NovelToon NovelToon
1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Sad ending / Menikah dengan Musuhku / Selingkuh
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: sea.night~

Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan pagi

Dirga terbangun saat alarm di ponselnya bergetar pelan di sisi ranjang. Ia tidak berlama-lama menatap langit-langit—kebiasaan itu sudah lama ditinggalkan.

Dengan satu tarikan napas, ia bangkit, meraih handuk, lalu masuk ke kamar mandi.

Air dingin menyadarkannya sepenuhnya.

Lima belas menit kemudian, Dirga sudah berdiri rapi di depan cermin: kemeja disetrika sederhana, jam tangan terpasang, tas kerja tergantung di bahu. Ia keluar dari kamar, menutup pintu dengan gerakan efisien.

Dirga melangkah ke dapur. Jendela dapur terbuka lebar, cahaya pagi menyingkap ruangan itu. Ia melihat Bibi Sumi sibuk menyiapkan sarapan. Ia berjalan ke lemari es lalu membuka pintu lemari tersebut, mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air putih. Tegukan pertama terasa sangat menenangkan.

Ia berdiri sejenak di depan meja dapur, menatap kosong ke arah jendela. Tidak ada yang istimewa—hanya rutinitas pagi yang harus dijalani.

"Sarapan sudah siap, pak." Ucap Sumi memecahkan keheningan.

"Hm." Dirga hanya berdehem pelan. Ia ragu sejenak sebelum menarik kursi ke belakang. Gerakannya tenang, sikapnya tetap rapi. Ia mulai makan dengan cara yang tertata, nyaris tanpa suara. Pandangannya menyapu dapur, lalu berhenti sesaat.

"Dimana Winda?" tanya Dirga tiba tiba pada Sumi. Suaranya rendah tapi tegas.

"Masih tidur, pak" jawab Sumi pelan sembari mencuci piring di wastafel yang berada tak jauh dari kompor.

"Pemalas." gumam Dirga kasar dan kembali mengunyah makannya.

"Semalaman nyonya Winda menangis." ucap Sumi tanpa menoleh ke arah Dirga "Karena foto yang anda buang, pak." lanjut Sumi pelan dan hati hati.

Dirga bertenti di tengah mengunyah ia mendongak menatap punggung Sumi tapi diam.

Sumi terdiam sesaat sebelum berkata, masih tanpa menoleh, "Nyonya Winda tertidur setelah lelah menangis"

Dirga tidak menanggapi, tak melanjutkan sarapan nya. Ia mengambil secangkir kopi yang sudah di siapkan Sumi sejak tadi yang berasa di hadapan nya. Ia mulai meneguk kopinya. Tenggororkan nya terasa panas karena kopi itu belum benar benar hangat tapi ia menghabiskan nya dalam hitungan detik.

Dirga berdiri tiba-tiba. Setelah meletakkan gelas kembali, Dirga meraih kunci mobil dari gantungan dan bersiap pergi.

Tak ada kata. Tak ada niat menengok Winda ke kamarnya. Tak ada jejak rasa bersalah. Dirga melangkah keluar rumah dan menutup pintu di belakangnya—hampir kasar.

Sumi menghela nafas berat "huft.." Ia mencuci tangan nya. lalu mengelap tangan nya di celemeknya hingga kering lalu melangkah ke kamar Winda.

Ia diam menatap pintu yang tertutup sejenak sebelum mengetuk pintu perlahan. 3 kali.

"Nyonya, Winda.." panggil sumi lembut.

"Bangun yuk, sarapan.." lanjutnya.

tak ada suara dari dalam kamar. hanya hening.

"Nyonya, Winda.." panggil Sumi lagi. nada suaranya sedikit meninggi.

"Iya, bi, bentar lagi ya, bi" jawab Winda dari dalam kamar. Suaranya sedikit tidak jelas karena mengantuk.

"Sarapan sudah saya siapkan di meja makan, ya nyonya."

"Iya, bi. Bentar lagi Winda keluar, bi"

balas winda pelan.

Ia meregangkan tubuh nya yang masih terasa kaku dan lemas. Ia duduk perlahan melihat menatap sekeliling kamar dengan pandangan kosong. Selimut disibakkannya dari kaki, lalu ia turun dari kasur.

kakinya terasa berat, begitu juga dengan matanya yang masih ingin tertutup lagi, tubuhnya enggan bergerak. Pikirannya kosong, bingung harus berbuat apa dan ke mana—linglung khas seseorang yang baru terbangun.

ia memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. mencuci muka dan sikat gigi agar rasa segar bisa mengusir sisa kantuk.

ia keluar kamar mandi setelah beberapa menit. berjalan ke dapur. wajah nya sudah lebih bersih dan lebih cerah meski bekas jerawat nya terlihat lebih jelas setelah mencuci wajah nya.

"Bibi... Dirga belum bangun ya, bi? " tanya Winda di tengah melangkah menuju dapur.

"Sudah pergi kerja dari tadi, nyonya. sebelum saya bangunin nyonya" jawab Sumi. Suaranya jauh lebih santai dan ramah saat berbicara pada Winda di banding dengan tuan rumah itu- Dirga.

