Hmmm..., sebentar, aku masih memikirkannya, Adrian..."
"Apalagi yang kakek pikirkan serta cemaskan tentang Anita Tumbler, dia wanita baik-baik dan cocok menjadi ibu tiri Alana dan Azka."
"Tapi dia baru kalian kenal, dan kau tidak terlalu mengenalinya, Adrian."
"Artinya kakek masih mengharapkan Samantha dan menyetujuinya, begitu ?"
"Tidak, tidak, tidak, tentu itu tidak benar, Adrian !"
Kakek Wilson segera menggelengkan kepalanya cepat-cepat seraya mengarahkan ujung jari telunjuknya ke arah Adrian Wilson.
"Wanita bernama Samantha itu bahkan lebih mengerikan dari yang aku bayangkan, Adrian !"
"Dan kakek paham soal dia..."
"Jauh paham dari yang aku perkirakan, Adrian."
Mendadak saja kakek Wilson bergidik ngeri dengan raut wajah muram jika membayangkan tentang Samantha.
Cepat-cepat kakek Wilson mengeluarkan sebuah cek dari dalam saku kemejanya lalu dia memberikannya kepada Adrian Wilson.
"Cek kosong ? Untuk apa kakek ?"
"Katakan saja berapa yang kau minta agar kau mengijinkanku untuk mengubahnya menjadi wanita sempurna, Adrian !"
"Maksud kakek ?"
"Suruh dia mempercantik diri tujuh hari lalu segeralah kalian berdua menikah secara resmi !"
Adrian Wilson terdiam sembari berpikir serius dengan ucapan kakek Wilson lalu menoleh pada selembar kertas cek kosong di tangannya.
"Apa yang dipikirkan oleh kakek sebenarnya ini ???"
Batin dalam hati Adrian Wilson saat memikirkan saran kakeknya.
"Maaf kakek, aku benar-benar tidak mengerti maksud yang kakek ucapkan ini..."
"Kau ini masih saja sama, tetap konyol dan tidak dewasa, Adrian !"
"Tapi Adrian benar-benar tidak memahami maksud perkataan kakek ini, untuk apa juga menyuruh Anita berubah dalam tujuh hari, ini pasti akan menyinggung dirinya, kakek."
"Baiklah, jika kau takut soal itu maka biarkan aku saja yang melakukannya sendiri."
"Apa ?!"
"Mana cek kosongnya, berikan padaku lagi, Adrian !"
"Ta-tapi kakek... ?!"
Kakek Wilson segera menarik kembali kertas cek kosong dari tangan Adrian Wilson lalu menuliskan sejumlah nominal angka besar pada cek tersebut.
"Kau ini, sulit sekali dibilangin, Adrian..."
Kakek Wilson beranjak pergi dari hadapan Adrian Wilson lalu berjalan cepat menghampiri Anita Tumbler.
Ditatapnya wajah bening nan cantik tapi tidak terurus milik Anita Tumbler di hadapannya itu.
"Tolong percantik dirimu tujuh hari lalu nikahilah cucuku Adrian Wilson !"
Bibir merah milik Anita Tumbler merekah pelan lalu bibir itu terbuka perlahan-lahan kemudian dia berucap.
"Baik, kakek..."
"Bagus, akhirnya kau mengerti maksud ucapanku ini, nona."
"Kapan aku harus memulai tugas misi ini ?"
"Hari ini !"
Senyum di bibir indah milik Anita Tumbler merekah kembali lalu dia mengangguk mengerti.
"Baik, kakek..."
"Ada cek senilai sepuluh milyar yang aku berikan kepadamu lalu ubahlah dirimu secantik mungkin karena aku ingin semua orang menilaimu berharga dari apapun yang ada di dunia ini, nona !"
"Aku mengerti..."
Anita Tumbler hanya melirik sekilas ke arah cek bernilai sepuluh milyar di tangannya lalu tersenyum tipis.
"Nilai yang tak sebanding dengan apa yang harus aku kerjakan, tapi bukan masalah demi Adrian Wilson dan Alana serta Azka maka aku akan memuaskan hati kakek tua itu."
Anita Tumbler bergumam dalam hatinya seraya menoleh kepada Alana kecil di sampingnya.
"Alana..."
"Ya, mama Anita ?"
"Mari kita pergi dari sini dan berbelanja, sayangku !"
"Horeee, asyik !"
Alana kecil bersorak ceria sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
Dengan senyum lembutnya, Anita Tumbler mengulurkan tangannya ke arah Alana kecil.
"Ayo, kita jalan-jalan, Alana !"
"Yeaaay... !"
Alana kecil segera menggandeng tangan Anita Tumbler, sedangkan dua ekor kuncir rambutnya bergoyang-goyang lucu di atas kepalanya ketika dia mendekat kepada wanita abadi itu.
"Kami pergi dulu, Adrian..."
Pamit Anita Tumbler pada Adrian Wilson sembari menoleh ke arahnya.
"Biar aku antarkan kau berbelanja, Anita !"
"Kurasa aku sebaiknya naik truck kontainer milikku itu saja, Adrian."
"Tapi tidak mungkin kau membawanya ke pusat kota New York, pasti akan dipersulit jika kau mengendarainya ke kawasan pertokoan nantinya, Anita."
"Hmmm, kalau begitu aku naik taksi saja atau kendaraan umum, tidak enak jika terus-terusan merepotkanmu, Adrian..."
"Bukan masalah, aku akan mengambil kunci kendaraanku di dalam rumah, Anita."
Terdengar suara dari kakek Wilson berkata kembali.
"Ngomong-ngomong kenapa truck kontainer itu bisa ada disini ?"
"Truck kontainer itu punyaku, kakek. Dan aku membawanya dari tempat tinggalku karena aku harus mengangkut semua barang-barang kepunyaanku."
"Memangnya Adrian tidak memberitahukan padamu bahwa kau tidak perlu melakukannya sebab kami bisa memberikan apa yang kau butuhkan, nona."
"Kebetulan sekali, aku tidak terlalu suka merepotkan orang lain selain masih ada barang yang bisa terpakai maka untuk apa membeli yang baru."
"Dan apa yang kau bawa dalam truck kontainermu itu, Anita ?"
"Hanya sejumlah tumpukan baju lama yang belum terpakai serta sebuah sofa merah kesukaan Adrian..."
"Lucu sekali..."
Kakek Wilson terlihat terkejut dengan jawaban Anita Wilson namun dia segera menutupinya seraya melirik kembali kepada cucu laki-lakinya yang bernama Adrian Wilson.
Jelas sekali kalau tatapan sang kakek sangat cemas terhadap nasib Adrian Wilson.
"Kami ijin pergi sekarang, kakek."
"Silahkan !"
Anita Tumbler pamit pada kakek Wilson untuk segera menuaikan perintah sang kakek yang meminta padanya agar dirinya mengubah seluruh penampilannya menjadi cantik.
Terdengar suara seseorang memanggil dari arah rumah besar bercat putih gading sambil berlari kecil.
Tampak seorang wanita cantik berpenampilan anggun melambaikan tangannya.
"Alana sayang..."
"Nenek cantik... !''
Alana kecil segera berlari menghampiri wanita berparas cantik itu lalu keduanya saling berpelukan erat.
"Nenek rindu sekali padamu, Alana..."
Wanita yang terlihat anggun itu tersenyum bahagia, diperhatikannya cucu perempuan kesayangannya itu dengan seksama.
"Bagaimana kabarmu, sayangku ?"
"Alana baik-baik saja, nenek..."
"Syukurlah, kalau kau baik-baik saja, nenek turut senang mendengarkannya, sempat kami mengkhawatirkan nasib kalian sebab papamu tidak pamit jika pergi bersamamu dan Azka."
"Ya, nenek..."
"Lantas dimana Azka sekarang, kenapa nenek tidak melihatnya bersamamu, Alana sayang ?"
Anita Tumbler segera menyambung sembari berkata lembut.
"Azka masih ada di dalam truck kontainer, sepertinya dia masih nyenyak tertidur disana, biar aku bangunkan dia."
Wanita cantik yang terlihat berkelas tinggi serta berpenampilan anggun itu lalu menolehkan pandangannya kepada Anita Tumbler sembari memperhatikannya dengan serius.
Dan berkata dengan suara lemah lembut pada Anita Tumbler.
"Jangan... ! Biarkan saja Azka tetap tertidur disana, jangan bangunkan dia... !"