"Oh.." Winda behenti sejenak sebelum melanjutkan "langsung kerja yak.. padahal semalam baru selesai acara nikah nya.." lanjut Winda jelas kecewa.

Sumi menoleh. Tangannya berhenti sejenak dari menata piring.

"Bapak memang begitu, Nyonya," ucapnya Sumi hati-hati. "Kalau soal kerja, beliau jarang menunda."

Winda mengangguk pelan, meski dadanya terasa sedikit sesak.

"Iya… Winda ngerti... tapi kan ini hari pertama satu rumah.."

Sumi menarik kursi lalu mempersilakan Winda duduk "Silakan sarapan dulu, Nyonya. Biar tenaganya ada."

Winda duduk perlahan. Pandangannya jatuh pada piring di depannya, namun sendok di tangannya tak langsung bergerak.

"Bi…" panggilnya lirih.

"Iya, Nyonya?"

"Dirga ada bilang sesuatu ga? sebelum pergi?"

Sumi terdiam beberapa detik. Ia menimbang kata-kata sebelum menjawab, "Tidak banyak, Nyonya."

"Oh…gitu yak.." Winda tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip usaha menenangkan diri.

Sumi melihat itu. Hatinya terasa nyeri, tapi ia memilih tetap diam.

Winda akhirnya mengambil satu suapan kecil. Rasanya hambar, meski masakan itu biasanya ia suka.

Winda mengaduk makanannya pelan. Sendok itu bergerak, tapi tak benar-benar mengangkat apa pun.

"Bi…" panggilnya lagi.

"Iya, Nyonya?"

Winda ragu. Tatapannya turun ke piring, lalu naik lagi, seolah mencari kata yang tepat.

"Dirga… sebenarnya kenapa sih?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, nyaris tanpa tekanan. Namun justru karena itulah, hening yang menyusul terasa panjang.

Sumi terdiam. Tangannya yang memegang lap berhenti bergerak. Ia menoleh, menatap Winda sekilas, lalu kembali memalingkan wajah.

"Winda sejelek itu ya, bi? kek nya Dirga ga suka banget di dekat Winda..Dingin. Ga peduli. Benci. Jijik." gerutu Winda kesal namun juga ada rasa sedih.

"Nyonya jangan ngomong gitu." ucap Sumi spontan.

Winda terdiam kembali menatap piring nya.

"Kadang," lanjut Sumi pelan, "orang terlihat dingin bukan karena tidak peduli… tapi karena ada yang terlalu lama disimpan."

Winda mengerjapkan mata. Mendongak menatap Sumi yang kini juga menatap nya.

"Maksud Bibi?"

Sumi tersenyum tipis—senyum yang tak sampai ke mata.

"Nanti juga Nyonya akan mengerti."

Winda diam mencoba memikirkan tapi tak bertanya lagi. Ia kembali menatap makanannya, tapi kini dadanya terasa lebih berat.

Ada sesuatu yang belum ia ketahui. Dan entah kenapa, firasatnya mengatakan—jawaban itu tidak akan sederhana.

1
partini
kalau kata" mah biasa mau ini itu Ampe penghuni kebon binatang pun masih ok busettt ini Ampe nampar gara" muak lihat muka
dalem bnggt sehhh
partini: nanti muka muak Widia jadi ngangenin 🤭
total 2 replies
partini
Kaka ipar yg
sea.night~: yess kakak ifar
total 1 replies
partini
hati yg kosong dari kecil,
sea.night~: huhu iyaa , tapi sama juga kayak Winda nya jadi anak tuntutan keluarga
total 1 replies
partini
aku baca sinopsisnya langsung loncat bab ini ma"af ya Thor
Winda muka tembok ga sih ini
sea.night~: Sudah up ya, kak
Selamat membaca🙏😁
total 11 replies
si kecil nikkey
kayanya si Winda tipe cwe menye2, bkin hati sejati para cwe mencelid TDK senang thor....masa mau aja JD bucin KY gtu lagian d lahirin GK nyadar klo kita ada bukan buat orang lain tp untuk kebaikan diri sndiri, payah Winda dahlah thor..
sea.night~: Setuju sih kak, tapi setiap orang punya waktunya sendiri buat sadar. Winda juga lagi berjuang kok, cuma caranya masih salah.😁🙏
total 1 replies
BiruLotus
Halo kak, aku mampir. Mau kasih saran aja, tanda bacanya masih ada yg keliru. Misalnya setelah tanda petik 2, langsung saja kalimat, jangan pake spasi. Semangat!
sea.night~: okaayy kakak , makasih banyak ya kak saran nyaa 🙏🙏😁
total 1 replies
BiruLotus
lanjut
BiruLotus
Gak punya otak!
BiruLotus
Ayahnya minta di slebew!
BiruLotus
Wah jangan berkecil hati Winda
BiruLotus
Dari Dirga kok berubah Dimas, kak?
sea.night~: 😭makasih koreksi nya kak, awal nya mau di kasih nama dimas kian🙏
total 1 replies
Gohan
Penuh makna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!